
"Terima kasih, kak" ucap Serly baru saja turun dari mobil yang di kendarai Aldi. Sesuai keinginan dan Perkataan Rasya, ia kembali di antar jemput oleh Aldi.
"Sama-sama," Aldi menjawab ucapan Serly. Kemudian ia membuka jendela kaca mobil sampingnya, "Nona Serly?" panggilnya saat Serly mulai melangkah sedikit jauh dari mobil miliknya.
"Ya?" sahut Serly seraya menoleh ke arah Aldi. Mata Serly menatap wajah Aldi yang tanpa ekspresi. Yang hanya terlihat datar-datar saja. Namun, entah mengapa bagi Serly wajah Aldi walaupun seperti itu, terlihat begitu tampan.
"Nanti pas pulang tolong kasih tahu saya!" ujar Aldi. Serly mengangguk seraya tersenyum tipis.
Lalu terlihat oleh Serly, Aldi membuat panggilan lewat ponselnya. Dan seketika ponsel Serly berdering. Hingga Serly menatap panggilan itu dengan kening mengkerut.
"Itu, nomor saya. Jadi, jika Nona Serly sudah waktu pulang, tolong kabari ke nomor itu!" ucap Aldi setelah melihat Serly menatap panggilan yang baru saja masuk pada ponselnya.
"Saya, permisi!" lanjut Aldi berpamitan.
"Hah, i-iya" sahut Serly terbata. Entah mengapa Serly malah melongo di buatnya, saat mendapat nomor ponsel Aldi yang masuk ke dalam ponselnya.
Setelah mobil Aldi di pastikan sudah tidak terlihat. Serly langsung membalikkan badan, kembali melangkah menuju ruang kelasnya.
Serly duduk di kursi biasa yang selalu ia duduki. Dan tak lama Kikan datang dengan langsung memberondong pertanyaan kepada Serly perihal hari kemarin Serly membolos.
"Ser, sumpah hari kemarin adalah hari bersejarah bagi aku. Kamu, baru pertama kalinya membolos. Kamu kenapa? dan kemana saja? sampai, aku cari-cari dan Bang Aldi tidak ketemu," Kikan dengan wajah penasaran apa alasan Serly hari kemarin membolos.
"Hujan, aku gak bisa balik lagi ke Kampus," jawab Serly simple.
"Emang, kamu kemana kok aneh, sampai gak bisa balik ke kampus saat hujan? em ... dan emang sih kemarin hujannya deras, dan lama banget," Kikan belum puas atas jawaban Serly, ia kembali bertanya.
Serly tersenyum senang, Kikan memang orangnya cerewet namun sangat care kepada dirinya.
"Aku kemarin di ajak ke sebuah Danau. Terus makan-makan di tempat itu, setelahnya aku naik perahu dan menyinggahi rumah kecil yang di tengah-tengah Danau."
Kikan berbinar mendengarkan celotehan Serly yang mengatakannya pergi ke suatu tempat.
"Sama kak Dido?" Kikan dengan wajah serius.
Serly mengangguk. Kemudian Kikan berteriak histeris.
"Akh ... OMG gak kebayang, seharian bareng cowok populer di Kampus ini." Kikan dengan tersenyum, lalu berbisik setelahnya. "Lalu apa yang kalian lakuin di sana? pelukan? ciuman?" bisiknya.
Pletak ...
Suara sentilan tepat di dahi Kikan yang di berikan oleh Serly.
__ADS_1
"Kamu enak aja ya, berpikiran sampai sana?!" Serly nampak geram. "Kalau ada yang dengar, terus nyangka benar pertanyaan kamu itu bagaimana?" kini Serly yang berbisik.
Kikan dengan mengusap-usap dahinya menyengir, "Maaf, Ser. Abis aku penasaran. Masa iya, cowok setampan kak Dido di anggurin saja?" celetuknya.
Serly kini mencubit kedua pipi Kikan dengan gemas.
"Ikan, Ikan ... emang aku cewek apaan hah? piktor tahu nih," Serly seraya menunjuk kening Kikan.
"Hehe," Kikan hanya menyengir.
Setelah itu datang berhamburan teman siswa dan siswi mereka. Dengan seorang Dosen di belakangnya. Lalu mulailah mata kuliah pertama di pagi itu.
Serly dan Kikan belajar dengan serius. Hingga tidak terasa mata pelajaran pertama sudah ia lalui.
"Ke kantin, yuk!" ajak Kikan setelah Dosen keluar.
"Ayo" sahut Serly.
Kikan dan Serly berjalan dengan bergandengan tangan menuju Kantin. Baru saja Kikan dan Serly masuk ke area Kantin, Dido menghadang langkah mereka.
"Serly," sapanya dengan tersenyum tampan.
"Kak Dido," Serly menyahut dengan ekspresi biasa saja. Hanya senyuman tipis yang ia berikan.
"Kamu mau makan?" Dido hanya fokus pada Serly.
"Ya, kami mau makan," jawab Serly sengaja.
"Kita makan di Cafe dekat kampus yuk! aku traktir," ajak Dido dengan tatapan penuh harap.
Serly terdiam. Namun, Kikan sudah menyetujui tanpa bertanya terlebih dahulu kepada Serly.
"Silahkan Kak! aku gak apa-apa makan sendiri di Kantin," Dengan mendorong Serly agar lebih dekat dengan Dido.
"Kikan," lirih Serly dengan protes lewat tatapan matanya.
"Gak apa-apa, Ser. Ya udah, aku mau cari makanan dulu, ya!" Kikan dengan segera pergi dari hadapan Serly dan Dido.
Serly menatap bingung pada Kikan. Lalu menatap Dido yang sedari tadi menatapnya.
"Kenapa harus di cafe, kak? di sini aja. Lagian, urusan kita sudah selesai kan?" pertanyaan Serly membuat Dido berdecak kagum. Lagi-lagi seorang Dido Arlino, merasa tertantang untuk terus mendekati Serly. Sebagian gadis di Kampus mereka menggilai Dido. Namun, tidak dengan gadis yang ada di hadapannya. Seolah tidak tertarik sedikitpun kepada dirinya.
__ADS_1
"Emang urusan kita sudah selesai. Namun, jika kita saling berteman tidak masalah, kan?" Dido menyahuti dengan santai. "Lagian, semalam aku sudah mendapatkan lampu hijau dari Kakak mu, untuk bisa berteman dengan mu," ucap Dido selanjutnya.
Ah iya Serly sampai lupa, bahwa semalam Dido mengobrol dengan Rasya kakaknya, tanpa Serly tahu apa yang mereka obrolkan.
Serly menatap jam tangan di pergelangan tangannya.
"Ya, udah. Ayo!" seru Serly menyetujui ajakan Dido.
Dido dengan tersenyum senang melangkah dengan langkah bersejajaran dengan langkah gadis yang sudah membuatnya terpikat. Lalu membawa langkahnya itu tepat parkiran motor.
"Kakak, pakai motor?" tanya Serly saat melihat Dido mendekati sebuah motor sport berwarna merah dengan merk ternama. Kemudian, Serly berpikir bahwa motor Dido yang ia serempet saat itu sebuah motor matic yang terlihat sudah tua. Maka pantas saja, saat Serly serempet langsung ambruk dan rusak.
"Iya," Dido dengan menyerahkan satu helm kepada Serly. Serly menerimanya dengan ragu.
"Ayo, pakai!" kata Dido saat melihat Serly tak kunjung memakai helm yang Serly pegang.
"Tapi kak--"
Ucapan Serly terhenti kala tangan Dido menyentuh tangannya, dan mengambil alih helm dari genggamannya. Kemudian helm itu Dido pakaikan pada kepala Serly. Dan sebelumnya Dido menyibakkan rambut panjang Serly yang sebagian sedikit menutupi pipinya.
"Ayo, naik!" seru Dido setelah berhasil memasangkan helm tersebut. Ia lebih dulu duduk di atas motor, dan menyuruh Serly agar naik motornya secepatnya.
"I-iya" Serly terbata. Ia masih merasa terkejut dengan perlakuan manis Dido. Tanpa Serly sadari, jantungnya kini tengah berdegup kencang. Mungkin kali ini merupakan pertama bagi Serly ada pria yang memperlakukannya dengan manis selain Rasya kakaknya.
"Aku usulin, kamu harus pegangan. Karena motor ini jika sudah melaju, ia akan mengebut," Dido dengan tersenyum memperingati Serly untuk berpegangan.
Serly dengan cepat berpegangan pada ujung jaket yang Dido pakai. Dan membuat Dido merasa gemas terhadapnya.
Dido akan membiarkan dulu Serly memegangnya seperti itu. Dengan gerakan cepat, Dido menancapkan gas motornya meninggalkan area parkir. Serly terlihat masih biasa saja.
Namun, saat sudah berada di jalanan motor yang Dido kendarai melaju dengan cepat. Hingga Serly repleks mempererat pegangan tangannya pada ujung jaket Dido.
Dido yang semakin gemas. Menarik tangan Serly dengan tangan sebelahnya, tangan Serly ia lingkarkan pada perut ratanya.
"Seperti ini lebih baik. Aku takut sampai kamu terjatuh, jika tidak berpegangan dengan baik," selorohnya. Membuat Serly melongo tanpa Dido ketahui.
Serly merasa semakin gugup dengan tubuhnya yang kini menempel pada punggung Dido. Namun, Serly tidak bisa menolak. Serly sendiri ketakutan saat ini. Ia lebih memilih memejamkan matanya agar tidak terlalu takut.
...***...
Dido modus ya? 🤣🤣
__ADS_1