
Acara Pengajian dan Shalawat yang di Pandu Ustadz Rizal pun selesai. Semua para tamu undangan langsung di persilahkan untuk menyantap makanan yang tersaji. Setelah di pastikan semua para tamu undangan sedang menikmati perasmanan. Adelia hendak ingin ke toilet. Ia merasakan ingin buang air kecil sedari tadi. Adelia pun bergegas pergi ke arah dapur, yang terdapat toilet di sana.
"Sayang ... kamu mau kemana?," tanya Rasya saat melihat Adelia meninggalkan ruang tengah tersebut, dan menghentikan langkah Adelia.
Adeliapun menoleh dengan tersenyum, "Aku mau ke toilet, Mas," ucapnya.
"Ayo, aku antar!," ajak Rasya membuat Adelia menggeleng cepat. "Ya sudah. Hati-hati ya!, aku tunggu di sini," lanjut Rasya setelah menerima penolakan dari istrinya. Adelia menjawab dengan mengangguk dan tersenyum. Kemudian, ia dengan cepat melangkah ke arah dapur.
Sementara itu Rasya kembali menerima ucapan selamat dari para tamu undangan yang belum beranjak mengambil makanan yang tersaji. Kini datang dua wanita dengan berbeda generasi menghampiri Rasya.
"Hai Rasya, apa kabar?" sapa Alin istrinya Rony, ibunya Ariyanti.
Rasya mengulas senyum tipis, menyambut sapaan dari bekas ibu mertuanya itu. "Saya baik Tante. Bagaimana Tante sendiri?" ucap Rasya dengan terus menatap Alin, tanpa melirik sedikitpun kepada Ariyanti.
"Tante baik. Oh, ya. Kamu menikah gak kasih kabar. Tahu-tahu istrinya sudah hamil empat bulan saja," cicit Alin. Ia tersenyum sambil melirik kiri kanan mencari sosok istri dari bekas menantunya itu. Karena tadi ia dan Ariyanti duduk di ruang tamu. Sehingga belum melihat sosok istrinya Rasya.
"Saya menikah secara tertutup Tante," sahut Rasya dengan tersenyum tipis.
Tanpa Rasya ketahui, Ariyanti diam-diam mencuri pandang ke arah Rasya. Dalam hati kecilnya ia masih mencintai sosok Rasya yang baik dan lembut itu. Namun, di sadari oleh Alin ibunya.
"Ariyanti. Sapa Rasya nya dong!" titahnya. Membuat Ariyanti tersenyum dan mulai menyapa Rasya. "Hai Rasya apa kabar?" sapanya.
"Baik," sahut Rasya singkat. Ia sebenarnya tidak ingin bersapa dengan Ariyanti. Rasya malu dan bersalah yang pernah Rasya rasakan saat membina Rumah tangga bersamanya.
Dari arah Dapur Adelia yang sudah keluar dari Toilet melangkah menuju dimana Rasya berada. Namun, ia urungkan untuk mendekat. Adelia menatap suaminya yang sedang berbincang dengan dua wanita berbeda umur. Adelia bisa melihat wanita yang seumurannya, terus tersenyum kepada Rasya, bahkan Adelia bisa melihat dari mata wanita tersebut memancarkan tatapan penuh cinta.
"Siapa wanita yang sedang berbicara dengan Mas Rasya?" tanya Adelia pada dirinya sendiri dengan suara lirih. Adelia terus berdiri di tempatnya dengan menatap Rasya dari kejauhan.
"Rasya, mana istrimu?" tanya Ariyanti kini. Ia begitu penasaran dengan sosok istrinya Rasya. Seorang Rasya bisa secepat itu menikah.
Rasya langsung mengedarkan pandangannya ke arah dapur, dan ia langsung menatap Adelia yang sedang berdiri melihat ke arah dirinya.
Rasya langsung melangkah dan menghampiri istrinya itu. Dan semua gerak-gerik Rasya di perhatikan oleh Alin dan Ariyanti. Terlihat sampai Rasya datang kembali sambil menggenggam tangan istrinya itu.
"Ini istri saya," ucap Rasya memberitahukan.
__ADS_1
Ariyanti matanya melotot seakan ingin keluar dari tempatnya. Ia tahu bahwa wanita yang sedang Rasya genggam adalah Adelia.
"A-Adelia ...," pekik Ariyanti dengan tidak percaya. Ia tahu betul bahwa Adelia telah meninggal saat Ruko Adelia kebakaran.
Adelia mengangguk dan tersenyum.
"Iya Adelia adalah istriku," ucap Rasya memperjelas.
Ariyanti dan Alin terdiam. Mereka berdua terus memperhatikan Adelia yang tersenyum tanpa menyapanya. Dilihat perutnya yang sedikit buncit, membuat Ariyanti ingin marah. Karena lagi Adelia telah berhasil hamil oleh Rasya, sedangkan dirinya di sentuh saja tidak, saat menjadi istrinya Rasya.
Kenapa dia diam tidak menyapa. Dan kenapa dia seperti tidak mengenaliku?. Batin Ariyanti bertanya-tanya karena Adelia terus terdiam tanpa menyapa kembali. Bahkan dari wajah Adelia terlihat tidak mengenali dirinya.
"Maaf. Tante, Ariyanti ... Istri saya harus istirahat. Silahkan menikmati hidangan dari kami," ucap Rasya seraya menggenggam Adelia. Kemudian mengajak Adelia pergi dari hadapan Mereka berdua.
Seperginya Rasya dan Adelia. Alin berbisik kepada Ariyanti. "Bukankah, wanita itu adalah teman dekatnya Rasya?" dan dijawab dengan anggukan oleh Ariyanti.
"Ma, aku rasa Adelia tidak mengenali aku. Padahal kita sudah saling kenal," kini Ariyanti yang balik berbisik.
"Hai kalian di sini?" pekik Lia Mama Rasya mengagetkan Ariyanti dan Alin yang saling berbisik.
"Baik, Nak. Ayo nikmati hidangannya!" ucap Lia.
"Iya Tante. Em ... Tante, boleh aku tanya. Rasya sudah berapa lama menikah?" kepo Ariyanti.
"Sudah sepuluh bulan," sahut Lia dengan benar.
Jadi setelah dia menceraikan aku. Dia langsung menikah lagi?. Gumam Ariyanti dalam hati.
"Wah udah lama juga ya Tante," ucap Ariyanti dengan senyum terpaksa.
"Iya. Maaf ya Ariyanti. Kalian harus berpisah. Rasya ternyata mengakui dirinya terpaksa menikahi kamu. Karena kemauan Suami tante, dan tante. Untung saja kamu sangat baik, rela melepaskan Rasya demi kebahagiaannya," ujar Lia dengan wajah memelas prihatin kepada Ariyanti.
"Tidak apa-apa Jeng. Ariyanti akan kami jodohkan dengan Pengusaha Muda," timpal Alin seperti memanasi Lia.
"Syukurlah," sahut Lia.
__ADS_1
"Ya sudah. Kami akan menikmati makanannya ya ...," ucap Alin dengan menarik lengan Ariyanti menuju meja perasmanan.
"Ma. Kenapa mama bilang, aku mau di jodohkan dengan pengusaha muda?" pekik Ariyanti yang tidak mau dijodohkan.
"Sudah diamlah. Lebih baik kamu terima keputusan Mama dan Papa. Dari pada kamu berdiam tanpa menjalin hubungan dengan seseorang," sahut Alin.
Sementara itu Rasya yang sudah berada di dalam kamar dengan Adelia. Terduduk di sofa panjang. Adelia sedari tadi mulutnya bungkam tidak bersuara. Membuat Rasya terus tersenyum karena sekarang hafal. Bahwa istrinya tersebut sedang menahan rasa cemburu.
"Sayang ... kamu cemburu ya?" tanya Rasya langsung tanpa berbasa-basi.
Adelia menautkan alisnya merasa heran karena Rasya bisa menebaknya langsung.
"Mas tahu?" tanyanya.
Rasya tersenyum dengan tangannya mengelus pipi Adelia, "Tahu dong. Karena aku sudah tahu sekarang kalau kamu diam membisu. Ciri-cirinya kamu sedang cemburu seperti waktu itu,"
Adelia tersenyum tipis, "Siapa wanita tadi Mas?" tanyanya.
"Itu adalah anak dari sahabatnya Papa," jawab Rasya tanpa tidak mengatakan yang sebenarnya. Karena Adelia yang sedang hamil, dan dalam keadaan ingatannya belum pulih. Rasya sengaja tidak ingin memberikan beban pikiran untuk Adelia.
"Dia sepertinya sangat menyukai Mas. Aku dapat mengetahui dari tatapan matanya,"
Rasya tersenyum, "Tapi yang aku sukai adalah istriku. Aku tak perduli, dia suka atau tidak suka sama aku. Yang jelas aku menyukai istriku, bahkan sangat mencintainya," tutur Rasya seraya ia memeluk tubuh Adelia dari samping.
Adelia tersipu malu. Ia tersentuh akan penuturan suaminya yang menyukai dan mencintai dirinya.
"Jangan bicarakan orang lain selagi kita berduaan," ucap Rasya. Kini tangannya ia eluskan pada perut istrinya yang buncit.
"Iya Mas. Maaf" sahut Adelia meminta maaf.
...***...
...Bersambung....
Tungguin episode selanjutnya!
__ADS_1
Dan jangan lupa Like, Comment, dan Hadiah Poinnya!.