You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 155.


__ADS_3

Adelia dengan rasa kecewa karena ucapan Alsa, akhirnya memilih tidur di kamarnya. Ia membuka pintu dengan hati-hati. Takut Albi terbangun. Adelia pun melangkah masuk dengan mengendap-endap. Lalu, menutup pintu dengan perlahan. Tapi dugaan Adelia salah. Bahkan Albi sedang terduduk di atas ranjang dengan tangannya bermain ponsel.


"Dari mana?" tanya Albi dan mengagetkan Adelia yang akan hendak membalikkan badannya.


Adelia berusaha tenang, "Dari dapur," jawab Adelia dengan tersenyum.


"Oh," sahut Albi hanya dengan ber-oh saja.


Adelia menjadi gugup berada di kamar tersebut. Ia teringat akan Albi yang mengatakan malam ini akan menyentuhnya.


"Apa kamu akan terus berdiri di situ?" tanya Albi dengan menyunggingkan senyumnya menatap Adelia yang masih terus berdiri.


Adelia sontak menggeleng. Benar-benar ia merasa takut dan gugup untuk berbicara kepada Albi.


"Sini!" titah Albi dengan menepuk tempat tidur kosong yang biasa di tempati Adelia.


Adelia menurut dengan melangkah pelan, ia ragu-ragu takut Albi melakukannya secara langsung.


"Hei, ada apa dengan mu?" tanya Albi dengan mengernyitkan dahinya menatap Adelia yang melangkah pelan.


"Ti-tidak Mas. A-aku tidak apa-apa," jawab Adelia terbata dan melangkah cepat mendekati Albi.


Adelia langsung berbaring, dan menyelimuti tubuhnya. Albi menatap Adelia yang sudah terbalut selimut dengan rasa heran dan juga bingung. Padahal ia ingin memulai apa yang di katakannya tadi.


"Arumi?" panggil Albi seraya menarik selimut yang membalut tubuh Adelia.


"Aku ngantuk, Mas," sahut Adelia dengan mata terpejam.


Albi membelai pipi Adelia dengan jemarinya, "Apa kamu sudah minum susu?" tanyanya mengingatkan.


Adelia membuka matanya, "Belum Mas," jawabnya.


"Ya sudah, tunggu!. Aku mau buatkan," ucapnya. Dan memang itulah kebiasaan Albi setiap malam dan pagi membuatkan susu untuk Adelia.


Albi pun keluar kamar. Dan Seperginya Albi. Adelia melamun memikirkan bagaimana cara untuk menolak Albi jika nanti ingin menyentuhnya. Dan tak lama Albi sudah kembali ke dalam kamar dengan memegang segelas susu di tangannya. Bahkan Adelia belum menemukan ide cara untuk Albi nanti.


"Ayo bangun dulu. Dan minum susu-nya!"


Adelia pun menurut. Ia bangun dan mendudukkan tubuhnya. Lalu mengambil segelas susu yang Albi serahkan. Ia meminum susu itu dengan sekali tegukkan. Dan menyerahkan gelas kosongnya tersebut kepada Albi.


Albi tersenyum lalu menaruh gelas kosong itu di atas meja yang berhadapan dengan sofa. Kemudian melangkah kembali. Dan mendudukkan tubuhnya di atas ranjang sebelah Adelia.


"Ini ponsel untuk mu," ucapnya dengan menyerahkan ponsel baru yang Albi tadi mainkan.


Adelia mengambil ponsel tersebut dan menatapnya, "Ini untuk aku?" tanyanya.


Albi mengangguk, "Iya untuk mu. Nanti aku akan menelpon kamu saat di Pulau K. Aku pasti akan merindukan mu," ucapnya dengan tersenyum manis kepada Adelia.


Adelia menjadi salah tingkah akan ucapan Albi, di tambah senyuman Albi yang begitu manis. Seketika pipi Adelia menjadi merah merona.


"Terima kasih, Mas." ucapnya.


"Sama-sama," sahut Albi.

__ADS_1


Albi mendekat duduknya seraya merengkuh tubuh Adelia ke dalam pelukannya. Adelia tidak menolak. Ia membiarkan Albi memeluk tubuhnya.


"Kamu baik-baik ya, di sini. Jangan kemana-mana!. Kalau ada yang bertemu denganmu, lalu mengatakan nama lain. Jangan di dengar ya!," ucap Albi seraya mengecup puncak kepala Adelia.


"Maksud Mas?" tanya Adelia dengan mendongak. Ia merasa bingung akan ucapan Albi barusan.


Albi jadi gelagapan tidak mungkin ia katakan yang sebenarnya, "Maksud a-aku, kamu tidak usah layani orang yang tidak kamu kenal. Aku takut ada yang jahati kamu, apalagi aku tidak ada di dekat mu," jawabnya.


"Oh begitu ya, Mas. Iya aku akan ingat pesan Mas," ucap Adelia.


Albi meraih dagu Adelia, dan membuat Adelia mendongak kepadanya. Albi tersenyum, lalu ibu jarinya mengusap bibir merah muda Adelia yang membuat hasratnya tergugah. Albi menunduk seraya meraih bibir Adelia untuk ia cium. Perlahan Albi membaringkan tubuh Adelia. Lalu mengungkungnya. Bibir Albi dengan perlahan mengecup, dan mel**at bibir Adelia. Adelia tidak bisa menolak. Ia menikmati apa yang Albi lakukan. Bahkan Sesekali Albi menye**pnya.


Adelia melenguh merasakan sensasi panas pada sekujur tubuhnya. Apalagi Albi kini mel**at pada area leher jenjang Adelia yang mulus. Adelia seakan tersengat listrik dengan apa yang Albi berikan. Adelia mendesah. Hawa sejuk dari Ac berubah menjadi hawa panas di dalam kamar tersebut.


Albi tersenyum, ia bibirnya kini melu*at bagian dada atas Adelia. Tangannya mulai ingin membuka kancing piyama yang Adelia kenakan. Bahkan Albi tidak sabar, ia melepas paksa piyama Adelia hingga kancingnya berjatuhan.


Dan terpampanglah dua gundukan gunung milik Adelia yang masih terbungkus. Albi menatap dengan menelan salivanya. Ia ragu-ragu untuk melakukan untuk lebih jauh dari apa yang sudah ia lakukan.


Albi mendesah merasa menyesal. Ia tangannya kemudian meraih selimut untuk menutupi dua gundukan yang sudah jelas di hadapannya. Lalu Albi memeluk Adelia.


"Maaf. Aku tak bisa meneruskannya," ucap Albi dengan memejamkan kedua matanya, dan nafasnya masih terengah-engah.


Adelia sontak terkejut mendengarnya. Ia tidak menyangka bahwa Albi sendiri yang menghentikan aksinya.


Sebenarnya ada apa dengan Mas Albi?. batin Adelia bertanya.


Adelia memilih terdiam tidak menyahuti Albi. Ia sengaja memejamkan kedua matanya di dalam pelukan Albi. Namun, bayangan dirinya yang sedang bercumbu dengan pria lain kembali datang. Bahkan Bukan hanya cumbuan tapi adegan ranjang menjelma dalam ingatannya.


Sontak Adelia membuka kedua matanya. Ia merasa heran dengan bayangan tersebut.


Adelia merasa apa yang di katakan Alsa mungkin ada benarnya. Ia besok akan memutuskan untuk menuruti tentang apa yang di katakan Alsa untuk ikut pergi berobat.


Adelia tidak terasa tertidur dalam pelukan Albi setelah bergelut dalam pikirannya. Bahkan Adelia langsung bermimpi, bertemu dengan Sosok pria yang selalu datang dalam ingatannya.


***


Esok Paginya...


Adelia terbangun menatap jam dinding yang baru saja menunjukkan pukul lima pagi. Adelia teringat akan keberangkatan Albi di pagi ini. Lalu Adelia memilih membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Setelah selesai dengan ritual mandi. Adelia memakai pakaian nya di ruang ganti, dengan memilih dress berwarna merah yang tingginya di atas lutut, berlengan pendek. Membuat tubuh mulus Adelia terlihat jelas.


Kemudian setelah merasa puas dengan penampilannya. Adelia keluar kamar dan bergegas menuju dapur. Namun, langkah Adelia terhenti kala mendengar suara dari balik kamar Alsa.


Adelia mendengar suara pria bernyanyi dari kamar tersebut. Membuat Adelia bertanya-tanya. Tentang siapa yang berada di dalam kamar Alsa tersebut. Dan suara pria tersebut seperti tidak asing di pendengaran Adelia. Tapi Adelia tidak bisa mengingatnya.


Adelia memilih meneruskan langkahnya setelah suara pria bernyanyi itu tidak terdengar lagi. Ia menuju dapur dengan banyak pertanyaan di benaknya. Dan kenapa Alsa sampai memasukkan pria ke dalam kamarnya. Begitulah isi pemikiran Adelia kini.


Adelia mulai mencari bahan masakan dalam lemari pendingin. Dan tak lama Rasya keluar sebagai Alsa. Dengan gaya anggun mendekati Adelia.


"Selamat pagi Nona," sapa Rasya.


Adelia menghentikan tatapannya dari lemari pendingin, dan beralih menatap Alsa dengan penuh tanda tanya. Bahkan Adelia terus menatap ke arah belakang Alsa, siapa tahu pria yang di kamar Alsa ikut juga keluar.


"Pagi juga Alsa," sahut Adelia.

__ADS_1


Adelia memilih kembali menatap bahan-bahan yang akan ia masak. Tangan Adelia mengeluarkan bahan sayuran capcay, dan cumi sotong.


"Boleh saya bantu Nona?" tanya Rasya.


"Boleh. Tolong cucikan bahan-bahan ini," ucap Adelia seraya menyerahkan sayuran bahan capcay dan cumi sotong.


"Baik Nona," sahut Rasya dengan mengambil bahan-bahan tersebut dari tangan Adelia. Dan melangkah menuju washtafel untuk membersihkan.


Sebenarnya Rasya merasa tidak enak kepada Adelia. Semalam mulut Rasya yang keceplosan, membuat berbagai macam prasangka buruk di benaknya. Rasya takut Adelia akan mencurigainya.


Sementara itu Adelia memilih mengecek nasi yang berada di dalam ricecooker. Setelah merasa masih banyak dan cukup. Adelia memilih memotong bahan bumbu. Lalu memasukkan ke dalam blender untuk di haluskan.


"Alsa, saya tinggal dulu. Itu bumbunya sudah saya haluskan,"


"Iya Nona. Silahkan" sahut Rasya.


Adelia meninggalkan dapur. Dan entah karena rasa penasarannya. Adelia malah masuk ke dalam kamar Rasya. Dengan berbagai pertanyaan Adelia mengamati isi kamar Rasya. Ia mencari keberadaan pria yang tadi bernyanyi di dalam kamar tersebut. Tapi Adelia tidak menemukan keberadaannya. Adelia pun memutuskan untuk cepat keluar dari kamar Rasya. Ia takut di ketahui Rasya karena telah masuk kamar tanpa sepengetahuannya.


Adelia memilih ke dalam kamar. Ia mengamati Albi yang masih tertidur. Padahal waktu pagi yang gelap sudah terlihat terang.


"Mas, bukannya mau berangkat pagi-pagi?" tanya Adelia seraya tangannya memegang bahu Albi yang masih tertidur.


Albi yang tidak susah jika di bangunkan. Langsung mengerjapkan matanya.


"Sekarang sudah jam berapa?" tanya nya dengan suara serak khas bangun tidur.


"Setengah Tujuh. Ayo bangun! dan cepatlah mandi," ucap Adelia lalu melenggang masuk ke dalam ruang ganti untuk mempersiapkan baju ganti Albi.


Albi pun menurut. Ia bangun dan langsung berjalan melangkah ruang ganti yang terhubung kamar mandi. Ia menatap Adelia yang sedang mempersiapkan baju ganti untuk dirinya. Albi menatap tubuh Adelia yang terbalut mini dress berwarna merah. Ia menelan salivanya saat mengingat hal semalam. Bahkan terbayang pada dua gundukan yang terbungkus, yang hampir saja Albi mencicipinya. Tapi akal sehat dan kesadarannya memilih untuk menghentikan.


Albi memilih melenggang masuk ke dalam kamar mandi tanpa menyapa Adelia yang sudah mempersiapkan baju ganti untuk dirinya.


Adelia setelah itu kembali ke arah ranjang. Ia membersihkan dan merapihkannya. Setelah selesai. Adelia keluar kamar dan memilih kembali ke arah dapur.


Terlihat Rasya sedang menumis bumbu yang sudah Adelia haluskan tadi. Dengan menjepit hidungnya. Adelia pun mendekat dengan beragam pertanyaan di benaknya.


"Alsa, apa kamu tidak suka dengan aroma bumbu ini?" tanya Adelia dengan mengambil alih alat yang di pegang Rasya untuk mengaduk bumbu tersebut.


Rasya menggeleng. Rasa bergejolak dalam perutnya kini datang menjelma kembali. Padahal beberapa hari sudah tidak lagi Rasya rasakan. Namun, saat mencium bau bumbu tersebut membuat rasa mual datang dari perut Rasya.


"Hueek"


Rasya berlari menuju kamar mandi yang berada di dalam kamarnya. Adelia pun sempat mendengarnya. Dan kini Adelia menatap kepergian Rasya yang setengah berlari.


Adelia memilih meneruskan memasaknya. Setelah beberapa saat hasil masakan Adelia sudah tersaji di meja makan. Adelia memilih untuk melihat keadaan Rasya. Dan terdengar suara Rasya muntah-muntah dari balik kamar mandi.


Adelia memilih menunggu duduk di tepi ranjang. Ia menatap pada benda yang sedang menyala tanpa suara. Adelia penasaran dan ingin melihatnya. Adelia mengambil ponsel Rasya yang masih terpampang ada yang memanggilnya dengan nama 'Mama', nada ponsel Rasya ternyata di silent.


Hingga panggilan tersebut terhenti. Dan menampakkan layar walpaper. Adelia terbelalak kaget dengan photo walpaper yang terpampang jelas pada layar ponsel Rasya. Yaitu photo Pria yang selalu ada dalam mimpinya tengah tersenyum berdua dengan wanita. Dan wanita tersebut adalah dirinya.


Ceklek...


Pintu kamar mandi terbuka, dan keluarlah sosok Alsa. Rasya melotot kaget dengan keberadaan Adelia di dalam kamarnya. Apalagi Adelia sedang menatap layar ponsel miliknya.

__ADS_1


"Nona???"


...Bersambung....


__ADS_2