You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 144.


__ADS_3

"Adelia ...." Rasya memanggil dengan suara lirih. Bahkan matanya berkaca-kaca. Ia berdiri dengan menatap lurus ke arah Adelia.


Sedangkan Adelia terus menyunggingkan senyumnya, karena merasa senang bisa menatap Rasya dengan jarak dekat. Di tambah Adelia berteriak meminta Rasya untuk bernyanyi kembali. Sementara Albi sedang berada di luar Cafe, menerima panggilan dari ponselnya.


"Lagi!!" teriak Adelia meminta Rasya untuk bernyanyi kembali.


Sontak teman band Rasya menginstrupsi kepada Rasya untuk mulai kembali bermain musiknya. Namun, Rasya bukan memainkan alat musiknya, tapi malah berujar dengan berjalan turun dari panggung mendekati Adelia yang sedang berdiri.


"Adelia, apakah itu kau?" suara Rasya menggema lewat microfon dengan menatap Adelia.


Adelia seketika senyuman nya hilang berubah menjadi rasa terkejut dan gugup. Adelia di hampiri Rasya dengan tatapan mata Adelia dan mata Rasya bertemu. Rasya langsung tersenyum saat Rasya sudah yakin dengan wanita yang berwajah Adelia, adalah Adelia istrinya. Rasya bisa merasakan dari tatapan mata Adelia. Bahkan jantung Rasya berdetak lebih kencang, seperti saat dirinya selalu di dekat Adelia.


Rasya menaruh microfon di meja terlebih dahulu. Lalu berhambur memeluk Adelia. Sontak Adelia melotot dengan pelukan Rasya. Apalagi di tambah mendengar suara Rasya yang tepat pada telinganya.


"Adelia, istriku ... aku sangat merindukan mu. Kemana saja kamu selama ini?, aku tak bisa hidup tanpa kamu, Adelia ...." Rasya berucap dengan memeluk tubuh Adelia begitu erat. Bahkan Rasya menangis haru karena merasa sudah menemukan Adelia.


Mata Adelia semakin membola, saat teringat akan dalam mimpinya. Yang di dalam mimpinya itu di peluk oleh Rasya, dengan di tambah ia di panggil dengan nama yang sama yaitu 'Adelia'.


"Kenapa kamu diam saja? apa kamu tak merindukan aku, hmm?" kata Rasya bertanya karena Adelia tidak menjawab pelukannya.


Tepat saat itu Albi datang dari arah pintu Cafe. Albi menatap tajam ke arah Rasya yang memeluk Adelia. Albi melangkah cepat dengan tangan mengepal, dan semburat merah di wajahnya. Albi marah, karena wanita yang di cintainya di sentuh orang lain.


Saat Albi sudah dekat, Albi langsung menarik kerah baju belakang Rasya hingga pelukan Rasya terlepas. Rasya menjengit, bahkan terkejut. Albi langsung melayangkan kepalan tangannya kepada wajah Rasya.


Bugh... Bugh...


Albi menonjok wajah Rasya hingga dua kali, membuat Rasya tersungkur ke lantai, dengan sudut bibirnya mengeluarkan darah. Seketika teman Band Rasya turun untuk melerai antara Albi dan Rasya.


"Hei berani-beraninya anda menyentuh istri saya!!" pekik Albi dengan sorot mata seperti ingin membunuh.


Rasya berusaha berdiri dengan di bantu Bima dan Sakti. Rasya menatap ke arah Adelia yang hanya terdiam saja. Adelia malah melihat Rasya dengan wajah khawatir.

__ADS_1


"Dia istri saya, Adeliaku" sahut Rasya dengan menunjuk Adelia.


Apa dia suami Arumi? Kenapa bisa begini. ucap Albi di dalam hati.


"Dia istri saya, Arumi. Bukan Adelia!!" kata Albi dengan langsung menarik jari jemari tangan Adelia, lalu Albi genggam.


Rasya menatap Adelia yang hanya terdiam saja, "Adel, kenapa kamu diam saja? ayo katakan! bahwa kamu adalah istriku, Adeliaku!!"


Adelia menggeleng cepat. "Maaf. Anda salah orang. Namaku Arumi, aku istrinya Mas Albi," ucap Adelia menjelaskan.


Albi tersenyum menyeringai, "Sudah anda dengar? jadi, ini adalah istri saya." Albi berkata dengan tenang. Tentu di dalam hatinya Albi merasa was-was, karena suami dari wanita yang tengah di cintainya kini ada di hadapannya. Bahkan Albi sendiri yang telah mempertemukannya. Jikalau Albi tahu, pria yang di inginkan Adelia untuk melihat penampilannya, adalah suami dari Adelia. Albi tidak akan sama sekali menuruti sampai Adelia merengek menangispun.


"Ayo sayang! kita tinggalkan tempat ini," ajak Albi kepada Adelia dengan merangkul pinggang Adelia di hadapan Rasya.


Rasya dengan rasa tidak percayanya. Hanya bisa melihat ke arah kepergian Adelia dan Albi. Dengan memandang nanar ke arah kepergian mereka. Rasya menggelengkan kepala, dengan berurai air mata. Rasya tidak percaya, Rasya yang tadi sudah yakin bahwa wanita yang di peluknya adalah istrinya, berubah menjadi rasa kecewa.


"Kalian percaya kan, bahwa itu Adelia?" pekik Rasya kepada Bima dan Sakti.


Bima dan Sakti hanya diam saja. Malah merasa iba kepada Rasya yang menangis tanpa suara.


"Syaa sudah, kita juga waktu itu begitu. Saat ketemu wanita tadi di taman Alun-alun, kita sangka dia adalah Adelia. Tapi, ternyata kita salah! wanita tersebut bukan Adelia, hanya wajah dengan gestur tubuhnya yang mirip," ujar Sakti menceritakan saat dirinya dan Bima yang salah menyapa wanita yang mirip Adelia.


"Kalian pernah bertemu?" tanya Rasya dengan serius.


"Iya. Pas kita ketemu di Alun-alun. Sebelumnya kita bertemu dahulu dengan wanita tadi," tutur Bima.


Om Bondan datang menghampiri ke arah keponakannya yang sedang bercengkrama bersama Rasya.


"Ada apa yang sebenarnya?. Rasya ... untung saja Tuan Albi tidak meminta uang kembali. Kenapa kamu mengacaukan nya?" kata Om Bondan kepada Rasya yang tahu sumber penyebab tamunya pergi.


Rasya hanya diam saja.

__ADS_1


"Bima, Sakti ada apa sebenarnya?" kini Om Bondan beralih bertanya kepada keponakan kembarnya. Karena tidak mendapat jawaban dari Rasya.


"Nanti saja Om, akan kita ceritakan! Tapi, Maaf ya Om sekarang, Sakti mohon pamit untuk menenangkan Rasya dahulu," ujar Sakti.


"Ya sudah. Nanti Om minta penjelasan!"


Om Bondan pun pergi meninggalkan mereka. Kini Sakti merangkul pundak Rasya.


"Pulang aja yuk!" ajak Sakti.


Rasya pun menjawab dengan mengangguk. Kemudian Sakti, dan Bima memilih untuk mengantarkan Rasya pulang.


Saat sedang di perjalanan. Rasya terus terdiam. Bahkan matanya masih berkaca-kaca. Rasya duduk di dalam mobil, dengan terus menatap arah jalanan dengan rasa berkecamuk di dalam benaknya. Ada rasa kecewa, sakit ,bahkan marah.


Kecewa, karena wanita yang di anggapnya tadi ternyata bukan istrinya. Sakit, adalah rasa yang Rasya rasakan saat menerima, wanita itu bukanlah istrinya, dan mungkin yang lebih sakit Rasya harus terima bahwa Adelia memang sudah tidak ada. Dan marah. Marah saat Rasya di anggap menyentuh wanita lain.


"Arrggghhh" Rasya mengerang meluapkan rasa sesak di dadanya.


Sakti dan Bima hanya bisa diam saja. Sakti terus fokus menyetir, sedangkan Bima terlihat iba melihat Rasya yang sedang bersedih.


"Bagaimana jikalau dia adalah benar-benar istriku? apa yang akan kalian lakukan?" tanya Rasya meminta pendapat kepada Sakti dan Bima.


"Mana mungkin Syaa, istrimu ya istrimu. Istri Tuan Albi ya, istri Tuan Albi," sahut Bima yang merasa buntu pikirannya.


"Bukan begitu maksud gue. Gue hanya berandai-andai. Jika wanita tersebut adalah Adelia. Apa yang akan kalian lakukan?" Rasya mengulang pertanyaannya, dengan sedikit menjelaskan khayalan pikirannya bahwa Adelia masih hidup. Tentu itu hanya Rasya berandai saja.


"Ya kalau menurut gue, tinggal rebut! tentu itu adalah hak kita," ujar Sakti menjawab.


"Gue juga ingin merebutnya, karena gue yakin dia adalah Adelia. Hanya mungkin Adelia di bawah tekanan Tuan Albi, hingga tidak mengakui gue suaminya,"


"Syaa ... elu kok, punya pikiran ke sana?" pekik Bima dari arah kursi belakang mobil.

__ADS_1


"Banyak yang kebetulan nya sih. Pertama wajah dan gestur tubuh mirip Adelia, ke dua wanita tersebut sedang hamil. Begitupun dengan Adeliaku, dia sedang tengah hamil mungkin sekarang kehamilan nya sudah memasuki enam minggu," tutur Rasya yang terus meyakini bahwa wanita yang ia peluk adalah Adelia.


...Bersambung....


__ADS_2