You Are My Mine

You Are My Mine
Extra Part 50.


__ADS_3

Pagi menyapa Serly masih saja terlelap dalam tidurnya. Membuat Lia sang Mama harus membangunkan putri bungsunya tersebut. Memastikan jika Serly ada jadwal kelas pagi atau tidak.


Ceklek!


Lia menggelengkan kepala merasa kesal kepada putrinya yang ceroboh tidak mengunci pintu kamarnya. Di tambah Lia kembali kesal saat menatap Serly masih terbalut di dalam selimut tebal, dengan mata rapat terpejam.


Lia duduk di tepi ranjang menatap putrinya yang sebentar lagi akan bertunangan. Lia tersenyum mengingat putrinya tumbuh dengan cepat, memiliki wajah yang cantik, otak yang cerdas, hingga selalu mendapat prestasi. Membuat orang tua selalu merasa bangga.


"Serly ... bangun! sudah jam tujuh apa gak kuliah?" Lia menyingkap sedikit selimut yang menutupi wajah Serly.


Serly menggeleng merespon ucapan Mamanya.


"Serly, kamu perempuan jangan terlambat bangun!" Lia kembali bersuara memberikan nasehat kepada putrinya.


"Iya Ma ... sekali ini saja aku ingin tiduran dulu. Lagian, aku baru ada jadwal jam sepuluh," sahut Serly dengan masih mata terpejam.


Lia akhirnya membiarkan. Lia berdiri ingin memeriksa kamar putrinya yang sudah lama tidak ia lihat. Dari mulai lemari baju Lia membuka memastikan kerapihan di dalamnya. Lia tersenyum mendapati isi lemari putrinya yang rapih.


Setelah itu Lia membuka tirai kaca jendela. Sehingga sinar mentari pagi menelusup masuk melalui pantulan kaca jendela. Kini Lia menatap ke arah meja belajar melihat buku-buku tersusun rapih. Lagi-lagi Lia tersenyum mendapati putrinya yang sangat menjaga kerapihan di dalam kamarnya.


Lia kemudian melangkah ke arah meja rias menatap produk skincare milik Serly. Terlihat masih banyak yang baru dari mulai pelembab, foundation, bedak serta serum dan sebagainya. Lia lalu membuka laci yang berada di bawah meja rias melihat isinya terdapat banyak hairdryer serta catokan rambut, dan vitamin rambut.


Tangan Lia mengambil vitamin rambut. Ingin memastikan merk apa yang Serly pakai. Mengingat rambut Serly yang hitam lebat serta panjang, membuat Lia ingin ikut menggunakannya.


"Oh merk ini," ucap Lia setelah tahu merk apa yang Serly gunakan. Namun, mata Lia memicing saat menemukan sebuah kardus kecil. Kemudian Lia raih, dan membacanya.


Seketika mata Lia melotot. Setelah membaca kemasan dus tersebut. Lia menggeleng, menyangkal pikiran negative nya yang tiba-tiba masuk. Namun, Lia ingin memastikan jika dus kecil tersebut yang merupakan dus pil kontrasespi tidak ada isinya.


Mata Lia kembali terbelalak saat melihat ada dua blister pil di dalamnya. Dan yang satu seperti sudah di konsumsi terlihat sudah banyak yang sudah di pakai.


"Ya Allah Serly!" pekik Lia memenuhi isi ruang kamar Serly.


Serly yang sedari tadi santai tiduran, membuka matanya kaget. Kemudian cepat mengambil posisi duduk.

__ADS_1


"Ada apa Ma?" tanya Serly panik mendengar suara Lia.


Lia menatap Serly dengan tajam. Kemudian melempar dus dan dua blister pil kontrasepsi tepat pada wajahnya.


Serly tercengang. Menatap dua blister pil dan dusnya yang berada di hadapannya.


"Apa itu milik kamu Serly?" teriak Lia.


Beruntung Hadi dan Rasya sudah pergi bekerja. Sehingga hanya ada para perempuan yang kini di dalam rumah.


Serly terdiam dengan kepalanya menunduk. Tubuhnya bergetar takut. Tidak berani untuk bersuara maupun menjawab pertanyaan Mamanya.


"Jawab Serly!" Lia mendesak Serly. Walau di dalam hatinya belum siap mendengar jika pil itu milik putrinya.


Serly turun dari ranjang. Kemudian bertekuk lutut memeluk kaki sang Mama dengan air mata sudah berurai.


"Mama tidak butuh tangisan mu! mama butuh jawaban mu." Lia dengan suara melemah. "Apakah pil itu milikmu?" Lia dengan meraih tubuh Serly untuk berdiri.


Serly menurut. Kepalanya tidak berani menatap sang Mama. Sehingga Lia mengangkat dagu Serly untuk menatap dirinya.


Serly mengangguk pelan dengan berurai air mata.


Lia menggeleng dengan wajah kecewa.


"Kenapa Nak? kenapa kamu --"


Lia tidak kuasa meneruskan ucapannya. Lia memilih menatap putrinya yang kini menangis tanpa suara.


Lia memeluk Serly mendekap dengan erat. Membiarkan putrinya menangis lebih dahulu. Setelah Serly tenang Lia mulai menatap serius putrinya.


"Apa kamu tidak akan cerita?" cerca Lia. "Siapa pria yang telah melakukannya? bagaimana pertunangan mu dengan Dido, Ser?" lanjut Lia yang seakan bingung jika pria lain yang sudah menodai putrinya.


Serly mengambil nafas panjang, kemudian menceritakan kejadian yang membuatnya harus kehilangan hal paling berharganya. Serly menceritakan dari mulai meminum minuman yang di beri Rindu. Yang berakhir berada di kamar Dido.

__ADS_1


Lia menggeleng-gelengkan kepala, "Kenapa kamu tidak cerita sama Mama jika di kampusmu ada orang dengki semacam itu?"


"Orang itu sudah di keluarkan dari Kampus Ma ... dan Aku tidak berani berbicara yang sejujurnya kepada Mama. Aku takut. Aku malu Ma ...,"


Lia menghembuskan nafas dengan kasar. "Apa Dido benar-benar mencintai kamu nak?" Lia memastikan jika putrinya di cintai oleh pria yang akan menjadi tunangannya.


Serly mengangguk.


"Lalu dengan mu. Apa kamu mencintai Dido juga?"


"Iya Aku juga cinta ma ...," jawab Serly.


Lia menatap pil kontrasepsi, "Kamu punya ide darimana mengkonsumsi pil seperti ini?" dengan Lia mengambil pil tersebut memasukkan kedalam dusnya.


"Waktu itu aku frustasi Ma. Aku takut hamil. Aku tahu dari sebuah artikel untuk menunda hamil. Makanya aku meminum pil itu,"


Lia tidak bisa marah dengan lama kepada putrinya. Rasa kecewa pasti ada. Hanya Lia tidak ingin menambah beban pikiran putrinya.


"Sembunyikan pil itu! jangan sampai ada yang tahu selain mama." Lia memeluk Serly dengan erat.


"Terimakasih Ma ... maafkan aku yang membuat mama kecewa. Aku gagal menjadi anak yang baik untuk mama," kata Serly dalam pelukan Lia.


Tangan Lia mengusap-usap punggung Serly dengan lembut.


"Sudah Nak! Mama memang ada rasa kecewa. Tapi Mama tidak bisa marah. Karena percuma mama marah juga, tidak akan mengembalikan keadaan seperti semula," imbuh Lia.


Serly terdiam merasa bersyukur bahwa Mamanya tidak marah sampai murka.


"Nak! sekarang Mama paham. Kenapa Tuan Malik begitu gigih ingin menjodohkan kamu dengan putranya. Dan kamu sendiri tidak menolaknya. Bahkan acara pertunangan mu hari besok," Lia dengan mengingat kejanggalan saat Tuan Malik membicarakan perihal hubungan Serly dan Dido saat makan malam sesama rekan kerja. Di tambah saat malam makan bersama, Tuan Malik sengaja datang ke rumah tiba-tiba kembali membicarakan perihal acara tunangan.


"Sekarang mandilah! dan setelah itu sarapan!" Lia dengan mengusap kepala Serly.


Serly tersenyum dengan mengangguk.

__ADS_1


Lia punkeluar dari dalam kamar Serly.


...***...


__ADS_2