You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 126.


__ADS_3

Hari ini adalah hari ke tujuh harinya kepergian Adelia. Pencarian Rasya masih belum membuahkan hasil. Hingga dirinya sekarang pasrah, berlapang dada menerima kenyataan bahwa istrinya telah tiada seperti yang di katakan yang lainnya. Rasya juga tak lepas dari nasihat-nasihat sang orangtua, agar diri Rasya tidak sampai hilang arah.


Hadi berpikir untuk membawa Rasya pulang ke kota J. Hadi khawatir jika Rasya di tinggal sendiri, takut terjadi yang tidak di inginkan. Bahkan Hadi telah hampir sepuluh hari meninggalkan Perusahaan nya.


Kini mereka tengah membereskan bekas acara tujuh harinya Adelia. Rasya juga ikut merapihkan barang-barang bekas acara itu. Dan setelah selesai semuanya, mereka berduduk santai dengan cara lesehan di atas karpet.


"Rasya ... Papa mau kamu ikut pulang ke Kota J. Papa khawatir meninggalkan kamu sendiri di sini. Kamu mau, kan?" ajak Hadi dan bertanya kepada Rasya.


Rasya terdiam seperti tengah berpikir. Lalu kepalanya mengangguk dengan pelan. Hingga Hadi menyunggingkan sebuah senyuman.


"Syukurlah kalau kamu bersedia. Ma ... sekarang rapihkan pakaian Rasya agar segera kita berangkat," titah Hadi kepada istrinya.


"Tidak perlu Ma. Lagian Pakaian ku masih banyak di rumah. Biarkan pakaian yang disini! agar aku tak repot membawa pakaian jika aku pulang kerumah ku ini," cegah Rasya.


Lia tersenyum dan mengusap bahu anaknya. Ia bahagia akhirnya Rasya akan ikut pulang bersama. Mereka pun akhirnya bersiap-siap. Rasya menemui anak buahnya terlebih dahulu, dan menitipkan rumah miliknya kepada Beni. Serta mempercayakan bengkel miliknya itu kepada Beni juga.


Hingga saatnya waktu telah tiba. Kepulangan mereka di saksikan ketiga anak buah Rasya. Mobil Rasya di kendarai olehnya sendiri. Mobil Hadi di kendarai oleh sopirnya. Setelah berpamitan kepada warga yang menyaksikan kepergiannya. Mobil mereka mulai melaju, meninggalkan kampung yang menjadi saksi pernikahan Rasya, hingga saksi kehilangan Adelia.


***


Sementara itu Adelia sedang dibagian ruangan Dokter Kandungan. Adelia sedang di periksa oleh Dokter Sarah, untuk memastikan kembali keadaan kandungan Adelia dalam baik-baik saja. Karena setelah ini, Adelia sudah di bolehkan pulang.


Adelia keluar dari ruang Dokter tersebut, dengan di beri resep obat penguat kandungan, dan vitamin terlebih dahulu. Albi dan kedua temannya setia menunggu di luar ruangan itu. Kemudian Albi menyerahkan salah satu paperbag yang berisikan Pakaian ganti untuk Adelia.


"Ini apa?" tanya Adelia saat sudah menerima Paperbag yang Albi berikan.


"Itu baju ganti buat mu. Tidak mungkin kan, kamu keluar dari klinik ini dengan pakaian Pasien terus?," ucap Albi.


Adelia menatap Paperbag itu bergantian dengan kertas resep dari Dokter tadi. Albi mengerti akan tatapan Adelia yang bergantian. Albi meraih kertas tersebut dari tangan Adelia, dan menyerahkan kepada Dirga untuk menebus resep itu ke Apotek.


"Sekarang kamu boleh berganti baju! dan Saya akan menemui Dokter Sinta terlebih dahulu. Kalau kamu sudah selesai, tunggu di sini saja ya, ada Arman di sini!" pesan Albi kepada Adelia.


Adelia mengangguk dan melangkah menuju Toilet. Setelah berada di dalam Toilet Adelia mulai membuka Paperbag tersebut, di lihatnya sebuah Dress berlengan panjang, dengan tinggi hingga lutut. Dan Adelia menemukan di dalam Paperbag tersebut sebuah pakai*n da*am serta celana pendek untuk lapisan dalamnya.


Adelia tersenyum senang. Matanya kembali menemukan sesuatu di dalam paperbag tersebut yaitu alat make-up. Adelia seperti membayangkan cara memakai make-up yang di lihatnya dalam ingatannya. Dengan memicingkan matanya hingga Akhirnya Adelia tersenyum.


Adelia berganti pakaian terlebih dahulu, dan setelah itu ia baru menghadap pada kaca washtafel untuk memoles alat make-up yang di temukannya di dalam Paperbag itu. Bahkan sampai sebuah sisirpun tersedia di dalam Paperbag tersebut. Dengan gerakan repleks Adelia menghasilkan riasan yang natural di wajahnya, di padu dengan dress yang terlihat cantik membuat penampilan Adelia begitu memukau.


"Benarkah ini aku?"


"Tapi aku seperti sudah biasa dengan alat riasan wajah ini?"

__ADS_1


Adelia bergumam pada dirinya sendiri saat menatap tampilan dirinya yang memukau. Setelah semua selesai Adelia merapihkan semuanya, dan keluar dari toilet itu.


Seperti yang di perintahkan Albi. Adelia bergegas menuju ruang tunggu yang Albi katakan tadi. Dan di sana sudah ada Arman yang terduduk. Adelia melangkah mendekati Arman. Arman yang merasa ada seseorang mendekatinya menoleh, dan mata Arman sangat terpana melihat penampilan Adelia yang begitu memukau di matanya. Mungkin karena selama tujuh hari ini Adelia hanya memakai baju pasien, sehingga begitu nampak pangling di mata Arman.


Cantik juga ini cewek!. Sayangnya sudah merit. Arman membatin dengan matanya terus menatap Adelia yang kini sudah duduk di sampingnya.


Sedangkan Albi yang sedang di ruangan Dokter Sinta. Memberikan pertanyaan seputar tentang amnesia yang di derita Adelia.


"Dok, apa amnesia yang diderita Arumi itu begitu parah?" tanya Albi.


"Amnesia yang di derita Pasien termasuk pada gejala Amnesia Retrograde. Pengidapnya tidak bisa mengingat informasi atau kejadian yang terjadi sebelum periode tertentu. Biasanya terjadi sebelum tanggal menjalani operasi besar atau mengalami kecelakaan. Nah ... yang terjadi kepada Pasien adalah akibat sebuah kecelakaan yang mengakibatkan kelainan pada otak memorinya. Anda untuk menangani amnesia yang diderita pasien harus melakukan dua terapi. Yaitu Terapi Okupsi dan Terapi Kognitip." ujar Dokter Sinta.


Albi mengernyitkan dahinya, dan kemudian bertanya lagi kepada Dokter Sinta.


"Terapi Okupsi dan Terapi Kognitip?" Albi bertanya mengulang kata-kata Dokter Sinta terakhir.


"Ya Benar. Anda haru melakukan terapi keduanya itu agar pasien lebih membaik keadaannya."


Albi mengerti akan kedua terapi yang di maksudkan Dokter Sinta. Namun, hatinya tiba-tiba gundah mengingat akan rencana yang dilakukan Albi beserta kedua temannya.


Kalau Arumi melakukan kedua terapi itu, berarti kesadaran nya perlahan akan kembali. Tidak! ini tidak boleh terjadi. Aku tak punya cara lain untuk memenuhi keinginan Mama, selain membawa Arumi. Maafkan aku Arumi!!. Albi membatin dengan hatinya mulai gundah.


"Iya Mas. Silahkan!" ucap Dokter Sinta dengan tersenyum.


Albi keluar dari ruang Dokter Sinta. Ia berjalan dengan gontai. Perlahan langkahnya sampai di tempat Arman yang terduduk. Albi menatap penuh arti pada Adelia yang tengah duduk di samping Arman. Albi menatapnya tanpa berkedip. Di lihatnya Adelia dari ujung kaki hingga ujung kepala, seperti memindai dan menilai penampilannya. Hingga sudut bibir Albi tertarik.


Perfect!! batin Albi.


"Sorry gue lama, ngantri di bagian apoteknya," ucap Dirga tiba-tiba datang dan nembuyarkan lamunan Albi.


"Eh, Bos Lu udah di situ aja?" tanya Arman yang baru tersadar akan kehadiran Albi di bagian sebelah kanan.


Albi mengangguk tanpa melepaskan tatapan nya pada Adelia. Hingga Arman tersenyum mengerti. Arman berdehem, dan menatap Dirga seperti memberitahukan bahwa Albi sedang jatuh cinta. Dirga paham, dan melihat ke arah tatapan Albi. Dirga tercengang akan penampilan Adelia yang begitu memukau, walaupun dengan pakaian sederhana dia terlihat begitu cantik, pikir Dirga.


Sedangkan Adelia yang jadi bahan tatapan nampak cuek. Ia seperti tidak mengerti akan tatapan pesona dari tiga pasang mata itu.


"Bagaimana rencana selanjutnya?" tanya Arman memecah keheningan antara mereka.


"Kita Ke Kota J," sahut Albi.


"Enggak Ke Kota M?," tanya Dirga.

__ADS_1


"Nanti kita bicarakan! ayo kita tinggalkan tempat ini!!" pekik Albi mengajak kedua temannya pergi.


Arman dan Dirga mengangguk. Lalu menatap Adelia. "Arumi, ayo kita pulang!" ajak Arman.


"Pulang?" tanya Arumi.


"Iya. Ke rumah kamu dan suami mu" pekik Arman dan langsung mendapat tatapan tajam dari Albi.


Arman apa maksud Lu?. batin Albi bertanya kepada Arman.


"Rumah dan suami saya?" tanya Adelia kembali.


"Iya." kata Arman.


Adelia terdiam, dan melirik ketiga pemuda tersebut satu persatu.


"Dimana suami saya?" tanyanya.


Arman perlahan melangkah dan meraih tangan Albi. "Ini Suami mu," kata Arman kemudian.


Hingga Albi dan Dirga bersamaan melotot, tidak menduga akan Arman dengan kelakuan yang hampir saja Albi akan memakinya, jika Arman mengatakan yang sebenarnya.


"Apa benar kamu suami ku?" tanya Adelia kepada Albi dengan perlahan mendekat.


Albi menatap kedua temannya terlebih dahulu. Dan dapat anggukan dari kedua temannya itu.


"Ya. Saya suamimu," sahut Albi.


Adelia tersenyum dan berhambur memeluk Albi. Albi yang mendapat serangan tiba-tiba tersebut hanya bisa terdiam dan melotot kaget, ini pertamanya Albi di peluk wanita dan Albi sendiri membiarkannya. Walaupun banyak wanita yang menginginkan Albi, tapi Albi tidak mau bersentuhan dengan wanita-wanita yang menginginkannya itu.


Detak jantung Albi bertalu kencang, saat Adelia memeluk tubuhnya. Albi terdiam, tanpa ingin membalas pelukan Adelia itu. Mata Albi menatap kedua temannya yang berada di belakang Adelia. Dirga memberikan kode untuk Albi membalas pelukannya, dengan tangan Dirga yang di peragakan memeluk dirinya sendiri.


Albi perlahan melingkarkan pelukannya di punggung Adelia. Setelahnya Albi seperti menikmati momen berpelukannya itu. Hingga beberapa menit, pelukan Adelia di lepaskan oleh Albi.


"Kita pulang ya?" tanya Albi dengan menatap dua bola mata indah milik Adelia.


Adelia menjawab dengan mengangguk.


Akhirnya mereka pun pergi meninggalkan Klinik tersebut menuju mobil yang terparkir di depan. Dirga mendorong koper kecil milik bos nya itu berjalan sejajar dengan Arman. Sedangkan Albi kini berjalan di belakang bersama Adelia dengan tangan Adelia, Albi genggam.


...Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2