
"Enggak koq. Aku memang sudah Romantis orangnya. Bukan Romantis di buat-buat." Sahut Rasya dengan tenang menanggapi godaan Lia Mamanya.
Adelia sudah malu di buatnya. Pipinya sudah merah bagaikan kepiting rebus saat itu.
Terdengar suara langkah seseorang dari arah depan. Tap... Tap... Langkah seseorang itu terhenti kala melihat di Ruang tengah ada yang sedang duduk berkumpul.
"Kak Adel....." Teriak Serly, dengan langsung memeluk Adelia. Sontak genggaman tangan Adelia terlepas dari Tangan Rasya.
Rasya jadi kesal di buatnya, Karena adiknya mengacaukan semuanya. Lia Mama Rasya hanya tersenyum mengejek melihat Raut wajah Rasya yang sedang menahan kesal kepada Adiknya.
"Sudah lepaskan. Kamu buat Adelia sesak nafas tahu..." ucap Rasya dengan melepaskan tangan Serly yang sedang melingkar di pinggang Adelia.
Serly memutar bola matanya, Kakaknya ini posesif banget. Meluk saja seperti tidak boleh saja. Adelia hanya tersenyum menanggapi Rasya yang seperti itu.
"Serly itu kangen sama kak Adel. Apalagi saat ini Serly bisa bertemu kembali, karena sempat ada kabar kalau kak Adel meninggal. Serly itu sedih." Ucap Serly dengan duduk di samping Adelia, menyingkirkan Rasya yang tadi di samping Adelia. Tangan nya bergelayut di lengan Adelia dengan manja.
"Iya Serly kakak juga Kangen sama kamu. Alhamdulillah kakak masih hidup." Sahut Adelia dengan tersenyum.
"Kak Rara. Alhamdulillah masih hidup juga." Serly kini melirik Rara yang sedari tadi memperhatikannya.
Rara hanya mengangguk dengan tersenyum.
"Serly, bisa gak kamu duduknya di Sofa itu." Tunjuk Rasya pada Sofa kosong di hadapan nya.
"Ogah. Kakak harusnya ngalah. Serly kan lagi kangen sama kak Adel." Sahut Serly dengan cuek.
"Hei... Aku juga kangen tahu." Rasya tidak mau mengalah.
Rara hanya menggelengkan kepalanya.
Si Rasya Bucin bener ni....
Gumam Rara di dalam hatinya.
"Sudah ah. Kalian mulai ribut ya.... Mama mau rapihin kamar buat Adel sama Rara."
"Adel ikut bantu." Adel dengan cepat berdiri dan mengikuti langkah Lia Mama Rasya.
__ADS_1
"Aku juga." Rara pun ikut menyusul.
Tinggal Adik kakak yang masih menampakkan wajah kesalnya.
"Serly juga mau ikutan ah...." Serly dengan langkah cepat membuntuti Adelia dan Rara.
Rasya yang tadinya berdiri akan melangkah menuju Mereka, tiba-tiba teralihkan dengan suara bel. Rasya pun bergegas untuk membuka kan pintu. Terlihat seperti petugas dari Pengadilan. Dan ternyata benar, Petugas itu memberikan sebuah Amplop besar untuk Rasya tanda tangani. Ternyata itu adalah surat gugatan Cerai Rasya kepada Ariyanti Istrinya. Rasya pun membubuhkan tanda tangan nya, tinggal menunggu tanda tangan Ariyanti agar Surat Cerai itu menjadi Sah. Petugas itu pun pamit. Rasya kembali masuk ke dalam rumah dengan tangan nya memegang amplop coklat besar tadi.
Rasya bergegas melangkah menuju kamarnya untuk menaruh Amplop Coklat itu. Rasya pun merebahkan tubuhnya di atas kasur yang beberapa bulan ini ia tinggalkan.
Adelia yang kini sedang merapihkan kamar di bantu oleh Rara dan Serly. Tante Lia tidak di perbolehkan oleh Adelia. Karena Adelia merasa tidak enak jika Tante Lia harus merapihkan kamarnya, padahal Adelia hanya ikut menumpang saja. Tante Lia pun keluar bergegas masuk kedalam kamarnya.
"Kak Adel. Nanti kita masak bareng Yuk..." Ajak Serly.
"Boleh juga." Sahut Adelia.
"Bi Ina Sedang pulang kampung kak, Jadi sudah beberapa hari ini Mama yang selalu masak untuk kami." Kata Serly.
"Pantas saja dari tadi Kakak gak Lihat Bi Ina. Ternyata Beliau sedang pulang kampung." Adelia memang sedari tadi melihat-lihat kehadiran Bi Ina, tapi tidak nampak sampai sekarang kehadiran nya. Ternyata Bi Ina sedang pulang kampung.
Adelia terdiam seperti nampak berpikir atas penuturan Serly barusan.
Kini Adelia terduduk di Sofa. Di ikuti oleh Serly. Kalau Rara jangan di tanya ia sudah tertidur pulas di atas kasur yang sempat tadi ia rapihkan bersama Adelia.
"Oh Iya Kak. Kak Rasya sudah bercerai dengan kak Ariyanti katanya. Jadi Kakak bisa dong jadi Istri Kak Rasya?." Serly mengatakan Jika Rasya sudah bercerai.
"Anak kecil diam saja tidak boleh ikut campur urusan orang dewasa ya...." Adelia gemas dengan mencubit hidung Serly. Serly itu masih remaja tapi sudah mengatur urusan dewasa, membuat Adelia gemas terhadapnya.
Serly seketika memegang hidungnya yang menjadi merah, "Ish... Kakak ini. Serly sudah 17tahun. Sebentar lagi juga dewasa. Serly hanya mengungkapkan keinginan Serly, Kalau Kakak boleh jadi Istri kak Rasya."
Adelia tersenyum lalu mengangguk.
"Beneran kakak mau jadi istri kak Rasya?." Serly bertanya dengan matanya berbinar.
"Iya... Iya. Kakak mau. Tapi gak tahu kalau kakak kamu sendiri, mau atau enggak jadi suami kakak?."
"Ih, Jangan di tanya lagi kalau kak Rasya pasti mau. Orang dia Ngebet nikah nya juga sama kak Adel koq, tapi Papa sama Mama malah ngejodohin sama cewek lain." Celoteh Serly.
__ADS_1
Adelia hanya tersenyum menanggapi Adik Rasya itu yang sedikit cerewet. Sepertinya Serly sangat nyaman bila ngobrol dengan Adelia, tidak seperti dengan kakak nya sendiri ujung-ujungnya saling mengejek satu sama lain.
Terlihat pintu kamar ada yang buka, nampak Sosok Rasya berdiri di ambang pintu memperhatikan Adiknya bersama Adelia.
Ingin masuk namun tidak nyaman karena terlihat ada Rara yang sedang tertidur pulas.
"Del..."
Adelia pun menoleh ke arah pintu. Lalu berdiri melangkah menghampiri Rasya.
"Ada apa?" tanya Adelia setelah sampai di hadapan Rasya.
Rasya tersenyum. "Aku ingin berbicara sesuatu sama kamu. Tapi berdua saja." Rasya dengan melirik Serly yang memperhatikannya.
"Sudah sana. Gak usah lirik-lirik ke sini. Aku udah beres koq kangen-kangen nya juga. Tapi nanti jangan lupa kita masak bareng Kak." Ucap Serly.
Adelia pun mengangguk. Rasya dengan cepat menggandeng tangan Adelia masuk ke dalam kamarnya. Dan mendudukan Adelia di tepian ranjang nya, Rasya pun duduk di sisinya. Adelia heran dengan Rasya yang membawanya ke dalam kamar.
"Ngapain koq ke kamar kamu?." Adelia dengan sedikit was-was, Takut Rasya akan melakukan sesuatu yang membuat dirinya tidak bisa menolak. Memang Adelia akui jika Rasya sudah melakukan aksinya. Adelia tidak bisa menolaknya. Apalagi sekarang Rasya membawanya kedalam kamar miliknya.
Rasya tersenyum dengan menarik turunkan alis tebalnya. "Kenapa emang jika di dalam kamar?. Aku sengaja agar percakapan kita tidak ada yang dengar. Apa kamu sudah berpikiran jorok ya?." Rasya mencolek hidung Adelia.
Adelia merutuki pikirannya yang suka berarah ke hal negatif.
"Eng-Enggak koq. Aku hanya heran saja kamu ngajaknya malah ke dalam kamar." Ucap Adelia gugup.
Rasya tersenyum. Dengan merangkul Adelia kedalam pelukan nya. Setelah Adelia dalam pelukan nya, Rasya memegang dagu Adelia untuk mendongak ke arahnya. Setelah mendongak Rasya pun dengan cepat melu*at bibir milik Adelia. Adelia melotot namun tidak bisa menolak. Adelia pun perlahan memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan bibir Rasya kepada Bibir miliknya, hingga nafas Adelia tersengal. Sungguh Memang ucapan Rasya berbeda dengan tindakan nya.
Setelah merasa kehabisan nafas, Rasya baru melepaskan pagutan bibirnya.
"Aku merindukan mu. Sangat merindukan mu." Ucap Rasya dengan mengusap bibir Adelia yang basah karena ulah bibirnya.
Adelia hanya terdiam menatap wajah Rasya. Tidak di pungkiri Adelia pun sangat merindukan Rasya.
"Aku juga sangat merindukan mu." Ucap Adelia.
...Bersambung....
__ADS_1