You Are My Mine

You Are My Mine
Tangisan Mama Rasya.


__ADS_3

Ruangan tengah menjadi saksi suara tangisan seorang ibu yang di tinggalkan putra pertamanya. Ia meraung-raung sedih. Namun sang ayah hanya berdiam tanpa mau mengejar anaknya yang pergi itu. Pertengkaran antara sang Ayah dan anak itu membuat sang anak pergi meninggalkan rumah yang sedari kecil ia tempati. Dua-duanya menginginkan keinginan nya masing-masing. Hadi yang tidak mau mengalah, Rasya yang tidak mau menuruti lagi semua perintah orangtuanya dari masalah memilih calon istri hingga pekerjaan yang tidak Rasya sukai.


Serly yang baru saja datang dari arah luar. Tersentak kaget, dan bingung melihat sang Mama yang sedang menangis pilu. Serly sudah berpikir Mama pasti telah bertengkar dengan Papa nya itu. Tapi di Rumah Ini sedang ada Kakaknya dan Adel juga Rara. Serly melihat-lihat ke setiap sudut tidak terlihat nampak ada Kakaknya itu. Namun matanya terhenti kala melihat Rara yang sedang berdiri mematung di bawah tangga.


Serly tidak berani bertanya kepada Mamanya yang sedang menangis itu selagi Papanya masih ada duduk di sana. Serly lebih memilih berjalan untuk menghampiri Rara yang sedang berdiri mematung.


"Kak Rara.... Kak Rasya dan Kak Adel mana?. Kenapa kakak berdiri di sini?." Tanya Serly setelah sampai di samping Rara yang berdiri.


Rara hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan. Serly jadi bingung ada apa sebenarnya. Rara memberikan respon hanya menggelengkan kepala, itu tandanya Ia tidak tahu atau Rasya dan Adel tidak ada.


Serly melihat ke arah Kaki Rara yang sedang bergetar. Serly panik apa yang sebenarnya terjadi.


"Kita ke dapur Yuk kak." Serly mengajak Rara untuk ke dapur dengan menggandeng tangan Rara yang ternyata bergetar juga.


Setelah di dapur Rara duduk di kursi meja makan, dan Serly menuangkan air minum ke dalam gelas lalu di serahkan kepada Rara, Rarapun meraihnya dan meminumnya hingga tandas.


"Kakak tahu apa yang sebenarnya terjadi?." Tanya Serly setelah melihat Rara tidak bergetar lagi.


Rara menjawab dengan mengangguk.


"Jadi Kak Rara tahu apa penyebab Mama Serly yang membuat ia menangis?." Tanya Serly lagi.


Rara pun kembali mengangguk.


"Ayo katakan kak." Serly menyuruh Rara agar menceritakan nya.


Rara pun mulai bersuara, dan menceritakan perihal Pertengkaran Rasya dan Hadi tadi hingga membuat Rasya pergi meninggalkan Rumah ini dan mengajak Adel. Sehingga Lia Mama Rasya menangis.


"Astaga... Serly pikir tadi Mama menangis karena bertengkar dengan Papa." Serly tidak menyangka kenyataan nya Mamanya menangis karena kepergian sang kakak.


Rara menggelengkan kepalanya.


Dari ruang tengah terdengar Lia terus menangis. Kini Serly dan Rara menuju ruang tengah itu untuk menghampiri Lia yang masih saja menangis. Terlihat Hadi sudah tidak ada di sana. Serly pun dengan cepat memeluk Mama nya untuk menenangkan.


"Ma... Sudah. Gak usah nangis lagi." Serly dengan memeluk Mamanya.


"Ser... Kakak mu pergi mengajak Adel." Ucap Lia dengan menangis.


"Iya Besok kita temui Kak Rasya. Serly tahu pasti Kak Rasya mengajak kak Adel ke Apartemen nya, atau ke rumah Yang di pinggir pantai itu." Sahut Serly dengan mengusap-usap punggung Mama nya.


Lia kini menatap Serly seperti meminta penjelasan akan semua yang dikatakannya.


"Maaf Ma. Serly Tahu Kak Rasya punya Rumah di Pantai." Serly dengan sedikit gugup.


"Rumah siapa?." Tanya Lia penasaran.


"Sebenarnya Ketika Kak Rasya dulu berpacaran dengan kak Adel, Kak Rasya sudah membuat Rumah. Karena Kak Rasya beranggapan akan menikahi kak Adel. Rumah itu Ia bangun dari hasil jerih payahnya sendiri, tanpa ada uang yang di kasih Papa. Namun kenyataan nya Kak Rasya malah menikah dengan wanita pilihan Mama dan Papa." Tutur Serly menjelaskan.


Kini Air Mata Lia menetes kembali karena perasaan haru dan bersalah terhadap Putra nya itu yang ternyata benar-benar serius dengan Gadis pujaan nya yaitu Adelia. Semakin kencang suara tangisan Lia. Ia berharap Rasya bisa pulang kembali, dan Ia bisa meminta maaf kepada Putra nya.


"Tante sudah. Besok Rara yakin, Rasya akan pulang." Ucap Rara menenangkan Lia.

__ADS_1


"Benarkah?." Lia seperti seorang anak kecil yang meyakinkan atas apa pendengarannya.


"Iya Benar tante. Rara ada di sini, dan itu tidak mungkin bagi Adel meninggalkan Rara di sini. Percayalah pasti besok juga Rasya akan datang." Rara mencoba meyakinkan. Padahal dari lubuk hatinya sebenarnya Ia tidak yakin akan Rasya yang akan datang pada hari esok.


Lia pun terhenti tangisan nya.


"Mama sekarang mending tidur ya." Serly menyuruh Mama nya agar tidur.


Lia pun mengangguk, dan pergi bergegas menuju kamarnya yang berada di lantai dua.


Serly dan Rara juga bergegas pergi ke kamar untuk tidur.


Sementara itu Adel tengah tertidur di dalam mobil Rasya. Rasya yang baru saja menghentikan laju mobilnya, menoleh ke arah gadis yang di sampingnya yang tengah tertidur.


Rasya keluar terlebih dahulu, dan membuka sebuah pintu rumah dengan kunci yang di gantungkan bersamaan dengan kunci mobilnya. Setelah itu Rasya menghampiri kembali ke mobil, membuka pintu depan yang Adelia tengah tertidur. Rasya dengan pelan membuka Seatbelt yang melingkar di tubuh Adelia, Lalu Rasya merengkuh tubuh Adelia itu kedalam gendongan nya. Rasya menggendong Adelia yang tertidur itu hingga masuk ke dalam kamar.


Tubuh Adelia dibaringkan oleh Rasya di atas Kasur dan di selimutinya tubuh Adelia itu.


Kemudian Rasya membuka kemeja nya, dan mengganti dengan Baju kaos. Lalu membaringkan tubuhnya di sebuah Sofa panjang yang berada di dalam kamar itu.


Rasya tengah membayangkan apa yang baru saja terjadi antara dirinya bersama Papanya.


Rasya berpikir Ia tidak mempunyai kesalahan, Dirinya hanya tidak mau menuruti keinginan Papanya yang menentukan kehidupan nya. Rasya malah berpikir bahwa Papa nya itu sangat egois. Mata Rasya mulai sayu, sampai mulai terpejam dan terlelap tidur.


...****************...


Di tempat lain.


Tidak. Itu tidak mungkin.


Mungkin saja gadis yang tadi adalah berwajah mirip dengan Adeliaku.


Adelia sungguh Aku merindukan mu.


Semoga kamu tenang di alam sana.


Maafkan aku, yang akhirnya aku akan menikah dengan Rima. Sungguh aku tidak pernah untuk berkhianat dari mu.


Aku menikahinya hanya karena balas budi saja.


Martin bergumam di dalam hatinya dengan menatap sebuah photo Adelia yang berada di galery ponsel miliknya.


Lalu Martin mendesah ketika ingat bahwa Rima mengabarkan dua minggu lagi pernikahan itu di laksanakan, karena Martin menyerahkan urusan pernikahan nya kepada Rima dengan beralasan Ia sibuk. Sibuk karena beberapa bulan Cafe-cafe nya ia tinggalkan jadi banyak harus di revisi. Padahal Martin hanya ingin menghindar dari Rima karena tidak mau terlalu dekat akan Rima yang selalu bersikap agresif jika di dekatnya, Martin juga lelaki normal tentu tidak di pungkiri bahwa Rima mempunyai wajah yang cantik bahkan tubuhnya yang seksi itu selalu sengaja ia dekat-dekatkan kepada Martin. Makanya Martin menghindar dari pada harus tergoda. Namun tak di sangka Rima dengan cepat menentukan tanggal pernikahan dalam waktu cepat, bahkan Rima sudah mengatur bagaimana Konsep pernikahan nya nanti tanpa di ketahui Martin.


Martin keluar dari ruang kerjanya serasa cukup untuk waktu menyendirinya. Tiba-tiba Ponselnya berdering dari nomor yang baru masuk ke ponselnya karena belum tertera nama di layar Ponselnya.


"Hallo...." Martin mengangkat panggilan telepon nya.


"Hallo Bro. Apakabar?." Sahut seseorang dari sambungan telepon tersebut.


Martin mengernyitkan dahinya. Karena merasa orang yang sekarang sedang menelepon nya Sok Akrab.

__ADS_1


"Baik. Siapa ya?." Jawab Martin dengan penasaran.


"Wah... gile. Mentang-mentang jadi Bos Cafe Lu Lupa sama Sohib Lama Lu. Gue Dimas." Ternyata yang menelepon adalah Dimas.


"Dimas ini beneran Lu?." Martin bertanya meyakinkan.


"Iya Gue Dimas. Eh iya Gue punya Nomor Lu dari si Rey. Besok gue pengen ketemu sama Lu. Gimana?." Celoteh Dimas dari sambungan telepon mengajak Martin untuk bertemu.


"Oh ya ya... boleh juga. Gue dah lama belum ketemu Lu. Besok kabarin saja. Dan sekalian ajak juga si Rey." Martin menyetujui ajakan Dimas.


"Okey. Pasti Bro. Ya sudah jangan lupa save nomor gue. Biar Lu bisa hubungin gue jika Lu butuh. Ya sudah selamat malam Bro gue tutup ya."


"Iya." Martin pun dengan cepat menutup sambungan telepon nya.


Kini bibir Martin menyunggingkan senyum karena merasa senang teman lama nya datang memberikan kabar. Dan besok Mereka akan bertemu seperti dulu.


Martin berjalan melangkah ingin menuju kamarnya. Namun kala melewati kamar Rima. Martin menghentikan langkahnya karena mendengar suara Rima yang sedang marah.


"Lu itu benar-benar ya gak becus kerjanya. Sia-sia gue membayar kalian. Nangkap satu cewek saja tidak becus. Awas kalau belum kalian nangakap itu cewek. Jangan Hubungi gue. Hubungi gue kalau kalian benar-benar sudah berhasil mampusin itu cewek." Teriak Rima pada Ponselnya.


Ternyata Rima sedang berbicara pada orang dari sambungan telepon nya dan Martin mendengarkan semuanya.


Apa yang di maksud Rima?.


Mampusin cewek?.


Martin bergumam di dalam hatinya.


Kemudian Ia cepat melangkah pergi untuk menuju kamarnya setelah tidak mendengar suara Rima lagi. Kini Martin sudah berada di dalam kamarnya. Ia cepat-cepat mengunci pintu kamar itu. Lalu pikiran nya tertuju pada ucapan Rima yang baru saja Ia dengar.


"Maksud Rima siapa ya?."


"Dan Kenapa Rima seperti sangat marah kepada orang yang di seberang telepon itu."


"Kerja gak becus".


"Percuma Bayar Mahal kalian."


"Arrrgh..... Jadi pusing mikirin nya. Tapi aku penasaran Rima sepertinya sedang merencanakan sesuatu untuk berbuat Jahat."


Martin berbicara sendiri dengan merangkai kata-kata tadi yang sempat ia dengar.


Lalu Martin yakin jika Rima sedang merencanakan sesuatu untuk berbuat jahat.


"Apa mungkin Rima ingin menyingkirkan Adelia?. Tapi Adelia sudah terbakar, dan penyebab nya karena Konsleting listrik."


Martin kembali berbicara sendiri.


"Aku harus tahu apa yang Rima rencanakan itu. Sekarang ini yang lebih penting dari pada Cafe itu. Rima akan menjadi istriku tidak mungkin aku membiarkan dia dalam hal kejahatan. Walaupun aku tak punya Rasa cinta sedikitpun."


Martin berniat ingin mencari tahu tentang apa yang Rima rencanakan itu.

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2