
Dido dan Serly mulai melahap makanan yang di pesannya. Sesekali Dido menatap Serly di sela-sela makannya. Begitu dengan Serly, membalas tatapan Dido dengan sebuah senyuman.
"Setelah ini, mau kemana?" tanya Dido setelah berhasil menghabiskan makanannya.
Serly berpikir sejenak, "Kemana ya?" ucapnya dengan bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba suara Mc di panggung musik Cafe Mentari membuka acara live Musik. Membuat atensi Dido dan Serly menoleh ke arah sumber suara.
"Selamat Malam semuanya. Semoga selalu sehat dan berbahagia. Dan semoga menikmati makan malamnya! Sudah saatnya Acara Live Musik Mentari kami buka. Bagi siapa pengunjung yang akan ikut berpartisipasi kami persilahkan!" ucap seorang pria yang merupakan Mc di acara musik tersebut. Lalu di sambung dengan suara musik melodi yang indah memenuhi ruangan Cafe Mentari.
Serly tersenyum menatap ke arah panggung. Mengingat Rasya sang Kakak yang sangat menyukai dunia musik dan tarik suara. Membuat Serly ada ide untuk sedikit menjahili Dido.
"Kak," panggil Serly kepada Dido.
Dido sontak mengalihkan tatapannya kepada Serly, "Iya, ada apa?" jawabnya dengan bertanya.
"Kakak bisa nyanyi?" Serly bertanya dengan serius.
Dido menautkan kedua alisnya dengan kepala menggeleng.
"Yang benar?" tanya Serly yang merasa tidak yakin.
Dido tersenyum, "Benar sayang ... kakak gak bisa nyanyi. Ya paling sesekali nyanyi saat sedang mandi di dalam kamar mandi," ucapnya seraya terkekeh.
Serly mengulum senyum, entah mengapa kali ini merasa senang saat mendengar Dido memanggilnya dengan kata Sayang.
"Tapi aku ingin kakak nyanyi di sana!" Serly dengan menatap ke arah panggung.
Dido melongo mendengar permintaan Serly. Namun kemudian Dido tersenyum dengan lebar.
"Kalau kakak bersedia nyanyi di sana, apakah kakak boleh meminta sesuatu?" Dido seraya menaik-turunkan alisnya.
Serly tersenyum merasa lucu melihat Dido, "Berarti kakak gak ikhlas dong, kalau kakak minta imbalan," tukasnya.
"Kakak Ikhlas. Hanya ... ya harus ada bayarannya dong. Penyanyi juga dapat bayaran dan honor. Ya anggap saja, kakak di undang nyanyi oleh kamu dan di bayar sesuai keinginan kakak," Dido sengaja ingin membuat kesepakatan terlebih dahulu sebelum ia benar-benar bernyanyi di atas panggung.
Serly berpikir sejenak tentang apa yang akan Dido inginkan. Jika Dido ingin uang, tentu mana mungkin. Uangnya bisa saja lebih banyak dengan uang yang Serly punya. Kemudian Serly tidak ada sedikitpun titik temu lagi tentang hal tersebut yang akan apa Dido inginkan.
"Ok. Aku akan membayar upah yang sesuai kakak inginkan, setelah kakak selesai bernyanyi," karena Serly yakin Dido tidak akan bisa bernyanyi sesuai yang ia dengar dari ucapan Dido saat tadi.
Dido meraih tangan Serly dan menjabat tangannya, "Deal ya! nanti apa yang kakak inginkan harus kamu berikan,"
"Iya Deal," kata Serly dengan tersenyum geli menanggapi Dido.
"Janji?!" Dido meyakinkan Serly.
"Iya janji," sahut Serly dengan masih tersenyum.
Dido tersenyum lalu matanya mengedar ke seluruh ruangan. Senyuman Dido terhenti kala mendapati Aldi yang sedang menatap dingin nan tajam ke arah dirinya.
"Ok. Kakak akan ke panggung," ucapnya kemudian.
"Iya kak, Bravo!" kata Serly menyemangati dengan senyuman jahil. Serly sangat yakin Dido tidak akan berhasil bernyanyi.
Kemudian Dido berdiri, lalu langkahnya terhenti sejajar dengan kursi Serly. Tangannya terangkat mengacak rambut Serly, dan sejurus kemudian Dido mengecup pipi Serly sekilas lalu berlalu begitu saja.
Serly terdiam dengan matanya melotot. Debaran di dadanya terasa terdengar keras, manakala pipinya setelah Dido kecup. Pipi Serly merona dan terasa memanas kala membayangkan kejadian singkat barusan.
__ADS_1
"Ya Tuhan rasa apa ini?" Serly dengan memegang dada kirinya yang berdebar.
Setelah Serly sedikit tenang, hati Serly kini was-was saat melihat Dido sudah menaiki panggung dan berbicara kepada Mc tanpa menggunakan microfon.
"Ya Ampun. Bagaimana kalau Kak Dido benar-benar tidak bisa bernyanyi?" Serly khawatir Dido di permalukan oleh penonton saat nanti bernyanyi. Ada rasa bersalah di dalam benak Serly yang menghendaki keinginan jahilnya untuk menyuruh Dido bernyanyi.
Wajah Serly sangat terlihat cemas di tambah kini Dido sudah memegang microfon.
"Selamat malam semua!" sapa Dido dengan tersenyum.
"Saya berdiri di sini akan bernyanyi untuk seseorang spesial yang berada di sana!" tunjuk Dido pada Serly. Sehingga para pengunjung yang berada di sana sontak menoleh ka arah yang di tunjuk Dido.
Serly sungguh malu bercampur rasa khawatir menunggu Dido akan bernyanyi. Ingin sekali Serly berteriak untuk menghentikan Dido agar tidak melanjutkan keinginannya. Namun, Serly gugup beserta malu untuk melakukannya. Serly memilih untuk terus menatap ke arah Dido dengan perasaan was-was.
"Semoga semua hadirin menikmati," ujar Dido.
Musik intro mulai terdengar. Dido tersenyum kepada Serly sebelum mulai mengambil nafas untuk bernyanyi.
Aku takkan lelah menunggu
Hingga waktu ajal menjemputku
Takkan pernah ada sesalku untuk menunggumu
Aku harus tetap menunggu
Hingga nanti aku berbaring
Sampai mati aku akan tetap menunggumu
Inginku gapai bulan dan ku petik bintang
Inginku berikan semua hanya untukmu
Agar kau tahu besarnya cintaku kepada dirimu
Ku ingin kau tahu besar cinta padamu
Inginku berikan sisa waktuku dan sisa umurku
Sampai mati
Tepuk tangan gemuruh dari semua pengunjung. Serly melongo di buatnya, hal yang di takutkan dan di cemaskan kini menghilang terbayar dengan suara Dido yang merdu, dan berkarisma saat bernyanyi. Bahkan lagu yang Dido nyanyikan seakan mewakili perasaannya kepada Serly.
Dido terus menatap serta tersenyum ke arah Serly selama ia bernyanyi. Dido mengambil nafas dan kembali menyanyikan liriknya.
Aku harus tetap menunggu
Hingga nanti aku berbaring
Sampai mati aku akan tetap
Akan tetap... menunggumu
Inginku gapai bulan dan ku petik bintang
Inginku berikan semua hanya untukmu
__ADS_1
Agar kau tahu besarnya cintaku kepada dirimu
Ku ingin kau tahu besar cinta padamu
Inginku berikan sisa waktuku dan sisa umurku
Inginku gapai bulan dan ku petik bintang
Inginku berikan semua hanya untukmu
Agar kau tahu besarnya cintaku kepada dirimu
Ku ingin kau tahu besar cinta padamu
Inginku berikan sisa waktuku dan sisa umurku
Sampai mati
Suara tepuk tangan kembali bergemuruh saat Dido telah selesai bernyanyi. Bahkan ada yang baper melihat wajah Dido dan mendengar suaranya yang begitu merdu.
Namun tidak dengan seseorang yang sejak tadi terdiam. Menatap dingin dan datar. Seakan tidak ada pengaruh untuk dirinya kala hampir semua pengunjung bersorak dan bertepuk tangan. Yang ada hanya rasa gemuruh di dada menahan amarah serta cemburu.
"Al, putranya Tuan Malik ternyata masih muda ya? aku kira sudah seumuran aku gitu," kata Maharani yang terus menatap ke arah panggung dimana ada Dido.
Aldi tidak menyahuti. Aldi sekarang malah menatap ke arah Serly yang sedang tersenyum manis kepada Dido. Sungguh Aldi ingin sekali menghentikan pemandangan tersebut kala itu juga.
"Aldi, kamu melamun?" Maharani menatap Aldi saat ucapannya tidak mendapat respon.
"Saya ingin pulang. Apakah anda masih ingin di sini?" Aldi bukan merespon ucapan Maharani yang tadi. Aldi malah mengajak untuk meninggalkan Cafe.
Maharani menatap bingung kepada Aldi, "Kita belum bicara banyak Al. Masa kamu ingin pulang begitu saja?" protes Maharani.
"Ya jika anda masih ingin di sini. Saya Pamit," Aldi dengan berdiri tanpa menanggapi protesan Maharani. Kemudian melenggang pergi begitu saja.
Maharani dengan cepat menyambar tas dan ponselnya. Berjalan Menyusul Aldi dengan tergesa. Beruntung, Aldi ke arah Kasir terlebih dahulu. Entah bagaimana jika Aldi tidak menepi, tentu langkah Maharani akan tertinggal.
"Al langkahmu lebar sekali," Maharani seraya berdiri di samping Aldi yang sedang membayar pesanan tadi.
Aldi menoleh tanpa suara. Kemudian mengambil kartu Atmnya yang sudah di gunakan kasir dan memasukan kedalam dompet.
"Anda ingin pulang?" Aldi dengan berwajah datar.
"Iya aku pulang dong. Masa aku terus di sini," Maharani mendekat dan bergelayut manja di lengan Aldi.
Aldi melotot menatap lengannya yang di rangkul Maharani. Tangannya langsung terulur untuk melepaskan tangan Maharani yang merangkul lengannya.
"Maaf Nona. Bersikaplah dengan baik!" protes Aldi.
Maharani terbelalak, tidak menyangka ada pria yang menolak dirinya bermanja.
"Saya pulang lebih dulu. Selamat malam!" Aldi melenggang tanpa mendengar balasan dari Maharani.
Maharani terdiam menatap punggung Aldi yang semakin menjauh dari hadapannya.
"Sungguh pria yang dingin," Maharani degan tersenyum. "Tapi aku akan berusaha untuk mendekatinya," Maharani tidak akan menyerah begitu saja. Malah Maharani merasa tertantang dengan sikap Aldi yanng tidak biasanya seperti pria pada umumnya.
...***...
__ADS_1