
Adelia terbangun saat waktu menunjukkan jam tiga dini hari. Ia merasa kerongkongannya kering, dan saat melihat tempat air minum yang biasanya ia sediakan di atas meja sofa. Ternyata kosong. Sehingga Adelia pun harus keluar kamar. Ia sengaja keluar kamar sendirian menuju dapur, tidak mau mengganggu sang suami yang tertidur lelap.
Samar-samarAdelia mendengar seseorang sedang berbicara. Dengan terus melangkah, Adelia bisa mendengar suara tersebut dengan jelas, saat Adelia sudah berdiri di ambang pintu dapur.
Terlihat Ariyanti sedang berbicara dengan benda pipihnya. Dan terdengar jelas ucapan-ucapan Ariyanti kepada lawan bicaranya.
"Mama dan Papa masih lama di Thailand?"
"......."
"Mama dan Papa tenang, aku sudah berhasil masuk kedalam perusahaan Om Hadi. Bahkan Om Hadi mempercayaiku. Dan mempekerjakanku sebagai asisten sekretaris Rasya,"
"......."
"Aku menunggu janji om Hadi. Yang akan menikahkan aku dengan Rasya. Mama jangan khawatir. Aku pasti bisa menjalankan rencana kita dengan baik sesuai apa yang kita rencanakan,"
Sungguh ucapan Ariyanti membuat mata Adelia terbelalak. Adelia menggeleng-gelengkan kepala tak percaya atas apa yang ia dengar.
"Mama mau tahu, ternyata wanita sialan itu sedang amnesia. Dan aku sangat membencinya, saat melihat kemesraannya dengan Rasya,"
Lagi-lagi Adelia tercengang. Bahkan tubuhnya bergetar mendengarkan ucapan kebencian yang Ariyanti tujukan kepada dirinya.
"Ya Tuhan ... apa benar, Papa menjanjikan akan menikahkan Ariyanti dengan mas Rasya?, lalu alasannya karena apa?" batin Adelia
Adelia beringsut mundur. Setelah mendengar Ariyanti seperti menyudahi percakapannya. Dan terlihat Ariyanti meninggalkan dapur dengan membawa satu botol air mineral di tangannya.
Keberuntungan bagi Adelia. Dengan Cahaya lampu yang temaram. Ia dapat bersembunyi di balik guci besar. Setelah memastikan Ariyanti menaiki anak tangga dan tidak terdengar lagi langkahnya. Adelia cepat-cepat keluar dari persembunyiannya, dan melangkah langsung ke arah dapur untuk membawa air minum serta makanan ringan.
Kehamilan yang semakin besar membuat Adelia merasa selalu lapar. Ia dengan hati-hati melangkah menuju kamarnya kembali. Kini dengan pikiran yang apa ia dengar tadi. Membuat Adelia tidak bisa memejamkan matanya kembali.
Ia duduk bersandar di sandaran ranjang. Sebelumnya ia telah menghabiskan satu bungkus keripik kentang.
"Sebenarnya apa yang di rencanakan mereka?"
"Perusahaan?"
"Pernikahan?"
"Dan apa salahku, sehingga Ariyanti terlihat begitu membenciku?"
__ADS_1
Adelia terus berbicara sendiri dengan suara yang lirih. Ia kini menatap ke arah suaminya yang sedang tertidur lelap.
Di usapnya rambut sang suami yang hitam tebal. Lalu mengecup keningnya dengan rasa sayang.
"Mas, bagaimana cara aku mengatakan apa yang aku dengar tadi kepadamu? apa kamu akan percaya?" batin Adelia.
Hingga tanpa Adelia sadari. Waktu terus berputar. Kini jam lima Adelia baru bisa memejamkan kedua matanya.
***
Rasya terbangun setelah mendengar alarm di ponselnya. Biasanya ia di bangunkan oleh istrinya, sebelum alarm tersebut berbunyi. Tapi kini ia di bangunkan oleh suara alarm yang pernah ia setting, sebelumnya.
Rasya mendudukkan tubuhnya. Ia bersandar pada sandaran ranjang. Dan menatap sang istri yang masih tertidur pulas.
"Apa karena aku selalu mengajak menengok si baby, jadi istriku kelelahan?" Rasya berbicara sendiri. Dengan mengingat hal kemarin malam, pagi, dan sore ia meminta sang istri bergelut di ranjang.
Sebelum beranjak dari ranjang. Rasya mengecup kening Adelia dengan lama. Lalu ia beranjak langsung menuju kamar mandi.
Suara gemercikan air dari balik kamar mandi. Membangunkan Adelia. Ia mengerjapkan kedua matanya. Dan menetralkan kesadarannya.
"Mas Rasya, sudah bangun lebih dulu?" gumam Adelia saat mendengar gemercik air dari balik kamar mandi.
Kemudian ia beranjak bangun. Dan melangkah menuju lemari, untuk mempersiapkan baju ganti suaminya. Dari mulai kemeja, dasi, celana, dan jasnya. Dan tak lupa ********** juga.
Adelia memilih membuatkan nasi goreng saja. Karena simple dan tidak memakan waktu lama. Bumbu-bumbu sudah Adelia siapkan. Lalu menumisnya ke dalam wajan yang sebelumnya sudah dipanaskan.
Setelah bumbu tersebut sedikit matang, Adelia menambahkan cumi serta sosis lalu potongan wortel dan sayur kol. Setelah semua di pastikan bahan pelengkap tersebut matang. Adelia memasukkan nasi putih, lalu di tambah kecap dan penyedap rasa.
Hingga beberapa menit kemudian. Nasi goreng ala-ala Adeliapun sudah matang. Dan Adelia hidangkan di meja makan.
"Sayang ... kamu di sini ternyata?" pekik Rasya yang sudah rapih dengan setelan jasnya. Ia mencari sosok sang istri, dan sudah ia tebak keberadaannya yaitu di area dapur.
"Mas mau sarapan sekarang?" tanya Adelia dengan menatap tampilan suaminya yang memang sangat terlihat tampan. Apalagi di tambah Rasya memakai setelan jasnya, membuat Rasya terlihat begitu gagah dan cool.
Rasya menggeleng, "Nanti saja, bareng sama yang lainnya," sahutnya. Kini Rasya lebih mendekati istrinya, dan memeluk dengan erat.
"Mas, aku belum mandi. Jangan peluk-peluk aku," tolak Adelia yang merasa tidak percaya diri, karena belum membersihkan diri. Ia hanya mencuci muka saja di washtafel dapur.
"Gak apa-apa. Aku suka kamu apa adanya Sayang ... mau kamu belum mandi, atau gak mandi-mandi sekalipun aku suka," selorohnya sembari mencium puncak kepala Adelia dengan gemas.
__ADS_1
"Ini masih pagi Mas, jangan gombal!"
Rasya terkekeh, "Emang ini masih pagi. Dan suamimu tidak sedang menggombal," ucapnya dengan mengerlingkan mata di hadapan Adelia.
Adelia mengerucutkan bibirnya, "Terserah Mas saja, deh. Aku mau mandi dulu," ujar Adelia seraya melangkah meninggalkan dapur.
Rasya menyusul, dan menyeimbangkan langkahnya untuk sejajar dengan langkah istri cantiknya. "Boleh, aku mandiin?" Rasya kembali berseloroh. Membuat Adelia mendelik, dan mencubit kedua pipi suaminya itu dengan gemas.
"Ish ... Sayang sakit," ringisnya. Memang benar kedua pipi Rasya menjadi merah, dan terasa panas.
"Makanya, jangan macam-macam," tukas Adelia ia kembali melangkah.
"Aku hanya menginginkan satu macam kok, Sayang ... gak bermacam-macam," elaknya.
Tanpa Rasya dan Adelia sadari Lia dari atas tangga melihat adegan dari pasangan tersebut. Lia turun dengan menggeleng-gelengkan kepala, dan menghampiri putranya yang terus menggoda sang istrinya.
"Auw ... ini lagi Mama apa-apaan jewer-jewer kuping aku?" Rasya tidak terima saat Lia tiba-tiba menjewer telinganya.
"Kamu itu nakal terus sama istrimu, makanya kamu pantas dapat jeweran dari Mama," Lia dengan menatap tajam kepada putranya, dan tersenyum kepada Adelia.
Rasya menatap Adelia yang sedang tersenyum, "Sayang ... apa kamu suka, suamimu di aniaya seperti tadi?"
"Ya, aku suka Mas," jawab Adelia dengan tersenyum lebar.
Rasya menggeleng-gelengkan kepala, "Aku terima penganiayaan ini, asalkan kamu bahagi, Sayang ...,"
"Haduuh ... Mama dulu ngidam apa ya, saat hamil kamu. Lebaynya parah sekali, lebih dari Papa," pekik Lia tanpa sengaja membandingkan Rasya dengan suaminya.
"Wah ... apa Papa semanis aku Ma? kalau berduaan? ciyee ... ternyata muka lempeng, bisa sweet juga ternyata," ledek Rasya kepada Papanya sendiri. Yang Rasya tahu Hadi tidak seromantis pria lain.
"Ekhem ...," suara deheman membuat nyali Rasya menciut. Karena ia sudah berani meledek Papanya sendiri.
"Habislah aku!!"
"Sayang ... tunggu!" teriak Rasya saat melihat istrinya melangkah pergi menuju kamar.
Lia sampai terkekeh melihat tingkah putranya yang seakan mati kutu, saat ledekannya di ketahui oleh Papanya sendiri.
...***...
__ADS_1
...Bersambung....
Mohon dukung author dengan like, Comment, serta Hadiah poinnya, agar author semangat!!