
"Ya benar. Itu adalah keinginan ibu," Ibu menimpali ucapan Alma. Membuat Aldi semakin di buat bingung.
"Jadi kapan nak?" tanya Ibu memastikan dengan raut wajah penuh harap. Berharap putranya memberikan jawaban yang membuat dirinya sangat bahagia.
Maharani kini menjadi bingung juga. Maharani tahu Aldi sedang kebingungan untuk menjawab. Karena sedari tadi, Aldi hanya terdiam dengan menunduk.
"Bu. Masalah itu kita bicarakan nanti saja ya. Sekarang ibu istirahat. Aku mau ijin keluar dulu sebentar." Maharani mencoba mengalihkan. Dan ucapan nya itu malah membuat Ibu Aldi tambah berharap.
"Benar ya neng? nanti setelah ibu keluar dari rumah sakit ini. Kita bicarakan pernikahan antara Aldi dan neng," imbuh Ibu dengan raut penuh harap.
Mau tidak mau Maharani mengangguk pelan, agar Ibu Aldi tidak membahas kembali.
"Kalau begitu. Aldi antar Nona Maharani dulu ya, bu!" Aldi berdiri seraya menyalami tangan sang ibu serta mencium punggung tangannya.
"Hati-hati. Jaga pacarmu baik-baik. Jangan sampai kena bahaya!" pesan ibu Aldi.
Aldi hanya mengangguk saja. Makin panjang kesalah pahaman nya, begitu pikirnya.
Akhirnya Aldi dan Maharani berjalan keluar. Aldi menghela nafas panjang, dengan mencoba menoleh ke arah Maharani yang berjalan di sampingnya.
"Nona ... saya gak tahu harus bicara bagaimana?" Aldi bingung cara mengungkapkan kepada Maharani untuk meminta maaf atas kesalah pahaman tersebut.
"Apa soal Ibu, yang menganggap aku adalah pacar kamu. Dan calon menantunya?" Maharani langsung menebak. Dan memang tebakan Maharani sangatlah benar.
Aldi mengangguk.
"Kamu maunya gimana?" tanya Maharani yang mencoba ingin tahu apa keputusan Aldi.
"Em ... Maaf ya sebelumnya Nona. Saya sebenarnya ingin mengatakan yang sebenarnya kepada Ibu kalau antara kita berdua tidak ada hubungan. Tapi. Saya tidak mau melihat wajah ibu yang penuh binar bahagia, tiba-tiba harus berubah suram dan sendu."
Maharani mengangguk-angguk mengerti, "Ya biarlah dulu," katanya enteng.
"Tapi Nona. Setelah ibu pulih nanti, saya akan menceritakan yang sebenarnya,"
Maharani menghentikan langkahnya, "Kamu akan berterus terang Al?"
"Iya Nona. Saya tidak mau membohongi ibu terlalu lama," ungkap Aldi.
"Dan kamu tega, membuat ibumu sedih dan kecewa?!" pekik Maharani walau dengan nada rendah.
__ADS_1
"Ya, tapi itu adalah jalan yang seharusnya. Dan mohon maaf, Nona harus terlibat dalam kesalah pahaman ini," ujar Aldi dengan tetap akan memberitahukan yang sebenarnya kepada Ibunya.
"Al ... apa aku tidak bisa membuatmu tertarik?" tanya Maharani yang ingin tahu penilaian Aldi tentang dirinya.
"Maksud Nona?" Aldi yang kaku, dan susah paham masalah asmara malah merasa tidak mengerti dengan pertanyaan Maharani.
"Aku ingin tanya sama kamu? bagaimana penilaian mu tentang aku. Dari segi penampilan, wajah, dan perilaku?!"
Aldi bengong. Tidak tahu harus berkata apa. Jujur banyak yang menarik di diri Maharani. Tapi apa mungkin Aldi harus mengatakan yang sebenarnya. Lalu untuk apa Maharani bertanya seperti itu? pikir Aldi.
Maharani menarik tangan Aldi. Melangkah lebih cepat untuk menuju parkiran.
"Nona, kenapa saya harus di tarik seperti ini?" Aldi sadar kalau tangan nya di tarik Maharani. Sehingga langkahnya mengikuti langkah Maharani.
"Aku gak mungkin nunggu jawaban kamu di lorong rumah sakit itu. Sedangkan kamu, malah bengong. Yang ada malah menghalangi pejalan yang lain," seloroh Maharani.
"Maaf," Aldi dengan menggaruk pelipisnya yang tak gatal.
"Ya sudah. Ayo saya antar ke Toko pakaian yang Nona inginkan," lanjutnya tanpa sadar belum menjawab pertanyaan Maharani.
Maharani mencekal pergelangan tangan Aldi, "Al, kamu belum menjawab pertanyaan ku?"
Aldi merasa gugup jika harus bersentuhan dengan Maharani. Dengan gerakan pelan, Aldi melepaskan cekalan tangan Maharani.
Aldi pun dengan cepat membuka pintu agar Maharani masuk terlebih dahulu. Kemudian setelah itu baru dirinya.
"Nona cantik, baik, dan terima kasih sudah mau berteman dengan saya," ucap Aldi menjawab pertanyaan Maharani yang beberapa menit lalu.
Maharani menggeleng, "Bukan tentang itu Al,"
Aldi menatap Maharani dengan bingung. Perasaan dirinya jujur. Apa Maharani tidak percaya atas ucapannya.
"Apakah aku tidak sedikitpun menarik, Al?"
"Tentu Menarik Non," jawab Aldi yang sungguh tidak tahu tujuan pertanyaan Maharani.
"Jika membuat mu menarik. Apakah bisa aku membuatmu jatuh cinta?"
"Hah?" Aldi menatap Maharani dengan gugup. Maksud pertanyaan Maharani ini sebenarnya kemana? begitulah pikiran Aldi.
__ADS_1
Maharani sudah kehabisan cara untuk bertanya. Kini ia meraih tangan Aldi. Kemudian menggenggamnya. Tak perduli Aldi akan beranggapan seperti apa. Yang terpenting Maharani akan mengungkapkan apa yang sebenarnya di rasakan hatinya. Entahlah ... setelah ini, Aldi akan memandang seperti apa.
"Al ... aku sebenarnya jatuh cinta sama kamu. Pertemuan pertama saat kamu tak sengaja menabrak bahu aku. Entah kenapa, menatap wajah kamu aku langsung tertarik padamu. Sehingga aku mencari cara agar aku bisa bertemu sama kamu. Dan rasa itu semakin membesar dan tak bisa aku pendam," akhirnya ungkapan rasa Maharani di utarakan kepada Aldi.
Aldi menyimak dan mengerti jelas ungkapan Maharani barusan. Namun Aldi tidak bisa merespon. Aldi bingung memilih kata yang tepat untuk Maharani.
"Al ... apakah kamu mau membuka hatimu untuk aku? sedangkan sekarang ibu sudah beranggapan kita berpacaran. Bahkan ibu mau kita menikah. Aku sungguh tak keberatan untuk menikah denganmu Al, aku sangat mencintai mu," Maharani kembali mengungkapkan isi hatinya. Dengan membawa nama Ibu Aldi yang telah salah paham.
Aldi menjadi teringat wajah sang ibu yang penuh binar bahagia saat menganggap dirinya dan Maharani mempunyai hubungan. Dan Aldi tidak mau membuat ibunya sedih dan kecewa. Apa mungkin dirinya harus membuka hati untuk Maharani? sedangkan wanita yang sangat di cintainya, sudah bertunangan dengan pria lain.
"Al?" tanya Maharani yang menatap Aldi terdiam.
"Iya," suara Aldi akhirnya keluar.
"Bagaimana?" tanya Maharani dengan penuh harap.
"Aku berjanji akan menjadi kekasih terbaik untukmu," ucap Maharani dengan mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Aldi.
"Apa aku coba saja membuka hati untuk nona Maharani? terlihat nona Maharani sangat tulus mencintai aku. Dan memperlakukkan ibu dengan baik," batin Aldi berbicara setelah menilai dari tatapan dan cara bicara Maharani.
Aldi berdehem. Dengan tetap membiarkan tangannya di genggam Maharani.
"Nona. Jujur saya belum punya perasaan sama Nona. Tapi saya akan mencoba menjalin hubungan dengan nona. Jadi, terima kasih nona sudah mau mencintai saya, dan buatlah saya untuk jatuh cinta kepada nona!"
Ada binar bahagia di wajah Maharani setelah mendengar jawaban Aldi. Walau Aldi belum mencintainya, tapi Maharani yakin suatu saat Aldi akan mencintainya.
"Jadi kita berpacaran?" tanya Maharani memastikan. Dan Aldi mengangguk. Membuat Maharani tak kuasa menahan gejolak bahagia. Hingga ia repleks memeluk Aldi tanpa aba-aba.
"Non--" Aldi merasakan degup jantung yang tak biasa saat mendapat pelukan dari Maharani. Ah masa iya dirinya sudah jatuh cinta? begitu pikirnya. Dengan gugup Aldi membiarkan Maharani memeluknya.
"Jadi mulai sekarang. Kamu jangan panggil aku dengan nona lagi. Karena mulai sekarang, aku pacar kamu," kata Maharani dengan masih memeluk tubuh Aldi. Aldi mengangguk. Bisa di rasakan wangi tubuh Aldi di penciuman Maharani. Hingga Maharani tersadar ada sesuatu yang mengganggunya yaitu, dirinya belum mandi.
"Ya Ampun gawat ... apa Aldi mencium bau tubuhku yang gak mandi? aduuh ... aku lupa," batin Maharani menggerutu saat teringat dirinya belum mandi dan membuat kadar kepercayaan dirinya melenyap.
Maharani cepat-cepat melepaskan pelukannya dari tubuh Aldi. Dan duduk tegak bersandar pada sandaran jok. Dan semua itu membuat Aldi menatap dengan perasaan bingung.
"Maaf. Aku lupa kalau aku belum mandi," ucapnya dengan menyengir. Dan ucapan Maharani tersebut sontak membuat Aldi tersenyum dan sedikit tergelak. Karena merasa lucu dengan kejujuran Maharani. Padahal tidak ada rasa bau saat Aldi mencium tubuh Maharani. Yang ada wangi khas parfum yang Maharani kenakan.
Senyuman Aldi sungguh membius Maharani. Maharani tertegun melihat senyuman Aldi.
__ADS_1
"Ini sungguh langka. Baru kali ini aku melihat Aldi tersenyum. Ternyata saat tersenyum menambah kadar ketampanannya," batin Maharani memuji.
...***...