
"Sayang, aku mau tanya. Em ... kenapa kamu tadi menangis saat aku sedang bernyanyi?" tanya Rasya. Seraya tangannya memeluk pinggang Adelia, yang masih duduk di pangkuannya.
Adelia tersenyum, dengan merebahkan kepalanya di bahu Rasya, "Aku menangis bahagia, Mas. Aku merasa beruntung, telah di cintai oleh pria seperti mu,"
"Setiap lirik, yang kamu nyanyikan. Seakan aku itu masuk ke dalam lagu itu. Kamu sangat menjiwai, dan menghayati." Adelia melanjutkan ucapannya. Kini ia turun dari pangkuan suaminya.
"Loh, kok turun Sayang?" Rasya bertanya seakan tidak mau istrinya menjauh dari tubuhnya.
"Takut kamu berat, Mas" jawab Adelia. Ia kini menatap photo yang berbingkai besar, yang terpampang di dinding.
"Bima, dan Sakti bagaimana kabarnya, Mas?"
Pertanyaan Adelia membuat Rasya mengernyitkan dahinya, merasa heran tiba-tiba, istrinya itu bertanya tentang kedua temannya, yang memang merupakan teman Adelia juga saat nge-band dulu.
"Gak tahu Sayang ... terakhir itu aku ketemu sama si kembar, saat mau nyamar ke rumah Tuan Albi," sahut Rasya.
Adelia terkekeh, "Jadi, mereka tahu? kalau Mas, jadi perempuan demi membawa aku pulang?,"
Rasya mengangguk, "Iya mereka tahu,"
Tiba-tiba Adelia mengingat tentang pertemuan kemarin dirinya bersama Albi. Sehingga Adelia ingin sekali mengatakan kepada Rasya. Namun, Adelia tidak tahu harus bagaimana cara menyampaikannya.
"Kok, melamun?" tegur Rasya saat Adelia tiba-tiba terdiam.
"Kita, ke kamar bawah yuk, Mas!" ajak Adelia. "Ada yang akan aku ceritakan sama, Mas" lanjutnya.
Adelia langsung menggandeng tangan Rasya, sementara itu Rasya yang di gandeng merasa bertanya-tanya, tentang apa yang akan Adelia ceritakan saat nanti sudah di kamar bawah.
Dengan hati-hati dan pelan-pelan, Adelia menuruni anak tangga tersebut. Hingga sampai di anak tangga paling bawah, akhirnya Adelia bisa bernafas lega.
Keduanya kini sudah berada di dalam kamar. Dengan duduk berselonjor di atas ranjang, dengan kepala Adelia di rebahkan di dada bidang sang suami.
"Sayang, katanya kamu tadi mau cerita. Cerita apa, sih?" Rasya penasaran tentang apa yang akan istrinya ceritakan.
Adelia tiba-tiba merasa gugup. Takut suaminya akan marah dan kecewa. Karena tanpa sepengetahuannya Adelia jalan bersama pria lain.
"Aduh bagaimana ini? jika aku tidak menceritakan. Aku tidak mau seumur hidupku, merasa berkhianat kepada suamiku sendiri," gumam Adelia yang merasa detak jantungnya dag-dig-dug, tentang yang akan di ceritakannya.
"Hei, kok malah diam, Sayang?" Rasya menegur kembali. "Ayo, katanya mau cerita?" lanjutnya tidak sabar.
Adelia kini menegakkan duduknya, sejajar dengan sang suami. Dengan posisi masih seperti tadi kakinya berselonjor.
"Mas, jangan marah ya?" Adelia memastikan.
"Marah karena apa?" Rasya dengan mengernyitkan dahi merasa tidak mengerti.
Adelia sungguh gugup. Ia bahkan menggigit bibir bawahnya, untuk mengurangi rasa kegugupannya.
__ADS_1
"Sayang, kamu aneh! katanya mau cerita, tapi dari tadi di tungguin diam terus," ucap Rasya dengan membelai pipi mulus istrinya.
Rasya menatap manik mata istrinya dengan dalam. Merasa bahwa ada yang di sembunyikan Adelia. Hingga Adelia tidak berani langsung mengatakan.
"Sayang ... apa ada yang kamu, sembunyikan dari suamimu?" tanya Rasya kini menebak.
Rasya tahu pasti gelagat Adelia. Karena Rasya bukan baru mengenali Adelia. Ia bahkan sudah bertahun-tahun mengenali Adelia, semenjak di bangku sekolah Dasar.
Adelia kini matanya berkaca-kaca, merasa sangat bersalah. Dan kini suaminya tahu, bahwa ada yang di sembunyikan dirinya.
"Mas," ucap Adelia dengan bibir bergetar.
Rasya tahu, tapi ia tidak bisa menebak hal apa yang di sembunyikan istrinya itu. "Jadi benar, ada yang kamu sembunyikan dari aku?. Jawab Adelia!" suara Rasya sedikit tinggi. Ia merasa kesal, karena istrinya tidak mau cerita tentang apa yang akan di ceritakannya. Hingga Rasya memanggil nama istrinya.
Adelia mengangguk, "I-iya Mas," jawabnya terbata.
"Apa? dan katakan, hal apa yang kamu sembunyikan?!" pekik Rasya tangannya kini bersedekap di dada. Menunggu istrinya untuk bicara.
"Hari kemarin aku ke pemakaman," ucap Adelia menggantung.
"Iya aku tahu," sahut Rasya cepat.
Adelia benar-benar takut untuk melanjutkan, "Saat aku dan Rara duduk di bangku pinggir jalan. Tiba-tiba datang Mama Hera," ucap Adelia dengan menunduk tidak mau melihat ekspresi wajah suaminya.
"Siapa dia?"
"Mamanya, Albi." sahut Adelia.
"Em ... Mama Albi 'kan, belum tahu. Bahwa Albi telah membohonginya. Jadi beliau mengira Aku benar-benar istrinya. Beliau mengajak aku untuk ikut ke rumah Albi, dan--"
"Dan kamu ikut?" potong Rasya langsung.
Adelia mengangguk.
"Aku sama Rara ikut, Mas. Lalu saat aku sudah berada di rumahnya. Albi datang. Dan Mama Hera menyangka kalau Aku dan Albi sedang bertengkar. Nah, setelah tidak ada siapa-siapa. Aku meminta kepada Albi agar jujur kepada keluarganya. Namun, Albi meminta syarat kepada ku," Adelia menarik nafas terlebih dahulu. Kehamilannya yang sudah mau enam bulan, membuat nafasnya sedikit sesak.
"Syarat apa?" Rasya penasaran.
"Dia meminta menghabiskan waktu seharian itu, bersamaku."
"Kamu menerimanya?" tatapan Rasya sedikit tajam. Namun, Adelia tidak bisa melihatnya. Karena memilih berbicara dengan menunduk.
"Iya aku terima. Dengan aku juga meminta syarat kepadanya,"
"Syarat apa yang kamu minta?"
"Syaratnya, dia harus melupakan aku. Dan Berhenti untuk mencintai aku. Lalu aku menyarankan, agar mencoba dia mendekati Rara. Ya walaupun awalnya dia menolak. Tapi. setelah aku desak. Dia mau, tapi tidak janji kepada ku,"
__ADS_1
Rasya mendesah, ia menghirup nafas dalam-dalam. "Kenapa kamu malah menawari Rara kepada dia? sama saja kamu, membuat dia untuk melampiaskan rasa cintanya terhadapmu, kepada Rara. Itu tidak benar," Rasya tidak menyetujui.
"Tapi aku lakukan itu. Karena aku percaya, bahwa Albi pria yang baik. Setidaknya Rara mendapatkan pria yang baik seperti Albi. Kalau masalah cinta. Itu pasti akan datang dengan sendirinya, seiring berjalannya waktu. Selama mereka terus bersama. Aku yakin, dari keduanya pasti akan tumbuh rasa cinta,"
Rasya menyunggingkan senyuman, "Iya boleh saja kamu berpendapat seperti itu. Tapi tanya dulu kepada pihak wanita. Apa dia mau di dekatkan dengan si pebinor itu,"
Adelia mengernyitkan dahi, "Aku bisa meyakinkan Rara, Mas." ucap Adelia terjeda, "Pebinor itu apa sih, Mas?" tanyanya penasaran.
Rasya terkekeh, "Pencuri bini orang," jelasnya. "Benarkan, pantas dia di juluki seperti itu?!" lanjut Rasya.
"Ih kok, gitu sih Mas. Sebenarnya dia baik. Hanya caranya saja yang salah,"
"Kok, kamu malah muji-muji dia?! aku, gak suka ya. Kamu muji-muji pria lain di hadapan aku," tukas Rasya dengan memalingkan wajah.
"Mas, aku gak muji-muji dia. Aku hanya berpendapat saja."
"Sama. Berpendapat kamu seperti itu. Sama dengan halnya kamu, memuji dia" Rasya tidak rela istrinya memuji pria lain, apalagi pria itu adalah Albi. Pria yang sudah membawa istrinya dan menyembunyikan istrinya, dan memanfaatkan keadaan istrinya yang ingatannya hilang.
"Maaf Mas. Kalau aku salah," ucap Adelia.
"Ya tentu kamu salah. Sudah bertemu pria lain di belakangku, dan muji-muji dia di hadapanku," ujar Rasya dengan penuh rasa kecemburuan.
"Iya, Maaf Mas. Makanya aku jujur barusan cerita. Karena aku merasa berdosa jika terus menutupi dari kamu," tutur Adelia dengan memeluk tubuh suaminya dari samping.
Rasya mencoba meredam emosinya. Ia berpikir tidak boleh marah atau kesal kepada Adelia. Apalagi Adelia sudah jujur mengatakannya. Rasya harus menghargai itu. Walau bagaimanapun Adelia sudah melakukan yang terbaik. Jujur kepada dirinya. Ya, meskipun Rasya harus merasa cemburu.
"Ya, Mas maafkan. Nanti lagi. Lebih baik segala sesuatu itu di ceritakan, ya. Mau apapun itu. Mas tidak mau, kalau kamu menyimpan sendiri. Apalagi misalkan, hal yang membuat pikiranmu berpikir keras, dan nanti malah berpengaruh pada kesehatan dan kehamilan kamu," Rasya membalas pelukan istrinya, dengan membelai rambut Adelia yang panjang.
Adelia tersenyum senang, merasa Rasya tidak kecewa dan marah, "Iya Mas. Aku akan ceritakan semuanya padamu,"
"Tapi tidak dengan ingatanku yang pulih. Aku akan menceritakannya nanti saat kamu ulang tahun. Akan aku buat kejutan untukmu," lanjut Adelia di dalam hatinya.
Rasya mengurai pelukannya, "Benar ya, jangan di simpan sendiri. Oh, iya apalagi tentang apa yang di bicarakan Wanita itu. Kamu harus cerita sama suamimu," pinta Rasya dengan mengingatkan tentang Ariyanti.
"Maksud, Mas. Ariyanti?" tanya Adelia memastikan.
"Iya. Aku tidak mau, dia sampai mengelabui kamu dengan cerita bohong dan konyolnya itu. Dan setiap apa yang di bicarakannya, kamu harus cerita sama aku. Jangan di pikirkan terlebih dahulu. Mengerti, Sayang?!"
Adelia mengangguk, "Iya aku mengerti, Mas" ucapnya lalu tersenyum.
"Bobo, yuk!" ajak Rasya. Saat melihat jam di dinding sudah jam sebelas malam.
"Ayo, Mas" sahut Adelia.
Kini keduanya merebahkan tubuh dan berselimut. Posisi keduanya saling menghadap.
"Baby, yang sehat ya, Sayang ...," ucap Rasya mengelus perut Adelia. Lalu setelah itu mengecup kening Adelia dengan lama dan berucap, "Selamat tidur Sayang ... aku mencintaimu,"
__ADS_1
...***...
...Bersambung....