
Suara dentingan sendok dan garfu memenuhi ruang makan keluarga Hadi Argadinata. Hadi sengaja mengundang makan malam untuk Albian Syaputra, yang termasuk rekan bisnisnya, sekaligus ingin mempertanyakan tentang perjodohan antara Albian bersama putrinya.
"Terima kasih, Tuan Albian sudah sudi menerima undangan makan dari kami," ucap Hadi setelah semuanya selesai melahap makan malamnya. Di meja makan hanya tersisa Hadi, Lia, Aldi, Rasya, Albi, dan Serly. Adelia dan Rara lebih memilih bermain dengan Baby Daffa dan Baby Saffa di ruang keluarga yang di temani Nina, Sarah, dan Bi Ida.
Albi tersenyum, "Sama-sama Pak Hadi. Mohon maaf saya baru bisa menghadiri undangan Pak Hadi malam ini," ujar Albi yang merasa tidak enak terhadap Hadi yang sudah beberapa kali mengundang makan, namun baru malam ini Albi menghadirinya. Albi bukan tidak mau, namun ia kebetulan sedang berada di kota M, kota kelahirannya.
Sementara yang lainnya menyimak mendengarkan. Sesekali Aldi menatap ke arah Serly dengan wajah datarnya.
"Iya saya bisa maklumi itu, Tuan Albi." Hadi kemudian berdehem "Ngomong-ngomong, bagaimana tentang rencana yang saya tawarkan?" maksud Hadi adalah tentang perjodohan.
Albi seperti sedikit berpikir, "Proyek yang mana ya, Pak?" sepertinya Albi sudah tidak mengingat tentang hal perjodohan yang pernah Hadi tawarkan kepada dirinya.
Hadi terkekeh, "Bukan sebuah proyek. Namun, perihal perjodohan"
Albi sedikit menunduk, sebenarnya ia sangat tidak suka tentang perihal jodoh menjodohkan. Albi merasa nyaman hidup sendiri. Mungkin ia pernah merasakan jatuh cinta. Namun cinta itu salah tempat. Albi mencintai istri orang yakni Adelia. Bahkan rasa cinta itu masih tetap menempati hatinya. Meskipun Hera sang Mama pun sudah mendesak Albi agar mendekati wanita lain yang selain Adelia.
"Oh tentang itu ya, Pak?" Albi mencoba tersenyum menanggapi. "Mungkin bisa di tanyakan lebih dahulu kepada putri Bapak? karena, saya tidak mau menjalin hubungan atas dasar paksaan,"
"Dan mohon maaf, saya bukan menolak atau tidak menghargai niat Pak Hadi. Tapi, saya ingin kenyamanan juga bagi putri Bapak," lanjut Albi.
Rasya tersenyum bangga kepada Albi. Albi ternyata memang sosok yang tegas dan tidak memilih sesuatu dengan terburu-buru. Rasya pun menyetujui apa yang di ucapkan Albi.
"Benar itu, Pa. Papa harus tanyakan dulu kepada Serly. Dia mau atau tidak. Dan Bapak jangan memaksa kalau misalkan Serly tidak menerimanya," Rasya menimpali.
Hadi manggut-manggut. Ia berpikir kembali. Perjodohan ini sebenarnya hanya menguntungkan bagi dirinya saja. Hadi bisa memiliki menantu seorang Pengusaha muda yang mempunyai banyak Investasi, dan banyak Perusahaan. Tapi, putrinya bisa saja menerima. Karena setahu Hadi putrinya itu adalah sosok gadis manja yang penurut.
"Menurut Papa, Serly pasti menyetujui" Hadi dengan melirik ke arah Serly.
"Tidak Pa!" ucap Serly tegas nada suaranya sedikit tinggi.
"Jaga nada suaramu, Nak!" Lia memberikan peringatan kepada putrinya itu.
Rasya akan membiarkan dulu bagaimana adiknya itu memberikan penolakan kepada Hadi Papanya.
"Maaf." kata Serly dengan lirih. "Serly hanya tidak mau di jodohkan. Serly ingin memilih pendamping sendiri. Bahkan, Serly masih kuliah, Pa. Serly belum kepikiran ke arah pernikahan,"
__ADS_1
"Cobalah dekat dulu, Nak?" Hadi tetap bersikeras. "Tuan Albian ini. Pemuda tampan, berwibawa, bahkan sudah mapan. Kamu mau cari yang bagaimana?" Hadi menyebutkan semua yang ada di diri Albi.
Serly menggeleng. Ia menatap sekilas ke arah Aldi. Sebelum tatapannya mengarah kepada Rasya.
Rasya yang seakan tahu tatapan dari sang adik, yaitu tatapan yang ingin di beri bantuan. Rasya menimpali ucapan Hadi.
"Mohon maaf, Pa. Menurut Rasya juga alangkah baiknya. Serly biar belajar dulu yang fokus. Dan suatu saat Serly akan menemukan jodohnya. Karena bagi Rasya lebih bahagia dengan pilihan sendiri," ujar Rasya memberikan bantuan untuk adiknya, membela di depan Papanya.
Hadi terlihat menghela nafas berat. Sesuatu yang di inginkannya tidak bisa tercapai dengan mudah.
"Saya lebih menghargai keputusan putri bapak." Albi menimpali.
Ah Hadi merasa di serang. Ia tidak bisa memaksa putrinya saat ini.
"Baiklah, Tuan Albian. Mohon maaf, pembicaraan tentang ini anggap saja hanya gurauan, karena ternyata putri saya sendiri yang menolaknya," Hadi merasa malu. Seharusnya sebelum pembicaraan ini di mulai ia mendesak putrinya terlebih dahulu untuk menyetujui.
"Tidak masalah Pa. Putri bapak berhak bahagia dengan pilihannya," Albi berbesar hati. Memang itu yang sebenarnya Albi inginkan. Penolakan dari Serly.
Dan Pembicaraan tersebut akhirnya berakhir. Albian pamit pulang, begitupun dengan Aldi. Aldi mengucap banyak terima kasih kepada Rasya karena sudah sengaja di undang juga.
Serly yang sudah berada di dalam kamarnya terus tersenyum, menatap pesan yang baru saja Aldi kirimkan.
Kak Aldi.
"Jangan tidur malam-malam! Terima kasih sudah menolak perjodohan itu."
Serly senang bukan main. Ternyata Aldi menyukai dirinya juga.
"Sejak kapan ya, kak Al suka sama aku?" Serly bermonolog.
Ia begitu penasaran tentang Aldi yang ternyata juga menyukai dan mencintainya. Serly guling-guling di atas kasurnya, dengan bibir yang terus tersenyum.
"Malam ini pasti tidur nyenyak," ucap Serly dengan mulai menyelimuti tubuhnya.
Waktu baru saja menunjukkan sepuluh malam. Namun, Serly ingin cepat tidur, agar tidak menunggu lama untuk hari esok.
__ADS_1
Di Kamar lantai bawah...
"Sayang, sudah tidur?" bisik Rasya pada telinga Adelia. Adelia yang terlihat terpejam. Ia baru saja masuk ke dalam kamar setelah pembicaraan bersama orangtuanya berakhir.
"Belum. Sudah selesai Mas?" Adelia dengan membuka matanya menatap sang suami. Ia tadi tidak mengikuti pembicaraan perihal perjodohan Albi dan Serly. Setelah makan Adelia memilih bermain bersama kedua bayinya yang kini sudah mempunyai kamar. Dan kedua bayinya itu di temani baby Sister.
"Sudah," sahut Rasya. Ia mulai merengkuh tubuh istrinya itu untuk masuk ke dalam pelukannya.
Adelia dengan senang hati menerima pelukan dari Rasya. Bahkan Adelia sengaja menenggelamkan kepalanya di dada bidang milik suaminya itu.
"Terus, bagaimana? apa Albi dan Serly menyetujui?" Adelia dengan jari jemarinya mengusap-usap punggung sang suami.
"Sebelumnya Mas sudah katakan kepada Serly untuk memilih keinginannya sendiri, tanpa harus menyetujui maksud Papa. Mas, memberi kebebasan untuk adik satu-satunya itu, agar tidak bernasib seperti Mas, yang terpaksa menyetujui perjodohan. Siapa sih yang mau di paksa?" seloroh Rasya.
"Oh gitu. Terus Serly jadinya gimana?" Adelia masih ingin tahu.
"Gak nyetujui. Begitupun Albi yang sebelum menerima penolakan dari Serly. Dia menyerahkan keputusannya terlebih dahulu kepada Serly. Ternyata Dia bijaksana juga ya, pantas saja jadi pengusaha sukses di usia muda," Rasya berakhir memuji Albi.
Adelia hanya tersenyum saja. Jika menimpali, ia takut suaminya berpikir yang tidak-tidak, secara suaminya itu cemburuan.
"Ya bagus deh. Kalau begitu tidak ada pemaksaan seperti waktu kamu, Mas"
"Iya, benar. Di paksa itu tidak enak, 'kan sayang?" Rasya dengan meraih dagu Adelia. Sehingga Adelia mendongak dan menatapnya.
"Iya," jawab Adelia.
"Makanya, Mas gak suka maksa kamu. Karena Mas tahu, di paksa itu tidak enak. Lebih baik sama-sama mau. Jadi enak dan nik mat" Rasya sudah mengarah ke arah yang lain. Tangannya mulai bergerilya ke tempat-tempat sensitif milik sang istri.
"Mas. Kok jadi ke arah sana?" Adelia protes.
"Shuttt ... jangan protes. Mas mau mulai bercocok tanam lagi, agar segera berbuah dan nanti panen. Kamu tahu 'kan Sayang, hasil penen kita lucu-lucu dan menggemaskan?" ya karena kebetulan mulai malam-malam ini dan seterusnya acara favorit keduanya itu tidak akan terganggu. Karena baby twin mereka di dalam kamarnya dengan di temani baby sister.
Adelia mencubit pinggang suaminya dengan gemas. "Ya sudah ayo!" ucap Adelia dengan wajah merona.
"Yess! tapi gak usah cubit-cubit gitu dong, Sayang. Jadi pengen cepat-cepat di jepit deh jadinya," celetuk Rasya.
__ADS_1
...***...