
Adelia dan Rasya baru saja selesai menyantap sate, keduanya langsung masuk ke dalam mobil setelah selesai membayar makanannya.
"Sayang, sekarang kamu mau kemana lagi?" tanya Rasya sebelum menghidupkan mesin mobilnya. Kemudian Adelia berpikir.
"Ke Alun-alun kota? Taman kota? Mall? mau kemana?" tanya Rasya lagi karena belum mendapat jawaban dari Adelia. Kebetulan malam ini malam minggu. Rasya sengaja menawarkan.
"Alun-alun kota, saja Mas."
"Ok!"
Rasya pun langsung menghidupkan mesin mobilnya. Dan melajukan mobilnya kejalanan. Alun-alun kota yang saat ini Rasya tuju, karena permintaan Adelia.
Tidak berselang lama. Mobil Rasya kini sudah berada di sebuah parkiran khusus Alun-alun kota. Terlihat suasana Alun-alun nampak ramai. Di penuhi dengan lautan manusia.
Rasya menatap kearah keramaian, lalu menatap ke arah istrinya, "Sayang ... lihatlah, suasananya sangat ramai. Lebih baik jangan jadi, ya?" ujar Rasya dengan lembut.
Adelia menautkan kedua alisnya dengan heran, "Loh kok gitu, Mas? kenapa?" selidik Adelia.
Rasya mengusap rambut Adelia dengan perlahan, "Aku takut kamu ke senggol, atau ke tabrak orang Sayang ...," ucapnya.
Adelia menggelengkan kepala, merasa Rasya berlebihan mengkhawatirkannya.
"Mas, gak mungkinlah. Kita jangan ikut berdesakan saja. Kita cari tempat yang sepi," saran Adelia.
Rasya tersenyum, "Ok! kita duduk di taman saja ya?" pintanya.
"Asal duduknya sambil makan ice cream, ya Mas?" Adelia kini meminta.
"Baiklah. Lets go Sayang!"
Rasya langsung keluar dari dalam mobil, begitupun Adelia. Ia tidak mau menunggu Rasya yang membukakan pintu untuknya.
Kini keduanya itu berjalan dengan menautkan jari jemarinya. Melangkah dengan saling tersenyum. Hingga banyak pasang mata yang menatap ke arah Adelia dan Rasya. Namun, keduanya tidak menghiraukan. Keduanya terus berjalan hingga Taman kota.
Rasya menemukan sebuah bangku panjang yang terbuat dari besi. Posisinya di dekat pohon cemara yang mengarah ke sebuah Danau buatan.
"Sayang, kamu tunggu dulu di sini. Aku akan membelikan ice cream untukmu," pinta Rasya.
Adelia mengangguk seraya mendudukan tubuhnya di bangku itu.
"Jangan kemana-mana ya?" ucap Rasya. Ia seraya mengecup kening Adelia dengan lama.
"Ih Mas, ayo keburu antrian ice cream nya panjang tuh!" Adelia merasa risih karena suaminya itu malah mengecup keningnya dengan lama. Dan Adelia sudah tidak sabar ingin segera melahap ice cream yang sedang ia inginkan saat ini.
__ADS_1
Rasya tersenyum dengan gemas, "Iya Sayang. Tapi ingat. Jangan kemana-mana!" pesan Rasya kembali.
"Iya Mas. Aku gak akan ke mana-mana," sahutnya.
Rasya dengan setengah hati melangkah meninggalkan Adelia yang kini terduduk sendiri. Ia berjalan menuju sebuah penjual ice cream yang sudah banyak orang mengantri.
Dengan sesekali ia menoleh ke arah istrinya yang berjarak sepuluh meter jauhnya.
Adelia dengan tersenyum menatap sebuah Danau buatan. Ia merasa senang bisa terduduk di luaran seperti sekarang. Apalagi suasana malam yang sejuk, dan kebetulan langit terlihat cerah di malam itu dengan berhiaskan bintang-bintang.
"Ya Tuhan. Tolong kembalikan ingatan ku!" gumam Adelia dengan menatap ke arah langit.
Tiba-tiba ada seseorang menghampiri bangku yang Adelia duduki.
"Boleh saya duduk di sini?" tanya seseorang itu dengan memperhatikan wajah Adelia.
"Em ... maaf. Sudah ada yang menempati," sahut Adelia dengan menoleh sebentar ke arah seseorang tersebut.
"Adelia?" panggil seseorang itu. Membuat Adelia memindai wajahnya. Dan Adelia tidak mengenalinya, jelas karena amnesia.
"Ya?" sahut Adelia dengan datar.
Seseorang itu terdapat sebuah camera yang sengaja ia kalungkan di lehernya. Sepertinya seorang itu photografer.
Adelia menoleh ke arah seseorang yang terduduk di sampingnya kini. "Maaf kamu siapa?" tanyanya.
Rasya yang baru saja mendapatkan ice cream yang di pesan nya. Menatap heran kepada arah Adelia yang terduduk dengan seorang pria.
"Siapa dia? Berani-beraninya mendekati istriku?" Rasya seraya melangkah cepat, mendekati bangku yang Adelia duduki.
"Ekhemmm ...," Rasya berdehem. Membuat seorang pria itu menoleh dan tersenyum kepada Rasya.
"Hei!" sapa orang itu.
"Kamu?!" pekik Rasya ia mulai mengenali siapa yang berani duduk di dekat istrinya.
"Apa kabar?" tanya orang itu.
"Baik. Kamu sendiri?" jawab Rasya datar dan bertanya.
"Baik," kemudian pria itu menoleh ke arah Adelia.
"Adelia sekarang istriku. Kami sudah menikah. Dan kini Adelia sedang hamil anak-ku. Jadi kamu jangan dekat-dekati dia," ujar Rasya mengatakan semuanya sebelum orang itu bertanya.
__ADS_1
Yuda. Orang itu adalah Yuda. Seseorang yang dulu merupakan sahabatnya Rima. Yang merupakan seseorang yang telah menyelamatkan Adelia dan Rara dari kejahatan yang di rencanakan Rima.
Yuda tergelak merasa lucu dengan semua yang Rasya katakan. Kemudian ia berdiri, "Ok. Selamat! dan jagalah baik-baik istrimu itu. Em ... dan kenapa Adelia seperti tidak mengingatku?" Yuda memberikan ucapan selamatnya, lalu mengulurkan tangan. Rasya langsung membalas uluran tangan itu dan menjabatnya dengan cepat.
"Itu tidak perlu kamu tahu. Kalau sudah selesai. Kamu pindah saja duduknya. Saya dan istri saya hanya ingin duduk berdua," Rasya mengusir Yuda secara halus. Membuat Adelia merasa tidak enak terhadap Yuda.
Yuda tersenyum kecut kepada Rasya. "Baiklah. Tolong Adelia, jaga baik-baik" ucapnya seraya menepuk bahu Rasya dengan pelan. Lalu beranjak pergi dari bangku tersebut.
Rasya hanya merespon dengan deheman, "Hmm," lalu duduk di samping istrinya kini.
Adelia berbinar menatap tiga cup ice cream yang Rasya pegang. "Mas aku ingin ice creamnya," lalu menyambar satu cup ice cream yang rasa strawbery.
Rasya tersenyum dengan gemas. Kemudian ia menaruh satu cup ice cream di bangku sebelahnya. Yang satunya Rasya buka, dan mulai Rasya lahap.
Adelia memakan ice cream itu dengan sengaja memejamkan kedua matanya. Ia seperti meresapi rasa dari ice cream yang ia lahap. Sedangkan bagi Rasya, keadaan Adelia yang seperti itu seakan menggoda dirinya.
"Bisa gak makannya, jangan memejamkan matanya seperti itu?" bisik Rasya. Membuat Adelia seketika membuka kedua matanya.
"Kenapa?" jawab Adelia seraya menyendoki ice cream dan menyuapkan ke dalam mulut.
"Aku tergoda," sahut Rasya.
Adelia memicingkan sebelah matanya, "Mas saja itu yang mesum," tukasnya.
Rasya tergelak, "Ya aku memang mesum. Maka siap-siaplah sepulang dari sini, aku akan melahapmu," Rasya sengaja menggoda.
"Ish ... bisa gak libur sehari gitu? kasihan baby kita, Mas!" seloroh Adelia. Kini ice cream yang rasa strawbery sudah habis terlahap.
Rasya menyerahkan satu cup ice cream lagi yang rasa coklat, "Gak bisa, Sayang ... lagian baby kita akan senang kok, kalau Ayahnya terus datang menjenguk. Beneran deh, Mas gak bohong" ujarnya.
Adelia memanyunkan bibirnya, dan mengambil ice cream rasa coklat yang baru saja Rasya serahkan. "Ah itu sih maunya kamu, Mas ... gak usah bawa-bawa baby segala," pungkas Adelia. Seraya kembali melahap cup ice cream yang kedua. Sedangkan cup ice cream milik Rasya, masih Rasya lahap.
"Kalau tahu maunya suami kamu, kamu gak usah protes! nurut saja! selain dapat pahala, kamu juga mendapatkan rasa nikmat yang tiada tara," tuturnya. Membuat Adelia menggeleng dan mencubit pipi Rasya dengan gemas.
"Hei, Sayang kenapa kamu cubit pipi ku?" pekik Rasya. Pipi Rasya berubah menjadi merah karena cubitan Adelia.
"Mas, tolong jangan bahas soal itu di sini! aku gak mau ya, sampai orang lain mendengarnya, bahwa suamiku ini mesum" tukas Adelia.
"Kenapa gak mau sampai orang dengar? takut mereka tergoda, ya?"
"Maaaasss!!!"
...***...
__ADS_1
...Bersambung....