You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 89.


__ADS_3

Terkadang Hidup tidak selalu apa yang kita impikan dan kita bayangkan. Keinginan yang berjalan mulus tanpa hambatan itu hanya impian saja. Nyatanya harus ada rintangan yang harus kita lalui untuk menempuh Impian itu.


Setelah beberapa hari kepergian Rasya ke Kota J. Adelia merasa cemas beserta khawatir karena Rasya belum nampak datang ke Kota B yang saat ini Adelia tempati tepatnya rumah Aldi beserta keluarganya.


Adelia berpikir apa ada sesuatu yang membuat Rasya tidak bisa datang kembali.


Adelia yang sedang membantu Ibu Aldi di dapur pagi ini pikiran nya tertuju kepada Rasya dan keselamatan Rara.


Adelia saat ini tengah memotong sayuran wortel. Tatapan nya kosong, namun tangan nya masih tergerak memotong wortel. Tanpa Adelia sadari pisau yang sedang ia pegang telah mengiris jari telunjuk kirinya.


"Auw..." Pekik Adelia setelah merasakan kesakitan pada telunjuknya.


Kebetulan Ibu Aldi yang tengah menggoreng ayam menoleh ke arah Adelia yang memekik kesakitan. "Ya Ampun... Neng. Itu darah. Al... Al...." Ibu Aldi panik karena melihat banyak darah yang mengucur dari jari telunjuk Adelia. Lalu berteriak memanggil putra nya Aldi yang kebetulan sedang berada di kamar mandi.


Aldi pun mempercepat gerakan mandinya. Karena panik mendengar Ibunya yang memanggil dirinya berulang kali. Aldi pun hanya melilitkan handuk sebatas pinggangnya. Dan keluar dari kamar mandi.


"Ibu ada apa?." Tanya Aldi Setelah keluar dari kamar mandi.


"Al... Neng Adel lihat. Tangan nya teriris dan mengeluarkan banyak darah." Ibu Aldi dengan menunjukan Jari Adelia. Sedangkan Adelia menutup matanya karena Adelia sangat ketakutan melihat darah sejak dari kecil ia mempunyai kelainan yaitu ketakutan jika melihat darah.


"Aku takut." Ucap Adelia dengan matanya yang terpejam.


Aldi yang panik langsung meraih jari Adelia itu lalu menuntun Adelia ke hadapan washtafel untuk Aldi membasuhnya.


Aldi membasuh Jari Adelia dengan pelan, kemudian Aldi menghisap darah itu agar berhenti keluar. Sementara Adelia yang masih memejamkan matanya merasakan bibir Aldi yang lembut di jarinya. Adelia menelan salivanya merasa ada gelenyar aneh pada tubuhnya yang sangat sensitif.


Setelah Aldi melihat dari jari telunjuk Adelia tidak mengeluarkan darah lagi. Ia meraih sebuah plester, dan membalutkan nya ke jari Adelia tersebut.


Setelah merasa tidak ada pergerakan lagi dari Aldi, Adelia mulai membuka matanya.


Deg.....


Dan saat membuka mata Adelia terperanjat kaget karena Aldi yang sedang menatapnya dengan hanya memakai handuk sebatas pinggang memperlihatkan dada bidang Aldi yang seperti roti sobek.


"Terima kasih." Ucap Adelia.


Aldi hanya mengangguk lalu pergi bergegas ke dalam kamarnya.


"Neng... sudah gak usah bantuin ibu ya. Neng duduk saja." Suruh Ibu Aldi.


"Tapi bu, Adel jenuh." Tolak Adelia.


"Nggak neng. Neng baru saja terluka. Neng mending di depan saja." Ibu Aldi kekeh.


"Ya udah Adel di depan ya bu." Adelia pun melangkah menuju ruang tengah.


Adelia bingung dirinya harus berbuat apa. Adelia pun ke luar rumah dan duduk di kursi teras rumah Aldi menghirup udara pagi yang sangat sejuk.


Banyak orang yang lewat memperhatikan Adelia yang duduk. Namun Adelia sendiri dalam keadaan melamun jadi tidak tahu banyak orang yang memperhatikan nya.


Saat Aldi keluar menangkap pandangan tiga pemuda yang sedang lewat depan rumahnya menatap Adelia dengan kagum.


Aldi menatap tajam ke arah tiga pemuda itu.


Aldi merasa risih, Aldi pun melihat ke arah Adelia yang ternyata sedang melamun.


"Nona. Apa Nona mau ikut ke bengkel." Kata Aldi.


Adelia yang sedang melamun terperanjat kaget. "A-Apa Al?."

__ADS_1


Aldi tersenyum. "Apa Nona mau ikut ke bengkel?." Aldi mengulangi pertanyaan nya.


"Boleh Al. Aku jenuh. Ibu Pasti sebentar lagi pergi." Sahut Adelia dengan antusias.


Dan Adelia tahu pasti Ibu Aldi akan pergi memetik daun teh ke perkebunan.


"Ya sudah. Kita sarapan dulu Non." Aldi dengan sopan mempersilahkan Adelia berjalan melewatinya.


Adelia mengerti dan masuk ke dalam rumah bergegas ke dalam dapur.


"Baru saja ibu mau menyuruh neng untuk sarapan. Eh panjang umur. Ayo neng sarapan." Ibu Aldi seraya mempersilahkan Adelia untuk sarapan.


"Terima kasih bu." Ucap Adelia dengan tersenyum.


Mereka pun menyantap sarapan yang telah di masak Ibu Aldi.


Setelah selesai sesuai tadi ajakan Aldi. Adelia kini sedang di bonceng Aldi dengan motor CBR milik Aldi menuju Bengkel milik Rasya.


"Al. Apa ada kabar dari Rasya?." Tanya Adelia memecah keheningan perjalanan.


Karena saat ini Aldi melajukan motornya dengan sangat santai jadi terdengar jelas Adelia yang bertanya pada dirinya.


"Tidak ada Nona." Sahut Aldi.


"Apa Nona sangat mengkhawatirkan nya?." Tanya Aldi kini dengan menatap spion yang terlihat wajah Adelia jelas di belakangnya.


"Iya Al. Apa aku boleh pinjam ponsel mu nanti saat di Bengkel?. Karena Ponsel milik ku ketinggalan di Rumah Rasya." Tutur Adelia.


"Boleh Non."


Perjalanan mereka pun akhirnya sampai.


"Wah Al... elu pantesan lama. Nyatanya ngebonceng Bu Bos." Celetuk Ivan.


"Asyik ni..." Kata Beni kini.


Sedangkan Aldi menatap tajam ke arah temannya itu dan bergegas membuka Rolling dor bengkel.


Adelia melangkah menuju ruangan Rasya yang saat itu kuncinya ia pegang.


"Non..." Aldi memanggil Adelia di ambang pintu.


"Iya Al... Ada apa?." Sahut Adelia.


"Ini Ponsel. Bukan nya tadi ingin menelpon Pak Rasya?." Aldi dengan menyerahkan ponsel miliknya.


Adelia menerima Ponsel Aldi. " Saya pinjam dulu ya Al... em apa nama Rasya di sini?." Adelia dengan mulai membuka menu kontak dan bertanya kepada Aldi.


"Pak Rasya." Kata Aldi.


"Kalau begitu Saya Permisi Non." Aldi pamit dan bergegas ke tempat tugas pekerjaan nya.


Adelia mengangguk dan mulai menekan tombol panggil untuk menelepon Rasya.


tutttt..... tutttt.....


Dan panggilan pun akhirnya di jawab.


"Hallo Al?." Suara Rasya dari sebrang telepon.

__ADS_1


"Rasya ini aku..."


"Sayang, kamu pinjam ponsel Aldi?." Tanya Rasya.


"Iya. Aku mengkhawatirkan kamu. Kamu kapan ke sini lagi?. Dan bagaimana dengan Rara apa kamu sudah menemukan nya?."


"Terima kasih sayang kamu telah mengkhawatirkan aku. Maaf ya sayang aku seminggu lagi ke sana. Dan masalah Rara sudah di temukan. Kamu tahu sayang siapa di balik pembakaran rumah mu?." Tutur Rasya.


"Syukurlah kalau Rara sudah ketemu. Kenapa seminggu lagi?. Em... masalah itu aku sudah tahu Sya..."


"Aku mau memantau Bengkel lain di Kota D sayang. Apa kamu sudah merindukan aku?. Baru aja Dua hari." Rasya dengan tersenyum menggoda Adelia di sebrang telepon.


"Tentu aku merindukan kamu Sya... Apalagi kamu meninggalkan aku di tempat yang sebelum nya belum pernah aku singgahi." Adelia dengan mengerucutkan bibirnya.


"Iya sayang sabar ya. Aku pasti akan secepatnya menemui mu. Oh ya... Em, tentang orang itu sudah di tangkap polisi."


Adelia seketika terdiam mendengar Rasya mengatakan orang yang di balik terbakar rumah miliknya sudah di tangkap polisi.


"Koq Bisa, apa kamu yang melakukan nya?." Selidik Adelia.


"Bisalah. Orang itu ternyata sudah mencurigainya terlebih dahulu dan saat wanita itu pergi menemui para preman yang menyekap Rara dan Yuda. Orang itu beserta teman dan polisi mengikuti dari belakang tanpa di ketahui wanita itu." Kata Rasya


"Yuda dan Rara di sekap?. Ya Ampun.... Terus siapa orang itu Sya?." Adelia penasaran.


"Em iya Rara dan Yuda di sekap. Sudahlah kamu tak perlu tahu. Aku tutup dulu ya telepon nya. Nanti aku kabari lagi pas siang."


"Ya sudah."


Sambungan telepon pun terputus. Kini Adelia menautkan alisnya seakan sedang berpikir akan orang yang sudah membantu menangkap Adelia yang Rasya tidak sebut nama nya.


"Siapa orang itu?." Gumam Adelia.


Tapi tak ada gambaran seorang Martin dalam benaknya. Adelia seakan telah berhasil melupakan sosok Martin yang pernah mengisi harinya selama tujuh bulan tersebut.


Saking besar Cinta Adelia kepada Rasya seakan tidak ada lagi beban hidupnya kini. Ia sangat bahagia Rasya telah memperjuangkan nya walaupun Rasya rela menantang Papa nya yang tidak menyetujui hubungannya.


Adelia berniat melangkah untuk mengembalikan ponsel milik Aldi.


Dan berdiri sejenak menatap ke arah lahan yang sedang para pekerja bangunan bangun.


"Apa itu para pekerja yang sedang membangun rumah Rasya?." Gumam Adelia yang terdengar oleh Aldi saat akan mendekati Adelia.


"Benar Nona. Lahan itu adalah lahan yang akan menjadi sebuah rumah." Celoteh Aldi.


Adelia pun membalikkan tubuhnya dan tepat berhadapan dengan Aldi.


Aldi merasakan sesuatu debaran di jantungnya. Debaran yang seakan kencang.


Kala Aldi menatap mata Adelia.


Ada apa dengan jantungku?.


Gumam Aldi didalam hatinya. Dengan wajah yang menampilkan biasa saja Aldi mengalihkan pandangan nya ke arah lain.


"Eh iya Al. ini ponselnya. Terima kasih ya." Ucap Adelia dengan tersenyum.


Senyum nya.....


Gumam Aldi di dalam hatinya.

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2