
Dua bulan kemudian dari kejadian kebakaran.
Adelia masih tinggal di vila milik Yuda bersama Rara, Adelia melanjutkan hidupnya dengan berjualan minuman di tepi pantai yang di bantu Rara. Sedangkan Yuda selalu sibuk pergi bekerja sebagai photografer.
Selama Dua bulan itu Adelia memanfaatkan waktu nya untuk mendapatkan penghasilan, untuk menyambung hidup mulai dari nol kembali. Dan selama dua bulan itu Rima belum mengetahui Adelia masih hidup, ia kini selalu mendampingi Martin, merawat Martin yang sakit setelah terjadi kebakaran yang merenggut Adelia. Martin seperti mayat hidup, ia hidup tapi tidak mengeluarkan suaranya, Martin pandangan nya selalu kosong, dan selama itu Rima selalu merawatnya.
Terkadang Adelia membuat kue untuk pesanan, ia mempromosikan kue buatan nya ke warga di sekitaran pantai. Rara dan Yuda selalu membantu dan mendukung apa itu keputusan Adelia.
Kini Adelia sedang duduk di kursi tengah. Sedangkan Rara sudah tertidur pulas di dalam kamar. Adelia kini tengah melamun, ia merasakan rindu akan Martin kekasihnya. Ia Terkadang ingin memberitahukan Martin, kalau dirinya masih hidup. Namun hal itu selalu di cegah Yuda dan Rara. Karena Yuda selalu tukar kabar dengan Rima selama ini, maka ia tahu jika Rima selalu di sisi Martin. Tentu jika Adelia mengatakan bahwa ia masih hidup, Rima akan mengetahui nya. Dan Tentu Rima tak akan pernah membiarkan itu terjadi.
Terlihat waktu sudah menunjukkan pukul 22:30. Yuda baru saja datang dari pekerjaan nya, ia masuk ke dalam rumah. Yuda melihat Adelia yang sedang duduk melamun di ruang tengah. Lalu Yuda pun menghampirinya dan duduk di sebelah Adelia.
"Ekhemmm....." Yuda memulai dengan berdehem menyapa Adelia.
Adelia pun terperanjat kaget mendengar deheman yang begitu jelas di sampingnya.
"Ngelamun ya?." Tanya Yuda mulai menggoda.
"Eng-enggak." Jawab Adelia terbata.
"Kenapa belum tidur?." Tanya Yuda kembali.
"Belum ngantuk aja." Jawab Adelia.
Yuda menatap wajah Adelia dengan tersenyum. Ia merasa senang bisa serumah dengan wanita yang mencuri hatinya pada waktu pandangan pertama.
Yuda memberanikan diri, tangan nya terangkat merapihkan rambut Adelia yang sedikit menutupi mata nya. Adelia merasa heran akan sikap Yuda yang begitu manis menurut nya.
Yuda dengan menatap Adelia. "Kamu jangan terlalu lelah Del." Ucap Yuda. Dengan tangan nya mengusap pipi milik Adelia.
Adelia yang mendapat perlakuan tersebut dari Yuda, pipinya langsung bersemu merah.
Adelia pun hanya menjawab dengan mengangguk, lalu tangan nya terangkat untuk menepiskan tangan Yuda dengan lembut yang masih mengusap pipinya. Tapi Yuda malah menggenggam tangan Adelia. Dan seketika Adelia dan Yuda berpandangan. Adelia merasa gugup, terlintas bayangan dirinya yang mencium Yuda dalam video yang di rekam Rima. Adelia dengan cepat mengalihkan pandangan nya, dan menarik tangan nya yang di genggam Yuda.
"Aku mau tidur." Adelia dengan cepat beranjak dari duduk nya.
Yuda yang melihat Adelia sedikit gugup dan pergi, Yuda hanya tersenyum.
Aku yakin, aku bisa memiliki mu Adelia.
Gumam Yuda di dalam hatinya, dan Yuda pun melangkah pergi menuju kamarnya.
...****************...
Di Tempat Lain.
Rasya yang sedang terbaring di atas sofa, siang tadi mendapat kabar dari Serly Adiknya, kalau Rara dan Adelia telah meninggal dunia dalam kebakaran rumahnya sudah dua bulan lama nya. Dan selama kejadian Ariyanti mendatangi rumah Adelia, Rasya tidak pulang ke rumah. Ia betah tinggal di luar kota, ia sengaja membangun Sebuah kamar di dalam bengkel nya.
Rasya yang mendengar kabar bahwa cinta pertama nya telah meninggal, Rasya sangat bersedih sehingga ia tidak bernafsu makan. Ia semakin tidak bersemangat. Terdengar ada nada panggilan di ponsel Rasya, dari nomor baru, Rasya pun melihat nya dan mengangkat panggilan tersebut.
Rasya.
"Hallo...."
+628572288******
"Rasya...."
Rasya pun terdiam mendengar suara wanita yang memanggilnya. Ia tahu suara itu adalah suara Ariyanti istrinya.
+628572288******
"Rasya, kenapa kamu gak pulang-pulang?."
Rasya masih terdiam dengan panggilan nya yang masih tersambung.
+628572288******
"Rasya, kenapa kamu diam?. Jawab aku!."
Rasya.
__ADS_1
"Aku sibuk."
Dengan cepat Rasya mematikan panggilan tersebut, dan dengan cepat menonaktifkan ponselnya. Kini Rasya ingin ketenangan, ia saat ini lagi tidak mau banyak bicara. Hati Rasya sedang bersedih mengingat Adelia yang di kabarkan telah meninggal dunia.
Rasya menitikkan air matanya mengingat ia yang begitu sangat mencintai Adelia hingga kini, Rasya tidak pernah membayangkan bahwa gadisnya harus meninggal dengan cara Jasadnya habis terbakar yang ia dengar dari adiknya Serly.
*Flashback on.
Rasya yang sedang memantau para karyawan nya di bengkel, tiba-tiba dapat notifikasi panggilan. Di raihnya ponsel Rasya yang berada di dalam saku celana nya. Tertera Serly Calling di layar ponselnya.
Rasya pun memencet tombol hijau untuk menjawab panggilan dari adiknya.
Rasya.
"Hallo...."
Serly.
"Kakak apa kabar?. Serly kangen kakak. Dan tadi pagi Serly datang ke rumah keluarga Kak Ariyanti. Kakak gak ada di sana. Katanya kakak lagi di luar kota."
Serly langsung beruntun bicara tanpa jeda.
Rasya.
"He-em kabar kakak baik. Iya kakak lagi di luar kota."
Dan tiba-tiba terdengar suara Serly menangis di dalam telepon tersebut.
Rasya.
"Hei Bocil. Untuk apa menelepon ku kalau hanya untuk menangis?."
Rasya merasa Serly itu aneh.
Serly.
"Kak... Kak Adel. huuu.... huuu...."
Rasya.
Tanya Rasya dengan cepat.
Serly.
"Huuu.... Kak Adelia telah meninggal bersama kak Rara."
Rasya.
"Meninggal?."
Tanya Rasya yang tercengang kaget akan yang di ucapkan Adiknya.
Serly.
"Rumah kak Adel terbakar kak, dan jasadnya sampai hangus menjadi abu dengan reruntuhan bangunan itu."
Deg.... Rasya yang mendengar semua penuturan Adiknya yang mengatakan Adelia telah meninggal, merasakan detak jantungnya seperti berhenti dan tiba-tiba dadanya sesak. Serly yang merasa kakaknya terdiam, ia memanggil-manggil kakaknya.
Serly.
"Kak.... kakak....?."
Tetap hening, tak ada jawaban dari Rasya.
Serly merasa serba salah jadinya. Karena kakaknya tiba-tiba menjadi diam, Serly yakin kakanya sedih mendengar berita yang Serly sampaikan.
Serly.
"Kak tolong lah bicara, Serly gak tenang kalau kakak tiba-tiba diam seperti ini. Apalagi kakak lagi di luar kota, Serly jadi cemas dan khawatir kak."
Serly mencoba menyampaikan ke khawatiran nya.
__ADS_1
Rasya.
"Maaf kakak saking kaget nya mendengar apa yang kamu sampaikan. Kamu tidak perlu khawatir dengan kakak, kakak akan baik-baik saja."
Rasya mencoba berbohong, untuk menenangkan Serly adiknya. Padahal kini ia tengah berurai air mata.
Serly.
"Syukur kalau begitu kak. Kakak harus ikhlas ya... Takdir Tuhan mungkin harus seperti ini."
Rasya.
"Iya kakak akan mengikhlaskan nya."
Serly.
"Kalau gitu sudah dulu ya kak. Jaga diri baik-baik ya kak...."
Rasya.
"Iya kamu juga. Jangan membuat mama marah terus."
Lalu di jawab gelak tawa dari Serly, dan Serly pun menutup sambungan telepon nya.
*Flashback off.
Rasya mulai merebahkan dirinya, mata nya yang sembab membuat rasa kantuk nya datang, dan dengan cepat Rasya pun tidur terlelap.
......................
Martin terjaga dari tidur nya, ia terus menatap kosong ke arah depan. Penampilan nya tidak ia hiraukan. Rima lah yang membantu mengurus Martin, dengan sesekali mengatakan sesuatu agar membuat Martin tenang.
Martin selalu menjambak rambutnya sendiri, jika ia mengingat Adelia yang habis terbakar, ia selalu merutuki dirinya yang tidak bisa menjaga Adelia dengan baik.
Terkadang Martin selalu meraih benda tajam yang ia lihat di sekitarnya, Martin selalu bertindak ingin membunuh diri nya sendiri, jika Saja Rima tidak datang dengan tepat waktu.
Terkadang Martin mengerang frustasi. Tante Meli berinisiatif akan memeriksakan Martin ke Psikiater agar kondisinya tidak seperti itu, dan Rima pun setuju akan usul ibu nya.
Martin merasa kepala nya pusing saat ini, dan dengan tiba-tiba tubuhnya terhuyung dan jatuh. Lalu Martin pun tak sadarkan diri.
Terlihat Rima memasuki kamar Martin, dan Rima pun melotot kaget melihat Martin yang tergeletak tak sadarkan diri, ia buru-buru meneriaki Mama nya agar datang membantu nya. Dan seketika Tante Meli pun datang untuk membantu Rima mengangkat tubuh Martin. Martin pun telah di baringkan Oleh Rima yang di Bantu Mama nya.
"Ada apa Rima kenapa Martin pingsan seperti ini?." Tanya Tante Meli yang cemas melihat keadaan Martin pingsan.
"Aku juga tidak tahu ma, karena aku baru saja masuk ke sini, dan Martin sudah tergeletak tak sadarkan diri." Jawab Rima.
"Besok kita bawa Martin ke rumah sakit, agar di tangani Dokter. Mama khawatir melihat keadaan Martin yang seperti ini." Saran Tante Meli.
"Iya Ma. Aku juga khawatir, Martin bak Mayat hidup. Ia tidak berbicara sama sekali." Ucap Rima dengan mengusap kepala Martin.
Kini Tante Meli ingin menanyakan hal yang membuat dirinya penasaran.
"Mama ingin menanyakan sesuatu sama kamu." Ucap Tante Meli.
"Sesuatu tentang apa Ma?." Tanya Rima.
"Apa kamu yang menyuruh orang untuk membakar ruko Adelia?." Selidik Tante Meli.
Rima tercengang atas pertanyaan Mama nya. Namun Rima berpura-pura tenang untuk meyakinkan Mama nya itu.
" Mama aneh deh. Sudah jelas Polisi menyelidiki penyebab nya itu karena konsleting listrik. Mama malah bertanya seperti itu."
"Tapi mama takut ini semua perbuatan kamu. karena sebelum tahu Ruko Adelia terbakar sebelumnya Yuda......" Tante Meli keceplosan mengatakan Yuda teman nya, Rima pun dengan cepat menelisik wajah Mama nya itu.
"Yuda?. Ada apa dengan Yuda ma?." Tanya Rima penasaran.
Tante Meli dengan cepat menjawab. "Tidak, maaf mama salah ucap." Alasan Tante Meli.
Kini Rima merasakan ada sesuatu yang mama nya sembunyikan, namun ia akan mencari tahunya sendiri. Rima tidak akan mendesak mama nya untuk mengatakan nya, takut nanti malah mama nya yang berbalik mencurigai dirinya.
"Ya sudah, mama ke kamar lagi." Pamit Tante Meli melangkah keluar kamar.
__ADS_1
Rima pun dengan cepat meraih ponselnya, dengan mulai berpikir dari mulai mana ia bertindak. Mengingat mama nya mengatakan nama teman nya Yuda, Rima memilih untuk memberi pesan kepada Yuda, meminta Yuda untuk bertemu di hari esok. Ia akan mencari tahu tentang kedatangan nya menemui mama nya sebelum kebakaran itu terjadi.
...Bersambung....