
Bertepatan Rara mengantar Ariyanti ke kamarnya. Adelia baru keluar kamar di pagi itu. Dengan membawa piring bekas serta gelas, Adelia melangkah ke arah dapur. Setelah berada di dapur. Adelia menaruh piring dan gelas kotor itu di washtafel.
"Rasanya ingin makan nasi padang deh, kayanya enak banget," gumam Adelia dengan membayangkan nasi padang. Entah mungkin karena bawaan kehamilannya. Adelia tiba-tiba menginginkan nasi padang di pagi itu.
Adelia kembali berjalan ke ruang tengah. Ia duduk di sofa, dengan mengetik pesan kepada suaminya.
Mas ... boleh gak aku keluar untuk membeli nasi padang?
Pesan terkirim. Namun belum di read oleh Rasya. Mungkin Rasya masih di jalan dan masih mengemudikan mobilnya.
Adelia masih menatap layar ponselnya yang ia genggam. Siapa tahu suaminya itu membalas dengan cepat. Namun, sampai dua puluh menit lamanya. Rasya belum juga membaca pesannya itu.
"Apa Mas Rasya, sibuk?" gumam Adelia.
Terdengar langkah seseorang dari arah tangga. Adelia melihat ke arah tangga itu. Dan Rara yang berjalan tersenyum, melangkah menghampiri Adelia yang terduduk.
"Del, sudah sarapan?" tanya Rara seraya duduk di sebelah Adelia.
"Sudah Ra. Tapi, saat ini aku ingin sekali makan nasi padang," ucap Adelia mengutarakan keinginannya.
Rara terkekeh, "Bumil ada-ada saja. Ya sudah aku belikan ya, mau?" tawar Rara.
Mata Adelia berbinar merasa senang, "Serius kamu mau belikan, Ra?" tanya Adelia memastikan.
"Iya. Apa sih yang enggak buat kamu, bumil." Rara menggoda Adelia.
Adelia tersenyum senang, "Ini uangnya Ra," Adelia sudah menyiapkan uang berwarna biru di balik Case ponselnya.
"Gak usah. Biar aku yang bayarkan," tolak Rara.
"Tapi--"
"Sudah. Taruh kembali uang mu. Sekarang aku keluar untuk membeli nasi padang mu itu," ucap Rara dengan berdiri.
"Hati-hati ya, Ra"
Rara pun mengangguk dengan tersenyum. Ia melangkah keluar untuk membeli makanan yang tengah di inginkan Rara.
Kini tinggal Adelia duduk seorang diri di sofa itu. "Mama kemana ya?" gumam Adelia bertanya pada dirinya sendiri tentang keberadaan Mama mertuanya.
__ADS_1
Adelia memutuskan untuk ke arah taman belakang. Ia duduk di sebuah kursi besi. Dengan memandangi bunga-bunga yang selalu di rawat oleh Lia. Adelia melihat sekumpulan kupu-kupu. Mengingatkan Adelia pada ingatannya yang selalu terngiang saat pikirannya berputar, mengingat kejadian saat ia terhanyut di sungai.
Adelia dengan duduk sendiri, mulai kembali mengingat ingatannya. Dari mulai berangkat meminta ijin kepada Rasya, tergambar jelas dalam ingatannya. Dan saat berada di perkebunanpun Adelia bisa mengingatnya tanpa ada rasa pusing pada kepalanya. Adelia tersenyum senang. Saat ia mengingat orang-orang yang kini ada di sekelilingnya.
"Alhamdulillah Ya Tuhan. Terima kasih. Sungguh ini mukjizat dari Mu. Aku bisa mengingat siapa diriku. Aku Adelia Cahaya Lestari, anak dari Ayah Wira Atmaja, dan Ibu Monika," Adelia menangis haru. Ia kini mengingat siapa dirinya. Sungguh keajaiban yang kini Adelia rasakan. Tidak harus bersusah payah menjalani pengobatan. Dan terapi seperti semacamnya. Kini ingatan Adelia kembali pulih.
"Aku ingat sekarang ... waktu itu aku mengikuti kupu-kupu yang terbang, dan entah mengapa aku tiba-tiba tersadar saat sudah berada di tepi sungai. Dan saat itu aku tidak tahu arah jalan untuk kembali. Lalu tiba-tiba hujan mengguyur serta petir yang bersahutan. Hingga aku tergelincir saat melangkah, dan terjatuh ke dalam arus sungai yang mengalir deras. Sehingga kepala ku terbentur beberapa kali pada batuan besar. Lalu kemudian aku tak sadarkan diri. Dan sadar saat aku sudah di tolong Albi, Arman, dan Dirga. Ya Tuhan ...," Adelia bermonolog dengan mengingat-ingat kejadian yang sebelumnya pernah terjadi.
Adelia tersenyum senang saat mengetahui bahwa ingatannya kini yakin pulih. Tidak ada rasa sakit pada bagian kepalanya saat berpikir keras.
Tiba-tiba suara seseorang membuyarkan lamunan Adelia yang sedang kegirangan itu.
"Boleh aku duduk di sini?" ucap Ariyanti membuat Adelia repleks menoleh.
Adelia mengangguk, "Bukannya, Ariyanti adalah mantan istri Mas Rasya?" batin Adelia. "Ya Tuhan ... pantas saja saat aku belum sadar dari ingatanku, aku sudah merasakan hawa cemburu saat melihat wajahnya," lanjut Adelia membatin.
Ariyanti pun duduk di sebelah Adelia, dengan memandang bunga-bunga yang indah nan terawat di taman itu.
"Di sini sejuk ya, sangat menenangkan," ucap Ariyanti mulai membuka percakapannya.
Adelia hanya mengangguk saja dengan mengulas senyum tipis. Adelia teringat saat dirinya masih status mantan pacar Rasya. Ariyanti pernah mengatakan bahwa dirinya akan membuat Rasya jatuh cinta. Dan mengancam Adelia untuk menyerah.
"Oh Tuhan aku jadi teringat akan Ruko ku yang terbakar itu?" pekik Adelia dalam hati. Ia mengingat akan Ruko yang sengaja di bakar oleh Rima sepupu Martin.
Ariyanti mengernyit menatap Adelia yang terus melamun, dan tidak menyahuti saat Ariyanti ajak bicara.
"Pantas saja, dia melamun" gumam Ariyanti.
"Del," Ariyanti kembali menegur.
"Eh i-iya Ariyanti, ada apa?" tanya Adelia.
Ariyanti mengerutkan dahinya, "What? apa kamu sekarang, ingat siapa aku?" tanya Ariyanti memastikan.
"Wah, sepertinya aku harus berpura-pura belum mengingat semuanya. Aku merasa akan ada sesuatu yang akan Ariyanti rencanakan," ucap Adelia di dalam hati.
"Nama kamu Ariyanti, kan?" Adelia akan berpura-pura belum mengingat semuanya.
Ariyanti seperti bernafas lega, saat Adelia hanya tahu namanya saja.
__ADS_1
"Adel ... apa Rasya mengatakan siapa aku sebenarnya kepada mu?" tanya Ariyanti dengan mulai membuat alibi.
Adelia menggeleng, memang benar adanya Rasya tidak pernah menceritakan wanita lain selama dengannya, apalagi Ariyanti. Yang ada Rasya terus menggoda, dan selalu mengajak bergulat di atas ranjang.
"Apa kamu ingin tahu, siapa aku sebenarnya?" Ariyanti mencoba berwajah serius.
"Memang siapa kamu sebenarnya?" tanya Adelia dengan memasang wajah yang antusias ingin tahu.
"Aku adalah calon istri kedua Rasya. Waktu itu Rasya pernah menikahiku, namun menceraikan ku. Karena kamu. Dia menginginkan kamu yang menjadi istri pertama, sehingga memilih kita bercerai terlebih dahulu. Lalu setelah menikahimu, dia akan menjadikan aku istri keduanya,"
Adelia ingin tertawa saat itu juga setelah mendengar penuturan Ariyanti. Tapi, Adelia tahan. Karena akan melayani kebohongan yang kini Ariyanti ciptakan.
"Benarkah begitu? Oh ya Tuhan, berarti aku adalah perusak rumah tanggamu?" ucap Adelia seakan merasa bersalah.
Ariyanti mengangguk, "Dan kamu telah merenggut kebahagiaan ku, mengambil Rasya dariku. Karena kamu sebenarnya adalah korban pelecehan dari Rasya. Rasya menikahimu karena rasa tanggung jawab. Karena kamu hamil anaknya,"
"Ya Tuhan ... wanita ini ular. Dia memberikan cerita bohong kepadaku. Agar aku membenci suamiku sendiri. Terima kasih Ya Tuhan ... Engkau mengembalikan ingatanku di saat yang tepat. Hingga Aku tahu akan ada wanita yang akan menghancurkan rumah tanggaku ini," Adelia membatin.
"Del ... kenapa kamu diam?" tanya Ariyanti yang tidak mendapati sahutan dari Adelia.
"Ah i-iya. Maaf aku hanya sedang mengingat-ingat saja. Namun, kepala ku mendadak jadi pusing," alasan Adelia.
Padahal Adelia ingin segera beranjak dari tempat itu secepatnya. "Maaf. Aku ke kamar dulu, ya. Nanti kita bicara lagi," ucap Adelia dengan segera pergi meninggalkan tempat itu.
Dan saat Adelia baru saja masuk ke arah dapur. Bertepatan dengan kedatangan Rara yang mencari keberadaannya.
"Del, ternyata kamu dari taman belakang," Rara yang merasa lega sudah bertemu dengan Adelia.
Adelia tersenyum senang, "Apakah itu nasi padang pesanan ku?" tanya Adelia dengan mata berbinar.
"Iya. Aku pesan sama rendang kesukaan mu," kata Rara dengan menyerahkan satu bungkus nasi padang yang baru saja ia belikan.
"Ah, aku sudah gak sabar ingin segera melahapnya," Adelia dengan cepat meraih bungkusan itu, dan dengan gerak cepat Adelia membuka bungkusannya.
Adelia menghirup aroma wangi dari kuah yang terbungkus itu. Dengan mata terpejam meresapi wangi khas kuah kental dari masakan padang itu. Membuat Rara terkekeh dengan kepalanya menggeleng.
"Bumil ... bumil ... ada-ada saja kamu!" kata Rara merasa gemas dengan tingkah Adelia.
Adelia hanya menyengir saja. Ia akan menyampaikan ingatannya yang pulih nanti kepada Rara saat waktunya tepat. Ia kini akan bersikap biasa saja. Begitupun kepada Rasya. Ia akan berpura-pura belum mengingat semuanya.
__ADS_1
...***...
...Bersambung....