
"Sayang ... mending di rumah aja ya, biar Mas yang ke kantor," kata Rasya yang saat ini merasa tidak rela ada yang menatap penampilan Adelia sang istri yang sangat mempesona.
Bagaimana tidak rela? Adelia sudah memakai pakaian kantornya, dengan memperlihatkan bentuk lekukan tubuhnya dan tak lupa betis mulusnya, serta wajahnya yang sudah di poles make-up tipis semakin menunjang penampilannya.
"Loh, Mas kok gitu? bukannya Mas sudah ijinin aku untuk kerja. Baru saja aku sehari, masa udah gak boleh," sahut Adelia yang tidak peka akan kecemburuan sang suami. Ia santai menyisir rambutnya yang panjang menatap sang suami dari arah cermin.
"Ya maaf. Bukannya Mas, gak ijinin kamu untuk kerja. Mas, hanya tidak rela kecantikan mu di nikmati oleh orang lain," akhirnya Rasya menjelaskan.
Adelia mendelik. Menatap sang suami yang menurutnya begitu menyebalkan.
"Ya Tuhan ... Mas kamu aneh sekali!"
Rasya kini melingkarkan kedua tangannya di perut ramping sang istri, menciumi rambut yang sedang Adelia sisir.
"Mas cemburu sayang," ucapnya. "Kemarin saja, pas pengenalan di atas podium. Banyak yang menatap suka sama kamu, bahkan ada yang terlihat mulutnya ngiler. Kalau saja bukan di perusahaan, sudah pasti Mas colok itu matanya!" seloroh Rasya selanjutnya.
Adelia sontak tergelak. Suaminya itu benar-benar merasa berlebihan.
"Mas, kamu ini ada-ada saja. Ya, wajar saja mereka melihat ke arah ku. Karena ingin tahu pemilik Perusahaan yang sebenarnya. Terus, lagian kenapa tidak Mas katakan bahwa aku adalah istri kamu," kata Adelia dengan tergelak kembali.
Rasya merasa gemas pada sang istri yang malah menertawakannya. Rasya langsung bungkam mulut Adelia yang sedang tertawa lebar itu dengan bibir lembutnya.
Adelia terbelalak kaget tentunya. Namun, ia membiarkan. Bahkan Adelia merespon tautan bibir yang sedang suaminya berikan. Hingga keduanya terlena. Beruntung suara ketukan pada pintu kamarnya membuat tautan yang menuntut lebih tersebut terhenti.
Rasya menyengir. Ibu jarinya mengelap bibir basah Adelia. Kemudian mengelap bibirnya sendiri. "Rapihkan lagi lipstiknya, sayang ... Mas mau buka dulu pintu," ucapnya seraya melenggang ke arah pintu.
Adelia tersenyum dan menurut apa yang di katakan suaminya.
"Pak Rasya, sama Ibu Adel di tunggu Bu Lia sama Bapak untuk sarapan," kata Nina Baby sister yang telah mengetuk pintu kamar.
"Iya kami akan segera ke ruang makan," kata Rasya. "Oh, ya Daffa sama Saffa apa sudah bangun?" lanjut Rasya bertanya tentang baby kembarnya.
"Kalau Baby Daffa sedang di suapi makan sama Bi Ida. Kalau Baby Saffa baru mandi sama Sarah," jawab Nina.
Rasya mengangguk. Kemudian memberikan isyarat untuk Nina pergi.
"Mas, aku sudah siap," kata Adelia saat Rasya hendak ingin menutup pintu kamarnya kembali. Adelia mendekati Rasya dan langsung merangkul lengan Rasya untuk keluar kamar.
"Tapi sayang ... kita harus lanjutkan yang baru saja di mulai," Rasya menahan Adelia yang akan keluar kamar.
Adelia menggeleng, "No, Mas! kita sudah melakukannya saat malam." Lalu meraih handle pintu.
"Tapi sayang ... Rasya junior sudah men--"
Adelia mencebik, dan langsung melenggang keluar kamar. Sehingga ucapan Rasya tidak di teruskan.
"Selamat pagi semua," kata Adelia seraya menarik kursi.
"Pagi, Sayang ...," sahut Lia sang Mama mertua. Hadi hanya memberikan senyumnya serta mengangguk.
Rasya menyusul dengan wajah datar. Membuat Lia sang Mama memperhatikan dan bertanya.
"Rasya, ini masih pagi muka kamu kok sudah di tekuk?" ledek sang Mama.
Rasya hanya tersenyum menanggapi ledekan sang Mama. Lalu tatapannya tertuju pada kursi yang biasa di duduki sang adik.
__ADS_1
"Ma, apa Serly sudah pulang?" Rasya yang tahu ketidak hadiran nya sang adik di rumah, tentu dari sang Papa yang tahu dari Malik Ayahnya Dido, kalau Dido dan Serly sedang pergi ke puncak.
"Sudah pulang kemarin siang. Pasti masih di kamarnya," kata Lia menyahuti.
Kebetulan Serly yang tengah di bicarakan datang. Lalu duduk di sebelah Lia.
"Sayang, bagaimana di puncak?" tanya Lia to the point. Kemarin saat Serly pulang kebetulan orang rumah sedang tidak ada. Hanya ada baby sister dan ibu Art. Hingga makan malam pun Serly beralasan masih mengantuk. Hingga baru pagi ini dirinya bertatap muka dengan anggota keluarganya.
"Biasa saja Ma," sahut Serly dengan santai mengambil makanan untuk sarapan.
Hadi tersenyum, "Kenapa kamu tidak jujur sama Papa, kalau kalian berpacaran?"
Serly terdiam. Lalu bertanya kembali, "Berpacaran?"
"Kamu dan Dido," kata Hadi menjelaskan.
Rasya tertegun. Tentunya, dirinya belum tahu. Yang tahu bahwa adiknya itu menolak Dido. Sesuai apa yang Dido katakan.
"Ah em --" Serly nyengir. Ia gugup untuk menjawab. Jika di katakan tidak berpacaran. Bagaimana jika suatu saat dirinya mengatakan iya akan menikah dengan Dido. Tentu, akan mengundang tanya besar bagi keluarganya.
"Apa kalian baru jadian?" Rasya yang penasaran akhirnya menimpali dengan bertanya.
Serly memilih mengangguk.
"Wah, apa kalian ke puncak sebagai perayaan hari jadian kalian?" Adelia antusias menimpali. Adelia yang suka berbau romantis tentunya menurutnya itu hal yang sangat manis.
Serly hanya tersenyum saja.
Lia dan Hadi ikut tersenyum merasa senang jika Dido pacar putri bungsunya. Hadi yang sangat menginginkan menantu dari kalangan atas tentu senang tersendiri.
"Sudah. Adikmu ini masih malu-malu soal pacaran. Jangan terus di tanya-tanya!" Hadi memperingati kepada putra dan menantunya agar tidak ada lagi yang bertanya kepada Serly seputar tentang Dido.
"Oh iya, Mama nanti setelah dari butik ingin singgah ke rumah Rara ya, Pa ...," kata Lia meminta ijin kepada sang suami. Lia ingin melihat tempat tinggal Rara yang baru dua hari pindah dari rumah besarnya. Ada rasa kehilangan bagi Lia yang sudah hampir dua tahun Rara tinggal bersama.
Hadi mengangguk tanda memberikan ijinnya.
"Ma, aku ikut ya nanti," Serly yang belum tahu.
"Kamu 'kan kuliah Nak?"
"Nanti kalau sudah pulang kuliah aku ingin ke rumah kak Rara, atau shareloc saja lokasinya,"
"Iya deh,"
Rasya dan Adelia sudah beranjak berdiri dari ruang makan.
"Ma, Pa, Ser ... kami duluan ya. Ingin menemui si kembar dulu," kata Adelia.
Dan di angguki oleh mereka.
"Sekarang kamu berangkat kuliah, Nak?" tanya Hadi pada gadis bungsunya.
"Iya, Pa ... Em, Serly boleh 'kan bawa mobil sendiri?" Serly bertanya dengan ragu-ragu.
Hadi menggeleng, "Papa belum bisa ijinin. Kakak kamu juga pastinya. Kalau kamu ingin berangkat lebih baik pinta Dido untuk menjemput kamu!"
__ADS_1
Serly mendesah. Lalu mengangguk pasrah. Kemudian dirinya langsung menaiki tangga menuju kamarnya untuk membawa tas kuliahnya.
Sementara Rasya dan Adelia kini sedang memangku bayi kembarnya. Adelia menciumi baby Daffa melepas rindu untuk seharian tidak bisa bertemu. Begitupun dengan Rasya. Pasangan suami istri itu bergilir memangku serta menciumi bayi kembarnya.
"Sayang, yang anteng ya sama si Mbak!" kata Adelia sebelum meninggalkan bayi kembarnya. Lalu melangkah bersama sang suami untuk berangkat ke kantor.
Adelia dan Rasya saling pandang dan tersenyum saat melihat Dido sudah berdiri di halaman rumah di samping mobil miliknya.
"Ciye ... pasangan baru," ledek Adelia sengaja menggoda Dido.
Dido hanya tersenyum walau dalam benaknya belum mengerti. Lalu menyalami tangan Rasya dan Adelia.
"Di terima juga akhirnya?" celetuk Rasya dengan tersenyum menggoda.
Dido masih hanya tersenyum. "Kakak mau berangkat?" tanyanya.
"Iya." Rasya lalu menepuk bahu Dido. "Tolong jangan kamu sakiti Serly! jika kamu menyakiti, maka kamu akan berhadapan dengan saya," pesan Rasya yang ingin sang Adik dalam keadaan baik-baik saja. Tentu sang kakak tidak ingin sampai adiknya itu di sakiti oleh pria yang menjadi kekasihnya.
Dido mengangguk, "Tentu. Serly akan saya jaga, kak" ucapnya. Lalu mendesah saat ingat bahwa dirinya sendiri telah menodai gadis yang tengah di titipkan kepadanya.
"Ya sudah. Kami berangkat ya," ucap Rasya lalu melenggang ke arah mobil miliknya bersama sang istri.
Tak lama datang Hadi bersama Serly. Hadi tersenyum kepada Dido. Tidak dengan Serly, yang memilih menunduk menyembunyikan wajahnya dari Dido.
"Selamat pagi Om," kata Dido menyapa Hadi. Lalu melirik ke arah Serly.
"Selamat pagi. Oh ya, mau jemput Serly?" Hadi tentu berbasa-basi. Ia tentu tahu tujuan Dido datang ke rumahnya.
Dido mengangguk dengan tersenyum.
"Om titip Serly ya! Om percaya sama kamu," ucap Hadi selanjutnya.
"Iya Om," sahut Dido.
Hadi pun melenggang ke arah mobil yang sudah terbuka pintunya. Pak Sukri sopir pribadi sudah menunggu untuk mengantar Hadi.
Kini tinggal Dido dan Serly yang keduanya nampak canggung.
"Ehem," Dido berdehem. Mencoba memecah kecanggungan antara dirinya pada gadis yang tengah memakai dress berwarna peach dengan blazer berwarna hitam, yang terus menunduk di hadapannya.
"Ayo! jangan terus menunduk begitu" ujar Dido seraya membuka pintu samping kemudi.
Serly mendongak. Lalu langsung melenggang masuk ke dalam mobil.
Dido hanya menggeleng serta senyuman yang tersungging dari bibirnya.
"Sudah kuat untuk kuliah?" tanya Dido seraya fokus melajukan mobilnya.
Serly melirik ke arah samping, "Aku kuat kak," jawabnya.
"Takutnya masih sakit," ucap Dido. Mengingat bahwa hari kemarin Serly masih melangkah dengan pelan tentu karena rasa sakit di area pribadinya.
Serly tidak menanggapi ia memilih menatap ke arah jendela.
Dido menghela nafas. Merasa bersalah karena sudah membahas tentang kejadian yang pasti membuat Serly merasa sedih.
__ADS_1
"Maaf," lirih Dido yang masih terdengar di pendengaran Serly.
...***...