You Are My Mine

You Are My Mine
Mendadak


__ADS_3

Adelia gelagapan atas Martin yang berbisik di telinga nya. Adelia merasa tersengat setrum kala hembusan nafas Martin mengenai telinga nya. Dengan cepat Adelia menyingkirkan Martin yang begitu dekat dengan wajah nya, Adelia cepat membuka lemari pendingin untuk mengambil air kemasan di dalam nya. Adelia pun dengan cepat ke ruang tengah untuk menghampiri Tante Meli. Martin pun mengekori dan ikut duduk di sofa ruang tengah.


"Adel.... kedatangan Tante ke sini, ingin mengatakan sesuatu." Ucap Tante Meli dengan Wajah nya yang serius.


"Sesuatu tentang apa tante?." Tanya Adelia.


"Ehmmm.... apa Martin belum mengatakan sebelum nya?." Tante Meli malah bertanya kembali kepada Adelia, dengan melirik sebentar ke arah Martin.


Adelia pun melirik ke arah Martin, Martin yang di lirik hanya tersenyum.


"Tentang apa ya Tante?. Martin belum mengatakan apa pun pada Adelia." Adelia sangat penasaran.


"Martin, ingin cepat menikah dengan kamu." Ujar Tante Meli.


"Hah apa?." Adelia Melotot kaget dengan Ujaran Tante Meli.


"Kenapa? sampai melotot gitu?." Martin menggoda Adelia.


"A-aku hanya Kaget saja." Adelia beralasan.


Tante Meli tersenyum. Melihat Adelia yang begitu kaget akan penuturan nya, yang mengatakan kalau Martin ingin cepat menikah dengan dirinya.


"Tapi, Adel belum siap tante." Adelia ternyata belum siap.


"Kenapa, Del?." Tanya Tante Meli.


Sedangkan mata Martin menatap tajam ke arah Adelia.


Adelia sebelum berucap, menatap ke arah Martin sebentar.


"Bisa tidak kita bertunangan dahulu. Setelah itu kita bisa mempersiapkan tentang pernikahan?." Pinta Adelia, ternyata Adelia ingin bertunangan terlebih dahulu.


"Ok. Aku Siap. Namun sebulan setelah pertunangan Kita harus cepat menikah." Martin menyanggupi apa permintaan Adelia.


Tante Meli sedikit resah mendengar Adelia yang meminta bertunangan dahulu. Tante Meli resah karena Jika sebulan lagi Martin menikah, takut nya Rima sudah kembali dan akan meminta Martin untuk tidak menikah.


Rima ke Singapore sedang berobat ke psikiater terbaik, agar Rima tidak terlalu histeris jika sedang merasa marah, dan itu usul Dari Meli mama nya Rima.


"Jadi kalian akan bertunangan dahulu?." Tanya Tante Meli memsatikan kembali.


Adelia pun menjawab dengan mengangguk.


"Iya." Jawab Martin.


"Ya sudah, Tante ingin kalian cepat mempersiapkan acara pertunangan nya." Suruh Tante Meli.


"Apa kita harus menunggu Rima datang terdahulu tante?." Tanya Adelia.


"Tidak perlu." Jawab Tante Meli.


"Kenapa Tante?" Kini Martin yang bertanya. Karena Merasa heran kepada Tante Meli seperti terburu-buru.


"Ah tidak apa-apa. Takut kalian malah menunggu lama. Rima kan baru beberapa hari pergi nya juga, tidak mungkin akan lebih cepat kembali lagi." Tante Meli berbohong.


*Maafkan tante berbohong Martin, ini semua demi kamu. Tante tidak mau Rima akan mengacaukan rencana pertunangan mu*.


Ucap Tante Meli di dalam hati nya. Yang merasa bersalah karena telah membohongi Martin.


"Oh begitu. Ya sudah kita akan secepatnya melaksanakan acara pertunangan nya Tante." Martin memang sangat bersemangat.


Tante Meli pun tersenyum.

__ADS_1


Tiba -tiba Rara datang, seperti biasa ia habis dari Swalayan berbelanja kebutuhan untuk bahan-bahan membuat kue.


"Ah ada Tante Meli di sini?." Sapa Rara dengan menyalami tangan Tante Meli.


"Iya Ra, Kamu baru pulang?." Tanya Tante Meli.


"Iya Tan, Tadi di Jalan macet banget. Rara ke dapur dulu ya." Rara dengan mengangkat Dus isi belanjaan nya.


"Iya Ra." Jawab Tante Meli.


Rara pun tersenyum kala melihat Adelia yang menatap nya.


"Kalau gitu Tante pulang ya, Del." Pamit Tante Meli.


"Loh koq cepat banget Tan,?." Tanya Adelia.


"Nanti lagi Tante ke sini, Tante ada urusan sebentar." Alasan Tante Meli.


"Ya udah Martin antar, Tan." Martin dengan berdiri ingin melangkah ke arah pintu depan.


"Gak usah, Kamu di sini aja. Mumpung ada waktu senggang temani Adelia. Tante bisa naik Taksi koq." Tolak Tante Meli.


"Oh Ya udah, hati-hati aja Tante.." Martin pun kembali duduk.


Adelia berdiri ingin mengantar Tante Meli ke luar, dengan menggandeng tangan Tante Meli.


"Hati-hati ya Tante." Ucap Adelia.


"Iya Sayang. Udah kamu temuin lagi Martin nya ya." Tante Meli pun mulai melangkah berjalan ke luar.


Adelia pun masih berdiri di depan pintu, sebelum Tante Meli mendapatkan Taksi yang lewat. Dan Adelia pun masuk ke dalam setelah pasti Tante Meli masuk ke dalam Taksi.


Martin tersenyum kala melihat Adelia yang sudah duduk di sofa dekat dirinya.


"Kenapa gak boleh ya?." Tanya Martin masih dengan Bibirnya yang


melengkung.


"Boleh sih. Tapi harus secukup nya. Nanti kalau kamu Overdosis bisa-bisa kaya yang suka di jalanan." Ucap Adelia sedikit bercanda.


"Hahaha...." Martin seketika tertawa mendengar candaan Adelia.


Martin dengan cepat memeluk Adelia, dan mengacak-acak Rambutnya karena merasa gemas.


"Martin, ih berantakan rambut aku." Adelia dengan tangan nya mulai merapihkan kembali rambut nya.


"Lagian kamu bikin aku gemas sih." Martin dengan tersenyum.


Adelia pun memonyongkan bibir nya, meledek Ucapan Martin.


"Tuh kan..." Martin menyomot bibir Adelia.


"Kamu ya, main comot aja ah." Adelia tak terima.


"Harus di gimanain emang?. Di jilat, di *****, di......" Ucapan Martin seketika terhenti karena Adelia sudah menyela terlebih dahulu.


"Stop Martin. Kamu itu yaa.... Vulgar banget." Adelia dengan melototkan mata nya.


Martin malah tertawa renyah, seperti asyik mendengar Adelia yang sedang marah.


Adelia pun memukul lengan Martin dengan kuat, namun pukulan nya seperti tak kerasa oleh Martin, Adelia sampai sedikit sakit tangan nya dan kelelahan.

__ADS_1


"Kenapa berhenti mukul nya?." Tanya Martin.


"Lengan kamu besi, gak Tahu Baja." Celetuk Adelia.


Martin pun kembali tertawa.


"Lah Elu pada kaya yang baru dapat arisan aja, ketawa-ketiwi." Rara yang berdiri melihat kelakuan Martin dan Adelia yang saling tertawa.


"Bukan dapat Arisan lagi Ra, tapi ini dapat Hartan karun." Martin masih dengan tertawa.


Adelia langsung berdiri ingin melangkah naik tangga, bergegas menuju kamar nya.


Martin pun dengan cepat melangkah dan menyusul Adelia ke dalam Kamar.


"Ngapain kamu ikut?." Adelia dengan duduk di sofa, melihat Martin melangkah masuk ke kamar nya.


"Gak boleh?." Tanya Martin dengan duduk di sebelah nya.


Namun Martin kembali berdiri dengan merogoh saku Jaket nya, lalu ia berjongkok di depan Adelia yang sedang duduk. Adelia pun merasa heran dengan Martin yang berjongkok di depan nya.


"Adelia Cahaya Lestari, mau kah engkau menjadi istri dari seorang Martin?." Martin bertanya seraya mengangkat sebuah kotak merah beludru, yang merupakan kotak cincin di hadapan Adelia.


Adelia pun tercengang, Martin dengan tiba-tiba berucap serius melamar, dan mendadak mengangkat sebuah kotak cincin berwarna merah di hadapan nya.


Adelia terdiam sejenak, dan menatap lekat wajah Martin, yang sama kini menatap wajah Adelia dengan lekat.


Adelia pun mengangguk dengan tersenyum.


Martin pun tersenyum akan jawaban Adelia, walaupun dengan anggukan Martin tahu, Adelia mau.


Martin pun membuka kotak berwarna merah itu, terdapat dua buah cincin Permata satu.


Dan di balik cincin itu terdapat inisial huruf, yang satu huruf A, dan yang satu nya lagi inisial Huruf M. Martin menyematkan cincin ke jari manis Adelia, dengan cincin yang berinisial M. Adelia pun menyematkan cincin di jari manis Martin, dengan cincin berinisial A.


"Terima kasih sayang. Kamu sudah mau menerima ku, untuk menjadi calon suami mu." Ucap Martin dengan mengecup tangan Adelia.


"Iya Sama-sama." Adelia dengan tersenyum.


"Anggap saja barusan kita sudah bertunangan." Ucap Martin dengan merangkul Adelia ke dalam pelukan nya.


"Hah, koq bisa?." Tanya Adelia dengan mendongak menatap wajah Martin yang memeluknya.


"Ya bisa. Pertunangan kan acara tukar cincin, hanya beda nya di saksikan banyak orang." Martin dengan mencium puncak kepala Adelia.


"Tapi, kamu gak romantis ah." Ucap Adelia, yang masih berada dalam pelukan Martin.


"Aku tak bisa seperti itu." Martin dengan mengangkat dagu Adelia, agar Adelia mendongak kepadanya.


Adelia pun mendongak, Martin pun dengan cepat langsung melahap bibir milik Adelia. Adelia seketika memejamkan matanya, menyambut apa yang Martin lakukan. Martin mulai memperdalam ciuman nya, dengan tangan nya mulai meraba-raba tengkuk milik Adelia. Adelia mulai merasakan aliran panas menelusup pada tubuhnya, akan apa yang di berikan Martin lewat tangan nya yang menyentuh area sensitif Adelia.


Huh... Huh... Martin melepaskan ciuman nya, serasa nafasnya kehabisan. Adelia dengan nafas terengah masih memejamkan matanya. Martin tersenyum melihat Adelia yang masih terpejam, ia pun langsung melahap kembali bibir milik Adelia, kini lidahnya mulai berselancar di dalam mulut Adelia, mengabsen deretan gigi yang di dalam mulut Adelia.


Bibir Martin mulai turun ke area leher, Adelia pun melenguh. Martin menciumi leher Adelia dengan gerakan lembut, dengan sesekali memberi tanda merah di lehernya.


"Ah.... Martin sudah." Adelia meminta Martin untuk menyudahi aksinya.


Martin pun menurut, ia menghentikan aksi nakalnya. Dengan nafas yang tersengal Martin menarik Adelia ke dalam pelukan nya.


Dengan tangan nya mengusap-usap punggung milik Adelia.


Adelia pun melingkarkan tangan nya di pinggang milik Martin, dengan matanya masih terpejam merasakan deru panas pada tubuhnya.

__ADS_1


...Bersambung ....


__ADS_2