
Aldi memejamkan mata, menenangkan hatinya yang bergejolak seraya menunggu Serly untuk membuka suara. Saat ini yang di butuhkan Aldi adalah kejujuran dari mulut Serly. Aldi akan menyerah dan mundur jika Serly benar-benar akan bertunangan dengan Dido. Namun, yang saat ini Aldi inginkan alasan Serly yang mengapa tidak memikirkan perasaannya. Aldi berpikir bahwa Serly mempermainkan perasaannya selama ini.
Sekian detik. Sekian menit. Serly masih saja bungkam. Serly masih tertunduk dengan menyembunyikan suara tangisnya mengatupkan bibirnya secara rapat. Hanya bahunya yang terlihat bergetar, dengan matanya yang terus mengalirkan air mata.
Aldi sendiripun. Terus memejamkan kedua matanya. Masih menunggu suara lembut sang gadis untuk membuka suaranya.
Dido yang sedari tadi menguping. Memberanikan diri untuk menoleh ke arah belakang. Karena setelah menunggu beberapa menit tidak ada suara kembali dari keduanya. Membuat Dido heran serta penasaran.
Dido tertegun. Menatap sang gadis yang sudah Dido yakini bahwa Serly sedang menangis tanpa suara. Terlihat dari bahunya yang berguncang.
"Bagaimana ini? dia menangis? aku harus bagaimana?" gumam Dido yang merasa tidak tega melihat gadis pujaannya menitikkan air mata.
Ada niat Dido ingin menghampiri Aldi dan Serly untuk menjelaskan semuanya kepada Aldi. Namun, Dido berpikir kembali. Tekadnya takut membuat Serly marah dan kecewa kepada dirinya.
"Oh Ya Tuhan ... tolonglah hamba-Mu yang hina ini!" Dido memohon pertolongan kepada Sang Kholiq untuk memberikan suatu petunjuk.
Suara dering ponsel milik Aldi berdering. Refleks Aldi membuka kedua matanya dan meraih ponsel miliknya yang berada di dalam saku celana. Aldi menghela nafas saat mendapat pesan dari Rasya yang menanyakan keberadaan dirinya. Aldi merutuki dirinya yang lupa untuk kembali bekerja.
"Saya kembali ke kantor. Kamu masih punya hutang penjelasan sama saya!" kata Aldi seraya berdiri menatap kepada Serly.
"Kak, kita putus!" Serly dengan suara bergetar.
"Putus?" ulang Aldi dengan mimik wajah terkejut. Berikutnya, Aldi mengeraskan rahangnya merasa tidak percaya dengan keputusan gadis yang di cintainya.
Serly berdiri mencoba menatap wajah Aldi yang kini terdiam. Wajah datar dan dinginnya kentara jelas jika sedang marah.
"A-aku a-akan bertu-tunangan dengan Kak Dido. Ja-jadi ki-kita tentu ti-tidak se-seharusnya a-ada hubungan lagi," jelas Serly dengan terbata bahkan terisak.
Aldi masih terdiam. Setelah merasa cukup, Aldi menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Okey!" satu kata dari Aldi seraya melangkah meninggalkan Serly.
Serly semakin terisak dengan menglihat Aldi yang pergi dari hadapannya. Serly yakin Aldi sangat kecewa bahkan membenci dirinya setelah menerima keputusan Serly yang tanpa Aldi tahu. Serly kini menangis dengan tertunduk. Tiba-tiba tubuh Serly ada yang merengkuh. Di dekap dengan erat oleh seseorang.
"Menangislah jika akan membuatmu lebih tenang," ucap Dido seraya tangannya mengusap-usap punggung Serly.
Serly terkesiap saat mendengar suaranya. Serly kira Aldi kembali menemuinya dengan memeluknya. Tapi ternyata Serly salah. Dido lah yang kini mencoba menenangkannya. Namun, Serly membiarkan. Tidak menolak ataupun membalas pelukan Dido.
__ADS_1
"Kak Dido?" Serly mendongak menatap Dido.
Dido mengangguk seraya tersenyum, tangannya kini terangkat mengusap air mata Serly yang sedari tadi menganak sungai.
Serly membiarkan. Dengan matanya menatap netra Dido yang fokus mengusap kedua pipinya.
Dido kembali merengkuh tubuh Serly. Kepala gadis tersebut Dido usap dengan lembut dengan di sandarkan pada dada bidangnya.
Serly merasa sedikit tenang. Bahkan kini wangi aroma tubuh Dido bisa ia hirup. Dengan suara detak jantung Dido yang berdetak Serly jelas bisa mendengarnya.
"Bagaimana?" tanya Dido yang membuat Serly bingung menjawab.
Serly mendongak menatap Dido yang menunduk menatapnya.
"Sudah tenang?" tambah Dido menjelaskan.
Serly mengangguk dengan tersenyum tipis. Sedetik kemudian Serly melepaskan diri dari rengkuhan Dido. Serly berpikir sepertinya Dido tahu semuanya.
"Ada apa?" tanya Dido yang melihat Serly berpikir.
"Kakak ada di sini?" Serly menatap Dido meminta penjelasan.
"Sejak kapan?" Serly masih ingin lebih jelas dari jawaban Dido.
"Sejak kalian duduk," kata Dido yang kini memilih duduk di bangku bekas Aldi duduk tadi.
Serly tercengang.
"Apa kakak boleh menjelaskan kepada Bang Aldi?" Dido meminta persetujuan atas niatnya yang ingin menjelaskan semuanya kepada Aldi.
"Menjelaskan apa kak?" Serly kini kembali duduk di tempat yang tadi ia duduki.
"Menjelaskan semuanya," balas Dido.
"Jangan kak!" larang Serly tidak menyetujui.
"Why?" Dido ingin tahu alasan Serly yang melarang dirinya untuk menjelaskan kepada Dido.
__ADS_1
Serly menggeleng, "Jangan kak. Penjelasan itu tidak akan menghentikan semuanya,"
Dido menautkan alisnya, "Maksudnya?"
Serly menatap Dido dengan serius, "Kak, apa dengan cara kakak mengatakan semua yang pernah terjadi antara kita akan membuat aku kembali sama Kak Aldi? tentu tidak bukan?" Serly menjeda ucapannya. Sementara Dido menanti ucapan selanjutnya.
"Pertunangan kita pasti akan tetap terjadi. Orang tua kita sudah merencanakan semuanya kak. Bahkan, empat hari lagi. Dan undangan sudah di sebar. Lalu, aku tidak yakin kak Aldi akan menerima aku apa adanya setelah kita menceritakan yang sesungguhnya," Serly sudah berpikir jauh jika apa yang Dido rencanakan terjadi. Maka, ia tidak yakin jika Aldi akan menerima dirinya yang sudah tidak mempunyai hal yang paling berharga.
Dido terdiam mencerna semua ucapan Serly.
"Kakak hanya ingin menyatukan kalian," Dido dengan lirih namun masih terdengar oleh Serly.
"Menyatukan?" Serly menatap Dido dengan tidak mengerti.
"Apa kakak akan membuat orang tua kita kecewa? setelah semua yang kakak rencanakan? pertunangan yang empat hari akan terjadi, bukannya itu semua rencana mu? lalu kakak dengan mudahnya akan mengacaukannya?" Serly dengan menggebu berucap semua itu kepada Dido. Serly tidak habis pikir kepada Dido. Dido yang menginginkan pertunangan itu. Dido sendiri yang akan mengacaukannya. Serly bahkan memikirkan perasaan Hadi Papanya, yang sudah sangat menginginkan semua itu terjadi.
Dido menyunggingkan senyumnya merasa Serly kini telah menyetujui pertunangannya. Meskipun yang sebenarnya, Dido kini berpikir lebih baik dirinya melihat Serly bahagia dengan pria yang di cintainya dari pada Serly tertekan jika hidup dengan dirinya.
"Apa tidak ada niat untuk memperbaiki hubungan mu dengan Bang Aldi?" Dido sengaja ingin tahu apa yang ada di benak gadis pujaan hatinya.
Serly membuang nafasnya dengan kasar, "Apa sih maksud kakak? tentu aku tidak bisa melakukan itu. Biarlah kak Aldi membenciku. Aku tak pantas buat dirinya. Aku yakin kak Aldi pasti kecewa dan marah sama aku. Karena tidak tahu apa yang sebenarnya alasan pertunangan itu akan terjadi,"
Dido manggut-manggut. Berharap di dalam hatinya bahwa Serly ingin membuka hatinya untuk dirinya. Atau mencoba menerima kehadirannya.
"Kak," panggil Serly dengan suara lembut.
Dido menatap wajah Serly yang sembab, "Iya," jawabnya.
"Buatlah aku jatuh cinta secepatnya pada kakak!" kata Serly dengan memerah wajahnya menahan malu karena berani mengungkap kata yang menurutnya tidak pantas.
Dido tersenyum senang. Terasa bisikan-bisikan hati dan pikirannya seakan terjawab secara langsung.
Dido mengangguk cepat, "Akan kakak buat kamu menjadi wanita yang tergila-gila cinta padaku!" jawab Dido mantap.
Serly terkekeh merasa lucu dengan jawaban Dido.
Dido pun ikut tersenyum merasa senang jika Serly sudah mulai membaik.
__ADS_1
'Semoga aku bisa membuatmu nyaman dengan hidup bersamaku. Sampai akhir tua nanti! itulah janjiku!' harapan Dido di dalam hatinya seraya menatap Serly yang kini sudah tidak se-sedih tadi.
...***...