You Are My Mine

You Are My Mine
Extra Part 35.


__ADS_3

"Selamat menikmati, Mas, dan Nona!" suara pelayan mengagetkan Serly yang sedari tadi terus menatap ke arah meja dimana ada Aldi dan Rasya yang sedang berbicara dengan seseorang. Serly langsung menoleh ke arah meja di depannya yang sudah terhidang makanan yang di pesan mereka bertiga.


Kikan menatap dengan mengulum senyum, "Sudah puas ngelihatin nya?"


Serly tersenyum kikuk. Terlebih merasa tidak nyaman dengan tatapan Dido yang tajam namun tersenyum dengan getir.


"Ayo kita makan!" ucap Dido seraya mulai meraih makanan yang ada di hadapannya.


Serly dan Kikan mengikuti gerakan Dido. Mulai menikmati makanan yang di pesannya.


Terlihat Serly membenarkan rambutnya yang bergerak menutupi wajahnya saat dirinya setiap melahap makanan. Dido melihatnya. Kemudian Dido bangkit berdiri dan melangkah ke arah belakang kursi yang di duduki Serly.


Serly dan Kikan saling tatap. Merasa aneh dengan Dido yang pergi begitu saja. Tanpa keduanya tahu bahwa Dido kini sedang berdiri di belakang Serly.


Dido meraih rambut Serly, merapihkannya dengan jari jemarinya, lalu meraih jepit rambut yang selalu Serly capitkan pada tali tas yang Serly pakai.


Serly tercekat dengan debaran pada dadanya. Sementara Kikan tersenyum begitu manis memperhatikan setiap yang Dido lakukan.


"Sweet banget sih," gumam Kikan yang terdengar oleh Serly dan Dido.


Merasa rambut Serly sudah rapih. Dido kembali duduk di kursinya dengan cuek langsung melahap makanannya kembali.


"Terima kasih, kak" ucap Serly dengan perasaan campur aduk.


Dido menjawab dengan mengangguk di tambah senyuman tipis pada bibirnya.


Kikan terus tersenyum, dengan sesekali melirik ke arah Serly dan Dido.


'Kak Dido pasti cemburu. Lihat Serly saat tadi memandang terus ke arah meja Bang Aldi,' batin Kikan yang merasa ada roman perubahan wajah pada Dido sejak Serly menatap ke arah Aldi.


Keheningan tercipta di meja Dido, Serly dan Kikan. Ketiganya tidak ada yang membuka suara. Hingga ketiganya menyelesaikan makan. Masih saja belum ada yang bersuara.


"Aku ke toilet dulu," suara Serly memecah keheningan. Dido mengangguk sebagai respon.


"Aku ikut, Ser!" Kikan berdiri dan langsung merangkul tangan Serly berjalan ke arah toilet.


Di meja tinggal hanya Dido. Dido meminta bill kepada pelayan. Lalu membayarnya. Setelah itu Dido memainkan ponselnya merasa jenuh, menunggu Serly dan Kikan selama ke toilet.


"Hai, Dido!" suara Rasya menyapa Dido yang terduduk.


Dido berdiri dengan tersenyum menyapa kembali kepada Rasya, "Eh, Kak Rasya ada di sini?" pura-pura tidak tahu. Walau sebelumnya ia tahu dari tatapan Serly saat tadi.


"Iya, baru saja bertemu klien," jawab Rasya dengan tatapannya ke arah meja yang terlihat ada dua tas wanita tergeletak, kemudian minuman dan makanan yang belum di bereskan pelayan.


Sementara Aldi dengan wajahnya yang datar menyapa Dido dengan sedikit mengangguk. Dido pun merespon dengan cara yang sama.


"Di sini sama siapa?" tanya Rasya yang ingin tahu.


Dido tersenyum, "Dengan Serly adik kak Rasya, dan Kikan teman nya," balasnya.


Rasya tersenyum, "Pepet terus!" ucapnya. Tanpa tahu ada seseorang yang menggerutu di dalam hati.


'Jadi Pak Rasya, menyetujui Dido dengan Serly?' batin Aldi dengan tatapan menunduk menyembunyikan wajahnya yang merasa kesal.


Aldi merogoh ponsel yang berada di dalam saku jasnya. Menatap pesannya yang belum Serly baca sampai saat ini.

__ADS_1


'Apa kebersamaan nya dengan pria ini, sampai Serly tidak memeriksa ponselnya?' Aldi kembali membatin merasa kecewa terhadap Serly yang belum membaca pesan yang di kirimnya belum terbaca.


Dido hanya tersenyum merespon ucapan Rasya.


"Eh, Dido sorry. Saya lupa, kalau kalian sudah jadian. Sampai di rayain di puncak segala," kata Rasya yang sengaja menggoda.


Lagi-lagi Aldi yang mendengar kini bagai tersambar petir. Benarkah? begitulah pikirannya. Tapi Aldi akan memastikan terlebih dahulu dari gadis yang bersangkutan. Jika benar. Entah bagaimana respon Aldi yang akan terjadi saat nanti.


"Ah Kak Rasya bisa aja," Dido seraya terkekeh merasa tidak nyaman dengan Aldi. Sedari tadi Dido melirik ke arah Aldi untuk memperhatikan.


"Ya sudah. Nanti antar pulang ya ... saya mau kembali ke kantor," ujar Rasya seraya tangannya menepuk bahu Dido.


"Tentu kak. Selamat bekerja!" balas Dido menyemangati.


Rasya berlalu yang di ikuti oleh Aldi.


Dido menatap dua punggung yang sudah berlalu. Merasa tidak nyaman terhadap Aldi yang Dido tahu bahwa Serly menjalin hubungan dengan Aldi yang belum di ketahui oleh keluarganya.


'Maaf Bang Al,' ucap Dido di dalam hati yang merasa tidak enak terhadap Aldi.


Terlihat Serly dan Kikan datang menghampiri.


"Maaf, kak kita lama. Ngantri di toiletnya," ujar Kikan mewakili Serly yang hanya terdiam.


Dido hanya mengangguk merespon Kikan.


Serly menatap ke arah meja yang dimana Rasya dan Aldi saat tadi duduki. Wajah Serly mendadak sendu. Kemudian mengambil ponsel dari dalam tas nya, dan membaca pesan yang Aldi kirimkan yang belum ia baca saat pagi tadi.


Kak Aldi.


Serly tersenyum setelah membaca pesan yang di kirim Aldi. Tanpa Serly tahu Dido memperhatikannya.


Maaf kak, aku baru melihat ponsel. Kabar aku baik, kak Al sendiri gimana? boleh kak, aku tentu ada waktu.


Begitulah isi pesan balasan Serly untuk Aldi. Kemudian menaruh kembali ponsel tersebut ke dalam tas.


Serly kemudian mendongak menatap ke arah depan.


Deg!


Serly tercengang kaget, saat matanya berserobok dengan mata Dido yang menatapnya dengan dalam. Ada rasa aneh yang menelusup dalam diri Serly, merasa bersalah terhadap Dido tentang apa yang ia lakukan barusan.


"Pulang yuk!" ajak Kikan seraya menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Tapi aku naik taksi aja, ya!" lanjut Kikan dengan berdiri dan menggendong tas gendongnya.


Serly menatap Kikan, "Kenapa tidak bareng saja?"


Kikan menggelengkan kepala, "Aku sudah pesan taksi online, ada urusan sebentar sama nyokap," seraya memperlihatkan ponselnya kepada Serly.


"Ya sudah, hati-hati. Salam sama tante Diah," ucap Serly menitip pesan untuk Ibu nya Kikan.


"Ok. Nanti aku sampaikan," sahutnya. Kemudian tatapan Kikan beralih kepada Dido yang tengah menatap Serly, "Kak Dido, aku pamit ya ... makasih loh, traktiran nya!" ujar Kikan dengan tersenyum.


Dido menjawab hanya dengan tersenyum dan mengangguk.

__ADS_1


Kikan pun berlalu. Kini hanya tinggal Dido dan Serly. Lalu Serly merasa canggung. Di tambah Dido sedari tadi terus menatap ke arahnya.


"Pulang sekarang?" tanya Dido dengan sorot mata masih menatap lekat ke arah Serly.


Serly menjawab dengan mengangguk.


Tanpa banyak bicara lagi. Dido bangkit dari duduknya. Kemudian di susul oleh Serly dari belakang.


"Terima kasih kak," ucap Serly saat Dido membukakan pintu mobil untuk dirinya masuk. Dido hanya merespon dengan sedikit anggukan. Kemudian menutup pintu. Lalu beralih ke arah pintu kemudi.


Dido langsung menancapkan gas. Melajukan mobilnya dengan cepat. Membuat Serly mengernyit. Merasa tidak seperti biasanya Dido mengemudikan mobil dengan cara mengebut.


'Ada apa dengan kak Dido?' tanya Serly di dalam hati. Ia tidak berani menanyakan langsung kepada Dido.


Hingga tanpa terasa mobil Dido sudah sampai di depan halaman rumah Serly. Dido menghentikan mobilnya tanpa ucapan sepatah katapun. Entahlah ... moodnya menjadi berubah, saat Serly menatap lekat ke arah Aldi.


Serly membuka seat belt. Kemudian menatap ke arah Dido, "Kak, terima kasih. Em ... apakah kakak mau singgah dulu?" tanya Serly basa-basi tentunya.


Dido menggeleng tanpa suara.


Serly merasakan ada perubahan terhadap Dido. Namun, ia merasa tidak tahu apa penyebabnya. Bahkan, untuk menanyakan nya pun Serly merasa enggan.


"Ya sudah. Kalau begitu aku masuk rumah," ucap Serly dan langsung membuka pintu mobil. Lalu keluar.


Dido menghela nafas panjang. Lalu menyandarkan punggungnya pada jok mobil.


"Entahlah ... baru saja aku melihatmu menatap pria itu dengan dalam, aku merasa cemburu yang sangat hebat. Apalagi aku sampai melihatmu bersentuhan. Entah bagaimana jadinya?" monolog Dido yang membayangkan Serly bersentuhan dengan Aldi. Baru saja melihat Serly menatap lekat kepada Aldi saja. Ia sudah merasakan cemburu yang hebat. Apalagi lebih dari itu.


Dido langsung melajukan kembali mobilnya keluar dari halaman rumah Serly. Dido melajukan mobilnya secara brutal. Tanpa mengingat akan keselamatan dirinya. Beruntung saja Dido sudah lihai dalam mengemudi. Hingga ia tidak mendapatkan masalah dalam perjalanan.


***


"Sayang, sudah selesai?" tanya Adelia yang menunggu di ruangan Rasya dari bertemu Klien.


Rasya tersenyum, "Sudah sayang ... mau pulang sekarang?" seraya tangannya membelai pipi mulus istrinya.


"Mas, emang gak ada kerjaan lagi?" tanya Adelia memastikan bahwa suaminya sudah tidak ada kerjaan lagi.


"Sudah sayang ... ayo!" Rasya langsung merangkul bahu Adelia lalu keluar dari ruangannya.


Adelia dan Rasya yang baru saja keluar ruangan kebetulan berpapasan dengan Aldi.


"Al, saya pulang duluan ya!" ucap Rasya kepada Aldi.


Aldi mengangguk serta tersenyum, "Iya pak. Hati-hati!" ucapnya memberikan pesan.


Rasya tersenyum kemudian berlalu.


Aldi kini duduk di kursi ruangannya. Tangannya, meraih ponsel kemudian mengetik pesan untuk Serly.


Saya tunggu di Taman dekat komplek rumah mu!


Begitulah isi pesan yang Aldi kirimkan. Ia sengaja memilih tempat yang dekat dari rumah Serly. Agar Serly tida di curigai saat nanti hendak keluar. Terserah Serly alasannya mau apa. Begitulah pikiran Aldi sekarang.


Tanpa membuang waktu lama. Aldi cepat berdiri dan keluar dari ruangan, bergegas untuk pulang dan menemui Serly di tempat yang sudah ia janjikan.

__ADS_1


...***...


__ADS_2