
**Happy Reading.
❤❤❤**
"Apa??" Adelia melotot dan bernada keras.
Rasya hanya terkekeh melihat istrinya melotot dengan bersuara keras kepadanya.
Seketika Adelia mencubit lengan suaminya itu dengan gemas.
"Auw... Sayang, kamu malah nyubit sih?," pekik Rasya berpura-pura kesakitan.
"Kamu nyebelin Mas!!" Adelia dengan berlalu pergi dari toko Kue.
Rasya melihat wajah istrinya seperti sedang nampak kesal, Rasya pun ikut keluar mengejar istrinya tersebut. Adelia terus berjalan ke arah jalan dan Rasya pun hanya mengikuti nya dari belakang.
Ternyata Adelia hendak ingin membeli Bakso yang berada di seberang jalan rumah. Tukang Bakso tersebut berjualan nya dengan menggunakan motor.
"Pak, Bakso nya di bungkus dua," pesan Adelia kepada tukang Bakso.
"Iya Neng," sahut tukang Bakso
"Mas, mau beli juga?," tanya tukang Bakso saat melihat Rasya di belakang Adelia. Adelia pun sontak membalikkan badan untuk melihat siapa yang tengah di belakangnya.
"Tidak Mas," jawab Rasya.
"Mas, ngapain ke sini?,"
"Ngikutin istri Mas,"
Tukang Bakso tersenyum, saat melihat interaksi antara Adelia dan Rasya. Namun saat Tukang Bakso tersebut membuka Tutup Dandang Bakso yang langsung keluar aroma bakso dengan asap yang mengepul, Rasya langsung mendadak mual.
"Hueek..."
"Mas," Adelia langsung menghampiri suaminya.
"Mas kamu mual lagi?," dan langsung dapat anggukan dari Rasya.
"Sekarang, mending pulang Yuk!" ajak Adelia dengan menggandeng tangan Rasya untuk pulang.
Tapi Adelia lupa belum berpamitan kepada tukang bakso tersebut dan membalikkan tubuhnya terlebih dahulu.
"Pak, saya pulang dulu sebentar. Nanti saya ke sini lagi," pamit Adelia.
"Neng gak usah kesini, biar Bapak yang anterin Baksonya ke rumah Neng, rumahnya yang itu, kan?," tunjuk tukang Bakso ke arah rumah minimalis cat berwarna ungu.
"Iya Pak, maaf ya Pak saya malah merepotkan," kata Adelia dan berlalu meninggalkan tukang bakso tersebut.
Adelia menggandeng lengan suaminya untuk pulang, dan saat menjauh dari tukang Bakso Rasya tidak merasa mual lagi.
"Sayang, mual nya hilang loh, saat Mas gak mencium aroma bakso itu," tutur Rasya.
"Benarkah?,"
Rasya menjawab dengan mengangguk.
Mas Rasya mual karena mencium aroma bakso?. ini aneh, biasanya Mas Rasya suka sekali dengan bakso seperti aku. Batin Adelia.
__ADS_1
Saat sudah sampai di depan rumah, Rasya di suruh duduk di kursi yang berada di teras oleh Adelia. Karena Adelia tidak mau Rasya mencium kembali aroma bakso nanti saat tukang bakso mengantarkan bakso pesanan nya. Adelia pun sengaja menunggu tukang bakso di depan toko kue nya.
"Ini Neng Bakso nya," kata tukang Bakso. Dengan menyerahkan kantong kresek berisi dua bungkus bakso.
"Jadi berapa, Pak?."
"Tiga puluh ribu, Neng."
Adelia mengambil uang terlebih dahulu dari laci meja yang berada di dalam toko kue nya, dan di serahkan langsung kepada tukang bakso.
"Terima Kasih ya, Neng."
"Iya Sama-sama, Pak."
Adelia menaruh kantong kresek tersebut di atas meja, dan masuk dulu ke dalam rumah untuk mengambil mangkuk beserta sendok dan garfu nya.
"Mas, mau gak bakso nya?," tanya Adelia saat melewati suaminya yang masih terduduk.
"Kaya nya enggak deh, Mas takut mual lagi,"
"Jadi aku makan bakso sendiri?,"
"Ya gak apa-apa Sayang, lagian Mas lagi mual-mual terus. Gak tahu kenapa?,"
"Nanti kita periksa ke dokter ya, agar tahu keadaan Mas yang sebenarnya,"
"Iya Sayang. Udah sana makan dulu bakso nya mumpung masih hangat," suruh Rasya.
"Ya udah aku makan bakso dulu ya, Mas" Adelia pun bergegas masuk kembali ke dalam toko kue nya.
Setelah merasa sudah pas dengan rasa pedas sesuai selera nya, Adelia pun dengan cepat melahap bakso tersebut.
Kunyahan demi kunyahan sudah Adelia lahap, hingga beberapa menit Adelia menghabiskan semangkuk bakso yang berkuah pedas itu.
Tinggal sebungkus bakso, Adelia berniat untuk memberikannya kepada pekerja bengkel milik suaminya. Adelia pun mulai berdiri dan melangkah ke arah bengkel. Hanya butuh beberapa langkah Adelia sampai di bengkel.
"Ivan, ini ada bakso. Maaf cuma satu bungkus karena tadinya ini milik Mas Rasya, tapi Mas Rasya mendadak mual saat mencium aroma bakso nya. Ya... dari pada saya buang, mubazir kan, jadinya Sayang."
Kata Adelia dengan menyerahkan satu bungkus bakso kepada Ivan.
"Terima Kasih, Bu Bos... saya terima dengan senang hati," kata Ivan dengan tersenyum.
Adelia pun berlalu meninggalkan bengkel untuk kembali menemui suaminya yang tadi tengah ia tinggalkan.
Seperginya Adelia, Ivan lalu membawa bakso itu ke hadapan Damar dan Beni.
"Ini ada Bakso dari Bu Bos," kata Ivan.
"Wah, Enak kaya nya?," sahut Damar.
"Tapi kaya nya cuma satu bungkus?," tanya Beni.
"Emang!. Ini juga sebenarnya bukan khusus untuk gue, tadinya ini bakso milik Pak Bos, katanya di karenakan Pak Bos mual dengan mencium aroma bakso nya, ya sudah di kasih ke gue, dari pada di buang kan, mubazir...." tutur Ivan memberitahukan yang sebenarnya.
"Oh... Begitu, kirain khusus buat Elu," kata Damar.
"Bentar, tadi kata Lu... Pak Bos mual?," tanya Beni dan dengan cepat mendapat anggukan dari Ivan.
__ADS_1
"Aneh gak sih, Pak Bos mual karena mencium aroma Bakso?," kata Beni lagi.
"Iya, ya. Em... atau Pak Bos hamil," celetuk Ivan dan langsung dapat jitakan kepala dari Damar dan Beni.
"Eh, sakit Beg*," protes Ivan kepada kedua teman nya.
"Ya mulut Lu sih, nyablak nya aneh. Masa Pak Bos hamil?, mau juga istrinya yang hamil! bukan Pak Bos nya," celoteh Beni.
"Eh iya, hehe...." Ivan dengan menyengir mengingat aneh dengan mulutnya yang mengatakan bahwa Rasya hamil.
"Eh, kok Elu jadi ngelamun gitu, Dam?"
Kata Beni yang melihat Damar sedang memikirkan sesuatu.
"Gue, lagi berpikir. Bisa jadi Istrinya Pak Bos hamil tapi, keanehan nya kena ke Pak Bos," ujar Damar.
Ivan dan Beni hanya saling pandang.
"Gak ngerti ah gue," kata Ivan.
"Sama gue juga," sahut Beni.
Kini pandangan Damar tertuju ke arah kantong kresek yang tadi Ivan taruh di hadapan nya.
"Mending sekarang Lu makan tuh Bakso!" Pekik Damar.
"Eh bener, Astaga gue jadi lupa. Dan malah ngomongin Pak Bos lagi," sahut Ivan.
Ivan mulai memakan bakso itu dengan menaruh bakso ke dalam mangkuk terlebih dahulu. Sementara Damar dan Beni kembali bekerja sesuai tugasnya.
Tiba-tiba ada satu mobil mewah terparkir di depan bengkel tersebut. Dan keluarlah Pria Paruh baya yang menjadi sopir dari mobil mewah itu. Hingga Pandangan Damar, Ivan, dan Beni beralih menatap mobil mewah di depan bengkel tersebut.
"Permisi, apa benar ini Bengkel milik Pak Rasya?," tanya Pria Paruh baya tersebut kepada Ivan, Damar, dan Beni.
"Benar Pak, Ini bengkel nya," sahut Beni.
"Apa Bapak ada keperluan kepada beliau?," tanya Damar.
"Iya Saya ada keperluan," kata Pria Paruh baya tersebut.
"Silahkan Bapak tunggu di Kursi depan, Saya akan panggilkan Pak Rasya dulu di rumahnya," kata Beni.
"Memang rumahnya dimana?," tanya Pria Paruh baya yang kini baru keluar dari dalam mobil dan di susul oleh Ibu paruh baya beserta dua gadis. Yang satu seumuran Adelia, yang satu sedikit jauh usianya.
"Rumah beliau di samping Toko Kue ini, Pak!" tunjuk Beni sopan dengan menggunakan ibu jari.
"Ya sudah, tak perlu kamu panggil. Biar saya sekeluarga yang mendatangi rumahnya," tutur Pria Paruh baya tersebut.
Dan kemudian Pria Paruh baya tersebut meninggalkan bengkel, dan bergegas berjalan menuju Rumah Rasya, dengan melewati Toko Kue terlebih dahulu dengan di ikuti keluarga seperti yang di sebutnya tadi.
Pria paruh baya tersebut matanya seperti sedang memindai tempat Rasya tinggal. Lalu saat sudah di depan pintu rumah Rasya, Pria paruh baya yang seperti sopirnya memencetkan bel rumah Rasya.
Ting tong... Ting tong...
...****************...
...Bersambung....
__ADS_1