You Are My Mine

You Are My Mine
Serly dan Adelia.


__ADS_3

Adelia kini tengah berkutat di dapur bersama Serly. Sesuai permintaan Serly tadi Ia ingin memasak bersama dengan calon kakak ipar nya itu. Serly memperhatikan Adel yang tengah membasuh beras. Hingga Adel memasukkan nya ke dalam Ricecooker pun Serly terus tak beralih matanya memperhatikan tahap demi tahap.


"Oh... Kak gitu ya cara masak nasi di ricecooker?." Serly seperti baru melihatmu saja.


"Emang Serly belum tahu sebelum nya?." Adelia penasaran dengan wajah Serly yang seperti baru saja melihatnya.


Serly tersenyum. "Iya Kak. Serly baru tahu. Ternyata simple yaa... Nanti Serly coba bikin sendiri deh."


"Ya emang paling simple masak nasi di ricecooker itu. Kita hanya perlu mencuci berasnya saja hingga bersih. Terus jangan lupa kita ukur takaran airnya sesuai berapa cup beras yang kita masak." Tutur Adelia dengan tangan nya mulai membuka pintu Kulkas.


Serly manggut-manggut seperti mengerti akan apa yang Adelia barusan tuturkan.


Adelia melihat banyak bahan masakan di dalam kulkas itu, Namun Ia bingung untuk menentukan masakan apa yang harus Ia buat saat ini.


"Serly, Kita mau masak apa?. Kakak bingung lihat banyak sekali bahan makanan di dalam sini?." Adelia bertanya kepada Serly dengan tatapan nya mengabsen pada bahan-bahan masakan.


"Emang ada apa aja kak?."


"Udang, Cumi, Ayam, Ikan kembung, Ikan tongkol, Ikan Nila, Daging Sapi, Telur, kalau sayuran nya Brokoli, buncis, wortel, kangkung, bayam...."


"Stop kakak. Kakak seperti tukang dagang di pasar saja. Mengabsen semua bahan makanan. Sebentar Serly berpikir dahulu." Serly dengan cepat memotong Adelia yang sedang mengabsen bahan-bahan yang ada di dalam kulkas. Serly hingga tertawa mendengar Adelia menyebutkan satu-persatu bahan-bahan tersebut.


"Ah Iya. Kak Rasya suka Ayam balado, Mama suka Ikan Kembung sama Tumis Kangkung, kalau Serly Suka Cumi asam manis pedas." Serly mengatakan menu makanan yang mereka suka.


"Oh begitu....." Adelia manggut-manggut.


"Eh maaf. Kalau Kakak suka masakan apa?." Serly merasa bersalah tadi mengatakan menu makanan yang mereka suka saja tanpa menanyakan apa makanan kesukaan Adelia.


Adelia tersenyum memahami Serly yang merasa bersalah dengan meminta maaf.


"Kakak sama Rara apa saja. Semua Yang Serly bilang tadi kakak suka semuanya."


Memang benar, Adelia itu tidak memilah-milih dalam hal makanan persis dengan Rara. Terkadang jika selagi sedikit keuangan Adelia suka memasak masakan sederhana, seperti Tumis Kangkung, goreng tempe, sambal, dan ikan asin. Itu juga membuat selera makan Adelia dan Rara sangat berselera dan masakan itu bisa di bilang nikmat, beda dengan yang masakan mewah seperti ayam misalnya dan Daging Sapi, itu di sebut mereka masakan lezat.


"Ok sekarang Kakak mau menyiapkan bahan-bahan nya. Nanti Serly bantu kakak melembutkan bumbunya saja ya pakai blender." Adelia merasa tidak enak jika menyuruh terlalu banyak kepada Serly.


Serly pun mengangguk.


Terlihat Adelia sudah memisahkan setiap bahan masakan sesuai menu nya.


Tiba-tiba Rasya datang tanpa suara, Ia tersenyum kagum melihat Adelia yang cekatan dalam memilih bahan-bahan masakan itu.


Rasya duduk di kursi meja makan dengan matanya terus memperhatikan Adik beserta Gadis pujaan nya itu yang sedang berkutat.


Serly sudah menyalakan Blender, melembutkan bahan bumbu yang sudah Adelia berikan.


"Ini bumbu untuk masak apa kak?." Tanya Serly dengan menuangkan Bumbu yang sudah halus itu ke dalam mangkuk kecil setelah di lembutkan dalam Blender.


"Itu Bumbu Ayam balado." Adelia dengan menyerahkan bumbu lain ke arah Serly.


"Terus ini bumbu apa?." Serly penasaran.


"Itu bumbu untuk Ikan Kembung." Adelia dengan pipinya di kembungkan memperagakan kata kembung.


"Tapi tidak kembung ya ikan nya?." Serly terus berceloteh.


Adelia hanya tersenyum.


"Sudah bantu saja. Gak usah banyak tanya kamu. Bawel amat." Pekik Rasya dari arah meja makan.


Adelia dan Serly pun sontak menatap ke arah sumber suara.


Adelia tersenyum setelah melihat Rasya yang tengah duduk itu. Beda dengan Serly yang mengerucutkan bibirnya setelah tahu Rasya yang berkata barusan.


"Pengganggu." Serly bergumam pelan yang masih terdengar oleh Adelia.


Adelia hanya tersenyum menanggapi Adik dari Rasya itu. Adelia meneruskan aktivitas nya, Kini Adelia sedang menggoreng Ayam, di tungku satunya lagi menggoreng Ikan kembung yang sudah di lumuri dengan bumbu terlebih dahulu. Dengan menunggu Ayam dan Ikan itu matang Adelia memotong Kangkung, dan mencucinya.

__ADS_1


Serly Menjerit-jerit setelah mendengar letupan-letupan minyak dari Ayam dan Ikan yang di goreng.


"Kak Adel Serly takut."


"Serly duduk saja. Nanti kalau udah selesai kakak menggoreng nya. Nanti baru ke sini lagi." Titah Adelia tidak tega melihat Serly yang ketakutan.


Serly pun menurut dan duduk di Kursi yang ada Rasya di meja makan.


"Huh gitu aja takut?." Ledek Rasya kepada Sang Adik.


"Kakak gak lihat apa minyaknya itu muncrat-muncrat ke arah Serly tadi. Bagaimana kalau tangan Serly yang mulus ini kena cipratan minyak itu, gak kebayang kulit tangan Serly jadi melepuh." Serly dengan bergidik membayangkan.


"Terus kamu gak ngebayangin Tangan mulus Adel kena minyak itu?." Sahut Rasya.


Serly pun langsung berubah panik, ia berdiri dan bergegas menarik tangan Adelia menjauhi kompor. Padahal Adelia sedang mencuci Cumi di Washtafel pencucian piring.


"Kakak sini. Nanti tangan kakak melepuh" Serly yang sudah berhasil menarik tangan Adelia. Kini Adelia sudah berdiri di hadapan Rasya.


"Maksudnya?." Tanya Adelia yang tidak mengerti akan ucapan Serly.


Rasya hanya terkekeh melihat wajah kepanikan dari Adiknya itu, sedangkan Adelia di buat kebingungan.


Rasya bergegas mendekati kompor, lalu tangan nya terangkat memegang spatula. Rasya mulai membalikkan Ayam, dan beralih ke wajan satu lagi membalikkan Ikan kembung.


Adelia hanya bisa melihat nya. Karena tangan nya masih di pegang Serly.


"Untung Kakak udah di sini." Ucap Serly.


"Ada apa sih Ser, Kak Adel gak ngerti?." Adelia yang masih penasaran bertanya kembali.


"Tadi Serly takut tangan kak Adel yang mulus itu kena cipratan minyak."


Adelia mencubit hidung Serly dengan gemas.


Ternyata Serly menarik tangan nya itu hanya untuk tidak mau melihat Adelia kecipratan minyak goreng. Adelia pikir ada hal yang membahayakan dirinya, seperti ada ular atau binatang buas lain nya.


"Kakak Gemes. Udah Serly di sini saja. Kakak mau masak kembali." Adelia bergegas ke arah kompor yang Rasya pun masih berdiri di sana.


Rasya tersenyum ketika Adelia sudah berdiri di dekatnya. Adelia tidak menoleh sama sekali, kini Adelia berkutat kembali ke cumi yang hampir saja tadi selesai Ia bersihkan.


"Tolong Kalau sudah matang di angkat ya." Adelia memberi perintah kepada Rasya dengan matanya pokus ke Cumi.


"Baik. Nyonya Rasya." Ucap Rasya dengan membungkukkan setengah badan nya.


Adelia dapat melihat dari arah ekor matanya. Adelia pun tersenyum.


Beberapa saat Masakan pun sudah mulai di hidangkan. Dari mulai Ayam Balado, Cumi Asam pedas manis, dan Tumis Kangkung, bersama Ikan goreng. Adelia menatanya di atas meja. Serly sudah tidak ada di meja itu, Sepertinya sedang mandi, begitu pun dengan Rasya.


Tante Lia terlihat bergegas menuju dapur Matanya berbinar saat melihat di atas meja banyak menu masakan dengan wangi yang menggugah selera makan nya.


"Adel ini kamu semua yang masak?." Tanya Tante Lia.


Adelia menghampiri dengan membawa Nasi di tangan nya. "Iya Tante." Adelia tersenyum.


Tak lama Rara datang bersama Serly, Rasya di susul dari belakang.


Mereka pun duduk di meja kursi makan itu.


Rasya melambaikan tangan kepada Adelia, agar Adelia duduk di sampingnya. Dengan malu-malu Adelia pun menurut dan duduk di samping Rasya.


"Calon Istri ku pasti lelah ya." Rasya dengan menyeka sedikit keringat yang Ada di dahi Adelia.


"Rasya..." Adelia memolototi Rasya yang membuat dirinya malu.


"Udah Rasya. Adelia nya jangan kamu goda. Ayo Del mending kita makan." Perintah Tante Lia.


Adelia pun tersenyum dengan mulai memasukkan nasi ke atas piring nya, Rasya dengan cepat menyendoki Ayam balado dan tumis kangkung ke atas piring Adelia.

__ADS_1


Mama Rasya hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Rasya yang begitu manis kepada Adelia itu.


Begitupun Rara dan Serly yang berkata 'So Sweet' Dalam hatinya masing-masing.


Mereka pun makan dalam diam. Sungguh Mereka akui masakan Adelia ini sangat enak di lidah mereka. Apalagi Tante Lia yang terlihat begitu lahap. Dengan beberapa kali menambah porsi makan nya. Serly hanya terkekeh melihat Mamanya yang seperti tidak makan beberapa hari saja.


"Del. Tante Sungguh takjub. Awesome sayang masakan kamu. Ini sungguh luar biasa. Lihat tadi tante sampai beberapa kali nambah makan nya Loh. Terima kasih sayang." Tante Lia dengan tersenyum dan mengusap-usap perutnya yang kekenyangan.


"Iya Tante sama-sama. Ah padahal biasa saja. Adel masih banyak belajar dalam hal memasak." Adelia merendahkan dirinya. Tidak mungkin kan Ia mengatakan kalau Ia sebenarnya bisa memasak masakan jenis apapun padahal dalam kenyataan nya banyak menu masakan yang Adelia sudah pelajari.


Sebenarnya Adelia ingin menjadi seorang Koki, namun Itu tidak mungkin Ia hanya lulusan SMA saja, karena Kuliah pun ia tak lulus. Tadinya ia akan mengikuti kursus masak memasak bersama chef-chef handal yang sudah tersedia di sebuah Komunitas. Namun mengingat biaya nya Adelia semua urungkan. Dengan modal seadanya dan niat yang kuat Adelia bisa membangun Toko Kue yang kini sudah hangus terbakar.


Adelia jadi sedih mengingat ke Ruko yang beberapa tahun ia tinggali itu. Dan bisa bertahan hidup dari hasil jualan kue nya itu, Ada rasa sesak di dada nya.


Rasya yang melihat Adelia terdiam merasa ada hal aneh yang Adelia sekarang tengah pikirkan.


"Del Are you okey?."


Adelia mengangguk dengan sedikit tersenyum.


Besok aku harus lihat Ruko itu.


Bagaimana pun itu tanah milik ku.


Aku tak perduli jika Rima atau Martin dapat mengetahui ku.


Martin?.


Apakabar dengan kamu Martin?


Adelia berbicara dalam hatinya, lalu tangan kanannya tergerak dengan menyentuh sebuah cincin yang masih melingkar di jari manis tangan kirinya.


Rasya pun memperhatikan itu. Rasya sudah berpikir Adelia kini tengah memikirkan seseorang yang telah menyematkan cincinnya itu.


"Ehm... Tante. Apa benar Bi Ina telah mengundurkan diri?." Adelia dengan tiba-tiba bertanya tentang Bi Ina Asisten Rumah Tangga Keluarga Rasya.


"Iya Del. Tante sekarang sedang mencari penggantinya."


"Bagaimana kalau Adel saja Tante?."


"Maksud kamu Del. Kamu Mau menggantikan Pekerjaan Bi Ina?." Rasya kini buka suara dan mempertanyakan.


"Iya. Aku mau jadi pengganti Bi Ina." Adelia dengan tersenyum.


"Tidak. Aku tidak setuju." Rasya tidak menyetujui keinginan Adelia.


"Iya Del Tante juga tidak setuju." Tante Lia pun tidak menyetujui.


"Tapi Tante. Adelia ingin. Bagaimanapun Adelia di sini menumpang. Dan Adelia membutuhkan pekerjaan."


"Kalau kamu butuh pekerjaan tidak usah menjadi pengganti Bi Ina, Aku tidak setuju. Ada pekerjaan buat kamu...." Kekeh Rasya, dan mengatakan ada pekerjaan buat Adelia.


"Apa?." Adelia dengan tidak sabar ingin mendengarkan apa pekerjaan nya.


"Jadi Asisten pribadi ku." Rasya dengan tersenyum.


"Huh... Itu sih mau nya kakak." Serly menimpali.


Adelia terdiam.


"Ya Boleh juga Del. Lebih baik itu. Tante setuju." Tante Lia mendukung keinginan Rasya.


"Tapi Tante....."


"Tapi apa?. Sama kan kamu melayani, hanya ini beda kamu melayani hanya melayani aku saja." Rasya dengan senyum menyeringai.


...Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2