
Happy Reading!!.
🌼🌼🌼
Sekitar jam 09:00 Rasya sudah terduduk di meja kerja yang berada di Bengkel. Setelah menghabiskan sarapan nya yang di suapi sang istri terlebih dahulu. Ia melihat pengeluaran belanja barang-barang serta Stok yang tertera di buku tebal, biasanya Aldi yang melakukan nya. Tapi karena Aldi sudah tidak ada, jadi Rasya turun tangan sendiri. Sedangkan sang istri sedang membuat Kue yang di temani Mama mertua, adik ipar, dan juga Rara.
Rasya memijit pelipis matanya merasakan sedikit pusing di bagian kepala, seraya tangan nya yang kanan membuka lembar perlembar buku tebal yang sedari ia pegang.
"Huh ... andai saja Aldi tidak tiba-tiba pergi, pasti akan aku suruh untuk mengajarkan teman nya yang lain terlebih dahulu," gumam Rasya.
Rasya berpikir jika Aldi tidak mendadak pergi, pasti Rasya menyuruh untuk mengajarkan tugas apa yang selama ini Aldi pegang kepada salah satu teman nya, yang diantara Ivan, Damar, dan Beni.
Rasya saat ini sedang tidak ingin banyak bergerak ataupun berbicara, karena rasa pusing dan mual yang sedang dirasakan nya. Bisa saja Rasya sendiri yang turun tangan untuk mengajarkan kepada salah satu teman Aldi, tapi saat ini tidak sangat memungkinkan.
Rasya berubah menjadi malas membuka buku tebal itu, kini Ia memainkan ponselnya melihat-lihat akun instagram nya yang sudah selama ini ia tidak buka.
"Ben ... Ben ...." panggil Rasya kepada Beni dengan sedikit berteriak. Dengan matanya fokus ke layar ponsel.
Beni yang mendengar namanya di panggil akhirnya datang menemui sang Bos.
"Ada apa Pak Bos?," tanyanya setelah berdiri dekat di depan Rasya.
"Lihat Ben, ini makanan apa?," tunjuk Rasya pada layar ponselnya.
Beni pun mencondongkan tubuhnya untuk menatap layar ponsel yang menampilkan gambar makanan di tunjuk Rasya.
Terlihat unggahan salah satu akun selebgram yang sedang mencicipi berbagai jajanan khas kota B. Dan tepat yang di tunjuk Rasya adalah makanan dengan khas kuah pedasnya.
"Itu Seblak, Pak," ucap Beni setelah melihat gambar yang Rasya tunjuk.
"Saya mau makanan itu!" pekik Rasya.
"Pak Bos mau seblak?," dan Rasya pun mengangguk.
Rasya mulai merogoh dompet, dan mengeluarkan uang yang berwarna merah dua lembar.
"Berpaan sih?" tanya nya.
"Di atas lima belas ribuan Pak, dan kadang tergantung maunya seblak apa," sahut Beni.
"Saya ingin yang seperti di gambar tadi rasanya," pinta Rasya.
Mana ada di daerah sini yang kaya di gambar tadi? itukan di pusat kota. Masa iya aku harus ke pusat kota?. Gerutu Beni di dalam hati.
"Ben, kok kamu malah bengong? cepat belikan seblak! sekalian kamu juga beli sama buat teman-teman kamu," kata Rasya dengan menyerahkan uang berwarna merah tadi.
__ADS_1
"Baik Pak," sahut Beni seraya mengambil uang tersebut.
Beni pun keluar bengkel dengan melewati kedua temannya terlebih dahulu. Ivan yang melihat Beni mengarah kepada motor miliknya langsung bertanya.
"Ben, Lu mau kemana?," tanya nya.
"Beli Seblak," tukas Beni dengan tersenyum.
"Tumben Lu, biasanya Lu sukanya juga siomay," celoteh Ivan.
"Gue juga suka. Em ... sebenarnya si Bos yang mau seblak nya juga," tutur Beni.
"Si Bos?"
Beni mengangguk. "Lagi ngidam" lanjut Beni dengan berbisik.
Ivan hanya terkekeh mendengar perkataan Beni itu.
"Ya sudah, Gue berangkat!"
Beni seraya menancapkan gas motor miliknya untuk membeli apa yang di perintah Bosnya itu yang tengah menginginkan seblak.
Beni menyusuri tempat jajanan di daerah tersebut, kebetulan Beni melihat gerobak penjual Seblak yang mangkal. Beni akhirnya menghentikan motornya tepat di depan penjual seblak tersebut dan menghampiri tukang seblak setelah memarkirkan motornya.
"Pedas gak, Mas?" tanya nya.
"Iya pedas semua bu," sahut Beni.
Dan si Ibu itupun mulai membuatkan seblak pesanan Beni, mulai menumis bumbu khas seblak, yang terdiri dari kencur, bawang putih, dan cabe rawit yang sudah si ibu haluskan terlebih dahulu.
Setelah tumisan bumbu berbau wangi, si Ibu mulai menuangkan air sesuai ukuran empat porsi. Setelah air di masukkan si ibu menambahkan bahan yang lain, yaitu kerupuk mentah, makaroni mentah, kwetiau, Sosis, bakso, tak lupa ceker ayam serta sayuran seperti kol dan caisim. Kemudian si ibu menambahkan bumbu penyedap rasa, serta sambal penambah level pedas.
Hingga seblak itu matang, Si ibu mulai memasukkan kedalam tempat makanan berbentuk kotak. Dan menyerahkan nya kepada Beni.
"Ini Mas seblak nya," Si Ibu itu dengan menyerahkan bungkusan seblak dalam kantong kresek.
"Jadi semuanya berapa bu?," tanya Beni.
"Semuanya enam puluh ribu, Mas" kata si ibu.
Beni pun menyerahkan salah satu uang berwarna merah yang Rasya tadi berikan untuk membayar seblak nya. Dan Beni mengantongi uang kembalian nya kedalam saku celananya.
"Terima kasih Bu," kata Beni dengan beranjak naik pada motornya.
Beni mulai menancapkan gas motornya kembali untuk pulang ke bengkel. Hingga beberapa menit, Beni pun sampai.
__ADS_1
Beni turun dengan menenteng kantong kresek yang berisikan empat bungkus seblak.
"Pak, ini seblak nya, yang ini buat saya sama yang lain nya," kata Beni setelah menemui Rasya di meja kerjanya, seraya menyerahkan satu bungkusan seblak.
"Iya terima kasih Ben." kata Rasya dengan mata berbinar.
"Eh iya Pak, ini uang kembaliannya dan sisa uang dari bapak," Beni menyerahkan uang yang tadi Rasya berikan beserta uang kembalian nya.
"Buat kalian saja," kata Rasya, seraya membuka bungkusan seblak nya.
Beni pun berlalu dengan semringah karena dapat uang yang tadi Rasya berikan. Uang itu di bagi tiga bersama teman-teman nya.
"Ayo, kita makan seblak nya. Udah waktu istirahat juga, kan?," ucap Beni kepada Ivan dan Damar.
Ivan dan Damar pun menghampiri Beni, dengan mengambil bungkusan seblak nya.
"Oh iya ini ada uang lebih dari Pak Bos, semuanya seratus empat puluh ribu. Gue lima puluh ya, kalian empat lima," tukas Beni.
"Boleh juga Ben," kata Ivan.
"Lumayan buat beli pulsa," ujar Damar.
Akhirnya mereka memakan seblak yang berlevel pedas itu. Rasya yang makan seblak di mejanya, merasa puas dengan rasa kuah dari seblak tersebut.
Tiba-tiba Adelia datang bersama Serly, dan juga Rara. Beni, Ivan ,dan Damar menatap tak berkedip ke arah dua gadis tersebut.
"Lihat menurut Lu yang mana adiknya Pak Bos?," bisik Beni bertanya kepada Ivan.
"Sepertinya yang berbaju ungu deh," kata Ivan dengan balik berbisik.
"Husss ... kalian lagi ngomong apaan sih?," tanya Damar ingin tahu.
"Eh ada yang kepo?!!" kata Ivan.
"Dasar ya Lu!!" kata Damar.
"Ada deh Dam, Elu gak usah tahu!" tukas Beni.
"Sialan!!!" Damar mencebik bibirnya.
Saat mereka sedang asyik salah satu dari dua gadis tersebut menoleh.
"Permisi ...."
...Bersambung....
__ADS_1