
Jam sembilan Serly baru turun dari kamarnya. Serly sengaja berlama-lama di dalam kamar untuk merias wajahnya, agar tidak terlihat wajahnya yang sembab.
Serly menatap ke sekeliling saat sudah sampai di lantai bawah. Terasa sepi. Kemudian Serly langsung menuju ruang makan. Duduk dan melahap makanan yang telah tersedia.
Serly setelah selesai menghabiskan sarapannya. Ia langsung bergegas meninggalkan ruang makan dan melangkah ke arah ruang depan. Ternyata Adelia dan Lia mamanya sedang berkumpul di teras depan. Beserta baby Daffa dan Saffa.
Serly menghela nafas dalam sebelum bergegas mendekati ke arah mamanya dan juga Adelia.
"Eh aunty Serly," sapa Adelia dengan menggoyang-goyangkan tangan Saffa.
Serly tersenyum. Walau dalam hatinya merasa takut saat berhadapan dengan keduanya. Serly takut Mamanya menceritakan apa yang telah terjadi kepada kakak iparnya itu.
"Hai Saffa cantik!" Serly dengan menduselkan hidungnya menciumi wajah Saffa.
Saffa tersenyum kegelian. Tangannya mengambil rambut Serly untuk di mainkan.
"Jadwal siang aunty?" tanya Adelia.
Serly beralih menatap Adelia, "Iya kak,"
Sementara Lia terdiam dengan menggendong Daffa. Membuat Serly merasa tidak nyaman dengan mamanya yang sedikit berubah.
Lia terdiam, bukan karena benci kepada Serly. Lia terdiam hanya merenung. Merasa tidak menyangka dengan apa yang menimpa putrinya. Lia tidak bisa membayangkan jika pria yang melakukannya bukan Dido. Atau pria yang hanya suka main-main. Maka akan taruh dimana muka keluarganya. Jika sampai pria yang melakukannya sampai tidak bertanggung jawab.
"Ma ... aku pamit," Serly berpamitan kepada Lia.
Lia menatap sayu ke arah putrinya, "Jangan dulu berangkat! Dido pasti menjemputmu," kata Lia mencegah agar Serly berangkat sendiri. Ada rasa khawatir takut terjadi sesuatu kembali kepada putrinya, membuat Lia tidak akan mengijinkan Serly berangkat sendiri walau memakai taksi.
"Tapi Ma--"
Pandangan Serly beralih ke arah gerbang yang memang tidak memakai pintu pagar. Dido datang dengan motor sport kesayangannya.
"Selamat siang Tante, kak Adel," sapa Dido saat sudah menghentikan mesin motornya. Kemudian turun dan menghampiri Lia dan Adelia.
Lia tersenyum, "Siang Nak,"
"Siang Do," jawab Adelia.
Serly memanyunkan bibir. Merasa tidak suka karena dirinya tidak sama sekali di sapa.
"Jemput Serly ya?" tanya Lia dengan tersenyum.
"Iya tante," Dido menjawab dengan membalas senyuman Lia.
"Aunty udah siap-siap kok Om. Aunty udah cantik dan wangi," kata Adelia dengan meniru suara anak kecil.
__ADS_1
Dido tersenyum menatap Serly yang memang sangat terlihat cantik hari ini. Sementara Serly yang di goda kakak iparnya mencebikan bibir, dengan memasang wajah masam.
Adelia tersenyum puas telah berhasil meledek adik iparnya tersebut.
"Ya sudah sana berangkat! Dido sudah datang jemput tuh!" Lia ikutan menggoda putrinya.
Serly dengan wajah di tekuk melangkah begitu saja tanpa berucap apa-apa. Membuat Dido merasa bingung.
"Jangan di pikirkan Nak Dido. Gadis tante lagi ngambek sama kakak dan mamanya," ujar Lia memberitahukan.
Dido akhirnya tersenyum, "Ya sudah kalau gitu Dido pamit ya Tante, kak" Dido menganggukan kepala menatap Lia dan Adelia.
"Ya Hati-hati!" seru Lia hampir bersamaan dengan Adelia.
Dido menghampiri motornya. Kemudian menyerahkan helm kepada Serly. Setelah Serly memakai helm dan menaiki motor. Dido mulai melajukan motornya dan meninggalkan halaman rumah Serly.
***
"Terima kasih," ucap Serly datar dengan menyerahkan helm kepada Dido saat sampai di parkiran Kampus.
Dido meraih helm tersebut dengan berucap, "Sama-sama,"
Serly baru saja mau membelakangi Dido untuk pergi. Namun, tangan Dido lebih dulu meraih tangan Serly.
"Wajahnya jangan di tekuk gitu sayang," Dido dengan menatap wajah Serly yang terlampau cantik di pandangan matanya.
"Siap-siap ya?" kata Dido.
Serly mengernyitkan dahi merasa tidak mengerti dengan ucapan Dido yang menyuruh dirinya untuk siap-siap.
"Siap-siap untuk apa?" akhirnya suara indah milik Serly terdengar di telinga Dido.
Dido dengan mengulum senyum, tangannya seraya menyelipkan anak rambut Serly yang sedikit berantakan terhembus angin.
"Untuk memberi upah kakak. Ingat kesepakatan kita semalam. Jika kakak berhasil bernyanyi, maka kamu akan memberikan imbalan dengan sesuai apa yang kakak pinta!" Dido mengingatkan hal kesepakatan semalam, saat Dido sebelum bernyanyi sesuai permintaan Serly.
Serly menatap Dido yang tersenyum, "Memang kakak mau minta apa dari aku?" tanyanya yang penasaran.
Dido menggeleng, "Nanti saja. Setelah jadwal kuliah mu selesai," jawab Dido tanpa memberitahukan keinginannya.
"Ya sudah aku ke kelas," kata Serly.
Namun langkah Serly lagi-lagi terhenti kala tangannya di tarik kembali oleh Dido.
"Ada apa kak?" Serly menatap Dido dengan bertanya.
__ADS_1
"Salam dulu. Dan cium tangannya!" Dido seraya mengulurkan tangan untuk Serly salami.
Serly menatap tangan Dido dengan perasaan bingung.
"Sebentar lagi kita akan menikah. Bahkan besok kita akan bertunangan. Maka biasakanlah menyalami dan mencium tangan suamimu!" sela Dido yang tahu kebingungan di wajah Serly.
Serly akhirnya menurut. Meraih tangan Dido. Menyalami dan mencium punggung tangannya dengan takzim.
"Pintar! ya sudah selamat belajar istriku sayang," dengan tangan Dido mengacak rambut Serly.
Serly pipinya merah merona. Ada rasa desiran aneh saat mendengar kata ucapan 'istriku sayang' dari mulut Dido. Serly berlari begitu saja. Membuat Dido tersenyum gemas.
Serly dengan nafas tersengal sampai di depan kelasnya. Namun banyak mata menatap Serly dengan senyuman. Membuat Serly merasa bingung.
"Serly!!" pekik Kikan yang saat tahu ada Serly datang.
Serly langsung melangkah cepat mendekati Kikan teman dekatnya.
"Ini apa?" Kikan langsung menyerahkan kartu undangan.
"Undangan," kata Serly polos.
Kikan menarik tangan Serly menjauh dari kerumunan teman-temannya.
"Serly tolong jelaskan semuanya!" pinta Kikan dengan nada marah.
"Jelaskan apa?" tanya Serly yang belum paham.
Kikan mengambil kartu undangan yang Serly pegang. Kemudian membuka dan menunjuk nama yang tertera pada undangan tersebut.
"Ini nama kamu ada di sini Serlyta Putri Argadinata," tunjuk Kikan pada nama Serly dan membacanya.
Serly melongo. Jadi undangan yang ada di tangan teman-temannya adalah undangan pertunangan dirinya dengan Dido.
"Kamu akan bertunangan dengan Kak Dido? lalu bagaimana dengan hubungan mu dengan Bang Aldi?" Kikan bertanya dengan nada marah.
Serly mengerti dengan nada marah yang Kikan berikan. Karena yang Kikan tahu dirinya sudah menjalin hubungan dengan Aldi. Namun kini ada kenyataan lain bahwa dirinya akan bertunangan dengan pria lian. Apa mungkin Serly harus menceritakan semuanya kepada Kikan atas semua yang terjadi kepada dirinya sehingga terjadilah pertunangan dirinya dan Dido?
"Ser, aku butuh penjelasan mu! aku tidak mau menerka-nerka, atau salah paham kepada mu atas pikiran burukku. Aku ingin mendengar semuanya langsung dari mulut mu!" Kikan mendesak agar Serly menceritakan semuanya.
"Ok Kikan. Aku akan katakan semuanya. Tapi setelah jam kuliah ya?!"
"Baiklah," sahut Kikan menyetujui.
Keduanya pun masuk ke kelas. Dan tidak lama Dosen materi belajar yang pertama sudah datang. Serly dan Kikan pun fokus belajar menyimak materi yang tengah di sampaikan sang Dosen.
__ADS_1
...***...