You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 175.


__ADS_3

Rasya telah sampai di gerbang perusahaan milik Papa Hadi. Dan di sambut hangat oleh para karyawan yang sudah di beri tahu Hadi. Para Karyawan menyambut Rasya dari Lobi kantor hingga sampai depan Lift yang akan membawanya ke lantai paling atas.


"Selamat datang, di Argadinata Group. Tuan Rasya," sambutan secara bersamaan dari para Karyawan yang Rasya lewati.


Rasya menjawab dengan mengulas senyum tipis dan sedikit anggukan, dengan terus melangkah. Hingga di depan lift Rasya memencetkan tombol paling atas, dimana Ruangan Presedir berada.


Ting...


Rasya masuk ke dalam lift tersebut setelah terbuka. Dan selang beberapa menit, Rasya keluar. Lalu langsung menuju ruangan Papa Hadi.


Tok... Tok... Tok...


Rasya mengetuk pintu Ruangan Papanya terlebih dahulu. Terdengar suara sahutan Papanya dari dalam. Barulah Rasya membuka pintu dan masuk.


Terlihat Papa Hadi sedang duduk di kursi kebesarannya. Dan menatap kedatangan Putranya.


"Duduklah!" titah Hadi. Rasya pun menurut dan duduk di sebuah kursi yang menghadap ke meja Papanya.


"Sya ... Kamu akan menggantikan posisi Papa di sini. Ini ruangan kamu sekarang sepenuhnya."


Rasya menautkan kedua alisnya, "Lalu Papa dimana?" tanya Rasya tentang ruangan Hadi.


"Papa, akan mengurus perusahaan cabang. Nanti kamu akan di dampingi oleh Sekretaris baru. Dan Asisten baru."


"Siapa?"


"Nanti, kamu sendiri juga akan tahu."


Rasya terdiam. Baru saja ia duduk di ruangan itu. Rasa rindu terhadap istrinya sudah Rasya rasakan.


Istriku sedang apa ya? batin Rasya.


"Ini berkas-berkas tentang proyek baru. Kamu pelajari terlebih dahulu sebelum, Sekretaris dan Asisten baru untukmu datang," titah Hadi dengan menunjuk beberapa berkas di dalam map yang terdapat di atas meja.


"Baik Pa."


Rasya meraih map tersebut. Kemudian ia buka. Dan membaca satu persatu hingga selesai. Lalu terdengar suara pintu ada yang mengetuk. Hadi pun menyuruh masuk.


"Nah mereka adalah Sekretaris dan Asisten untuk mu," ucap Hadi kepada Rasya.


Dua orang tersebut yaitu satu perempuan dan satu laki-laki. Rasya yang memunggungi pintu, ia memutarkan badannya. Dan menatap ke arah dua orang yang berdiri tersebut. Mata Rasya membola. Ia sungguh terkejut pada dua orang yang ada di hadapannya, yaitu Mita dan Aldi.


"Mita? Aldi?" sapa Rasya dengan melotot.


"Kamu sudah kenal mereka?" kata Hadi bertanya. Rasya pun mengangguk.


"Baguslah. Kalau kalian sudah saling kenal," ucap Hadi. "Sekarang bekerja samalah dengan baik bersama mereka. Papa sekarang mau meninjau perusahaan cabang yang berada di kota M," lanjut Hadi.


"Baik Pa," sahut Rasya.


Hadi pun keluar dari ruangan. Tinggalah Rasya, Mita, dan Aldi. Rasya memposisikan duduknya di kursi yang tadi Hadi duduki. Kemudian menyuruh Mita dan Aldi duduk di kursi yang menghadap ke mejanya.

__ADS_1


"Aldi, sumpah Saya seperti mendapat kejutan bertemu dengan mu. Dan kita akan bekerja sama-sama lagi," kata Rasya mengungkapkan rasa keterkejutannya kepada Aldi.


"Saya sendiri juga begitu Pak. Saya senang bisa bertemu kembali dengan Pak Rasya, dan bisa menjadi bagian karyawan Pak Rasya lagi," ucap Aldi dengan sopan.


Kini Rasya mengarah pada Mita. "Mita, bagaimana kamu bisa berada di perusahaan Papa Saya?" tanya Rasya yang ingin tahu.


"Aku sebenarnya sudah bekerja di perusahaan cabang yang berada di Singapura. Namun, aku ingin di pindahkan ke Indonesia. Dan di sinilah aku sekarang bekerja," sahut Mita.


"Ok. Kalian tolong bimbing dan bantu Saya. Saya sudah beberapa bulan tepatnya sudah satu tahunan tidak bekerja di perusahaan Papa. Maka saya belum tahu perkembangan perusahaan Papa saat ini,"


Mita dan Aldi pun mengangguk. Kemudian mereka mulai bekerja dengan baik. Mita sebagai Sekretaris selalu memberikan berkas-berkas yang harus Rasya tandatangani. Sementara Albi mengatur jadwal pertemuan-pertemuan bersama Klien. Atau mengatur setiap schedule setiap hari tepatnya.


Rasya senang bisa bekerja dengan Aldi. Ia tahu kemampuan Aldi yang cekatan dan Cerdas. Sehingga Rasya bisa nyaman bekerja di Perusahaan Papa nya itu. Yang sebentar lagi Rasya yang akan memimpinnya sendiri. Bahkan berganti pemegang. Menjadi miliknya.


***


Sementara itu Adelia yang berada di dalam rumah. Merasa bosan. Ia mencoba keluar kamar. Ingin duduk di teras luar memandangi kendaraan yang lalu lalang.


Adelia tersenyum melihat ke arah jalanan. Ia duduk di sebuah kursi yang berada di teras. Halaman Rumah Rasya yang luas tanpa pagar, hingga jalanan terlihat langsung dari arah teras.


"Ya Ampun Del ... aku nyariin kamu. Ternyata kamu di sini," celetuk Rara datang dengan wajah khawatir.


"Kamu nyariin aku?" tanya Adelia.


"Iya. Kamu tahu kan, tadi Rasya memberikan aku tugas untuk menjaga kamu?!" Rara mengingatkan.


"Iya. Sudah jangan terlalu di anggap. Aku gak akan pergi kemana-mana kok," kelakar Adelia.


Rara mendudukan tubuhnya di kursi kosong yang di sebelah Adelia, "Kamu bisa aja bilang gitu. Tapi Suamimu itu, serius memberikan tugasnya," ucap Rara.


"Ok. Em ... Del, kamu beneran gak ingat semuanya?" tanya Rara. Ia baru mempunyai kesempatan berbicara berdua saat ini. Sehingga Rara penasaran ingin tahu bagaimana dengan ingatan Adelia.


Adelia mengangguk.


"Del, coba kamu ingat-ingat tentang aku!,"


Kemudian Adelia menurut. Ia mencoba mengingat tentang Rara. Namun, ia merasa bayangan di ingatannya berkabut. Seketika kepala Adelia menjadi pusing, dan tatapannya berputar-putar.


Rara yang memperhatikan sedari tadi menjadi panik. Saat Adelia memegangi kepalanya. Dan merintih kesakitan.


"Del, kamu kenapa?" tanya Rara dengan panik seraya tangannya memegang bahu Adelia.


"Kepala aku sakit, Ra. Auww ... tidaaaak!!!" pekik Adelia dengan menjerit. Kemudian ia tak sadarkan diri. Untung Rara sigap menahan tubuh Adelia yang akan terkulai ke lantai.


"Ya Tuhan Bagaimana ini?" Rara begitu panik. Ia tidak mungkin menggendong tubuh Adelia yang berisi apalagi di tambah lagi hamil.


Rara pun akhirnya meminta tolong. Dan keluarlah Lia dari dalam rumah. Ia begitu panik saat melihat menantunya yang sudah tidak sadarkan diri.


"Ra bagaimana bisa Adel pingsan seperti ini?" tanyanya dengan wajah yang begitu panik.


"Tante.Tadi Adelia memegang kepalanya dan kesakitan. Lalu ia seketika pingsan," ujar Rara menceritakan. Namun, tidak memberitahukan penyebabnya.

__ADS_1


Lia pun akhirnya mencari bantuan. Ia turun ke pinggir jalan. Untuk mencari taksi atau siapa saja yang mau membantunya. Karena di rumah tidak ada seorang pria.


Dari arah jalan.


Arman yang sedang melajukan mobil terhenti saat melihat seorang ibu-ibu berwajah khawatir. Ibu itu adalah Lia. Lia mondar mandir ingin menghentikan mobil siapa saja. Namun, tidak ada mobil yang berhenti.


"Ada Apa? kenapa berhenti?" tanya Dirga yang duduk di samping Arman.


"Itu. Lihat ibu itu sepertinya sedang memerlukan bantuan!" tunjuk Arman pada Lia. Albi yang sedari tadi diam. Ia menatap ke arah yang Arman tunjuk. Dan akhirnya Lia menghampiri mobil yang Arman kendarai.


"Mohon maaf Mas. Boleh Saya meminta tolong!" kata Lia dengan berhati-hati.


"Tolong apa ya, bu?" tanya Arman ingin tahu.


"Saya dari tadi mencari pertolongan. Tapi belum dapat. Itu menantu saya pingsan. Saya tidak kuat bila harus menggendongnya. Apalagi di tambah tidak ada laki-laki seorang pun di rumah."


Arman melirik ke arah belakang dimana Albi duduk untuk meminta persetujuan. Albi pun mengangguk. Karena jiwa Albi yang baik. Ia tidak tega melihat Lia yang sedang dalam keadaan panik tersebut.


"Baiklah bu. Kami akan membantu ibu," ucap Arman akhirnya membuat Lia berwajah senang.


"Mas silahkan masukkan mobilnya ke halaman rumah Saya!" pinta Lia dengan menunjukan arah masuk.


Arman mengangguk. Dan melajukan mobilnya kembali. Lalu membelokkan ke arah kiri. Mobil yang Arman kendarai pun akhirnya masuk ke halaman rumah luas miliknya Lia.


"Itu menantu saya!" tunjuk Lia kepada Adelia yang sedang di pegangi Rara.


Seketika Arman dan Dirga serta Albi mengikuti arah yang di tunjuk Lia. Dan mereka pun keluar dengan bersamaan.


Arman yang pertama mendekati Adelia yang pingsan di susul oleh Dirga. Sedangkan Albi memperhatikan dari depan mobil.


Arman dan Dirga saling tatap dengan melotot. Namun, mereka berdua tidak bersuara. Adelia yang di cari-cari keberadaan nya akhirnya di ketemukan.


"Bu, mau di bawa ke rumah sakit atau bagaimana?" tanya Dirga kini.


"Rumah sakit saja. Saya khawatir terjadi sesuatu pada menantu saya," ujar Lia.


"Ibu ada mobil lagi?" tanya Arman kini.


"Ada Nak," sahut Lia.


"Bagaimana kalau saya yang mengendarai mobil ibu?, karena tidak akan muat bila satu mobil. Karena mobil kami kecil," ucap Dirga menawarkan. Dan memang benar adanya mobil yang di kendarai Arman berkapasitas empat orang.


"Baiklah Nak, tolong masukkan menantu saya di mobil milik saya!" titah Lia kini.


Lia dan Rara masuk terlebih dahulu ke dalam rumah untuk mengunci rumah.


Arman dan Dirga pun menggendong Adelia. Sementara Albi yang baru melihat Adelia dengan jelas. Ia melangkah mendekati ke arah Adelia yang di gotong Arman dan Dirga.


"Arumi?"


Albi mendekat dengan wajah berbinar. Wanita yang telah membuatnya murung karena kepergiannya akhirnya ketemu. Albi menelisik tubuh Adelia. Ia tersenyum saat menatap perut buncit Adelia.

__ADS_1


...***...


...Bersambung....


__ADS_2