
Martin cepat keluar dari kamar Rima sebelum Rima menyadari keberadaan nya. Dengan nafas yang terengah-engah Martin tiba di dalam kamarnya. Martin dengan cepat mengunci pintu kamarnya. Dan melakukan panggilan kepada Sahabatnya yaitu Reyhan dan Dimas.
Panggilan Video yang secara di Konferensi itu akhirnya tersambung dengan Reyhan yang pertama menjawab dan setelahnya Dimas yang masih memakai Piyama tidur terlihat jelas dali layar ponsel Martin.
"Bro dugaan gue benar. Gue gak salah lagi di balik Ruko Adelia yang terbakar itu adalah Rima. Gue sudah mendengar semua kejahatan nya." Tutur Martin langsung mengutarakan apa yang ingin di sampaikan nya.
"Terus gimana rencana elu setelah ini, apa lu akan tetep nikah sama wanita ular itu?" Sahut Reyhan dengan mengatakan Rima adalah wanita ular.
"Iya bener bro. Jangan sampai jadi lu nikah sama tuh ular kadut. Gue gak mau temen gue yang tampan ini jadi mangsa ular kadut itu." Dimas kini bersuara.
Seketika mereka tertawa.
"Kalian bisa aja namain dia kaya gitu."
"Okey gue pengen kalian bantu gue. Kalian harus ikutin gue dan dia. Sampai kita tahu Markas Preman itu berada." Pinta Martin kepada Reyhan dan Dimas.
"Siap Bro." Kata Mereka bersamaan.
"Ya udah nanti gue kabarin kalian. Gue sekarang mau ngejalanin rencana gue dulu."
"Ok semangat Bro." Kata mereka bersamaan.
Dan panggilan pun terputus.
Tak lama pintu kamar Martin ada yang mengetuk. Martin melangkah dan membuka pintu kamarnya. Ternyata Rima yang mengetuk, dan sudah memakai dress yang sangat seksi berwarna merah.
"Martin apakah kamu sudah siap?." Tanya Rima dengan tersenyum.
Martin menjawab dengan mengangguk.
Martin terlebih dahulu mengambil ponsel dan kunci mobil, lalu menutup pintu kamar dan menguncinya.
Martin dan Rima pun beriringan berjalan menuruni anak tangga. Lalu setelah di depan halaman rumah. Martin membuka kan pintu mobil depan untuk Rima masuk.
Rima sungguh senang di perlakukan seperti itu. Ia tersenyum terus kepada Martin.
Setelah Martin duduk di balik kemudinya Ia dengan cepat menancapkan gas melaju jalan yang akan Ia tuju.
Mobil Martin kini menuju sebuah Butiq yang terkenal di Kota itu. Karena Rima ingin pernikahan nya di desain oleh Desainer terkenal maka Ia memilih butiq tersebut padahal Ibu nya sendiri mempunyai Butiq hanya tidak terkenal seperti Butiq yang kini ia datangi.
Rima memilih Gaun pernikahan yang sangat glamour dan elegan. Lalu meminta pendapat Martin akan Gaun yang di kenakan nya saat ini.
"Iya itu saja. Itu sangat Pantas kamu kenakan. Kamu sudah terlihat begitu cantik." Puji Martin.
Cuih.... Aku seakan terpesona saja mengatakan dia cantik.
Martin berdecih di dalam hatinya. Sungguh pujian nya itu hanya bohong belaka. Karena Martin ingin mempercepat waktu. Dan berharap pernikahan nya itu tidak akan pernah terjadi.
Semoga aku tepat waktu untuk menggiring mu ke Polisi.
Martin berbicara didalam hatinya.
Martin pun menuju tempat tuxedo Ia dengan cepat memilih dan mencobanya. Lalu setelah itu Ia keluar dari ruang ganti. Dan tidak menemukan Rima di tempat kursi tunggu.
__ADS_1
Dimana dia?.
Martin bergumam dalam hati dengan matanya mencari-cari keberadaan Rima.
Lalu Martin melangkah keluar dan Ternyata Rima sedang berada di sana dengan ponsel sedang ia pegang tepat pada telinga nya.
Ternyata Rima sedang menjawab telepon dari Juana. Yang meminta kedatangan Rima ke tempat Markasnya.
"Iya Gue akan datang sekarang juga." Kata Rima dengan menutup telepon nya.
Martin dapat mendengar ucapan yang terakhir Rima ucapkan barusan.
"Ekhem...." Martin berdehem.
Rima berbalik badan dan menoleh kepada asal suara. "Martin kamu sejak kapan di situ?." Rima seperti menaruh curiga Martin telah mendengar semuanya.
"Aku baru saja di sini. Aku mencari mu di setiap sudut Butiq tapi kamu tak ada. Aku mencemaskan mu." Martin dengan membelai pipi Rima. Martin sengaja ingin mengelabui Rima dengan berpura-pura seperti sudah mencintai nya.
"Benarkah?. Ya ampun kamu sampai segitu nya. Aku tadi hanya menjawab telepon dari teman, karena kalau di dalam aku takut mengganggu pengunjung yang lain." Kata Rima dengan bergelayut manja di lengan Martin.
Martin berwajah seperti percaya. "Ya sudah ayo kita pulang." Ajak Martin.
"Tapi sepertinya aku tidak bisa pulang langsung. Aku mau ke tempat teman dulu." Ujar Rima.
"Ya sudah aku antar sekalian." Sahut Martin.
"Eng-enggak usah aku bisa sendiri. Kalau kamu mau ke Cafe pergi saja." Tolak Rima.
Karena Rima pikir Martin tidak mungkin harus mengantarnya ke tempat Juana. Bisa ketahuan Jika Martin sampai mengantarnya.
Perasaan Rima sungguh tersentuh dengan sikap Martin yang begitu manis memperlakukan nya, dan saat Martin berbicara tidak seirit dulu.
Rima dengan cepat memeluk tubuh Martin. Senyuman merekah di bibir Rima, sedangkan Martin tersenyum dengan menyeringai.
"Martin apa kamu sudah mencintai aku?." Rima dengan mendongak menatap Martin yang tubuhnya lebih tinggi.
"Sepertinya begitu." Kata Martin singkat.
Rima tersenyum lalu berjinjit mengecup bibir Martin. Martin melotot dengan sikap Rima. Lalu Martin menunduk menatap wajah Rima yang sedang tersenyum pada dirinya.
"Itu Sentuhan bibir pertama ku untuk pria yang aku cintai." Tutur Rima dengan bersandar di dada Martin. Ia bisa jelas mencium aroma Maskulin tubuh Martin.
"Kamu jangan menggoda ku." Tukas Martin dan menjauhkan Tubuh Rima dari dadanya.
"Maksud kamu?." Rima dengan wajah tidak mengerti.
Martin menghela nafas dalam hampir saja ia mengacaukan rencana nya sendiri.
"Kamu jangan memancingku. Kalau kamu tidak mau aku lahap sebelum malam pertama" Bisik Martin dan cepat berlalu masuk kedalam mobil.
Rima tersenyum ia sangat yakin bahwa Martin sudah mencintainya.
"Ya udah aku pergi. Jaga diri baik-baik." Teriak Martin dari kaca jendela mobil yang ia buka.
__ADS_1
Dan melajukan mobilnya meninggalkan Rima yang masih berdiri terpaku.
"Sungguh kamu sangat Manis Martin."
"Aku jadi ingin cepat menikah dengan mu dan melakukan malam pertama itu bersama mu."
Gumam Rima dengan berdiri menunggu Taksi.
Tak lama Taksi pun datang dan Rima pun masuk kedalam Taksi tersebut.
Ternyata Martin berada tak jauh dari butiq tadi ia sengaja memberhentikan mobilnya, untuk menelpon kedua teman nya.
"Sekarang Rima sudah naik Taksi. Aku akan mengikutinya dari belakang. Nanti setelah itu Lu ikutin. Aku ada di jalan Marta no xx." Ucap Martin kepada Reyhan yang sudah bersama Dimas.
"Iya gue juga ada di pertigaan jalan Marta. Ayo lu cepetan jalan. Gue akan ngelakson Lu bila lu udah lewat." Ujar Reyhan.
"Ok." Martin dengan cepat menutup telepon nya. Dan melajukan mobilnya untuk mengikuti Taksi yang Rima naiki.
Selang beberapa belokan Martin mendengar mobil yang mengelakson. Martin sudah berpikir bahwa itu adalah Mobil Reyhan.
...****************...
Sementara itu Rasya yang sudah mendapat telepon dari Serly adiknya bahwa Rara tidak ada pulang sudah dua hari lamanya. Rara berpamitan untuk bertemu Yuda. Dan ternyata Rara tidak ada pulang kembali.
Rasya kini sedang berada dalam perjalanan ia meninggalkan Adelia di rumah Aldi. Rasya tidak mau membawa Adelia meskipun Adelia tadi sangat ingin ikut setelah mendengar Rara yang sudah hilang. Tapi Rasya tidak menginginkan Adelia untuk ikut. Dengan berat hati Adelia pun menurut.
Rasya sudah tahu rumah Yuda. Ia akan mendatangi rumah Yuda terlebih dahulu. Rasya melajukan mobilnya dengan sangat kencang. Ia cemas kepada keselamatan Rara bagaimana pun Rasya sudah menganggap seperti saudaranya sendiri.
Selang beberapa jam Rasya sudah sampai di depan Rumah tepatnya Vila milik Yuda yang berada di pinggir Pantai. Rasya mengetuk pintu beberapa kali tapi tidak ada sahutan atau orang yang membuka pintu. Rasya pun merasa jenuh karena sudah berdiri lama di depan pintu itu. Rasya pun memutuskan untuk pergi dari Vila itu. Rasya berpikir sejenak.
"Apa mungkin Rara di culik oleh genk preman itu?." Rasya bermonolog dan pikiran nya tertuju pada tempat Preman yang waktu itu telah menyekap Adelia.
"Aku coba saja datangi tempat itu. Walau pun apapun yang terjadi." Rasya akhirnya bertekad untuk mendatangi tempat genk tersebut.
Rasya melajukan mobilnya dan meninggalkan halaman depan Vila milik Yuda. Ia melaju ke arah jalan yang sangat sepi yang waktu itu Rasya pernah lalui saat menyelamatkan Adelia.
Detik berganti, Menit pun berlalu Rasya sudah melewati jalan yang terdapat banyak pohon karet tumbuh. Namun Rasya menghentikan mobilnya kala melihat dua buah mobil, dan satu mobil polisi terparkir di depannya. Markas Juana sebentar lagi ia tuju.
"Ada apa ini kenapa ada mobil Polisi juga?."
Gumam Rasya.
Rasya akhirnya memutuskan untuk keluar. Dan berjalan ke arah Tiga pria yang sedang mengintip ke arah Markas Juana dari kejauhan.
"Permisi." Rasya menyapa tiga pria tersebut.
Tiga Pria itupun menoleh kepada Rasya.
Dan salah satu dari pria itu Rasya sangat mengenalinya.
"Anda????."
"Kamu???"
__ADS_1
...Bersambung....