
Selamat Membaca!.
Adelia dan Rara masih terduduk di bangku Taman. Keduanya menceritakan saat-saat dulu Adelia mempunyai toko kue. Hingga Rara tanpa sengaja menyebutkan nama Martin. Membuat Adelia wajahnya berubah sendu, dan mengingat dulu saat kebersamaannya dengan Martin.
"Tapi, aneh Del ... selama aku di sini. Semenjak kejadian itu, Martin gak pernah ada."
"Kejadian yang mana, Ra?" Adelia yang belum paham akan pembahasan Rara, sehingga ia bertanya.
"Itu. Kejadian terakhir. Aku di culik dan di sandra oleh kedua tiga preman yang saat itu menculik kamu juga. Dan yang lebih parahnya lagi. Yuda juga di culik," Rara sambil mengingat saat itu ketika dirinya di sandra oleh tiga preman suruhan Rima.
"Benarkah?, kok bisa Yuda juga di culik." Adelia tidak paham. Dan ia juga teringat saat Rasya pernah menceritakannya.
Rara wajahnya terlihat serius. "Rima tidak terima karena Yuda telah menolong kita, dan yang paling murkanya. Kamu masih Hidup," jelas Rara.
"Ya Tuhan. Rima begitu ingin menyingkirkan aku. Bahkan orang yang di dekatku juga jadi sasarannya," Adelia seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa tidak mengerti akan Rima yang begitu ingin membuatnya celaka.
"Iya Del. Untung saja datang Rasya dan Martin membebaskan aku dan Yuda dengan membawa Polisi ke tempat itu. Sehingga Rima dan tiga preman itu di tangkap dan di penjara," ujar Rara.
Rara menhela nafas sejenak, "Saat peristiwa itu selesai. Martin mengikuti mobil Rasya yang membawa aku, ke rumah ini. Lalu Martin menanyakan keberadaan kamu. Dan Rasya menegaskan. Bahwa kamu akan menikah dengannya. Dia juga memastikan kembali dengan bertanya padaku. Lalu aku jawab iya," lanjut Rara mengungkapkan.
"Terus apa dia terlihat baik-baik saja, Ra?" Adelia ingin memastikan.
Rara menggeleng, "Setahu aku, sepertinya Martin tidak menerima, Del. Aku bisa lihat dari raut wajahnya. Dan dia ingin sekali menemui kamu, mungkin untuk memastikan kebenarannya,"
Adelia menjadi terdiam. Seperti merasakan sangat bersalah terhadap Martin. Yang tentu saat itu ia sudah bertunangan dengannya. Tapi rasa kekecewaan dan mengikhlaskan semuanya membuat Adelia mundur. Hingga Rasya datang kembali, membuat rasa cinta yang ada di dalam hati Adelia yang sempat memudar muncul kembali dan berwarna.
"Ra ... aku ingin menemuinya. Aku ingin meminta maaf. Aku belum sempat mengatakan langsung kepadanya," suara Adelia terdengar bergetar, menahan rasa sedih karena rasa bersalahnya yang tidak pernah berbicara langsung kepada Martin.
"Tapi bagaimana dengan suamimu? apa, dia akan mengijinkan?" Rara tidak yakin terhadap Rasya yang akan memberikan ijin untuk Adelia menemui Martin.
"Aku gak yakin Ra ... dia pasti akan melarang aku," ucap Adelia dengan lirih. "Tapi, kita kerumahnya tanpa sepengetahuan Mas Rasya. Pasti bisa!" yakin Adelia.
"Ya sudah aku akan mengantar kamu. Kamu yang tahu alamat rumah Martin. Aku ikut saja," Rara mendukung Adelia untuk menemui Martin dan akan menemaninya datang ke rumah Martin.
Adelia tersenyum, dan cepat bersiap-siap mengganti pakaian dengan yang lebih tertutup. Begitupun Rara.
Dengan mengunci pintu terlebih dahulu. Keduanya keluar dari rumah itu, dan menaiki Taksi untuk menuju rumah Martin.
Setelah tiga puluh menit lamanya. Taksi yang membawa Adelia dan Rara berhenti di depan rumah Martin. Adelia turun dengan hati yang tidak menentu. Merasa gugup dan pastinya ada sedikit rasa rindu. Di susul oleh Rara yang terperangah takjub melihat bangunan rumah Martin yang sangat megah.
Keduanya menghampiri pintu pagar yang terkunci gembok. Membuat Adelia sedikit kecewa. Karena sudah di pastikan rumah dalam keadaan kosong.
"Di kunci rumahnya, Ra ...," ucap Adelia dengan lirih.
"Mereka sedang pergi mungkin, Del" Rara menenangkan.
Dari kejauhan tetangga Martin menatap ke arah Adelia dan Rara. Sehingga perlahan datang dan menghampiri mereka.
"Maaf Kalian mau bertamu ke rumah Martin?" tanya Pria paruh baya kepada Adelia dan Rara.
"Iya Pak. Tapi sepertinya penghuni rumah sedang pergi," jawab Adelia.
"Memang betul, Non. Sudah hampir sebelas bulan Martin dengan Bu Meli pergi," sahut si Bapak tersebut.
__ADS_1
"Sebelas bulan?" Adelia dan Rara bersamaan dengan wajah terkejut.
"Iya, Non."
"Apa bapak tahu, mereka pergi kemana?" tanya Rara kini.
"Pergi ke Australia, mengobati Martin yang sakit," ujar bapak tersebut
"Martin sakit?" Adelia tercengang.
"Martin sakit apa ya, Pak?" tanya Rara.
"Kurang tahu, Non penyakitnya apa. Yang saya tahu, Martin prustasi karena di tinggalkan kekasihnya," Bapak itu menjelaskan apa yang ia tahu.
Adelia dan Rara saling tatap. Penjelasan dari bapak itu membuat Adelia merasa bersalah.
"Kalau tidak ada yang Nona tanyakan lagi saya permisi," ucap Bapak itu.
"Terima kasih ya, Pak. Sudah memberitahu kami," ujar Rara sebelum bapak itu pergi.
"Iya sama-sama, Non," Bapak itu pun pergi meninggalkan Adelia dan Rara.
Kini Adelia dan Rara masih berdiri di depan gerbang pagar tersebut.
"Del, ayo lebih baik kita pulang!" ajak Rara.
Adelia pun menganggukkan kepala, mengiyakan ajakan Rara. Walau kepulangannya tidak membuahkan hasil bertemu dengan Martin. Namun, Adelia membawa rasa bersalah dengan pertanyaan yang begitu besar tentang apa penyakit yang Martin derita sehingga berobat di luar negeri.
Adelia dan Rara kembali dengan menaiki Taksi. Dan tiba-tiba Adelia merasa perutnya lapar. Sehingga meminta sopir Taksi itu memberhentikan laju mobilnya di depan sebuah Cafe, yang kebetulan Adelia tahu Cafe tersebut adalah Cafe milik Martin.
"Iya Ra. Aku lapar banget. Mungkin di tambah sebentar lagi waktunya makan siang," Adelia dengan menyengir. Adelia mulai mengedarkan pandangannya, mencari seseorang yang bisa ia tanya tentang Martin.
"Duh ... siapa yang harus aku tanya?. Di sini gak ada yang aku kenal," batin Adelia.
Rara memperhatikan Adelia yang clingak-clinguk setelah membaca buku menu makanan di tangannya.
"Del, kamu nyari siapa?" tanya Rara memastikan.
Adelia tersentak, dan menatap ke arah Rara, "Aku nyari orang yang bisa aku tanya tentang Martin, Ra ... karena aku tahu ini Cafe milik Martin," dengan kembali mengedarkan pandangannya setelah menjelaskan kepada Rara.
"Biasanya Cafe suka ada pengelolanya, atau manager gitu. Coba kamu tanya!" Rara menyarankan.
Adelia tersenyum, "Iya benar Ra. Aku kok, gak kepikiran ke sana sih," ucapnya.
"Ya nanti kamu tanya. Sekarang kamu pilih menu dulu. Bukannya, kamu lapar?"
"Iya Ra. Aku makan dulu,"
Adelia dan Rara memesan menu makan siang yang sama. Setelah pesanan tersaji. Mereka makan dengan santai.
"Aku coba tanya ke kasir itu ya, Ra. Sekalian bayar" ujar Adelia setelah selesai makan.
Rara mengangguk, "Hati-hati Del," sahutnya.
__ADS_1
Adelia terkekeh, "Emang aku mau kemana? pakai Hati-hati segala,"
"Ya bisa saja, aku takut kamu terpeleset atau tersandung, gitu"
"Ya-ya ...," Adelia terkekeh dengan mulai meninggalkan Rara. Adelia berjalan melangkah menghampiri meja Cashier.
Adelia setelah berhasil membayar. Mulai bertanya kepada Penjaga Cashier tersebut.
"Maaf, Mbak. Em ... boleh saya ketemu dengan Manager Cafe di sini?" ucap Adelia dengan hati-hati.
"Ada perlu apa ya, Mbak ini?" tanya penjaga Cashier tersebut seperti tidak menyukai Adelia.
"Oh ... em, saya ada keperluan pribadi. Boleh saya bertemu?"
Penjaga Cashier tersebut yang merupakan wanita seumuran Adelia memindai penampilan Adelia dari bawah hingga atas.
"Cantik. Tapi tunggu! sepertinya sedang hamil," gumam wanita itu dengan menatap ke arah Adelia.
"Mbak ... bagaimana?" tanya Adelia memastikan.
"Oh iya. Tunggu saya akan menyuruh pelayan untuk mengantarkan anda, keruangan Manager," kata Wanita itu dengan meninggalkan Meja Cashier.
Dan tak lama Wanita tersebut datang dengan seorang pelayan Cafe.
"Win ... tolong kamu antarkan, Mbak ini ke ruangan Manager," ucapnya memberikan perintah kepada pelayan tersebut.
"Oh ya. Mari Mbak ... saya antar!" ucap Pelayan itu dengan ramah.
Adelia mengangguk dengan tersenyum. "Terima kasih ya, Mbak" ucap Adelia saat akan berjalan menuju ruang Manager Cafe tersebut.
Pelayan itu membawa Adelia ke depan sebuah pintu yang tertutup.
"Ini Mbak ... ruangan Pak Manager," ucapnya.
"Em ... boleh sama Mbak di ketuk dulu. Dan kasih tahu kalau ada yang mau bertemu dengannya," pinta Adelia.
"Oh, boleh." Lalu pelayan itu mulai mengetuk pintu tersebut, dan terdengar suara sahutan dari dalam menyuruhnya masuk. Dan pelayan itu masuk. Hingga tidak lama ia kembali keluar menemui Adelia.
"Silahkan masuk Mbak! beliau sudah menunggu," ujar Pelayan itu menyuruh Adelia untuk masuk.
"Terima kasih ya, Mbak. Dan ini untuk Mbak dari saya," Adelia dengan menyerahkan sedikit uang untuk pelayan itu karena sudah membantunya.
"Ah tidak usah Mbak. Saya ikhlas kok mengantar Mbak-nya ke sini," tolak Pelayan itu.
"Enggak, Mbak jangan tolak." Adelia memaksa menyerahkan uang yang ia serahkan dengan ia genggamkan pada genggaman pelayan itu.
"Ya sudah karena Mbak memaksa. Saya terima. Terima kasih banyak ya, Mbak. Dan saya akan kembali bekerja," ucapnya dengan tersenyum lalu melenggang pergi meninggalkan Adelia di sana.
Kini Adelia berdiri sendiri di depan pintu Manager Cafe tersebut. Dengan menghela nafas panjang Adelia mulai mengetuk dan membuka handle pintu itu setelah mendengar perintah masuk dari dalam. Dan melangkah menemui seseorang yang sedang fokus pada layar Laptopnya.
"Permisi, Pak" ujar Adelia saat sudah menghadap pada meja Manager Cafe tersebut.
"Iya ada apa ya?" tanyanya dan terbelalak kaget saat mengalihkan tatapannya dari Laptop ke arah Adelia.
__ADS_1
...***...
...Bersambung....