
Maharani dan Aldi sudah berada di dalam mobil. Tujuannya yaitu Bar sesuai ajakan Maharani, yang pernah Aldi pinta. Di sela perjalanan Aldi terus bungkam dengan fokus menyetir dan menatap pada jalanan.
Maharani sudah terbiasa dengan sikap Aldi yang dingin seperti itu. Namun Maharani kini terus menatap Aldi dari arah samping dengan seringaian penuh maksud. Entah apa yang akan Maharani rencanakan, namun ia mempunyai maksud dan tujuan lain agar bisa menjerat Aldi semakin dekat dengan dirinya.
Drrtt... Drrtt...
Terdengar Suara getar dari ponsel Aldi, yang membuat sang pemilik ponsel tersebut meraih dan melihat siapa yang telah memanggilnya.
"Ibu," gumam Aldi yang masih terdengar oleh Maharani. Membuat Maharani antusias ingin tahu dan ingin mengenal dengan sosok ibu Aldi.
Aldi langsung menepikan laju mobilnya. Lalu memilih berhenti di bahu jalan berniat akan menjawab panggilan dari sang ibu.
"Assalamualaikum," salam Aldi yang pertama di ucapkan saat menjawab panggilan dari ibunya.
"Wa'alaikum salam ... Abang ini aku Alma," suara Alma adik Aldi yang berbicara di balik telepon dengan menggunakan nomor ponsel ibunya. Suara Alma terdengar terisak. Membuat Aldi langsung menduga telah terjadi sesuatu dengan Ibunya di kampung.
"Alma, apa yang terjadi?" tanya Aldi to the point tanpa ingin mengulur waktu.
Maharani yang semenjak tadi memperhatikan Aldi menatap heran, dengan perubahan wajah Aldi yang kini seperti cemas dan khawatir.
"Ibu jatuh bang, saat pulang dari perkebunan. Bahkan ibu langsung di bawa oleh warga ke Rumah Sakit. Alma tahu saat pulang dari Kampus waktu sore, karena tadi gak ada yang nelepon Alma," Alma mengatakan apa yang terjadi dengan ibunya.
Aldi menghela nafas dengan dalam. Merasa sedih dengan keadaan ibunya. Walaupun belum tahu langsung dengan keadaan sang ibu. Sedangkan Anak mana yang tidak akan merasa khawatir ataupun sedih dengan mendengar kabar sang Ibu jatuh sakit. Apalagi Aldi adalah anak pertama yang sangat menyayangi sang ibu dengan segenap jiwa ia rela menjadi tulang punggung keluarga setelah ayahnya meninggal.
"Ya sudah ... abang sekarang juga akan pulang. Kamu tungguin ibu ya, jangan kemana-mana," sahut Aldi dengan memberi pesan kepada adiknya.
"Iya bang. Hati-hati di jalan. Jangan ngebut. Alma Do'ain agar abang selamat di perjalanan," kini Alma yang berpesan kepada kakaknya mengingat waktu sudah mau tengah malam.
"Iya. Ya sudah abang tutup ya, Assalamualaikum," Aldi langsung mengakhiri pembicaraan nya setelah mendengar jawaban salamnya dari Alma.
__ADS_1
"Wa'alaikum salam,"
Aldi menghela nafas berat. Dan merenungi niatnya yang begitu sangat buruk yaitu bertujuan akan mendatangi Club malam. Sepertinya Tuhan yang menciptakan, sangat menyayangi dirinya sehingga niat buruknya harus batal dengan kabar yang memang tidak baik dari ibunya. Begitulah pikir Aldi.
Aldi kini menoleh ke arah Maharani.
"Nona. Maaf malam ini saya harus ke Kota B. Jadi, saya akan mengantarkan nona pulang saja," ucap Aldi yang akan berniat mengantar Maharani terlebih dahulu sebelum berangkat ke kota B.
Maharani menggeleng, "Aku ingin ikut," jawabnya. Membuat Aldi menatap Maharani lekat.
"Why?" tanya Aldi yang merasa bingung dengan Maharani yang ingin ikut.
"Aku ingin nemenin kamu di perjalanan dan sekalian ingin kenal dengan ibu dan adikmu," Maharani memang tulus dengan ucapannya. Yang memang ingin mengenal keluarga Aldi lebih dekat. Siapa tahu ibu dan adiknya menyukai dirinya sehingga menjodohkan dirinya dengan Aldi. Begitu pemikiran Maharani yang sudah jatuh hati kepada Aldi.
Aldi mengerutkan dahi merasa aneh, lalu berkata dengan menolak, "Tidak perlu nona, lebih baik nona beristirahat. Saya tidak tahu akan pulang hari kapan, karena saya belum tahu kondisi ibu seperti apa,"
"Tapi, Nona ... saya tidak mau merepotkan nona. Perjalanan ke kampung saya memakan waktu hampir lima jam. Dan saya tidak mau membuat nona kelelahan,"
"Aldi ... aku merasa tidak di repotkan. Justru aku ingin tahu dan sekalian menjenguk ibu kamu," Maharani tetap dengan keinginannya.
"Tapi, Nona--"
"Tak ada tapi-tapi ... yang jelas sekarang kamu cepat berangkat. Jika kita terus berdebat, yang ada kapan kamu berangkatnya," Maharani dengan sengaja memejamkan mata. Tidak mau mendengar penolakan dari Aldi lagi. Bukannya Maharani tidak tahu malu atau tidak punya muka. Maharani hanya ingin menemani Aldi yang hatinya sedang kalut.
Maharani tahu dengan diri Aldi yang seperti sedang patah hati saat menyaksikan pertunangan antara Dido dan Serly. Lalu kini, Aldi di tambah dengan kabar sang ibu yang membuat dirinya khawatir.
Aldi akhirnya melajukan kembali mobilnya. Dan mengambil jalan menuju gerbang tol yang akan menuju kota B.
Maharani tersenyum di dalam hatinya. Ia tak sabar ingin menginjak kota B dimana tempat Aldi tinggal.
__ADS_1
Hingga Lima jam kemudian Aldi memarkirkan mobilnya di parkiran Rumah Sakit dimana Ibunya di rawat. Aldi tidak sedikitpun berhenti atau istirahat. Ia sengaja ingin cepat sampai dan bertemu dengan sang ibu.
Aldi menatap ke arah samping dimana Maharani tertidur lelap. Sebenarnya Aldi tahu dengan sikap Maharani yang selalu ingin dekat dengan dirinya. Dan Aldi pun tahu Maharani sangat cantik dengan fostur tubuh yang ideal sehingga pantas menjadi seorang model. Namun, Aldi tidak ada sedikitpun rasa kepada Maharani. Getaran hatinya hanya tetap tertuju kepada Serly.
Aldi menghembuskan nafas berat. Manakala jika teringat dengan gadis pujaannya. Yang kini telah menorehkan luka di hatinya yang begitu dalam. Aldi masih belum mengerti dengan apa yang terjadi. Seakan dirinya di permainkan. Mengapa cintanya di sambut dan di jawab, jika pada akhirnya harus berpisah. Sehingga Aldi merasa menyesal telah mengungkapkan isi hatinya. Jika ia tahu akan terjadi seperti ini. Maka ia akan memilih memendam perasaan serapat-rapatnya.
"Al ... kamu melamun?" Maharani ternyata bangun dari tidurnya. Yang pertama ia lihat wajah Aldi yang sedang melamun namun tatapannya ke arah dirinya.
Aldi tersentak dan gelagapan karena arah tatapannya kepada Maharani. "Maaf! Nona sudah bangun?" Aldi langsung memasang ekspresi seperti biasa.
"Sudah. Saat aku bangun yang pertama aku lihat, kamu sedang melamun," Maharani dengan menegakan tubuhnya.
"Kamu ngelamunin apa sih?" lanjut Maharani yang ingin tahu isi lamunan Aldi.
Alih-alih menjawab Aldi malah memberitahu Maharani, "Kita sudah sampai non." Aldi dengan gerakan tangannya membuka seat belt.
Maharani langsung mengedarkan pandangannya menatap kiri dan kanan. Terlihat sekelilingnya banyak mobil. Dan ada plang besar dengan bertuliskan nama rumah sakit.
"Ah iya," jawab Maharani dengan membuka seat belt dan meraih tas dan juga ponselnya.
Aldi dan Maharani berjalan bersamaan. Namun tercipta jarak antara keduanya. Tentu Aldi-lah yang menjaga jarak. Langkah kaki keduanya menuju ruangan dimana Ibu Aldi di rawat.
...***...
Mohon Maaf baru bisa update.
Terima kasih atas reader yang masih setia membaca karya receh saya.
Semoga sehat selalu dan bahagia!
__ADS_1