You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 178.


__ADS_3

Seusai makan malam. Rasya dan Adelia kembali ke dalam kamarnya. Rasya terduduk di sofa dengan bermain ponsel. Sedangkan Adelia sedari tadi berpura-pura tertidur. Rasya bingung terhadap Adelia yang mendiamkannya. Ia mengingat-ingat percakapan terakhir bersama istrinya, tapi Rasya tidak menemukan hal yang membuat Adelia marah atau kesal.


Tiba-tiba Rasya tersadar akan percakapannya yang di meja makan. Bahwa Adelia menanyakan tentang hari pertama bekerja. Dan Adelia sempat menanyakan tentang karyawan wanita.


"Banyak wanita gak, Mas?"


Rasya melotot setelah ingat pertanyaan Adelia itu. Kemudian ia tersenyum lebar. Kini Rasya tahu, istrinya itu sedang merasakan cemburu.


Ya Tuhan, ternyata istriku cemburuan juga. batin Rasya dengan tersenyum.


Kemudian ia menaruh ponsel yang sedari ia mainkan di atas nakas. Setelah tahu jawaban dari Adelia yang terdiam. Rasya malah senang. Ia terus tersenyum dan merebahkan tubuhnya di sebelah Adelia yang terpejam. Kebetulan Adelia tidur miring mengarah ke tempat yang Rasya tiduri.


Tangan Rasya terangkat untuk mengelus perut istrinya. Mendapat respon gerakan dari si jabang bayi. Rasya langsung terduduk. Ia mengulas senyum, dan sengaja ia terus mengelus perut istrinya itu.


"Hai baby ... apa kamu tahu Sayang? Bunda sedang mendiamkan Ayah," celetuk Rasya dengan tangannya terus mengelus perut istrinya itu.


Rasya tersenyum kembali, saat mendapat gerakan dari bayinya. Kemudian Rasya berbicara kembali. "Sayang ... apa kamu ingin di tengok Ayah?" lalu kepala Rasya sengaja ia tempelkan di perut Adelia, seolah ia sedang mendengarkan jawaban dari si bayi.


"Kamu mau?, ya tapi sayangnya ... Bunda kamu sudah tidur, Sayang ...," seakan Rasya mendengar jawaban iya dari si bayi.


Adelia yang berpura-pura tertidur. Ia menahan senyum serta tawanya mendengar Rasya yang terus berbicara. Seakan suaminya itu benar-benar bicara dan dapat jawaban dari si bayi saat Rasya bertanya.


"Mending sekarang, baby tidur ya ... besok kita main lagi. Dan kalau ingin di tengok. Nanti tanya dulu sama Bunda, ya ...," Rasya kemudian mengecup perut Adelia. Lalu setelahnya beralih mengecup kening.


"Selamat malam My wife, selamat mimpi indah," ucapnya setelah mengecup kening istrinya itu. Kemudian Rasya membaringkan tubuhnya dan menyamping menghadap istrinya dengan tubuhnya ia peluk. Sebenarnya Rasya tahu bahwa istrinya itu berpura-pura tidur.


Dan tak lama terdengar dengkuran halus dari Rasya pertanda ia langsung tertidur pulas. Adelia membuka matanya. Lalu ia tersenyum dan mengecup bibir suaminya dengan lembut. Rasa bersalah yang Adelia rasakan saat ini karena mendiamkan Rasya.


"Selamat tidur Suamiku, Semoga mimpi indah. Dan maaf, aku terlalu mengkhawatirkan mu akan tergoda wanita lain. Tapi, aku yakin kamu selalu mencintaiku. Maafkan aku. Mas ...."


Adelia setelah mengecup dan menjawab kata-kata yang tadi sempat Rasya ucapkan. Ia tertidur dengan tangannya memeluk tubuh Rasya. Sehingga sepasang suami istri itu tidur dalam keadaan saling memeluk.

__ADS_1


***


Rasya terbangun sebelum adzan shubuh. Ia sengaja ingin mandi terlebih dahulu. Dan setelah itu ia menunaikan shalat tahajud, kemudian membaca Al-quran. Ia membaca surat-surat bertujuan untuk bayinya yang masih di dalam kandungan istrinya.


Berharap memiliki anak yang shaleh atau shalehah, serta sempurna wajah dan akhlaknya. Dan tak lupa Rasya meniupkan ke perut istrinya setelah ia selesai membaca surat-surat tersebut.


Adelia terbangun karena merasa ada pergerakan dari perutnya. Kehamilan yang membesar membuat Adelia seakan ia ingin buang air terus. Adelia tertegun saat mendudukan tubuhnya melihat pemandangan suaminya sedang duduk di atas sejadah dengan memegang Al-quran kecil di tangannya.


Adelia tidak mau mengganggu suaminya. Ia langsung bergegas ke dalam kamar mandi. Lalu menunaikan niatnya. Dan setelah itu ia langsung mandi. Adelia ingin mengikuti suaminya membaca Al-quran, sehingga ia langsung meraih baju gamis dan memakai kerudung.


Rasya yang merasa ada pergerakan di belakangnya. Ia menoleh sebentar. Lalu tersenyum saat tahu istrinya mengikuti kegiatan yang ia lakukan. Sehingga sampai waktu shubuh, Adelia dan Rasya melakukan shalat secara berjamaah.


"Mas," sapa Adelia. Ia kini terduduk di tepi ranjang menatap suaminya yang sedang merebahkan tubuhnya. Rasya tadi setelah shalat shubuh, ia membaringkan tubuhnya di ranjang.


"Ada apa?" jawab Rasya dengan melirik istrinya yang terduduk.


"Maaf," lirih Adelia. Membuat Rasya tersenyum, namun akan berpura-pura tidak tahu.


Adelia tertunduk malu, "Karena semalam aku mendiamkan, Mas" ucapnya lirih.


"Apa itu alasannya, kamu mendiamkan suamimu ini?." Rasya masih berpura-pura tidak mengerti.


Adelia masih tertunduk, bahkan kini bercampur rasa gugup. "Em ... a-aku cemburu," kata Adelia dengan terbata.


"Cemburu karena apa?,"


Adelia terdiam. Ia bingung untuk mengatakannya. Sehingga Rasya menjadi gemas, karena tak kunjung mendapatkan jawaban.


"Sini!" titah Rasya. Ia menepuk sisi sebelahnya agar Adelia terduduk di sampingnya.


Adelia pun menurut. Ia kini terduduk di sebelah Rasya dengan kakinya sama ia selonjorkan seperti suaminya. Rasya merangkul bahu istrinya. Dengan senyuman yang Rasya sunggingkan.

__ADS_1


"Sayang ... kamu jangan terlalu khawatir, ataupun cemas. Aku tidak akan pernah tertarik atau tergoda oleh wanita lain. Maupun itu putih, mancung, seksi, itu tidak pernah membuatku tergoda. Hanya kamu yang buat aku tergoda. Hanya kamu!!. Tenang ya, walau di kantor banyak karyawan wanita. Tapi itu tidak akan membuatku berpaling darimu. Percayalah, aku sangat mencintai kamu," ucap Rasya tegas, lembut, serta penuh penekanan. Membuat Adelia terdiam terpaku. Karena Rasya menebaknya dengan benar.


"Mas," lirih Adelia ia kini mendongak menatap netra mata suaminya.


"Hmm," jawab Rasya dengan gumaman. Namun bibirnya menyunggingkan senyuman.


"Mas, maaf!. Aku hanya takut saja," ucap Adelia lirih. Ia terlalu takut suaminya tergoda wanita lain.


Rasya mengelus pipi istrinya, "Tidak apa-apa. Aku juga pasti begitu. Jika posisi kamu, seperti aku. Itu tandanya kita saling mencintai dan takut kehilangan. Cemburu boleh, tapi jangan berlebihan," ujarnya seperti dirinya sendiri bukan pencemburu.


"Kamu sedang mengandung. Aku paham pasti sangat sensitif dan mudah baper. Tapi ingat jangan terlalu banyak pikiran, ya ... kalau ada apa-apa diskusikan sama suamimu," lanjutnya seraya mencolek hidung mancung Adelia.


Adelia tersenyum dan mengangguk paham. Ia memeluk tubuh Rasya dari samping, dan mencium pipi Rasya dengan lama.


"Mas, aku beruntung punya kamu. Aku bahagia. Aku tidak mau kehilangan kamu," ucapnya setelah mencium pipi Rasya.


Rasya tertegun. Kemudian ia tersenyum dan mengelus perut Adelia. "Aku juga tidak ingin kehilangan kamu. Aku hampir gila, kalau saja aku tidak terus berdoa saat kamu hilang. Jangan tinggalkan aku lagi, ya!" pinta Rasya.


Adelia mengangguk. "Tidak akan Mas, aku tidak akan meninggalkanmu," tuturnya.


Rasya tersenyum, kemudian berbisik. "Aku mau nengok si baby, boleh ya?, mumpung masih pagi," katanya. Membuat Adelia tersenyum geli, dan akhirnya mengangguk. Ia tidak bisa menolak, karena Adelia sendiripun menginginkannya.


...***...


...Bersambung....


Jangan lupa Like, Comment, dan Hadiah poinnya ya Readers!!


Biar author semangat up nya.


Terima kasih 😊😊

__ADS_1


Semoga Sehat selalu ya Readers!! 😘


__ADS_2