
"Happy birthday to you ... Happy birthday to you ... Happy birthday, happy birthday, happy birthday to you ...."
Semua yang di sana menyanyikan lagu ulang tahun untuk Rasya. Termasuk Lia dan Ariyanti. Hadi hanya tersenyum saja menatap kejutan yang Adelia buat untuk Rasya anaknya.
Dengan intrupsi dari Adelia. Rasya mengucapkan doa sebelum meniup lilin yang berangka 24 itu. Kemudian ia memotong kuenya.
Rasya tersenyum kepada semua yang ada. Ia mulai mengambil piring kecil yang sudah berisikan satu potong kue di atasnya.
"Potongan pertama kue ini aku berikan. Untuk istriku tercinta. Yang sudah sembuh dari hilang ingatannya. Sungguh ulang tahunku saat ini. Di berikan hadiah terindah dengan kehadiran bayi yang sebentar lagi akan lahir," Rasya tersenyum kepada Adelia, begitupun dengan Adelia ia membalas senyuman Rasya.
"Terima kasih sayang ... kamu telah hadir dalam hidupku selama ini." Rasya dengan menyerahkan kue itu kepada Adelia dan mencium kening Adelia dengan lama.
"Sama-sama, Mas. Aku bahagia memiliki kamu," ucap Adelia dengan tatapan penuh cinta.
Semua yang berada di sana tersenyum dengan bertepuk tangan. Apalagi mendengar Adelia yang telah sembuh dari hilang ingatannya. Semua yang ada di sana menyunggingkan senyuman kebahagiaan. Kecuali Ariyanti yang tersenyum sinis dengan tatapan yang sungguh tidak suka.
"Rasya ... kau bisa saja membuat istrimu bahagia. Padahal baru tadi pagi kau sudah memulai menduakannya. Ok. Aku akan melihat sandiwaramu di depan istrimu itu," Ariyanti berbicara di dalam hatinya. Ia menyangka bahwa Rasya sedang bersandiwara di depan Adelia. Karena Ariyanti merasa baru saja tadi pagi Rasya sudah bermain di belakang Adelia, dengan mengajak Ariyanti menjadi kekasihnya.
Lia dan Hadi memeluk putranya, dan menantunya itu dengan perasaan senang. Karena sudah mendengar bahwa Adelia sudah sembuh dari amnesianya.
"Mama ... terima potongan kue kedua ku ya. Kamulah wanita paling berharga, sebelum ada wanita yang paling berharga kedua dalam hidupku. Dan sekarang aku memiliki dua wanita yang aku cintai," Rasya tersenyum kepada Lia lalu mencium pipi Lia dengan hangat.
Lia pun memeluk Rasya dengan hangat, "Selamat panjang umur ya, Nak. Teruslah bahagia!" ucapan Selamat dari sang Mama kepada Rasya yang selalu berharap bahwa putranya selalu baik-baik saja.
Rasya tersenyum seraya mengangguk.
Dan Rasya beralih memotong kue yang ke tiga tentunya Rasya berikan kepada Hadi sang Papa.
"Pa. Kamulah lelaki terhebat. Yang menghidupi kami dengan jerih payahmu. Mengucurkan keringat agar anak dan istrimu bisa tercukupi," Rasya mengucapkan itu dengan mata yang berkaca-kaca. Memang benar adanya tanpa kerja keras sang Papa, tentu keluarganya tidak akan hidup enak dan bergelimbangan harta seperti sekarang ini.
Hadi tersenyum, lalu memeluk putranya itu dan setelah itu menepuk bahu Rasya dengan bangga.
"Berbahagialah!"
Rasya tersenyum, dan kini beralih menatap semua yang ada.
__ADS_1
"Kalau kalian mau, potong saja sendiri!" ucapnya yang mengundang gelak tawa dari kedua temannya.
Bima dan Sakti mendekat.
"Selamat ulang tahun Bro! doa yang terbaik untukmu dari kita," ucap Sakti mewakili dan Bima mengangguk seraya tersenyum.
"Terima kasih ya, kalian sudah datang membantu istriku," Rasya tersenyum kepada kedua temannya.
Kini beralih Serly. Ia tersenyum dan langsung memeluk kakaknya itu. Rasya menjawab pelukan adiknya dengan rasa sayang.
"Kakak, panjang umur ya kak. Selalu bahagia dengan kak Adel," ucapan Serly dalam pelukan Rasya.
"Iya, adik manisku. Terima kasih ya" ucapnya lalu melerai pelukannya. Kemudian mencium kening Serly dengan rasa sayang.
"Jadi anak yang baik ya!" Rasya seraya mengacak rambut Serly dengan gemas. Sehingga Serly mengerucutkan bibirnya karena tidak suka rambutnya jadi berantakan.
Kini Rara yang menghadap kepada Rasya. Ia hanya tersenyum dengan ucapan.
"Selamat ulang tahun ya, Rasya. Semoga kalian terus bahagia."
Rara kembali bergabung dengan Serly. Sekarang giliran Ariyanti yang menghadap kepada Rasya. Ia mencium pipi kiri dan kanan Rasya di hadapan Adelia. Rasya hanya tersenyum dan membiarkan tanpa menolak.
"Selamat ulang tahun Sya ... semoga kamu bahagia!" ujarnya. Dengan tangannya menepuk bahu Rasya dengan lembut.
"Terima kasih atas ucapannya" sahut Rasya dengan tersenyum tipis.
Ariyanti berlalu. Dan melewati Adelia dengan senyuman sinisnya. Membuat Adelia menatap nanar kepada Rasya. Adelia sudah menebak bahwa suaminya sudah mulai melakukan rencananya dengan mendekati Ariyanti. Terlihat oleh Adelia saat Ariyanti mencium pipi kiri dan kanan Rasya. Rasya diam dan membiarkannya.
"Baru melihat wanita lain hanya sebatas mencium pipinya saja aku sudah sakit. Bagaimana jika beneran kalau suamiku akan menikahinya? aku tidak bisa membayangkan rasa sakit yang melandaku," Adelia membatin.
Kini acara selanjutnya makan malam. Makanan yang sudah tersaji dengan berbagai menu. Adelia duduk di samping Rasya, dan di selebah kiri Adelia adalah Rara dan Serly.
Sedangkan yang duduk berhadapan dengan Rasya adalah Lia Mamanya, dan di samping kanan Lia adalah Ariyanti, Bima dan Sakti. Sementara Hadi duduk di kursi tunggal.
Makan malam berjalan dengan lancar. Tanpa adanya pembicaraan di meja makan itu. Kini Adelia, Rasya, Bima dan Sakti tengah duduk bersama.
__ADS_1
"Bima, Sakti. Terima kasih ya. kalian sudah membantu ku," ucap Adelia berterima kasih kepada si kembar yang sudah membantunya hari ini.
"Udah. Dari tadi kamu terus ngucapin terima kasih sama kita. Kita ini sahabat kalian, sudah tak seharusnya kamu sungkan sama kita," Sakti menegaskan kepada Adelia. Yang sedari tadi terus mengucapkan terima kasihnya.
"Dengar sayang, mereka tidak mau kamu sungkan sama mereka!" Rasya menimpali serta menegaskan kembali.
Adelia hanya tersenyum serta mengangguk.
"Kita balik ya, besok kita bantuin beres-beres lagi deh," ucap Bima kini.
"Ya sudah. Besok kalian boleh datang kembali membantu istriku," sahut Rasya.
Bima dan Sakti pun pergi dari rumah Rasya. Kini di taman hanya tinggal sepasang kekasih. Adelia menatap Rasya dengan tersenyum hangat. Sedangkan yang di tatap, menatap Adelia dengan senyuman menggoda.
Rasya merangkul bahu Adelia. Tangannya ia usap-usapkan pada perut bulat Adelia yang membuncit.
"Sayang, hari ini aku benar-benar bahagia. Bisa mendapat kejutan dua sekaligus,"
Adelia hanya tersenyum. Tanpa ingin menimpali. Mungkin karena merasa lelah, Adelia merasa kantuk berat.
"Mas, aku ngantuk." Adelia seraya menutup mulutnya karena menguap.
"Aku gendong," Rasya langsung menggendong tubuh Adelia yang bobotnya sudah bertambah berat. Namun Rasya tidak merasakannya, karena Rasya terus fokus berjalan dengan mata memandang wajah cantik sang istri.
"Mas, kenapa harus gendong aku?" Adelia di dalam gendongan bertanya seraya matanya menatap wajah sang suami yang memang tampannya tidak ada saingannya.
Rasya tersenyum, kini ia sudah di hadapan pintu kamar mereka. "Bukain dulu pintunya!" titah Rasya karena kedua tangannya ia gunakan untuk menggendong.
Dengan gerakan pelan Adelia memutar handle pintu itu. Dan Rasya bisa masuk dengan perlahan. Satu Kakinya ia gunakan untuk menutup pintu kamar tersebut. Adelia ia rebahkan di atas ranjang. Dan dirinya pula ikut merangkak berbaring di samping Adelia yang sudah terbaring menyamping, menghadapnya.
"Aku menggendongmu, karena aku tahu kamu sangat lelah," Rasya menjawab pertanyaan Adelia tadi, seraya mengecup bibir sekilas, dan beralih mengecup kening dengan lama.
"Bobo ya, Sayang!" Rasya lalu menarik selimut dan menyelimuti tubuhnya dengan tubuh Adelia. Menarik tubuh Adelia ke dalam depannya, yang tidak terlalu erat.
...***...
__ADS_1
...Bersambung....