You Are My Mine

You Are My Mine
Extra Part 37.


__ADS_3

Serly langsung masuk ke rumah. Dan langsung di suguhkan dengan kegemasan dari Baby Daffa dan Baby Saffa yang sedang di ajak bermain di ruang tengah oleh Rasya dan Adelia. Pasangan suami istri tersebut nampak masih mengenakan baju kerjanya.


"Hai, keponakan aunty," Serly mendekat seraya mencubit gemas pipi gembul baby Daffa.


Rasya langsung menatap tajam, serta meraih tangan Serly dengan cepat, "Kamu melukai Daffa kalau tanganmu jail seperti itu!"


Serly hanya tergelak. "Aku gemas ingin cubit pipi gembulnya. Sumpah gemoy banget!" cicit Serly dengan ekspresi berbinar.


"Ya gemas sih boleh. Tapi, jangan cubit-cubit begitu. Aku gak rela ya!" jelas Rasya yang tidak mau adiknya itu sampai melukai baby Daffa.


Adelia yang menyimak hanya menggelengkan kepala dengan menyunggingkan senyuman.


"Baiklah. Baiklah ... kalau baby Daffa gak boleh aku cubit," Serly tersenyum dengan tatapan jail. "Aku cubit ayah nya saja," dengan tangan Serly yang langsung mencubit kedua pipi Rasya dengan gemas. Lalu setelah berhasil. Serly langsung berlari menaiki anak tangga seraya tangannya masih menenteng kantong kresek belanjaan dari Mini Market.


"Hei, Bocil! sakit tahu! awas ya, nanti akan aku balas!" pekik Rasya seraya memegang pipinya yang terasa panas bekas cubitan tangan jail adiknya.


Adelia hanya tersenyum seperti tadi.


"Sayang ... pipi Mas di cubit si bocil," ucap Rasya manja mengadu kepada sang istri.


"Ya gak apa-apa dong, Mas. Lagian, tadi Serly mau cubit Baby Daffa kamu larang. Ya sudah. Itu lebih baik kamu yang di cubit," balas Adelia dengan cuek.


"Tapi sayang ... Mas gak mau kalau ada yang cubit-cubit baby kembar kita," ujar Rasya yang tidak mau kedua bayi kembarnya dapat cubitan gemas. Menurutnya itu sangat menyakitkan bagi bayi kembarnya.


"Mas, wajar dong. Namanya juga bayi menggemaskan. Lagian, mana ada cubitan untuk bayi yang membuat sakit. Kalau sampai seperti itu. Berarti tidak punya perasaan! Mas, harusnya bersyukur bayi kita sehat dan menggemaskan. Sehingga bagi siapa yang melihat ingin mencubit karena gemas," Adelia panjang lebar menuturkan agar suaminya itu lebih memahami.


Rasya manggut-manggut, "Ya baiklah," ucapnya lirih.


Kemudian datang dua baby sister-nya si bayi kembar, yang sengaja Adelia suruh untuk mandi dan makan terlebih dahulu.


"Karena Mbak Sarah dan Mbak Nina sudah ada. Kami ke kamar dulu ya," kata Adelia ramah kepada dua baby sisternya.


"Ya Bu," sahut Sarah dan Nina bersamaan.


"Eh sayang tunggu!" Rasya langsung mengekori sang istri yang melangkah ke arah kamar mereka.


"Kita mandi bareng ya?" ajak Rasya berbisik kepada Adelia yang sedang memegang handle pintu untuk membuka.


"Ah, enggak ya Mas. Aku mau mandi sendiri," Adelia menolak. Tentu dirinya tidak mau mandi bersama Rasya yang akan berujung panjang.


"Kok gak mau?" Rasya pura-pura tidak paham atas penolakan sang istri. Kini Rasya sudah duduk di atas sofa memperhatikan istrinya yang memilih baju ganti untuk dirinya dan juga Rasya.

__ADS_1


"Aku ingin mandi cepat Mas. Kalau mandi bareng kamu, ujung-ujungnya yang aneh-aneh," sahut Adelia mulai membuka blazer yang ia kenakan.


"Yang aneh-aneh itu bagaimana sih sayang?" pertanyaan Rasya sok polos. Ia berdiri kemudian membantu Adelia membukakan kancing kemeja.


Adelia langsung memukul lengan Rasya, "Sok gak tahu ya kamu?" dengan bibirnya tersenyum, "Ini termasuk aneh-aneh," lanjut Adelia menunjuk tangan Rasya yang sedang membuka kancing kemejanya.


Rasya terkekeh. Kemudian menarik tengkuk Adelia dan membenamkan bibirnya pada bibir merah Adelia. Memberikan gerakan lembut, dan membuat Adelia terbuai.


"Yuk sayang! Mas gak kuat!" bisiknya. Tanpa mendengar jawaban Adelia. Rasya langsung menggendong tubuh sintal Adelia ke dalam kamar mandi. Dan menaruh Adelia ke dalam bathtube dengan gerakan lembut.


***


Serly baru saja bergabung di meja makan untuk makan malam. Namun sayang Serly dapat serangan cubitan dari sang kakak, yang Serly sendiri tidak tahu dari mana datangnya. Rasya memang sengaja menunggu sang adik di balik pilar untuk menyerangnya.


"Auw, kak Rasya! sakit tahu ...," Serly memekik kesakitan seraya memegang kedua pipinya yang baru saja Rasya cubit.


Rasya hanya tersenyum dengan menaik turunkan alisnya. Melangkah ke arah meja makan dengan santai.


Adelia yang melihat tingkah suaminya hanya menggelengkan kepala.


Sementara Lia sang Mama. Merasa keheranan.


"Serly kamu kenapa, Nak?" tanyanya dengan tatapan penuh selidik.


"Kak Rasya, sudah cubit aku, Ma ...," adu Serly dengan mengerucutkan bibirnya.


Lia langsung menatap ke arah Rasya, "Ngapain kamu cubit pipi adikmu sampai merah begitu?"


"Aku hanya membalas saja, Ma. Dia tadi udah cubit pipi aku duluan!" ucap Rasya dengan santai.


Lia sang Mama hanya menggelengkan kepala, "Anak udah punya dua. Masih kekanakan, ya?" kelakarnya.


Tiba-tiba Hadi datang dengan wajah tersenyum.


"Ayo Pa sini! sengaja kami belum mulai makannya," ujar Lia sang Istri.


"Ya lebih baik jangan dulu di mulai. Papa sengaja mengundang, Tuan Malik beserta putra tunggalnya," sahut Hadi dengan duduk di kursi yang biasa ia duduki.


Serly yang sedari tadi cemberut. Kini menatap tak suka kepada Papanya.


"Loh, Pa kok gak kasih tahu Mama? kalau Papa mau undang Tuan Malik, setidaknya Mama sama Bi Ida nyiapin makanan yang lebih banyak dan spesial," Lia merasa tidak percaya diri, akan suaminya yang telah mengundang Tuan Malik untuk makan malam di rumahnya. Walau di Meja makan sudah tertata banyak makanan hasil masakan dirinya dengan Bi Ida tadi. Namun, merasa malu karena yang di undang suaminya bukanlah orang biasa.

__ADS_1


"Tenang saja, Ma. Beliau orangnya sederhana kok, tidak pilih-pilih makanan." Hadi memberitahukan kebiasaan Tuan Malik yang memang sosok orang kaya sederhana.


"Iya, Ma. Rasya juga tahu ... waktu itu pernah makan bersama bareng Papa juga. Beliau sederhana orangnya," Rasya ikut menimpali.


"Ya sudah kalau gitu ... Mama sedikit lega," ucap Lia. "Tapi, Pa ... apa Papa sengaja mengundang beliau untuk makan di sini?" tanya Lia kemudian yang merasa penasaran.


Hadi tersenyum kepada Lia, kemudian selanjutnya menatap kepada putri bungsunya yang diam membisu.


"Beliau tadi habis telponan sama Papa. Dan Papa sengaja undang untuk makan di sini. Sekalian, ada yang Tuan Malik katakan,"


Seketika Serly langsung paham akan kedatangannya Tuan Malik beserta putranya yaitu Dido.


Namun, Serly tidak mau langkah yang akan Dido putuskan secepat ini.


'Kenapa di saat aku baru saja merasa ketenangan di hati ini. Harus di usik oleh kamu Kak Dido. Mengapa?' batin Serly menjerit. Baru saja Serly Merasakan tadi sore bisa tenang dengan masalah yang menimpanya, dengan dekat kembali bersama Aldi ia bisa melupakan sejenak perihal dosa yang telah ia lakukan bersama Dido.


Tapi kini, dengan mendengar Dido akan datang bersama Ayahnya. Serly seakan menjadi risau. Takut, apa yang Dido katakan akan segera menikahinya itu cepat terjadi.


Tiba-tiba datang Bi Ida dari arah ruang tengah, "Maaf Pa, Ibu ... di depan ada tamu. Katanya beliau mau bertemu Bapak beserta Ibu,"


Hadi menjawab apa yang Bi Ida sampaikan, "Suruh ke sini saja Bi," titahnya.


Bi Ida mengangguk, kemudian melangkah ke arah ruang tengah. Lalu datang kembali kini bersama Tuan Malik beserta Dido.


"Assalamualaikum," salam dari keduanya.


"Wa'alaikum salam ... ayo Tuan, mari duduk." Hadi menjawab seraya berdiri dengan mempersilahkan tamunya duduk di kursi meja makan yang sudah di sediakan.


Tuan Malik dengan tersenyum ramah menurut apa yang Hadi katakan. Begitupun dengan Dido ia langsung duduk di kursi dekat Ayahnya.


"Tuan, mohon maaf. Makanannya sederhana. Saya baru saja tahu kalau anda akan datang. Kalau saya tahu dari siang. Tentu saya akan menjamu anda dengan lebih baik," ucap Lia.


"Tidak apa bu. Saya tidak masalah. Lagian, saya sengaja kemari untuk bersilaturahmi. Ya sekalian saja, kalau saya di ajak makan malam sama Pak Hadi, saya tidak keberatan," balas Tuan Malik dengan nada becanda.


"Syukurlah kalau begitu," Lia akhirnya merasa lega perasaannya.


"Mending kita makan lebih dahulu. Ayo, Tuan, Nak Dido!" Hadi segera menyuruh tamunya untuk makan terlebih dahulu.


"Baiklah Pak Hadi, dengan senang hati!" seloroh Tuan Malik dengan tersenyum.


Kemudian berlangsunglah makan malam dengan sunyi.

__ADS_1


...***...


__ADS_2