
Adelia telah menghabiskan nasi padang yang telah di belikan Rara dengan cepat. Bahkan setelahnya ia bersendawa.
"Astaga Bumil, apa kamu kekenyangan?!" Rara dengan terkekeh menanggapi perlakuan Adelia.
"Ck maaf Ra. Aku memalukan ya?" Adelia dengan menyengir.
Rara tersenyum dengan menggeleng-gelengkan kepala.
Adelia kini teringat pada Desi sahabatnya waktu kuliah. Dan Adelia teringat bahwa Rara mempunyai nomor ponselnya.
"Ra ... apa kamu masih menyimpan nomor Desi?"
Rara mengangguk, "Iya masih ada. Apa kamu mau menghubuginya?" tanya Rara memastikan.
"Iya. Boleh aku minta?!"
"Ya tentu Del ... orang Desi ngasih nomornya buat kamu. Lagian waktu itu kamu kan, belum pegang ponsel," Rara dengan mengeluarkan ponsel miliknya dari balik celana jeans yang di kenakannya.
"Ini Del," Rara menyerahkan ponsel miliknya, yang sudah menampilkan kontak Desi.
Adelia meraih ponsel milik Rara, dan mencatat nomor Desi pada ponsel miliknya. Setelah itu Adelia mengembalikan ponsel Rara.
"Aku mau coba nge-chat Desi," ucap Adelia.
Ia mulai mengetik pesan untuk Desi. Dan setelah selesai, Adeliapun mengirimkannya. Bersamaan dengan itu pesan masuk dari Rasya.
My Husband : Sayang ... Maaf aku baru bisa pegang ponsel. Dari tadi saat aku sampai, aku di sibukkan dengan tumpukkan berkas-berkas.
Adelia tersenyum, kemudian ia mengetik balasan untuk suaminya.
Adelia: Iya tidak apa-apa Mas.
Dan tak lama Rasya kembali membalas.
My Husband : Apa sudah membeli nasi padang-nya?
Adelia : Sudah. Rara tadi yang membelikan. Sekarang aku sudah kekenyangan.
My Husband : Ya Syukurlah. Apa nanti saat aku pulang, masih menginginkan nasi padang itu? kalau masih, aku akan membelikannya untukmu ...
Adelia : Tidak perlu Mas. Aku ingin di belikan kebab, sama Martabak saja.
My Husband : Ok. Nanti suamimu akan membawakannya. Ya sudah. Aku mau lanjut kerja lagi. Hati-hati ya Sayang ... bye, I Love U mmmuuuaaach ...
Adelia tersenyum senang. Membuat Rara yang sedari tadi ia cuekkan mendengus kesal.
"Ah ... pasangan bucin. Cuma berbalas pesan saja, sampai senyum-senyum gitu," ledek Rara.
"Ih makanya jangan jomblo terus Ra," Adelia kembali meledek.
"Ya, kamu bawa-bawa status jomblo segala. Aku itu bukan jomblo, cuman belum punya pacar," sahut Rara dengan tergelak.
__ADS_1
Adelia pun ikut tergelak.
"Ra, aku akan menjodohkanmu. Kamu mau, ya?!"
Rara terkekeh, bahkan cekikikan. "Sejak kapan kamu jadi biro jodoh, Del?" Rara tidak menanggapi, ia malah meledek Adelia.
"Ish ... sejak aku gemes. Karena kamu tidak mau pacaran terus," Adelia tergelak.
"Ya Tuhan ... jangan bilang otak mu geser karena amnesia, Del ...,"
Adelia terkekeh, "Bisa jadi. Ayolah aku serius Ra. Aku mau menjodohkan kamu," ucap Adelia kembali.
Rara terdiam. Ia mengamati raut wajah Adelia yang terlihat serius. "Kamu gak bercanda?"
Adelia menggeleng, "Enggak. Aku ingin kamu bahagia Ra. Kamu tidak bisa terus-terusan sendirian. Aku tidak selamanya selalu berada di sampingmu Ra," ucap Adelia sendu. Kini tangan Adelia menggenggam tangan Rara.
"Del, kamu jangan bilang gitu. Aku jadi sedih," Rara pun berwajah sendu. Menanggapi ucapan Adelia yang seakan ingin pergi meninggalkannya.
"Makanya, kamu mau ya, aku pilihkan pria untuk mu," sekali lagi Adelia memastikan Rara untuk mau menerima tawarannya.
"Tapi Del--"
Rara tidak melanjutkan ucapannya. Karena Rara melihat Ariyanti yang datang dari arah taman belakang. Adelia pun melihatnya. Keduanya sama-sama terdiam.
"Apa kedatangan ku, mengganggu obrolan kalian?" tanya Ariyanti dengan tersenyum.
"Ah tidak. Kita hanya terkesima melihat kecantikan wajahmu Ariyanti," ucap Adelia memuji. Rara ingin sekali tertawa menanggapi pujian yang Adelia berikan kepada Ariyanti. Namun, Rara menahan tawanya.
"Eh Del ... aku lupa." Rara seraya menepuk dahinya.
"Ada apa?" tanya Adelia.
"Aku tadi di suruh belanja sama tante Lia. Aku belanja dulu ya," ucap Rara. Seraya ia bangkit dari duduknya, dan meninggalkan Adelia bersama Ariyanti di dapur.
"Hati-hati, Ra" teriak Adelia. Yang sudah tidak bisa di dengar oleh Rara. Karena Rara sudah berjalan di halaman depan rumah.
Kini Adelia melirik Ariyanti. Dan melihat lututnya yang masih terbalut plester.
"Ariyanti, sebenarnya apa yang terjadi sama kamu. Maaf aku baru bertanya sekarang?"
Ariyanti melihat arah tatapan Adelia yang menatap ke arah lututnya, "Oh ini. Em ... kemarin aku keluar kota, bareng sama Rasya. Aku tersandung dan terjatuh. Untung Rasya menolong, dan menggendongku," dusta Ariyanti. Yang jelas bukan Rasyalah yang menolongnya melainkan Aldi dan Arman.
"Jadi Mas Rasya kemarin keluar kota, bersama Ariyanti? tapi, Ariyanti pulangnya sama Arman," Adelia bergumam di dalam hatinya.
"Ya Mas Rasya memang kemarin keluar kota." Adelia menanggapi.
Ariyanti tersenyum, "Adel ... tahu gak, sentuhan Rasya itu memabukkan," ucap Ariyanti.
"Memabukkan?" Adelia menautkan kedua alisnya.
"Iya. Sentuhannya itu membuatku melayang," bohong Ariyanti.
__ADS_1
Adelia termakan omongan Ariyanti. Ia merasa terbakar cemburu. Hingga Ariyanti tersenyum puas, melihat Adelia yang terdiam dengan wajahnya memerah.
"Apa kamu sudah melakukan sesuatu sama Mas Rasya?"
"Sudah. Bahkan sering," sahut Ariyanti.
"Hah ... aku harus percaya atau enggak, ya? apa mungkin Mas Rasya, mengkhianatiku?"
"Maaf. Aku ke kamar dulu," ucap Adelia tiba-tiba.
Ariyanti tersenyum senang. Karena ia berhasil membuat Adelia mendengarkan cerita bohongnya. Dan Ariyanti merasa kalau Adelia sangat percaya.
Adelia yang kini sudah berada di dalam kamar. Ia terduduk di atas ranjang, dengan punggung ia sandarkan pada sandaran ranjang. Adelia kepikiran tentang ucapan Ariyanti tadi.
"Hah ... ya memang kan, Mas Rasya pernah menikah dengan Ariyanti. Tentu sesuatu itu pernah terjadi di antara mereka. Aku tidak boleh marah atau cemburu. Itu adalah masa lalu Mas Rasya,"
Adelia berpikir karena Rasya pernah menikah dengan Ariyanti. Tentu keduanya pernah melakukan sesuatu. Padahal Rasya tidak pernah menyentuh sedikitpun tubuh Ariyanti. Yang ada Rasya seakan menjadi patung hidup karena perjodohan itu.
"Lebih baik aku tidur siang saja. Dari pada aku keluar kamar, dan mendengarkan cerita Ariyanti yang membuat aku panas,"
Adeliapun memilih berbaring di atas ranjang. Ia memilih untuk tidur di siang itu. Menghindari bercengkrama dengan Ariyanti. Hingga tidak berselang lama Adelia tertidur.
***
Di Rumah Sakit Xxy...
Albi, dan Alina terus mondar-mandir di depan ruang UGD. Ia menunggu Dokter yang sedang menangani Hera. Lucky, Dirga, dan Arman pun tak kalah khawatir. Mencemaskan apa yang akan terjadi pada Hera.
"Albi ... bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan Mama? apa kamu bisa tenang, hah?!" pekik Alina yang kini berdiri mematung menatap Albi yang mondar-mandir.
"Tentu aku tidak bisa tenang, kak. Aku merasa bersalah. Tapi, aku tidak mungkin terus membohongi kalian," ucap Albi dengan lirih.
"Terus. Apa kamu jujur kepada Arumi tentang kebohongan ini?" sahut Alina bertanya.
"Dia sudah tahu lebih dulu. Sebelum aku mengungkapkannya."
"What?" Alina dan Lucky bersamaan.
"Iya. Dia marah besar. Dia kini sudah bersama suaminya," Albi menunduk. "Waktu kemarin itu, dia memang sengaja ke pemakaman orangtuanya. Yang saat Mama lihat di area TPU. Dan untungnya kemarin dia mau di ajak Mama," lanjut Albi.
"Bahkan Arumi menyuruhku jujur dari kemarin-kemarin. Tapi, aku baru bisa tadi pagi. Karena aku sangat mengkhawatirkan keadaan Mama. Dan semua itu terjadi," ucap Albi dengan sendu.
Lucky menepuk bahu Albi dengan lembut, "Sudahlah. Sekarang lebih baik kita berdoa agar Mama tidak kenapa-kenapa. Kamu sudah berani mengakui kebohonganmu. Aku yakin, Mama akan memaafkanmu," Lucky menenangkan.
"Semoga saja, kak" ucap Albi.
...***...
...Bersambung....
Bantu Like, Comment, dan Hadiah poinnya ya Readers! agar Author lebih semangat untuk up terus!!
__ADS_1
Terima kasih 😊