
Adelia masih terdiam dengan terus menatap Rasya dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Lalu Adelia tersenyum kepada Budi.
"Saya tidak akan menolaknya Pak, saya akan menerimanya," ucap Adelia.
Rasya langsung mendongak saat mendengar Adelia menerima nya. Rasya lalu menyunggingkan senyum manisnya kepada Adelia.
"Terima kasih Nona, sudah mau menerima saya," ucap Rasya dengan tersenyum lebar.
Adelia tersenyum, "Iya sama-sama. Ayo masuk. Terima kasih ya Pak Budi," ajak Adelia kepada Rasya, lalu mengucap kata terima kasih kepada Budi.
"Sama-sama Non, kalau begitu saya kembali ke pos," ucap Budi seraya menunduk sebelum pergi meninggalkan Adelia dan Rasya yang masih berdiri.
"Ayo!" ajak Adelia kepada Rasya seraya berjalan lebih dulu.
Rasya dengan mendorong koper kecilnya menyusul Adelia yang berjalan di depannya. Rasya terkagum menatap isi rumah Albi, dengan design interior bangunannya.
"Ayo duduk dulu," titah Adelia dengan mendudukan tubuhnya terlebih dahulu, dan di susul Rasya duduk di sebrangnya.
Adelia tersenyum mengagumi kecantikan wanita yang berada di depannya.
"Namanya siapa?, kamu cantik sekali," tanya Adelia menanyakan nama wanita yang akan menjadi pelayannya itu, di tambah memberi pujian karena kecantikannya.
Rasya dengan tersenyum, "Nama saya Alsa, Non. Terima kasih telah memuji saya, Nona juga begitu cantik," jawabnya. Seraya memuji kembali.
"Nama saya Arumi. Kamu bisa saja. Semoga kamu betah ya, kerja di sini," tutur Adelia memperkenalkan namanya, dan menyemangati Rasya agar betah bekerja di rumahnya.
"Iya Nona Pasti saya akan betah," sahut Rasya.
Akan betah, karena selalu dekat dengan mu sayang ... lanjut Rasya berucap di dalam hatinya.
Adelia tersenyum, "Kamu sekarang lebih baik istirahat dulu, Mari saya antar ke kamar" ucap Adelia kemudian melangkah menuju kamar yang berada di dekat dapur. Rasya pun menurut mengikuti langkah Adelia.
"Ini kamar mu, nanti saat Suamiku pulang, saya akan menemuimu, atau nanti kita masak bareng untuk makan malam," ucap Adelia dengan membukakan pintu kamar dengan ukuran yang masih luas untuk seukuran pelayan.
Suamimu ada di hadapan mu. Bukan Tuan Aneh itu.
"Baik Nona. Terima kasih," ucap Rasya.
Kemudian Adelia pergi meninggalkan Rasya, dan Rasya pun masuk ke dalam kamar. Ia membuang nafas lega, karena misi pertamanya sudah berhasil. Tinggal misi-misi selanjutnya.
Tak selang beberapa lama Albi pulang bersama kedua temannya. Albi menatap Adelia yang terduduk di sofa ruang tengah, Adelia sedang anteng membaca sebuah buku novel.
"Hei sedang membaca apa?" sapa Albi bertanya seraya duduk di sebelah Adelia.
Adelia terkejut, "Mas sudah pulang?" tanyanya. Kemudian Adelia meraih tangan Albi mencium tangannya dengan takzim.
Albi tersenyum hangat, "Iya. Apa kamu tak menyadari kedatanganku?" sahutnya.
"Iya Mas, Maaf!" ucap Adelia dengan tersenyum. Ia meraih tas kerja Albi, lalu tangannya membukakan jas yang masih melekat pada tubuh Albi.
"Mas mau mandi sekarang?" tanya Adelia seraya berdiri dengan membawa tas kerja Albi dengan jas Albi ia genggam.
"Iya," jawab Albi. Kemudian menuntun Adelia untuk masuk ke dalam kamar.
Albi mendudukan Adelia di bibir ranjang. "Aku punya sesuatu buat kamu," ucap Albi.
"Apa Mas?"
Albi kemudian membuka tas kerja yang Adelia pegang. Ia mengeluarkan kotak persegi berwarna merah. Lalu Albi menyerahkan kepada Adelia.
"Ini apa Mas?" kata Adelia bertanya, setelah menerima kotak persegi merah dari Albi.
"Buka saja!"
Adelia pun perlahan membuka kotak tersebut. Kemudian matanya terbelalak menatap kalung yang berkilau, dengan liontin berlian di atasnya.
__ADS_1
"Mas ini cantik sekali," ucap Adelia dengan terus menatap kalung tersebut.
"Lebih cantik kamu. Apa kamu suka?"
Albi seraya mencolek hidung mancung Adelia.
"Aku suka Mas, tapi ini pasti mahal,"
"Enggak kok, aku masih bisa membelinya," ujar Albi dengan menatap lekat pada wajah Adelia.
"Harganya?" tanya Adelia.
"Tidak usah tanya harga. Lebih baik kamu pakai sekarang. Sini aku pakaikan,"
Adelia mengangguk dengan tersenyum.
Albi pun meraih kalung tersebut, lalu tangan Albi menyibakkan terlebih dahulu rambut Adelia yang menutupi tengkuk lehernya. Kemudian ia memasangkan kalung itu di leher putih Adelia. Dan ia melabuhkan kecupan lama di tengkuk Adelia terlebih dahulu setelah kalung itu terpasang.
"Mas,"
Sontak Adelia merasa ada desiran hangat menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Aku mencintaimu Arumi,"
Albi merengkuh Adelia kedalam pelukannya. Dengan sesekali ia mencium puncak kepala Adelia. Adelia tersenyum senang, karena Albi selalu mengatakan kata cinta padanya.
Adelia mendongak, "Eh Mas, ada pelayan yang sudah mau bekerja di sini," ucap Adelia teringat akan Alsa yang merupakan sosok Rasya.
"Pelayan?"
"Iya Mas, aku menyukainya. Dia cantik, dan juga sangat sopan," ujar Adelia seraya mengingat wajah Alsa.
"Tapi bagiku tak ada yang cantik selain kamu," sahut Albi mulai menatap Adelia dengan serius.
Adelia menjadi gugup mendapat tatapan dari Albi, ia memilih menatap ke arah lain, "Mas bisa saja. Oh ya, apa Mas mau mandi sekarang?" ucap Adelia mengalihkan. Ia sengaja melepaskan diri dari pelukan Albi.
"Tidak apa-apa Mas, aku hanya--"
Tok... Tok... Tok...
Ucapan Adelia terhenti kala mendengar suara ketukan. Albi menatap ke arah pintu.
"Siapa yang berani mengetuk kamar kita?"
"Arman atau Dirga mungkin, Mas"
"Ya sudah aku lihat ya, Mas mandi dulu saja. Setelah ini juga aku mau masak bersama Alsa,"
"Alsa?"
"Iya Alsa. Nama pelayan yang tadi aku ceritakan,"
Albi akhirnya mengangguk, lalu ia bergegas melangkah menuju kamar mandi. Sementara Adelia bergegas menuju pintu untuk membukanya.
Ceklek...
"Alsa?"
Dan ternyata yang mengetuk pintu kamar adalah Rasya. Ia sengaja ingin mengganggu Albi dan Adelia yang sedang berada di dalam kamar. Ia sedari tadi gusar saat tak sengaja melihat Adelia yang sedang berjalan di tuntun Albi. Kemudian ia mengikuti dengan pelan, dan menunggu pintu kamar itu terbuka. Namun, pintu tak kunjung terbuka. Hingga ia memilih mengetuk pintu kamar tersebut.
"Eh Maaf Nona. Saya mau bertanya, apa masak buat makan malam bisa sekarang?" tanya Rasya beralasan.
"Oh itu. Ayo kita sekarang!" ujar Adelia.
Kemudian Adelia dan Rasya melangkah menuju dapur. Adelia langsung menuju lemari pendingin untuk mengeluarkan bahan masakan yang akan ia masak. Adelia memilih bahan ayam dan kwetiau.
"Alsa, kamu tolong cuciin ayam ini ya. Saya mau membuat bumbunya," titah Adelia kepada Rasya.
__ADS_1
Tentu Rasya menerima dengan senang hati perintah Adelia. "Baik Nona" ucapnya.
Sementara itu Adelia membuat adonan tepung bumbu. Adelia berniat akan membuat ayam geprek, di tambah kwetiau goreng.
"Kalau kamu sudah selesai mencuci ayamnya, perlahan masukkan ke dalam tepung bumbu basah ini ya, lalu selanjutnya masukkan ke dalam tepung bumbu kering. Ulangi sampai ayam itu terbungkus banyak tepung," ujar Adelia dengan memberikan arahan-arahan kepada Rasya.
Rasya tersenyum senang, walaupun hanya dengan cara seperti ini. Rasya merasa bahagia bisa melihat Adelia dalam keadaan baik-baik saja.
"Baik Nona. Em Nona sepertinya pintar sekali dalam hal memasak," puji Rasya. Tentu Rasya sengaja ingin berbincang agar lebih mendekatkan diri pada Adelia. Rasya seraya tangannya mulai memasukkan ayam yang sudah di cucinya ke dalam tepung bumbu basah sesuai apa yang Adelia arahkan tadi.
Adelia tersenyum, "Tidak juga. Hanya saya hobi saja," kata Adelia.
"Oh begitu ya. Maaf ya Non, kalau saya dalam hal memasak kurang jago. Tapi cuma bisa saja," ujar Rasya mengatakan hal yang sebenarnya. Ia memang bisa memasak tapi tidak terlalu jago dengan menu-menu masakannya.
"Tidak apa-apa Alsa. Kamu di butuhkan di sini hanya untuk menemani saya. Saya tidak ada teman mengobrol kalau suami saya kerja," tutur Adelia dengan mulai memegang lengan Rasya.
Sontak Rasya melihat tangan Adelia yang sedang memegang lengannya, ia begitu senang dengan sentuhan Adelia. Ia bahkan berpikir ingin memeluk Adelia saat itu juga, tapi itu ia urungkan. Karena Adelia pasti akan merasa heran atau bahkan akan mencurigainya.
"Tentu saya bersedia Nona untuk menemani Nona. Walaupun Nona mau keluar rumah sekalipun, saya tidak keberatan. Dan Nona boleh menceritakan apapun kepada saya, saya akan bersedia mendengarkan," sahut Rasya.
"Terima kasih Alsa," ucap Adelia.
Kini Ayam sudah terlumuri tepung dengan begitu tebal. Adelia dan Rasya berbincang dengan tangannya sibuk melakukan pekerjaan memasaknya.
"Yang goreng biar saya saja Nona," ujar Rasya menawari dirinya untuk menggoreng.
"Ya boleh. Aku duduk disana sambil ulek sambal ya,"
"Silahkan Nona," sahut Rasya.
Mereka menyelesaikan masak memasaknya sampai tiga puluh menit lamanya. Dan menu makanan kini sedang Rasya hidangkan di meja makan. Bertepatan dengan kedatangan Albi, Dirga dan Arman.
Jadi Istriku tinggal bersama mereka. Oh Tuhan, untung secepat ini aku dapat menemukan keberadaan istriku. Pekik Rasya di dalam hatinya saat menatap kedatangan tiga pria yang semuanya seumuran dengannya. Rasya tak menyangka istrinya selama ini tinggal bersama tiga pria dalam satu rumah.
"Siapa dia?" tanya Dirga saat mendudukan tubuhnya di kursi.
"Pelayan baru mungkin, cantik bro!!" sahut Arman dengan berbisik.
Adelia tersenyum kepada mereka. "Kenalkan dia Alsa. Dia akan menjadi teman aku kala Mas Albi kerja," ucapnya.
Albi menatap Adelia dan bergantian menatap ke arah Rasya sekilas. Namun Albi tidak menyahuti ucapan Adelia.
"Mas, boleh ya?" tanya Adelia dengan menatap memelas kepada Albi.
Albi hanya mengangguk. Sebenarnya ia sangat risih jika ada wanita yang dekat dengan dirinya selain kepada Adelia.
"Ayo Alsa kita makan!" ajak Adelia seraya menepuk kursi untuk Rasya duduki.
Rasya menggeleng menolak. Tentu demi peran nya agar terlihat sempurna di mata majikan. "Tidak Nona. Saya nanti saja setelah Nona dan Tuan-tuan selesai," sahut Rasya.
"Kok gitu, ayo tidak apa-apa kok! iya kan, Mas?"
Adelia mendesak Rasya untuk ikut makan bersama, bahkan Adelia meminta persetujuan Albi untuk mengijinkan Rasya ikut makan bersama.
"Hmm" jawab Albi dengan deheman.
"Ayo Alsa sini!" ajak Adelia kembali setelah mendapat persetujuan Albi.
Rasya terus menggeleng, "Maaf Nona, saya lebih baik nanti saja" sahut Rasya dengan melangkah ke arah lain untuk mencari kesibukkan.
"Kamu tidak dengar, istriku meminta kamu untuk ikut duduk makan?!" pekik Albi setengah berteriak kepada Rasya.
Sontak Rasya menghentikan langkahnya.
Sial dia membentak ku?!!! gerutu Rasya di dalam hati.
Kemudian Rasya menurut duduk di kursi, ikut makan bersama mereka. Adelia terus tersenyum kepada Rasya, dan Rasya pun menjawab senyuman Adelia.
__ADS_1
...Bersambung....