You Are My Mine

You Are My Mine
Mulai Dekat


__ADS_3

Hari terus berlalu, kini Adelia sudah terbiasa dengan kenyataannya, yang hubungannya harus kandas dengan Rasya. bahkan dari kejadian di Resto ketika Makan siang bersama Martin, itulah terakhir Adelia bertemu.


Jika dengan Martin, kini Adelia mulai menerima kehadirannya. ya walaupun masih dengan ikatan teman.


Adelia seperti biasa memulai aktivitas nya, ia kini sedang membuat pesenan kue pelanggan barunya.


pelanggan barunya yang bernama Ibu Rosy.


Ibu Rosy itu sengaja memesan kue dari toko Adelia, atas Rekomendasi tetangganya, ia merupakan pendatang baru di tempat itu. ia memesan kue untuk acara syukuran tempat tinggal barunya.


"Huuuh... akhirnya..." Adelia merentangkan tangan nya ketika menyelesaikan semua kue buatan nya.


"Widiiih.... Ngences ni gue liatnya" Rara yang baru saja datang dari swalayan.


"Awas Lu yaa, jangan sampai kue buatan gue lu encesin. jadi sia sia gue" Adelia dengan candanya.


"Hahaa... iya mau gue encesin ni satu satu biar lu puas" Rara dengan terus tertawa


"Ya udah nitip dulu, Gue mau mandi dulu" Adelia berlalu untuk membersihkan diri.


Adelia setelah mandi. ia akan bergegas mengantarkan pesanan kue nya. tapi ia berpikir lagi.


"Apa aku kabari aja dulu bu Rosy nya ya, siapa tau ia bisa bawa sendiri kue nya ke sini. kalau aku yang anterin gimana bawanya dengan kue yang tiga puluh biji?"


Adelia meminta saran kepada Rara


"Iya deh Gue setuju Del,,, Takut kita bawa dengan mengguna kan motor, tiba tiba kue itu jatuh dan ancur pastinya, terus perjuangan lu akan sia sia Del..." Rara yang seakan membayangkan kejadian naas menimpanya.


"iih lu pikiran nya jauh juga, hahaaa. .. tapi iya sih gue juga takutnya gitu" Adelia dengan ketawa membayangkan juga apa yang kata Rara ungkapkan.


Tiba tiba datang sebuah mobil, dan berhenti tepatnya di depan Toko Adelia.


"Mobil siapa tuuh, gue baru liat deh.." Rara bicara dengan matanya yang masih memperhatikan mobil di depan toko nya itu.


"Ya mana aku tau Raa... mungkin aja itu mobil pelanggan kita, atau...." Ucapan Adelia terhenti ketika melihat Bu Rosy yang keluar dari mobil.


"Tuuh kan apa Gue bilang Raa, itu Bu Rosy pelanggan kita" Adelia yang menunjuk kedatangan Bu Rosy.


"Aah iya ya.." Tukas Rara


"Hai Adel, maaf ya saya baru datang. tadi bangunin dulu anak saya, karena gak ada lagi mobil di rumah untuk ke sini. sekalian biar anak saya bantuin.." Bu Rosy mengatakan keterlambatannya.


"Iya gak apa apa bu..." Adelia tidak mempermasalahkan.


"Bentar saya panggil dulu anaknya,,,


Rey,,, ayo keluar bantuin bunda," Bu Rosy memanggil anaknya untuk ngebantu.


"Iya Bun,,,,"Ucap anak bu Rosy menghampiri, namun seketika matanya melotot melihat Wajah Adelia, ia ingat seseorang dua tahun yang lalu, yang pernah ia kagumi, sampai hubungan dengan salah satu sahabatnya bubar.


"Ini Rey anak saya, dan Rey ini namanya Adelia... Liat selain cantik ia juga jago bikin cake" Bu Rosy memperkenalkan Rey kepada Adelia.


"Ah Bu Rosy bisa aja, Adel masih tahap belajar koq.." ucap Adelia merendahkan dirinya.


"Reyhan... "Reyhan mengulurkan tangannya.


"Adelia..." Adelia menjawab uluran tangan Reyhan dengan tersenyum.


"Kamu tak ingat saya?" Tanya Reyhan kepada Adelia.


"Maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Adelia bertanya balik kepada Reyhan.


"Kita kuliah di kampus yang sama, yaitu kampus Universitas Indonesia." Reyhan menjabarkan.


"Oh iya,, itu saya pernah kuliah di situ. tapi mohon maaf saya tidak mengenal anda" Adelia masih tidak mengingat tentang Reyhan.


"Adelia memang pelupa,,, jangankan dua tahun yang lalu. yang seminggu kemaren aja suka lupa" Rara tiba tiba mengatakan Adelia seolah pelupa.


"Haha,, iya udah. sekarang kalian udah ketemu kembali. gak salahnya berkenalan lagi" kata Bu Rosy yang sedari tadi memperhatikan interaksi Adelia dan Reyhan.


Adelia pun tersenyum, tapi tidak dengan Reyhan yang terus memandang lekat ke arahnya.


Pesanan kue pun sudah tertata rapi di dalam bagasi mobil milik Reyhan.


"Adel, Terimakasih ya.." Ucap Bu Rosy


"Iya bu sama-sama, dan seharusnya Adelia yang mengucapkan terima kasih, karena Bu Rosy sudah memesan kue yang begitu banyak. Adel jadi senang" Adelia dengan tersenyum.


"Datang ya ke rumah, Saya ingin kamu, dan Rara datang ke acara syukuran kami.." Bu Rosy meminta Adelia datang dan juga Rara.


"ooh tentang ituu...."


"Kami akan datang bu, jangan khawatir. asal nanti Bu Rosy sharelok aja lokasinya yaa..." ucap Rara memotong ucapan Adelia.

__ADS_1


Sedangkan Adelia hanya bisa tersenyum menanggapi.


"ya Sudah, Saya pamit yaa... jangan lupa datang!" Bu Rosy dengan melirik Reyhan yang sudah duduk di balik kemudinya.


"iya Bu Rosy..." Ucap Adelia dan Rara kompak.


Setelah kepergian bu Rosy, kini Adelia duduk di sofa bersama Rara.


"Ra, kamu koq main iya aja tadi..ke bu Rosy,tentang ia mengundang kita?" Ujar Adelia


"Emang kenapa Del, kapan lagi coba kita akan bisa makan-makan gratis ? ehmmm... apa jangan jangan lu ada acara bareng Babang tampan ituu tuu...??"


Rara sambil melirik Martin yang sudah berdiri di pintu dan memperhatikan Adelia. Tanpa sepengetahuan Adelia.


"eng enggak Raa... siapa juga yang mau jalan sama dia" ucap Adelia seakan tidak menyukai Martin.


"Sebenarnya lu suka gak sih sama tuu Martin?" Rara sengaja menggoda Adelia, seakan Martin saat ini kasat mata di hadapannya.


Dan Martin sengaja ingin mendengar apa yang di katakan Adelia dan Rara, dengan masih berdiri di tempatnya.


"Suka," Ucap Adelia dengan tersenyum


"Tapi kadang dia Menyebalkan," Tambah Adelia lagi.


"Ooh gitu ya, misalkan ni ya si Martin itu Cinta sama lu, terus dia nembak lu.. apa lu mau terima dia?" Rara lagi lagi sengaja menggoda Adelia,di hadapan Martin.


"Hah,,, ehmmm... gak tau juga" ujar Adelia, ia sekarang membalikan badannya berniat pergi ke kamar. namun dia kaget orang yang di omongin sudah berdiri di ambang pintu.


Martin kini melangkah dengan terus tersenyum mendekati Adelia,


"Del,, gue lupa beli sesuatu, gue pergi dulu yaa.. " Rara yang sengaja berlari, takut nantinya Adelia memolototinya.


Kini Martin sudah dekat jaraknya dengan Adelia.


"Benarkah kamu suka sama aku?" Bisik Martin


Adelia yang malu, hanya menunjukan perubahan warna pada wajahnya.


"Loh, koq pipi kamu merah?" Martin bertanya seolah ia tidak mengerti dengan pipi merah Adelia yang tengah malu.


Di belai pipi Adelia dengan lembut oleh Martin.


Adelia memejamkan matanya, seakan merespon belaian yang Martin berikan.


Dan Di peluklah Adelia dengan lembut.


Adelia diam saja, bahkan sekarang ia merasakan nyaman berada di pelukan Martin.


"Aku mencintai mu Adelia," Mata Martin kini menatap Adelia.


Adelia merespon dengan Diam.


"kamu seakan magnet bagi ku, kamu selalu ada dipikiran ku, kamu tahu... kamu wanita yang beda Adelia." Martin yang terus menatap Adelia.


Adelia pun menatap Martin, dan mencari kebohongan dari sorot matanya.


namun Adelia tidak menemukan itu, bahkan sorot Mata yang Martin berikan, sorot mata dengan tatapan penuh cinta.


Adelia seakan beku di tempatnya.


Membayang kan bagaimana Martin yang selalu berusaha mendekatinya, walaupun terkadang caranya yang sangat menyebalkan.


Adelia kini berhambur memeluk Martin. Aroma Maskulin dari tubuh Martin seakan membuat Adelia ingin terus memeluknya.


Martin tersenyum, ia pun membalas pelukan Adelia.


Martin membiarkan Adelia terus memeluknya.


"Apa kamu mau jadi kekasihku, jadi pendamping hidupku Adelia?" Bisik Martin yang sedang mengelus lembut punggung Adelia.


Adelia pun mengangguk yang masih terus memeluk Martin.


Tiba tiba Rara datang, matanya melotot melihat Adegan Martin dan Adelia sedang berpelukan.


"Ekhemmm..... kalau mau mesra-mesraan jangan di sini." Rara sengaja menggoda pasangan yang saling berpelukan.


Sontak Adelia melepaskan pelukannya, kini wajahnya tampak malu.


"Raa..." Adelia berucap. dengan melirik sedikit ke arah Martin.


"Apa?" Rara masih dengan wajah menggoda.


"A aku....."

__ADS_1


"Kita mau pergi keluar"Tiba tiba Martin memotong ucapan Adelia.


"Ya udah sana... asal pulangnya bawa oleh-oleh yaa" Rara berujar.


Dan Martin cepat menggandeng Adelia yang masih menahan rasa malu, untuk pergi keluar.


Semoga lu bahagia Del, gue percaya Martin sangat mencintai lu. buktikan ke Rasya kalau lu baik-baik saja tanpa dia.


Rara bergumam dalam hatinya, seakan mendo'akan atas Adelia dan Martin. Rara sudah mengetahui tentang hubungan Adelia dan Rasya tiba-tiba kandas.


Sementara itu, Adelia dan Martin kini tengah duduk di kursi yang di hadapannya di suguhkan Sebuah Danau.


Kini Martin merangkul Adelia dari samping, pandangan nya lurus ke depan, begitu juga dengan Adelia.


"Del, aku akan berusaha menjadi pasangan yang terbaik buat kamu."Martin bicara dengan tiba tiba


Pandangan Adelia kini berpindah, ia memandangi martin yang berada di sampingnya.


Sorot mata Adelia memuji yang menjadi kekasihnya.


Adelia tersenyum lekat memandangi Martin dari samping.


"Aku akan membuktikan kalau aku lelaki yang layak mendampingi kamu" Mata Martin yang masih saja memandang ke arah danau.


Tiba-tiba Adelia memeluk Martin dari Arah samping.


Adelia diam, begitu juga Martin sama sama terdiam.


"Gimana nyaman?" Martin berucap seraya menggoda kekasihnya.


Adelia melepaskan pelukannya, dan mencubit tangan Martin dengan gemas.


"Eh...sakit sayang, Duuh..." Martin sengaja berpura pura merasakan kesakitan.


"Kamu sangat menyebalkan "Ucap Adelia tiba tiba.


"Menyebalkan gimana maksudnya?" Martin pura pura tidak mengerti.


"Sudah ah... gak usah di bahas" Adelia tidak mau memperpanjang.


Cup....


Martin mengecup bibir Adelia sekilas.


Mata Adelia langsung melotot kaget.


Martin beranjak bangun dari duduknya,, ia akan tahu Respon dari Adelia.


"Martiiiiiiiiiin" Adelia berteriak.


Martin pun menyengir dan mencoba berlari untuk menghindari.


Adelia pun terus mengejar Martin, ia seakan ingin memukul Martin saat itu juga.


Kini Adelia sudah berjarak dekat dengan Martin, nafas nya ngos-ngosan. Adelia berjongkok di tanah seakan menyerah untuk mengejar.


"Martin,,, cukup,sudah. Aku capek mengejar kamu. aku seakan mengejar seorang pencuri tauuu..." Adelia berteriak kepada Martin.


Martin pun menghentikan Larinya.


kini ia berlari ke hadapan Adelia.


ia duduk di tanah. memperhatikan Adelia yang sedang ngos-ngosan.


"Kamu haus sayang?" tanya Martin


Adelia pun mengangguk.


"Yu, ke sana." Ajak Martin, dan ia menunjuk sebuah penjual minuman.


Adelia pun menurut. mereka berjalan dengan tangan saling menggenggam menuju penjual minuman..


Tak Jauh dari tempat Adelia berjalan bersama Martin.


Sepasang Mata memperhatikan, bahkan wajahnya seakan terbakar melihat Martin bersama Wanita yang terlihatnya begitu mesra.


Awas ya kamu wanita sialan, berani nya mengambil Martin dari ku.


*Rima marah di dalam batin nya.


Bersambung............


Jangan lupa Like dan Comnentnya yaa Readers....

__ADS_1


__ADS_2