You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 91.


__ADS_3

Rasya terbangun dari tidurnya di lihat jam yang melingkar di pergelangan tangan nya menunjukan pukul 20:00, Rasya terperanjat kaget dirinya telah lama tertidur.


Rasya pun bergegas mandi. Setelah selesai dengan aktivitas mandinya, Rasya mengenakan pakaian Casual nya. Dengan Jeans hitam Selutut di padukan dengan kaos hitam, dan di balut kemeja pendek berwarna abu dengan tidak ia kancingkan.


Rasya setelah merasa penampilan nya rapi bergegas keluar kamar lalu menuju Para pekerja nya yang masih terlihat berkutat dengan para tugasnya.


"Pak Rasya..." Aldi menyapa saat sudah melihat Rasya berdiri di dekat mobilnya.


"Eh iya Al. Saya tertidur. Em... Saya sekarang mau ke rumah kamu ya..." Rasya yang sudah merasa rindu akan kekasihnya.


"Silahkan Pak..." Aldi dengan tersenyum ramah mempersilahkan Bos nya datang ke rumahnya.


Rasya pun langsung masuk ke dalam Mobil dan melajukan mobilnya menuju rumah Aldi.


"Al... Si Bos kaya nya sudah kangen tuh sama calon bini nya." Celetuk Ivan.


"Iya Pastinya. Orang calon Bini nya bening gitu. Kalau gue jadi Pak Rasya sudah gue kelonin terus tuh gak mau gue tinggal." Tambah Celetuk Damar.


Aldi hanya menggeleng-gelengkan kepala menanggapi celotehan Ivan dan Damar yang selalu nyablak kalau sedang berbicara.


"Eh Iya Al. Besok hari minggu. Anak Alumni SMA kita ngajak reunian. Lu mau ikut gak?." Tutur Damar.


"Gak tahu... gimana besok aja." Sahut Aldi cuek.


Ternyata Mereka berempat memang dulu waktu SMA seangkatan. Jadi sudah biasa dan sudah tahu kebiasaan masing-masing.


"Ah elu. Emang Lu Gak mau ketemu sama si Tira yang tergila-gila sama elu dulu." Ledek Ivan.


Aldi langsung berwajah masam.


"Elu tuh Al. Bege atau Bede sih. Jelas-jelas si Tira itu cantik terus tajir, Lah elu... kenapa gak suka?." Tambah Beni yang membuat Aldi mendelik matanya.


"Sudah jangan bahas dia. Aku gak suka, ya tetap gak suka." Jawab Aldi.


"Terus cewek yang elu suka model gimana Al?. Risa, Puput, Tia, atau Sasa?" Celetuk Ivan mengabsen teman Ceweknya dulu lagi SMA.


"Enggak. Aku gak suka semuanya." Sahut Aldi jengkel, tapi tetap ia menjawab celetukan temannya.


Beni kini tersenyum kepada Ivan dan Damar lalu mereka bertiga saling pandang dengan wajah tersenyum.


"Jangan-jangan Lu suka nya model Nona Bos." Celetuk Beni dan diangguki oleh Ivan dan Damar.


Aldi seketika terdiam.


Apa iya aku suka cewek model Nona Adel?.


Tapi itu terlalu tinggi seleranya.


*Gumam Aldi dalam hati.


Lalu Aldi menggeleng.


Teman-teman nya merasa aneh terhadap Aldi.


"Elu sebenarnya normal gak sih Al?." Kini Ivan mempertanyakan soal kenormalan Aldi.


Aldi seketika menoyor kepala Ivan.


"Tentulah normal. Kalau gak normal sudah ku terkam kalian."


Ivan, Damar, dan Beni seketika begidik ngeri membayangkan Aldi yang menyukai sesama jenis. Lalu mereka tertawa terbahak.


"Ayo kelarin. Biar besok gak banyak kerjaan." Perintah Aldi.


Akhirnya mereka pun menurut dan kembali bekerja.


Sementara itu Rasya kini menghentikan mobilnya. Ia sudah sampai di halaman depan rumah Aldi.


Rasya pun bergegas menuju pintu dan mengetuknya.


"Eh Pak Rasya... Ayo Nak masuk." Ibu Aldi yang membuka pintu dan menyuruh Rasya masuk.


Rasya pun masuk, dan duduk di Sofa ruang tamu. Rasya melirik ke arah ruang tengah namun tidak melihat gadisnya di sana.


Ibu Aldi yang merasa tahu akan mata Rasya yang melirik ke arah Ruang tengah ia pun berbicara.


"Neng Adel sudah masuk kamar tadi. Katanya ngantuk." Kata Ibu Aldi.


"Oh begitu ya bu." Rasya langsung merasa kecewa namun tidak ia tampakan.


"Ibu bawa Teh anget dulu ya Pak Rasya." Pamit Ibu Aldi menuju Dapur.


Rasya yang sudah tidak sabar untuk bertemu gadis nya ia melangkah menuju kamar Adelia. Rasya memegang handle pintu, dan ternyata Adelia tidak menguncinya. Rasya pun masuk kedalam kamar.

__ADS_1


Terlihat Adelia yang sedang tidur berselimut, dengan posisi terlentang. Rasya menatap gadisnya itu dengan tersenyum. Lalu ia mengecup kening, pipi kiri, pipi kanan, dan bibir. Tapi tidak ada pergerakan dari Adelia yang saat itu tidurnya begitu pulas.


Rasya pun tak tega untuk membangunkan Adelia, Ia memilih keluar kamar. Dan saat keluar kamar bertepatan dengan Aldi yang baru masuk ke dalam ruang tengah.


"Hei Al." Sapa Rasya canggung merasa malu dirinya terlihat Aldi keluar dari kamar Adelia.


"Iya ada apa Pak?." Sahut Aldi dan mendekati Bosnya itu.


"Itu yang bangun rumah cepat juga ya." Rasya basa basi.


"Benar Pak. Karena saya sengaja kepada para pekerja bangunan itu untuk lebih cepat mengatakan nya. Dan ternyata memang hasilnya begitu cepat tinggal 30% lagi sepertinya." Kata Aldi.


"Sepertinya begitu Al. Ya Sudah Saya balik ke Bengkel. Em... Kamu besok jangan bilang Saya sudah di sini kepada Adelia, dan tolong ke ibu juga jangan bilangin. Saya mau bikin surprise kebetulan besok hari ultah Adel, jadi kamu tolong bantu Saya." Pinta Rasya.


"Baik Pak saya tidak akan mengatakan nya." Jawab Aldi.


Rasya pun berlalu pergi keluar rumah.


Dan Aldi memutuskan untuk mandi terlebih dahulu.


Saat di dapur Aldi bertemu ibu nya.


"Bu, tadi pinta Pak Rasya, ibu jangan bilang kalau Pak Rasya sudah berada di sini kepada Non Adel. Pak Rasya mau kasih kejutan katanya karena besok kebetulan hari ulang tahunnya Nona Adel. Dan barusan Pak Rasya sudah pulang ke Bengkel." Tutur Aldi.


"Iya Ibu gak bakal bilang. Ya sudah Ibu mau tidur." Ibu Aldi pun masuk kedalam kamarnya.


Aldi setelah habis mandi merasa lapar ia dengan masih memakai handuk menuju kompor, dan berniat merebus Mi instan.


Selagi airnya belum matang Aldi bergegas ke dalam kamar untuk memakai Pakaian terlebih dahulu. Setelah itu Aldi kembali lagi kedapur menghampiri kompor yang di atasnya terdapat Panci kecil untuk merebus Mi instan nya.


Tak lama Kemudian Adelia keluar kamar berniat untuk membuang air kecil. Adelia melihat Jam sudah hampir jam dua belas malam. Adelia dengan mata setengah sadar bergegas masuk ke dapur untuk minum terlebih dahulu.


"Loh Al kamu belum tidur?." Adelia setelah Melihat Aldi sedang berdiri di depan kompor.


"Eh Non, Iya saya sedang merebus Mi. Non Mau?." Tawar Aldi menawari Adelia.


"Enggak Al. Aku mau minum saja." Adelia dengan meraih gelas yang sudah ia penuhi air minum dan Adelia pun meminum nya.


Setelah itu Adelia masuk kedalam kamar mandi untuk buang air kecil. Saat Adelia baru saja selesai dan melangkah keluar kamar mandi tiba-tiba semua lampu mati. Sepertinya PLN sedang memadamkan terlebih dahulu Aliran listrik warga.


"Akh.... Al. Aku takut." Teriak Adelia.


"Nona diam dulu saya mau menghidupkan senter di ponsel saya." Aldi dengan mengeluarkan ponsel dari balik saku celana pendek nya.


"Al aku takut gelap." Saat Adelia sudah di dekat Aldi.


"Iya Nona. Sudah terang koq lihat." Aldi dengan menunjuk senter di ponselnya.


Adelia semakin mendekati Aldi hingga kulit tangan Adelia bersentuhan dengan kulit tangan Aldi. Sontak Aldi merasa gugup. Untung pencahayaan terhadap wajahmu tidak terlalu jelas, bisa saja Adelia melihatnya pikir Aldi.


"Ehm.. Non beneran gak mau Mi?." Aldi melepas kegugupan nya dan beranjak duduk di kursi meja makan.


"Enggak Al." Sahut Adelia.


"Ya sudah saya mau makan Mi nya dulu ya Non."


"Iya silahkan Al..."


Aldi pun memakan Mi nya di hadapan Adelia dengan cuek. Aldi tidak berani untuk menatap atau melihat kekasih Bos nya itu. Sehingga ia memilih makan Mi dengan terus menunduk.


Adelia menyodorkan Air minum di hadapan Aldi.


"Ini minumnya Al."


Aldi sontak menatap hangat kepada Adelia.


"Terima kasih Non." Ucap Aldi.


Dan Tak lama Aldi sudah menghabiskan Mi nya. Kini Aldi melihat ponselnya dan ternyata baterai ponselnya sudah sangat lemah. Aldi bingung karena Listrik belum juga nyala. Dan Aldi mencemaskan Adelia yang ternyata takut gelap.


"Non mau tidur kembal sekarang?." Tanya Aldi.


"Tidak Al. Aku takut gelap."


"Ya sudah kita ke ruang tengah saja Non."


Aldi pun memberikan penerangan dari ponselnya untuk Adelia berjalan di depan nya.


Saat Adelia baru duduk di sofa, ponsel Aldi mati dan mati lah pencahayaan dari senter ponsel Aldi.


"Al kamu di mana?." Lirih Adelia ketakutan.


"Saya di sini Non. Di bawah duduk di karpet. Maaf Non Ponselnya mati."

__ADS_1


Dan tanpa Aldi duga, Adelia menghambur memeluknya. Aldi sungguh terkejut dengan Adelia lakukan saking takutnya gelap Adelia memeluk Aldi.


Aldi sungguh gugup, baru saat ini ia di peluk wanita. Walaupun banyak wanita yang menyukainya, tapi Aldi sikapnya cuek bahkan menghindar dari para wanita yang mengejarnya.


"Non menangis?." Aldi merasa mendengar Adelia terisak.


"Al aku takut." Lirih Adelia dengan masih memeluk Aldi.


"Gak usah takut Non Ada saya di sini." Ucap Aldi dengan tangan nya mulai menjawab pelukan Adelia. Sungguh Aldi tidak sadar akan tangan nya yang tiba-tiba melingkar di punggung Adelia.


Adelia merasa tenang, karena Aldi memeluk nya.


"Terima kasih Al. Ngomong-ngomong ini kenapa bisa mati listriknya Al?."


"Lagi ada perbaikan PLN seperti nya Non. Maklum di kampung."


Adelia mmengeratkan pelukan nya, dengan kepalanya bersandar di dada bidang Aldi.


Aldi merasa detak jantungnya berdetak dengan kencang.


Aduh Ada apa dengan jantungku?.


*Batin Aldi.


"Al Jantung kamu detaknya cepet banget." Adelia yang tahu penyebab nya mengulas senyum, namun Ia sengaja ingin menggoda Aldi. Adelia seketika ingat akan perkataan Ibu Aldi yang mengatakan bahwa Aldi sepeti tidak normal.


"Em... gak tahu non." Aldi memang belum tahu dan baru merasakan nya saat ini.


"Tapi aku tahu Al." Tutur Adelia.


"Hah?. Tahu karena apa?." Aldi dengan menatap Adelia yang samar di penglihatan nya karena tidak ada pencahayaan.


"Karena Jatuh Cinta." Tebak Adelia sengaja ingin tahu reaksi Aldi.


"Apa Jatuh Cinta?."


"Iya Al. Apa kamu sedang jatuh cinta?." Adelia sengaja tidak mengatakan kalau detak jantung berdetak kencang itu adalah karena jatuh cinta pada wanita di hadapan nya. Tapi Adelia sengaja dengan mengatakan Aldi sedang jatuh Cinta.


"Tidak." Ketus Aldi.


Padahal di dalam batin nya.


Apa iya aku jatuh cinta dengan gadis ini?.


Tidak. Jangan sampai.


Duh Lampu cepat nyala dong...


Aku sesak. Aku gak mau di peluk terus.


*Batin Aldi berteriak mengumpat dirinya.


Adelia terdiam dan merasakan bahwa Aldi memang tidak mengakuinya atau jangan-jangan Aldi memang tidak Normal.


Seketika Adelia merasa lega, walaupun Adelia memeluk Aldi Ia akan tenang karena merasa Aldi yang biasa saja tidak ada pengaruh apapun kepada dirinya kecuali Detak jantungnya yang kencang.


Adelia membenahi pelukan nya.


"Non.Mohon Maaf Non bisa lepas gak pelukan nya?." Aldi merasa risih dengan jantungnya yang seakan ingin lompat dari tempatnya.


"Tidak." Ketus Adelia. Lalu mempererat pelukan-nya.


Ya Tuhan Bagaimana ini.


Kenapa Non Adel seperti ini lagi, bagaimana kalau Pak Rasya tahu, dan salah paham nantinya. Aku bisa terancam.


*Aldi berbicara dalam hatinya.


Seketika Aldi mendengar hembusan nafas yang sudah teratur. Dan samar-samar Aldi melihat Adelia yang sudah tertidur dengan kepalanya bersandar di dadanya.


Aduuuh... Malah tidur Lagi Non Adel.


Yasalam bagaimana ini?.


Apa iya aku harus ikut tidur juga.


*Batin Aldi.


Dirinya merasa sudah mengantuk. Mau membangunkan Adelia namun Aldi tak tega. Ia pun memilih tertidur dengan kaki yang berselonjor begitupun Adelia. Dan kepala Aldi sandarkan pada Badan Sofa.


Aldi pub terlelap tidur dengan tubuhnya di peluk Adelia.


...Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2