You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 113.


__ADS_3

Happy Reading.


❤❤❤


Mereka pun kini sudah berada di sebuah Restaurant, setelah tadi keluar dari Rumah Sakit senyuman tak hilang dari wajah sepasang suami istri muda yaitu Rasya dan Adelia. Bahkan Lia sebagai Mama Rasya terus mengembangkan senyuman nya.


Hingga Hadi sang suami Lia, merasa aneh akan perilaku istri dan anak beserta menantunya itu yang terus mengembangkan senyuman nya.


"Ekhemmm... sepertinya kalian sedang bahagia?," tanya Hadi seraya menatap anak menantu serta istrinya.


"Jelas kita sedang bahagia," sahut Lia.


Ternyata saking bahagia dari dalam ruangan Poli Kandungan, Lia beserta Rasya hingga lupa menyampaikan berita bahagia nya kepada sang Papa.


"Bahagi karena apa?, em... apa Mama hamil lagi?," terka Hadi.


Sontak Lia langsung terkekeh atas penerkaan Hadi suaminya.


"Mama gak hamil, Adel yang hamil Pa, kita akan punya cucu," tutur Lia dengan tersenyum lebar.


Hadi terkejut dengan bibir tersenyum, "Benarkah, kita akan mempunyai cucu?," tanya nya lagi memastikan.


"Iya Benar Pa. Sebentar lagi Rasya akan menjadi Ayah," sambung Rasya.


"Selamat ya, kalian. Jaga kandungan nya baik-baik," pesan Hadi.


Sungguh pesan Hadi membuat hati Adelia menghangat, akhirnya Adelia merasakan di perhatikan oleh Papa mertuanya.


Bahkan hari ini sekaligus Kebahagiaan Adelia bertambah yang tidak pernah Adelia duga sebelumnya.


"Tentu Pa, Rasya akan menjaganya." Sahut Rasya yang dapat senyuman dari sang istri.


Akhirnya mereka sekeluarga menyelesaikan makan siangnya, dan setelah nya mereka pulang kembali ke rumah Rasya. Karena tidak mau sang menantu kelelahan, tujuan Hadi ingin berkeliling kota B pun di urungkan.


***


Sementara itu di depan Bengkel Pemuda tampan sedang menunggu kedatangan Bos nya, yang sudah tahu kepergian nya dari ketiga teman nya. Ya Pemuda itu adalah Aldi, Aldi sengaja ingin menemui Rasya dan Adelia sebelum berangkat nanti malam ke kota J. Berniat untuk berpamitan dan mengucapkan terima kasih karena selama Aldi bekerja Rasya maupun Adelia selalu baik terhadapnya.


Terlihat mobil Alphard putih berhenti di depan parkiran bengkel, dan di susul mobil Mercedes Benz berwarna merah di belakangnya dan ikut terparkir di sebelahnya.


Aldi sudah tahu bahwa mobil Mercedes Benz berwarna merah itu milik Rasya bos nya. Aldi tersenyum menyambut Bos yang tak kalah tampan nya itu turun dari mobilnya, dan di susul sang istri Bos yang begitu sangat cantik.


"Pak... Bu...." Sapa Aldi.


"Eh, Al... Apa kamu menunggu saya?,"


Aldi pun mengangguk dengan tersenyum. Begitupun Adelia tersenyum ramah menjawab sapaan Aldi.


"Ada apa Al,?" tanya Rasya kini.


"Saya, sengaja ingin menemui Pak Bos untuk berpamitan sebelum nanti malam saya berangkat," ujar Aldi.


Adelia yang belum tahu sontak menatap suaminya.


"Aldi mau berhenti bekerja, dan nanti malam Dia mau berangkat ke kota J," jelas Rasya kepada istrinya. Dan Adelia pun akhirnya mengerti.


"Jadi Aldi tidak bekerja lagi disini?,"


"Iya," ucap Rasya wajahnya mendadak sedih.


"Iya Bu, saya ke sini sekalian ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada Ibu, dan Pak Bos yang sudah baik terhadap saya, bahkan kepada keluarga saya," tutur Aldi.


"Dan khusus untuk Pak Bos, terima kasih sekali sudah memperkerjakan saya di tempat kerja Bapak," tambah Aldi lagi.

__ADS_1


"Iya sama-sama Aldi. Saya juga banyak terima kasih buat kamu, serta minta maaf kepada mu yang sudah mau melakukan setiap apa yang saya perintah. Bahkan terkadang saya menyuruh kamu bukan tentang hal pekerjaan saja, terkadang saya menyuruh kamu tentang hal pribadi," ujar Rasya dan di Angguki Adelia yang merupakan setuju akan ujaran suaminya.


"Iya Pak sama-sama. Aldi selalu senang dengan sepenuh hati kok," sahut Aldi.


Rasya kini menatap ke arah keluarganya, yang sedang berdiri melihat antara dirinya, serta Aldi.


Memang Sedari tadi Adelia, Rasya, begitupun Aldi jadi bahan perhatian kedua Orang tua Rasya, serta Serly dan Rara. Bahkan perbincangan antara Aldi dan Rasya di simak baik oleh mereka.


Namun berbeda dengan dua gadis yang berbeda umur. Mereka berdua memperhatikan Aldi dengan penuh pesona.


Mau tidak pesona bagaimana, Aldi memang Pemuda tampan, berbadan tinggi, berkulit putih, dengan senyuman nya yang menawan hingga membuat setiap wanita akan di buat meleleh saat melihatnya, di tambah penuturan yang lembut serta sopan.


Ya Tuhan Ternyata ada makhluk tampan juga di sini?. Batin Rara.


Oh tidak cowok ini begitu tampan?.


Dan kenapa aku harus ketemu saat dia mau pergi. Batin Serly.


Sontak kedua wajah gadis itu yang sedang menatap penuh pesona kepada Aldi, tertangkap Rasya.


"Eh, Al. Kamu berangkatnya malam, kan?,"


"Iya, Pak," sahut Aldi dengan mengangguk.


"Kamu bisa gak antar adik saya, dan juga teman istri saya. Untuk melihat perkebunan teh di sini, sedari tadi ia minta untuk berkeliling di sini. Tapi saya tidak bisa, karena istri saya kini sedang hamil,"


Aldi kemudian menatap kedua gadis tersebut, hingga Serly dan Rara tercengang kaget atas apa yang Rasya ucapkan mengenai mereka berdua.


"Selamat ya Pak, Bu. Sebentar lagi Pak Bos sama Ibu mau menjadi orang tua," kata Aldi.


"Iya Al," kata Adelia dan Rasya bersamaan dengan tersenyum.


"Serly, Rara. Mau lihat kebun teh, kan? ikut sana sama Aldi, dia akan mengantarkan kalian dan menemani kalian," ucap Rasya kepada Serly dan Rara.


Serly dan Rara berpandangan dengan menunduk pelan.


Rasya seraya menyerahkan kunci mobil miliknya kepada Aldi. Aldi mengangguk dengan meraih kunci mobil yang di serahkan Rasya.


"Mari, Non." kata Aldi kepada Serly dan Rara.


Serly dan Rara pun mengangguk dengan tersenyum canggung, lalu mengikuti Aldi menuju mobil milik Rasya.


Seperginya Aldi, Serly, dan Rara. Kini Adelia dan Rasya sudah duduk di sofa berhadapan dengan kedua orang tua Rasya.


"Rasya, apa pemuda itu baik?," tanya Lia kini.


"Pemuda, Siapa maksud Mama?," tanya Rasya yang belum paham pemuda yang Lia maksud.


"Itu yang bernama Aldi tadi, yang sekarang menemani Serly dan Rara pergi," jawab Lia.


"Oh, Aldi. Ia memang baik. Tenang Aldi pemuda yang baik kok, gak akan bakal macam-macam. Ya kan, Sayang?,"


Rasya berucap dengan bertanya kepada istrinya.


"Iya Ma, Aldi pemuda yang cuek dan dingin. Seperti gak menyukai wanita gitu," tutur Adelia.


"Loh kok gitu?." Lia dengan berwajah heran.


"Emang begitu Ma, selama kerja dengan Rasya. Rasya belum pernah mendengar berpacaran atau sekedar dekat dengan wanita. Yang ada wanita yang ngejar-ngejar dia," kata Rasya mengghibah Aldi.


"Wah, keren juga ya...." sahut Lia.


"Mama ini, keren dari mana nya?," Hadi kini ikut bersuara.

__ADS_1


"Iya keren lah, jadi dia merupakan Pria yang tidak gampangan kepada wanita," celoteh Lia.


Hadi menanggapi dengan manggut-manggut.


Adelia hanya tersenyum melihat kedua mertuanya itu.


"Ma, Pa. Rasya ke kamar dulu ya,"


Hadi dan Lia pun mengangguk.


"Ayo, Sayang!" ajak Rasya kepada istrinya.


"Loh kok, ajak aku?," tanya Adelia heran.


"Iya, kita Bobo siang. Kamu kan sedang hamil, jadi kamu harus beristirahat." ucap Rasya dengan mulai menggenggam tangan istrinya.


"Iya benar Del, kamu harus istirahat. Kehamilan kamu baru tiga minggu, kamu harus banyak diam tidak boleh kecapek'an." timpal Lia.


"Ya udah, Adel pamit ke kamar ya, Ma... Pa...."


Hadi menjawab dengan mengangguk.


"Iya Del," jawab Lia.


Adelia dan Rasya pun meninggalkan ruang tamu, dan berjalan menuju kamar.


Setelah berada di dalam kamar, Rasya langsung merengkuh tubuh istrinya itu kedalam dekapan nya, dengan menghujani ciuman di puncak kepala istrinya.


"Sayang, terima kasih. Terima kasih,"


Adelia pun mengangguk paham, bahwa suaminya sedang berterima kasih atas kehamilan nya.


"Kamu kalau ada apa-apa katakan ya sama, Mas!," perintah Rasya.


"Iya Mas," jawab Adelia.


Kini Rasya melepaskan dekapan nya, dan kini Rasya memandangi wajah sang istrinya yang begitu cantik itu. Hingga tatapan Rasya terhenti kala menatap bibir merah seperti buah chery milik istrinya. Rasya mulai melabuhkan bibir miliknya, kepada bibir milik sang istri menciumnya dengan lembut.


Adelia tidak menolak, bahkan matanya sontak terpejam dengan sendirinya kala bibir sang suami sedang mulai mencumbunya.


Adelia merasakan desiran rasa panas saat Rasya mulai melu*at dan menge*ap bibirnya dengan dalam.


Tangan nakal Rasya sudah bergerak ke arah dua squishy milik istrinya itu, dengan bibir yang masih berpagutan. Kemudian Bibir Rasya turun ke arah leher istrinya, bibir Rasya mulai mel**at leher jenjang sang istri.


Hingga Adelia merasakan sensasi yang begitu menggugah hasratnya. Rasya tersenyum kala mendengar lenguhan dan ******* dari bibir istrinya. Tangan Rasya pun tak tinggal diam, tangan nya bergerak untuk menyingkapkan kan kaos yang istrinya kenakan, Terpampanglah squishy yang sedari tadi ia ingin cicipi. Bibir Rasya pun mulai turun dari leher ke dada, Bibir Rasya mulai melu*at dan mengu*um squishy tersebut, hingga membuat sang istri bergelinjang menahan rasa nikmat yang kini tengah di rasakan nya.


Tok tok tok... Suara pintu kamar di ketuk, sehingga Rasya menghentikan aksinya. Rasya berpandangan terlebih dahulu dengan istrinya. Rasya bahkan paham Pasti Mama nya yang sedang mengetuk pintu itu.


"Kamu pura-pura tidur ya, Mas mau buka pintu nya," bisik Rasya kepada Adelia seraya tangan nya menyelimuti tubuh istrinya.


Adelia pun mengangguk dan mulai memejamkan matanya. Rasya pun bergegas menuju pintu, dengan kunci pintu ia putar lebih dahulu. Sebelum membuka pintu Rasya mengatur nafasnya terlebih dahulu yang tadi nafas nya memburu tengah bergairah.


Ceklek....


"Ada apa Ma?," tanya Rasya setelah membuka pintu dan melihat Mama nya yang sedang berdiri di depan nya.


"Kamu beneran tidur, kan?," selidik Lia dengan menatap ke arah kasur yang terdapat Adelia berselimut dengan terpejam.


"Iya bener lah, barusan juga Rasya sudah tidur Ma, jadi Rasya lama buka pintunya," sahut Rasya dengan santai seolah benar.


"Ya syukur!, awas ya kalau sampai kamu apa-apain menantu Mama itu, ingat apa kata Dokter tadi!!!," peringat Lia dengan mengancam.


Ishh... Mama ini. Baru saja aku mau melakukan nya. Mama malah mengganggu!.

__ADS_1


...***...


...Bersambung....


__ADS_2