You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 163.


__ADS_3

Rasya kini sedang mendekap sang istri. Ia merasa bahagia. Bisa melewati rintangan rumah tangganya. Walaupun ia belum tahu bagaimana tentang kedepannya. Dengan kehilangan Adelia membuat Rasya semakin sadar akan siapa Yang Maha Pencipta, dan Yang Maha Menentukan. Hingga walau keadaan terpurukpun Rasya tidak sampai hilang arah. Ia selalu mendekatkan diri kepada Sang Maha Kuasa.


"Sayang ... mulai sekarang, kita harus belajar bersama-sama tentang apa itu rumah tangga. Tentang apa peran istri dan peran suami," ujar Rasya dengan membelai lembut punggung sang istri.


"Iya Mas," jawab Adelia.


Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Adelia beranjak berdiri. Ia melepaskan tubuhnya dari dekapan Rasya. Membuat Rasya menatap penuh tanya.


"Sayang, kamu mau kemana?" tanya nya dengan ikut berdiri.


"Aku mau buka tirai-tirai rumah ini," sahut Adelia dengan tersenyum.


"Oh, ya sudah. Aku akan menyapu dan mengepel lantainya, ya ...," ujar Rasya.


"Gak usah. Biar aku saja, Mas!" cegah Adelia.


Rasya tersenyum, "Aku saja. Kamu lebih baik duduk. Tidak boleh banyak bergerak. Nanti kalau aku sudah selesai, kita sarapan di luar," ucap Rasya dengan mengusap lembut pipi sang istri.


"Ya baiklah. Kalau itu mau Mas," pasrah Adelia.


"Gitu donk," ujar Rasya seraya mengecup kening Adelia dan tangannya mengusap perut Adelia. Lalu berlalu pergi untuk mengambil sapu dan alat pel.


Kini Adelia melangkah ke arah jendela kaca. Setiap tirai ia bukakan. Sehingga cahaya mentari pagi masuk lewat kaca-kaca tersebut. Setelah semua tirai ia buka. Adelia mendudukkan tubuhnya di atas kursi sofa, dengan melihat pemandangan suaminya yang kini tengah menyapu dengan terus tersenyum kepadanya.


Gerakan Rasya yang sedang menyapu tidak luput dari tatapan Adelia. Adelia merasa senang karena Rasya memanjakannya. Hingga Rasya selesai menyapu pun, masih Adelia perhatikan.


Dan kini Rasya mulai mengepel lantai.


"Sayang, kamu jangan dulu turun dari sofa itu, ya! lantainya masih licin," ujar Rasya memberi peringatan agar Adelia tidak dulu berjalan ketika lantai basah.


Adelia tersenyum, "Iya Mas Rasya," sahutnya.


Rasya tersenyum. Ia terus bergerak mengepel lantai. Hingga beberapa saat. Rasya menyelesaikan semuanya. Terlihat dahinya berkeringat membuat Adelia ingin mengusap, dan memberikan minum.


"Sayang, jangan cepat-cepat jalan nya!!, nanti kamu terjatuh, lantainya masih sedikit basah," pekik Rasya khawatir melihat istrinya berjalan cepat ingin menghampirinya.


"Tenang Mas, aku tahu. Aku bisa jaga diri kok," ucapnya.


Adelia setelah mendekat. Ia mengusap dahi Rasya yang berkeringat. Kemudian ia mengecupnya. Membuat Rasya terbelalak tidak percaya.

__ADS_1


"Sayang, kurang," protes Rasya.


"Apanya yang kurang, Mas?" tanya Adelia.


"Kecupan nya," ucap Rasya dengan tersenyum nakal.


Adelia tersenyum, "Mas ini."


"Beneran Sayang ... aku maunya di sini!," tunjuk Rasya pada bibirnya.


Adelia menggeleng. Kemudian menyerahkan botol air mineral kepada Rasya. "Lebih baik, Mas minum dulu. Biar Mas lebih fresh," katanya.


Kini Rasya yang menggeleng. "Aku tidak haus minum. Tapi aku haus--" sengaja Rasya menjeda ucapannya.


"Haus apa?, dimana-mana haus itu, ingin minum Mas," ujar Adelia dengan terus tersenyum.


"Aku haus, Ciuman mu, Sayang ...," bisik Rasya tepat pada telinga Adelia. Membuat hembusan nafas Rasya terasa di tengkuk lehernya. Sehingga leher Adelia meremang merasakan desiran hangat.


Adelia terkekeh, dengan wajah merona.


"Aku lapar Mas. Kasihan si Baby belum di kasih jatah makan," ucap Adelia seraya mengelus perutnya sendiri.


"Ya udah. Ayo lets go!!" lanjut Rasya.


Adelia mengangguk dan tersenyum. Tangan Adelia kini Rasya genggam. Mereka pun akhirnya keluar untuk mencari menu sarapan.


***


Albi baru saja sampai di depan pagar gerbang rumahnya. Ia sengaja melakukan penerbangan dari Pulau K, dengan jadwal yang begitu pagi. Ia kini keluar dari mobil dengan menatap tajam ke arah Pak Tono dan Pak Budi.


"Pak Tono, Pak Budi. Apa kalian tahu, bahwa Alsa membawa kabur istri saya?"


Pak Tono dan Pak Budi saling pandang. Ia benar-benar tidak mengetahui tentang Adelia dan Alsa pergi. Bahkan mereka berdua terkejut atas kedatangan Tuan-nya yang begitu pagi.


"Kami tidak mengetahui nya Tuan. Kami pikir Nona Arumi dan Alsa ada di dalam rumah," sahut Pak Tono dan di angguki oleh Pak Budi.


"Jadi kalian tidak tahu?" pekik Albi dengan berteriak.


"Ti-tidak Tu-tuan," sahut Pak Tono dan Pak Budi bersamaan.

__ADS_1


"Terus kalian apa kerjanya, hah? duduk saja di Pos?"


"Mohon maaf Tuan. Beneran kami tidak tahu. Bahkan kami kira Nona bersama Alsa ada di dalam rumah saja. Karena kita berjaga di sini tidak melihat Nona maupun Alsa keluar gerbang," ucap Pak Budi seraya menunduk.


"Tentu kalian tidak akan tahu. Karena mereka keluar, saat kalian masuk ke dalam rumah," ujar Albi dengan menatap tajam.


"Apa?" ucap Pak Tono dan Pak Budi bersamaan.


"Jelaskan sama saya, kenapa kalian masuk ke dalam rumah?"


"Kemarin kita di suruh Alsa untuk makan. Dan semua itu perintah dari Non Arumi. Kami awalnya menolak. Dan pas kami mau bergantian. Alsa bersedia menggantikan posisi kami. Jadi kami bersedia untuk makan," ujar Pak Budi menceritakan kronologisnya.


"Kami tidak tahu. Kalau saat kita masuk rumah. Non Arumi dan Alsa pergi. Kami pikir saat kami tidak menemukan Alsa di pos, Alsa sudah masuk ke dalam kamarnya, begitupun dengan Non Arumi," sahut Pak Tono.


Albi yang sedang menahan emosinya. Pergi berlalu dari hadapan Pak Tono dan Pak Budi tanpa sepatah katapun. Membuat Pak Tono dan Pak Budi mengkhawatirkan dengan nasib pekerjaannya.


Albi masuk ke dalam rumah dengan langkah gontai. Seakan semangat hidupnya hilang. Ia langsung bergegas masuk ke dalam kamar. Dan aroma wangi parfum Adelia masih mengisi ruangan tersebut, dan menyeruak pada indra penciuman Albi.


Albi memicingkan matanya saat melihat ada sehelai kertas di atas meja. Ia kemudian mengambilnya. Dan seraya duduk di sofa.


Sehelai kertas itu adalah surat dari Adelia.


Albi pun mulai membacanya.


Mas Albi pasti saat membaca surat ini, Saat aku sudah pergi. Mas, aku tidak tahu apa yang membuatmu membohongiku. Maaf aku lancang mencaritahu kebenaran tentang aku dan kamu. Aku menemukan fakta. Bahwa aku sebenarnya bukan siapa-siapa di kehidupan kamu. Aku menatap semua bingkai photo yang berada di lantai atas. Tapi tidak ada satupun photo aku. Bahkan photo pernikahan ku.


Dan aku menemukan cincin pernikahan yang sempat Mas lepas dari jari manisku. Itulah bukti bahwa aku bukan istri Mas yang sesungguhnya. Aku tidak tahu apa motif Mas Albi yang sebenarnya. Namun, aku tetap bersyukur dan sangat berterima kasih atas pertolongan Mas Albi. Aku bisa hidup. Aku bisa menatap dunia. Walau keadaan ku dalam hilang ingatan. Tapi aku berterima kasih sekali, Mas Albi memperlakukan aku dengan sangat baik. Seperti halnya pada istri yang sesungguhnya.


Terima kasih Mas ... Terima kasih. Aku telah banyak berhutang budi pada Mas Albi. Suatu saat aku akan membalas budi Mas Albi. Setelah aku tahu siapa diriku. Dan siapa suamiku.


Good bye Mas Albi.


Albi mendekap surat Adelia tersebut. Mata Albi berkaca-kaca menahan kesedihan karena telah di tinggalkan Adelia.


"Arumi, aku mencintai kamu ... Jangan pergi Arumi, jangan pergi!!!"


Air mata Albi yang sedari tadi ia tahan. Kini meluncur membasahi pipi. Albi terisak. Ia tidak menyangka di tinggal oleh orang yang di cintai begitu sesakit ini. Sesak dada Albi yang kini rasakan.


...***...

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2