You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 237.


__ADS_3

Hari ini adalah tepat saatnya Adelia melakukan jadwal chek-up kandungan. Rasya yang semula akan menemani, namun tidak bisa karena ada halangan. Rasya harus memantau proyek yang berada di Kota B, proyek yang bekerja sama dengan Perusahaan Albian Company yang kini proyek itu sudah hampir 100% berhasil. Dan Rasya tahu dari Hadi saat berada di meja makan, kala sedang melakukan sarapan bersama.


Rasya kini sedang menemani Adelia di dalam kamar yang sedari tadi cemberut, namun tetap mengijinkan.


"Sayang, maaf sekali. Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan ini. Dan ini semua untuk masa depan kita," Rasya seraya tangannya mengelus perut Adelia yang sudah buncit. Walau kehamilannya baru berumur enam bulan, tapi perut Adelia sudah sangat membesar.


"Iya, Mas aku ngerti. Hanya aku merasa sedih saja, chek-up kandungan ku kali ini tidak di temani kamu," Adelia mencoba menerima.


"Besok deh, aku akan mengajak chek-up kembali. Tidak masalah kan, jika kontrol kandungan di lakukan beberapa kali dalam sebulan?"


"Ya, gak apa-apa sih. Hanya merasa lucu saja, kalau aku tidak kenapa-kenapa tapi di chek-up beberapa kali," Adelia dengan tersenyum merasa terhibur akan ucapan suaminya itu.


"Besok ya, aku akan temani kamu," Rasya kini merengkuh tubuh Adelia ke dalam pelukannya.


"Iya, Mas. Ya sudah Mas berangkat sekarang, bukannya ke kota B membutuhkan waktu hingga empat jam?" Adelia menyuruh Rasya agar segera pergi.


"Baiklah, kalau kamu sudah tidak cemberut lagi," Rasya lalu menyambar bibir Adelia sekilas. "Aku berangkat ya, sayang ... hati-hati nanti pas ke rumah sakitnya!" dengan tangan Rasya mengusap kembali perut Adelia.


"Iya, Mas. Kamu juga hati-hati. Dan jaga hati mu!" pesan Adelia, membuat Rasya terkekeh.


"Tentu sayang ... hatiku sudah terkunci oleh nama mu," seloroh Rasya. Membuat Adelia tersenyum senang.


Adelia kemudian meraih tangan Rasya untuk ia cium punggung tangannya, dan Rasya mencium kening Adelia dengan sayang.


"Mas pergi. Assalamualaikum ...," ucap Rasya.


Adelia tersenyum seraya mengangguk, "Wa'alaikum salam," jawabnya.


Rasya pun keluar dari kamar. Dan kini Adelia duduk termenung sendiri. Dengan perasaan was-was, takut suaminya terbawa suasana dalam perannya. Bohong kalau hatinya baik-baik saja, ia hanya mengatakan itu semua demi kelancaran rencana Rasya dan Hadi yang akan mencari bukti-bukti kasus pembunuhan dan kecelakaan Adik Hadi, dan Ayah, serta Adik Adelia.


Adelia masih mengingat kata-kata Ariyanti hari kemarin. Sementara Adelia dan Rasya berpura-pura bertengkar, agar memuluskan rencananya itu.


"Lihat suamimu sekarang menginginkan diriku. Rasya mungkin sudah tidak tertarik lagi dengan tubuhmu yang tidak berbentuk itu!"


Adelia menggeleng-gelengkan kepala untuk menepisnya. Bahwa ucapan Ariyanti itu semata hanya agar Adelia berkecil hati, atau agar membuat Adelia marah kepada Rasya.


"Kuatlah hati. Ingat ini demi kelancaran kita semua," Adelia menyemangati hatinya agar tidak mudah terpojok oleh kata-kata Ariyanti yang terus terngiang-ngiang.

__ADS_1


Adelia akhirnya memilih keluar kamar dan berniat akan langsung ke Rumah Sakit. Lia yang tadinya akan menemani, hari ini malah ada halangan.


"Del, kamu akan ke rumah sakit?" tanya Rara yang melihat Adelia baru keluar dari kamar. Dan Rara tahu dari percakapan saat di meja makan.


"Iya, Ra."


"Boleh aku temani?"


"Tidak usah. Aku lagi ingin sendiri," tolak Adelia.


"Suami mu pasti akan marah, Del. Kalau kamu sendirian," ujar Rara. Membuat Adelia berpikir kembali.


"Ya sudah. Ayo!" akhirnya Adelia mengajak Rara.


Rara tersenyum senang karena Adelia tidak menolak tawarannya untuk di temani.


Dan kini Adelia dan Rara sudah berada di dalam taksi untuk menuju Rumah Sakit. Taksi itu terhenti di seberang jalan yang akan masuk ke area parkir Rumah Sakit. Adelia dan Rara turun dari Taksi tersebut.


"Del, bentar aku beli air mineral dulu ya ke warung itu!" tunjuk Rara pada warung yang tidak jauh dari Adelia berdiri.


Di sisi lain. Seseorang tengah melihat keberadaan Adelia yang sedang berdiri. Seseorang itu sejak tadi sudah menunggunya. Karena ia tahu bahwa Adelia hari ini ke Rumah Sakit tanpa di dampingi Rasya dari laporan Ariyanti. Alin langsung merencanakan sesuatu. Dan Seseorang itu kini tersenyum menyeringai menatap Adelia di dalam mobil.


"Saatnya kau menemui ajalmu wanita penghalang," Alin dengan cepat menekan pedal gasnya. Mobil itupun langsung melesat ke arah Adelia yang sedang berdiri di bahu jalan.


Sementara itu Rara yang baru saja membeli minum. Melotot kaget saat ada mobil yang berkecepatan lebih akan melaju ke arah Adelia.


"Adelia awas!" pekik Rara. Namun, Adelia hanya tersenyum santai menatap kepada Rara.


Rara berlari untuk mendekati Adelia. Bersamaan dengan seorang pria yang berlari mengarah kepada Adelia. Rara telat untuk meraih Adelia. Tapi Pria yang bersamaan dengan Rara berlari, telah berhasil meraih tubuh Adelia. Pria itu terjatuh dengan Adelia yang berada di atas tubuhnya. Dan tepat mobil itu melintas.


"Sialan, kenapa harus gagal!" umpat Alin yang tidak berhasil dengan rencananya. Ia lebih terus melajukan mobilnya agar tidak di curiga orang-orang sekitar.


Adelia yang merasa syok memejamkan matanya. Suara ringisan dari pria yang telah berhasil menolongnya, membuat Adelia membukakan matanya.


"Auw ... berat sekali," ujar Pria itu dengan meringis.


Adelia yang membuka mata menatap pria yang di tindihnya, "Mas Albi?" panggil Adelia.

__ADS_1


Albi tersenyum, "Apa kamu tidak mau bangun dari atas tubuhku?" tanya Albi dengan tersenyum. "Kamu berat sekali," lanjutnya mengejek.


Adelia sekarang meringis. Merasakan sakit pada perutnya. Mungkin karena perutnya yang menekan bobot tubuhnya, sehingga perutnya menjadi sakit.


"Sakit," ringis Adelia. Membuat Albi menjadi khawatir.


"Coba bangun dulu!" titah Albi.


Rara yang sedari tadi berdiri kaku. Kini melangkah mendekati Albi dan Adelia yang masih tergeletak di tanah.


"Bangun Del, aku bantu!" Rara menyerahkan tangannya agar Adelia meraih tangannya untuk berdiri.


Adelia dengan menahan sakit, ia mencoba berdiri. Dan setelah Adelia berhasil berdiri. Kini giliran Albi yang berdiri. Seketika Albi langsung menggendong tubuh Adelia, dan menyebrangi jalan untuk membawa Adelia masuk ke rumah sakit.


"Cepat kamu duluan. Dan bilang ke perawat ada pasien darurat!" pekik Albi kepada Rara. Rara dengan menganggukkan kepala, menurut perintah Albi. Rara setengah berlari meninggalkan Albi yang masih berjalan dengan menggendong tubuh Adelia yang kini telah pingsan.


Albi di sambut oleh Rara dan dua perawat dengan satu ranjang pasien. Albi lalu meletakkan Adelia di atas ranjang. Dan dengan cepat ranjang itu di dorong oleh kedua perawat. Albi terus mengikuti ranjang yang di dorong tersebut dengan tangannya terus menggenggam tangan Adelia.


"Tuan tunggu di luar," ucap salah satu perawat. Saat Adelia sudah di masukkan ke dalam ruang UGD.


Albi mengangguk dengan wajah yang begitu cemas. Kebetulan Albi tadi baru menyelesaikan sarapan bubur di tempat yang tidak jauh dari Adelia berdiri. Ia akan menyebrang untuk menuju Rumah Sakit, yang kebetulan akan menemui Hera yang sedang kontrol masalah jantungnya.


Albi tersentak saat melihat ada mobil yang melaju kencang ke arah Adelia, dengan melaju di pinggir jalan. Dan lebih terkejutnya lagi bahwa Adelia yang tengah berdiri tersebut bukan orang lain.


"Mana suaminya?" Albi bertanya kepada Rara.


Rara menggeleng, "Sedang keluar kota," jawabnya.


"Kamu tunggu di sini. Aku akan cari tahu mobil yang telah sengaja berada di bahu jalan untuk mencelakai Adelia," Albi beranjak tanpa mendengar sahutan dari Rara.


"Semoga berhasil!" lirih Rara. Karena ia masih merasa syok dengan apa yang ia lihat tadi.


"Semoga Adel tidak kenapa-kenapa," Rara bergumam berharap keadaan Adelia baik-baik saja.


...***...


...Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2