You Are My Mine

You Are My Mine
Pertunangan Rasya


__ADS_3

Kini Adelia sudah duduk di sofa bersama Serly. Sesekali ia mendengarkan isi pembicaraan antara om Hadi, dan pak Roni calon besan nya.


"Oh iya,, Ariyanti. bagaimana menurut kamu tentang Rasya?" Ibu Rasya antusias ingin tahu ekspresi penilaian calon mantu nya


"ehmm... Rasya tampan tante, dan juga sopan"Ujar Ariyanti


Kini pandangan Ariyanti tertuju pada anak tangga, yang ternyata Rasya sedang turun.


"Ayo sayang sini duduk dekat Ariyanti,,!" Ibu Rasya menyuruh


Rasya pun mengangguk dan melirik sekilas ke arah Adelia, dengan wajah datarnya.


"Ariyanti,,, kalau kamu ingin lebih tahu tentang Rasya, kalian harus saling bertemu. begitupun juga kamu Rasya.."


Ibu Rasya terus berceloteh.


Ariyanti pun mengangguk. Tapi tidak dengan Rasya yang seakan terus memasang wajah datarnya.


"Kalau mau instan, ingin tau tentang kak Rasya. tanya aja ke kak Adel... Kak Rasya kan dekat sama kak Adel.. iya kan maa,?" Celetuk Serly tanpa tidak tahu Adelia yang di dekatnya hatinya semakin bergemuruh.


"Oh iyaa benar ituu...",Ibu Rasya menimpali.


Setelah itu Acara makan malam di mulai.


Dengan Rasya yang duduk bersebelahan, dengan Ariyanti. itu pasti karena keinginan Ibu Rasya.


Serly dan Adelia yang duduk di sebereang mejanya.


Adelia terus makan dengan menunduk, karena sekarang tepatnya Rasya sedang Memandangnya begitu lekat.


Tak luput Ariyanti memperhatikan Rasya.


Bahkan kini hatinya bertanya tanya.


Rasya terus menatap wanita itu, sebenarnya ada apa ini?


Apa mungkin seorang teman biasa memandangnya seperti itu?


*Ariyanti di dalam batinnya.


Acara makan malam pun telah usai.


Kini Merupakan acara Peresmian Tukar Cincin, antara Rasya dan Ariyanti.


Namun Adelia seakan tidak mau melihatnya.


Setelah makan tadi ia mencoba mengendap- endap membalikkan badan menuju arah dapur, ia menghampiri Bi Ina.


"Bi Ina, Mohon maaf sekali nanti tolong sampaikan pesan Adel kepada tante Lia. bahwa Adel tidak bisa mengikuti acara selanjutnya, Adel tiba-tiba tidak enak badan. dan Adel tidak mau sampai sesuatu terjadi hingga mengacaukan acara Rasya. tolong yaa bi..." ucap Adelia dengan wajah yang berpura-pura sedang sakit.


Tentu itu hanya akal-akalan dia yang mencoba mencari alasan agar tak bisa menyaksikan acara Rasya.


"Baik Neng Adel... Nanti bibi sampaikan,"


Bi Ina sambil merasa khawatir atas Adelia yang wajahnya berubah pucat.


"Terima kasih Bi, kalau begitu Adelia undur pamit yaa..." Kata Adelia dengan menyalami Bi Ina, dan berjalan menuju pintu Arah samping untuk cepat-cepat ke luar.


Maafin Adel, Bi sedikit berbohong. walaupun memang benar Adel sekarang sedang merasakan sedikit pusing. Tentu adel lakukan hanya ingin menghindari Rasya.


Adelia membatin.


Sementara itu kini seseorang sedang menyematkan cincin di jari manis sang gadis, dengan wajah yang masih saja datar.


Seketika Riuh dengan suara tepuk tangan karena acara tukar cincin telah usai.


Kini sesi photo bersama keluarga, dengan sudah di persiapkannya seseorang photografer untuk memotret mengabadikan acara tersebut, yang memang sedari tadi sudah dapat poteretan ketika Bertukar cincin.


"Eh tunggu ma bentar... kak Adelia mana yaa, kok perasaan dari setelahnya makan malam ia gak kelihatan deh..." Serly memecahkan suasana yang sedang mencari posisi bagus untuk di photo.


Dan di edarkan nya pandangan pada setiap sudut ruangan. Adelia tak nampak disitu.


kini Bi Ina datang, dan menyampaikan pesan Adelia kepada Ibu Rasya, dan Ibu Rasya pun mengangguk tanda ia mengerti.


"Adelia sudah pulang Ser, katanya lagi gak enak badan.." Ucap ibu Rasya


Interaksi antara Serly dan Ibu Rasya, tak luput dari perhatian Rasya. bahkan Rasya bisa mendengarkannya dengan jelas.


Maafkan aku, Adelia. aku tahu kamu pergi untuk berusaha menghindar dari aku.


Batin Rasya yang sekarang mematung melamun.


"Mas... mas... Coba sedikit tersenyum, agar hasil gambarnya lebih bagus,!" Tukas photografer yang memecahkan lamunan Rasya.

__ADS_1


"Ah i iya maaf." Rasya kaget, dan mencoba memaksakan senyum nya.


.........................


Di lain tempat.


Adelia kini sedang berjalan dengan terus melamun, dalam lamunan nya tentang wajah Rasya yang selama ini selalu ada di sampingnya, dari mulai sejak kecil sampai Rasya ketika mengungkapkan perasaannya terekam jelas dalam ingatan Adelia.


Sungguh ini sulit aku terima.


Aku seakan di angkat ke tempat yang paling tinggi, dan setelah itu tiba-tiba aku di jatuhkan paksa hingga ke dasar tempat.


Adelia terus berjalan dengan lamunan nya, sampai ia tak menyadari kini air hujan jatuh membasahi badan nya.


Air hujan yang tiba-tiba turun seakan tahu perasaan Adelia yang sedang kalut kesedihan.


Adelia kini menepikan langkahnya, ia bergegas duduk di salah satu halte bus yang saat itu sedang sepi.


Tiba tiba Ada mobil mewah melintas, yang di dalamnya seseorang yang begitu tampan, ia dengan menyetirnya sedikit memperhatikan kearah halte. dan di lihatnya ada seorang gadis yang sedang menangis dengang keadaan bajunya basah kuyup, entah mengapa pemuda itu merasa iba.


Pemuda itu memundurkan mobilnya pelan, dan berhenti tepat halte yang gadis itu sedang duduk.


Deg.....


Martin merasa wajah itu tidak asing. ia mematung sejenak untuk memutar memori nya.


Dan secepatnya ia keluar menghampiri, setelah ia ingat akan gadis yang dulu ia kejar, sampai tidak tahu keberadaannya.


Di Bukakan nya jaket milik Martin, ia pakaikan ketubuh gadis yang masih terdengar isakan tangisnya.


Adelia pun sontak kaget, dan di lihatnya kini lelaki itu sedang berdiri memperhatikannya.


Namun pandangan Adelia tiba tiba kabur.


dan Braaak.... ia hampir terjatuh, jika Martin tidak sigap menahannya.


Martin kini menggendong Adelia untuk membawanya masuk ke dalam mobil.


Di dudukan lah Adelia di jok sampingnya, dan Martin pun mulai melajukan kembali mobilnya.


Sesekali ia melirik ke samping siapa tahu Adelia tiba-tiba sadar, tapi tak ada tanda ia akan sadar.


Martin pun cemas, kini ia memberanikan diri untuk mengelus keningnya namun yang Martin rasakan kening Adelia panas.


Kini Adelia terbaring lemah di ruang IGD, ia belum sadar.


Martin pun masih menunggu duduk di luar.


Sementara itu seseorang sedang menghubungi nomer Adelia, di dalam kamarnya, tapi tak bisa.


ia khawatir dengan Adelia yang tiba tiba pergi.


Rasya meraih kunci mobil nya, dan turun dari kamarnya. ia niat bergegas ingin ke Rumah Adelia.


Memastikan kalau Adelia sedang baik-baik saja, ia akan memastikan tentang perasaan nya yang sedang cemas.


"Loh Rasya kamu mau kemana nak?, di luar sedang hujan Rasya.."


Ibu Rasya yang sedang Merapihkan Ruang tamu.


"Rasya, mau pergi ke... Mini market maa,, i iya mini market"Ucap Rasya mencari alasan


"Ke mini market toh, ya udah sana hati-hati.."


Ujar ibu Rasya.


Rasya pun kini tengah mengendarai mobilnya.


ia melajukannya cepat.


Dan sampai lah ia di depan Ruko milik Adelia, namun Sudah sepi.


Rasya ingin mengetuk, tapi ia urungkan. ia merasa hadirnya akan mengganggu tidur gadis nya.


Ia pun masuk kembali ke mobil melajukan kembali untuk pulang,tak lupa ia menghampiri mini market untuk memenuhi alasannya yang tadi berikan kepada ibu Rasya.


Malam pun berganti Siang. Seseorang mengerjap dari pingsan nya, ia menoleh ke samping kiri kanan, ia merasa ruangan ini asing, ketika bangkit ia melihat ada infus menancap di lengan nya. dan ia kini tahu keberadaannya bahwa ia sedang di Rumah sakit. seketika itu hati Adelia bertanya siapa yang membawanya ke sini, ia harus mengucapkan terima kasih.


Tak lama datang seorang perawat yang akan mengecek kondisinya.


"Eh akhirnya mbak sudah Sadarkan diri.." Sapa sang perawat.


"iya suster." ucap Adelia yang masih bingung.

__ADS_1


"Suster tahu siapa yang membawa saya ke sini?" Ucap Adelia lagi.


"Oh itu, beliau masih ada di sini koq, beliau berada di luar tunggu. semalam beliau membawanya ke sini dalam keadaan mbak yang pingsan dan juga basah kuyup." Ucap Perawat yang menceritakan keadaan Adelia semalam.


"Kalau begitu saya mau menemui dokter, biar mbak nya di periksa lebih keseluruhan." Ucap suster itu.


Suster itu pun keluar. dan menyampaikan kepada Martin yang sedang duduk di kursi tunggu, bahwa pasien yang di bawanya sudah sadarkan diri, namun harus menunggu dulu Dokter untuk memeriksanya.


Martin pun tersenyum.


Datanglah Dokter ke dalam ruangan Adelia, ia mulai berbicara.


"Maaf mbak, saya periksa dulu yaa.." ucap Dokter itu meminta ijin.


Adelia pun mengangguk.


Mulai di gunakan lah alat Stetoskop oleh si Dokter, dan begitu juga tak lama ia menggunakan alat pengukur darah.


"Mbak, saat ini masih pusing tidak?" Tanya si Dokter.


Adelia menggeleng tanda ia tidak merasa pusing.


"Bagus kalau begitu, mbak tak perlu di rawat. mbak cukup minum obat yang nanti saya buatkan resepnya. Mbak boleh pulang kalau cairan infusnya sudah habis" Ucap Dokter.


"Mbak itu sepertinya sedang merasa kelelahan sehingga tak sadarkan diri semalam." Kata Dokter itu lagi.


Adelia hanya mengangguk, dan mengucapkan terima kasih .


Setelah Dokter pergi, datang lah Martin.


Martin mulai melangkah ke arah ranjang pasien, dengan di pegangnya sebuah Nampan yang berisikan semangkok bubur untuk Adelia sarapan.


Sedangkan Adelia sedikit terkejut, dan sedang mengingat-ingat tentang wajah seseorang yang menghampirinya, Matanya sedikit melotot ketika ia mulai mengingat Wajah seseorang itu.


"Hai, gimana keadaan nya sekarang? masih pusing?" Ucap Martin sambil mendudukan dirinya di kursi samping ranjang.


Adelia menggeleng sambil menatap Martin.


"Bagus kalau gitu, sekarang kamu sarapan dulu yaa.." Ujar Martin sambil mulai mengaduk bubur.


Adelia mengangguk.


Namun tangan Martin ia tepis ketika Martin ingin mulai menyuapi nya.


"Maaf, aku bisa makan sendiri" Ucap Adelia menolak suapan Martin.


"Ooh ya udah, kalau kamu mau makan sendiri. tapi tangan kamu kuat sekarang untuk pegang mangkoknya?"


Martin berucap dengan mulai menyerahkan mangkuk bubur.


"I iya aku bisa." Ucap Adelia dengan tangan nya yang akan mulai mengambil mangkok.


"Sebentar, aku atur dulu ranjangnya. biar kamu nyaman saat makan" Ucap Martin.


Adelia pun melahap buburnya.


Sedangkan Martin terus memperhatikan lekat Wajah Adelia.


Dan ketika Adelia selesai dengan sarapannya, di lihatlah Martin yang sedang memandangnya, seketika Wajah Adelia merasa malu, yang membuat wajahnya merah merona.


"Sudah Habis sarapan nya,?" Martin mulai bicara


"Su sudah" Ucap Adelia terbata, karena sekarang tangan Martin sedang menyeka bibir Adelia yang sedikit meninggalkan bekas bubur.


"Kalau makan jangan sampai belepotan.." Ucap Martin dengan tersenyum.


Adelia hanya bisa mengangguk tanda ia menjawab iya.


Martin bangkit dari duduknya,


"Sebentar aku mau nebus Resep dulu,," Kata Martin yang akan melangkah.


"Terima kasih" Ucap Adelia tiba-tiba, dan membuat langkah Martin terhenti.


"Sama-sama.." Kata Martin dengan tersenyum, dan berlalu keluar.


Adelia kini melamun bahkan bergumam di dalam hati.


Dia kini hadir lagi.


Apa ini tanda dari Tuhan, supaya aku bisa melupakan Rasya.


Semoga aku bisa melupakan mu Rasya, dan Semoga kamu berbahagia dengan pilihan orang tua mu.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2