
Rasya mendekati Adelia yang sedang berhadapan, dengan orang yang telah Adelia tubruk punggungnya.
"Hei, kamu lagi di sini?" pekik Rasya yang juga sama mengenalinya. Tentu Rasya kenal. Karena yang Adelia tubruk adalah Sakti kembarannya Bima.
"Wah ... kayanya lagi liburan di Pantai, ni?" goda Sakti, bukannya menjawab pertanyaan Rasya.
Rasya merangkul bahu Adelia, "Iya. Kita lagi berlibur," jawab Rasya.
"Aku lapar, Mas" bisik Adelia tepat pada telinga Rasya.
"Sakti ... aku tinggal dulu ya, nanti aku kembali lagi ke sini," Rasya berpamitan karena akan mengajak Adelia makan terlebih dahulu.
"Ok. Gue tunggu!" sahut Sakti dengan mengacungkan jempolnya.
Rasya mengangguk dan berjalan dengan menggenggam tangan Adelia. Agar Adelia tidak berjalan sendirian lagi.
"Bumyang, kamu mau makan apa?" tanya Rasya. Mereka berdua masih berjalan menyusuri pinggir pantai.
Adelia melihat-lihat kedai makanan yang ada. Dan matanya tertuju pada kedai Ikan bakar.
"Aku mau makan di sana, Mas!" tunjuk Adelia pada kedai Ikan Bakar tersebut.
"Ok, Sayang. Lets go!" sahut Rasya. Keduanya mempercepat langkahnya, untuk menuju kedai yang Adelia tunjuk.
Keduanya kini sudah duduk lesehan di kedai itu. Dan di hampiri oleh seorang pelayan wanita yang terus tersenyum kepada Rasya.
"Maaf, Mas mau pesan apa?" tanyanya dengan tersenyum. Membuat Adelia merasa kesal karena suaminya di tatap dengan senyuman pelayan itu.
Rasya yang baru saja membaca buku menu akhirnya menjawab, "Sayang, kamu mau pesan apa?" tanya Rasya pada Adelia terlebih dahulu.
"Aku, Nila bakar saja Mas. Sama es jeruk," sahut Adelia dengan matanya terus memperhatikan pelayan wanita yang terus tersenyum kepada Rasya.
Dan terlihat pelayan itu menuliskan pesanan Adelia.
"Saya Gurame bakar sama es jeruk juga," kata Rasya memesan.
"Baik Mas. Saya ulangi pesanannya. Nila bakar dan Gurame bakar. Tambah Es jeruk dua,"
Rasya mengangguk.
"Kalau begitu saya permisi. Dan mohon di tunggu pesanannya!" pelayan itu pun pergi meninggalkan meja Rasya dan Adelia.
Adelia mendelik. Terlihat wajahnya memberengut kesal.
"Kamu, kenapa Sayang?" Rasya bertanya karena wajah istrinya yang tiba-tiba seperti itu.
"Aku gak suka sama pelayan tadi," sahut Adelia dengan memasang wajah kesal.
__ADS_1
Rasya menautkan kedua alisnya, "Maksudnya?" tanya Rasya yang belum mengerti bahwa istrinya sedang cemburu.
"Aku gak suka Mas. Dia terus natapin kamu. Terus senyum-senyum gak jelas. Aku memperhatikan. Untung kamu gak lihat, kalau lihat sepertinya dia ke GR-an deh," oceh Adelia dengan memanyunkan bibirnya.
Rasya terkekeh, "Oh istriku cemburu," ucap Rasya datar. Dengan terungging senyuman yang lebar.
"Ish ... kamu suka ya? di tatapin cewek begitu?" kesal Adelia karena respon Rasya datar. "Sekalian gombalin sana!" lanjutnya.
Rasya seketika tergelak. Merasa gemas kepada istrinya yang cemburu menjadi sewot seperti itu.
"Sayang ... menjadi pelayan 'kan, harus gitu. Ramah pada pengunjung. Coba deh bayangkan kalau ada pelayan yang jutek! mana ada yang mau makan,"
Adelia menggeleng, "Iya aku tahu. Tapi dia terus natapnya sama kamu. Sedangkan di sini ada aku juga. Kalau kamu sendirian ya, wajar natap kamu terus. Tapi, kan. Di sini ada aku," Adelia masih tetap merasa kesal. Mungkin efek rasa sensitif kehamilannya, tetap merasa tidak mengerti apa yang Rasya jelaskan.
Tiba-tiba pelayan itu datang lagi. Dengan membawa pesanan Rasya dan Adelia. Pelayan itu menaruh pesanan di atas meja.
"Silahkan di nikmati. Mas, Mbak!" ucapnya kemudian pergi berlalu.
Rasya kini menggelengkan kepala, "Lihat, sayang! mana dia gak natap aku, kok?" ujarnya.
Adelia terdiam.
"Aku lapar," ucapnya lalu melahap makanannya dengan cepat.
Rasya tersenyum merasa gemas kepada istrinya itu. Kalau saja ia tidak di tempat umum. Tentu bibir istrinya sudah ia lahap sedari tadi. Hanya gelengan kepala dan senyuman yang Rasya berikan.
Angin yang sejuk, menggerakkan rambut Adelia yang tergerai. Sapuan angin itu memberikan kenyamanan sejenak kepada Adelia yang memandang lurus kedepan.
"Sayang ... kita mau kemana lagi?" tanya Rasya yang kini sudah berdiri di samping Adelia.
"Aku ingin bermain pasir, Mas" ucapnya dengan tersenyum. "Boleh, ya?"
"Boleh. Tapi ada syaratnya!" Rasya dengan menaik turunkan alisnya.
"Kok, ada syaratnya?"
"Ada dong. Kalau kamu main pasir itu juga," Rasya dengan menyelipkan rambut Adelia yang tersapu angin.
"Apa syaratnya?" tanya Adelia.
"Kamu main pasir. Aku mau ikut gabung sama band Bima Sakti di sana!" tunjuk Rasya pada sebuah panggung yang terlihat ada Bima dan Sakti di sana. Dan sebentar. Adelia merasa tidak suka karena ada banyak wanita yang memakai bikini di sana. Walau wanita-wanita itu agak jauh dari panggung. Tapi Adelia merasa tidak suka. Takutnya wanita-wanita itu menatap Rasya dengan kagum.
"Oh, jadi Mas mau lihat cewek-cewek seksi itu, ya?" seketika Adelia menjadi garang menuduh Rasya. "Dan, Mas biarkan aku bermain pasir," lanjutnya kini seraya tangannya, ia lipat di dada.
Rasya menganga serta menggelengkan kepala. Merasa tidak seperti apa yang Adelia tuduhkan. Rasya benar-benar hanya ingin ikut bergabung saja dengan Bima dan Sakti. Bahkan Rasya tidak melihat kumpulan wanita berbikini tersebut.
"Enggak sayang. Aku beneran hanya ingin gabung sama Bima dan Sakti saja. Bahkan aku tidak melihat ada wanita-wanita itu," elak Rasya.
__ADS_1
Adelia terdiam. "Lebih baik kita pulang saja ke Vila," ajaknya. Dengan cepat Adelia menggandeng tangan Rasya. Lalu berjalan meninggalkan kedai tersebut.
"Sayang ... pelan-pelan jalannya!," Rasya khawatir dengan kandungan Adelia. Bahkan Rasya seakan di seret oleh istrinya sendiri.
"Diam kau, Mas!" pekiknya. Membuat Rasya menelan ludahnya dengan kasar.
"Istriku lagi cemburu ternyata menakutkan sekali," batin Rasya.
Rasya terus di gandeng tangannya oleh Adelia. Ia bahkan merasa langkah kakinya terseok-seok.
"Sayang ... aku gendong, ya!" ucapan Rasya seketika menghentikan langkah Adelia.
Rasya langsung mengangkat tubuh istrinya itu ala bridestyle. Dengan tangan Adelia ia kalungkan di leher kokohnya. Tanpa merasa malu dan risih. Rasya terus melangkah dengan menggendong tubuh Adelia hingga masuk kedalam Vila.
Rasya langsung membaringkan tubuh Adelia di atas sofa.
"Aku minum dulu," Rasya setelah membaringkan Adelia. Ia langsung melangkah menuju dapur membawa beberapa botol air mineral di tangannya.
Rasya menyerahkan satu botol kepada Adelia. Dan botol air itu sudah Rasya buka terlebih dahulu.
"Minumlah. Agar menyegarkan hatimu yang terbakar," ujarnya. Dan botol itu Adelia terima, lalu Adelia minum hingga menyisakan setengahnya.
Seketika Adelia dan Rasya terdiam. Rasya sengaja membiarkan istrinya yang sedang cemburu itu. Sementara Adelia merutuki dirinya. Ia tidak pernah menyangka bisa sesewot itu kala cemburu.
Adelia dengan malu-malu mendekati Rasya yang sedang menyandarkan kepalanya pada badan sofa, dengan mata terpejam. Adelia memiringkan kepalanya. Mendekatkan bibirnya pada bibir Rasya yang seakan candu bagi dirinya. Di lum*t bibir suaminya itu. Sehingga mengagetkan Rasya. Namun, Rasya biarkan. Bahkan mata Rasya masih terpejam dengan menerima sentuhan pada bibirnya.
Adelia melepaskan ciumannya, "Maaf, Mas. Aku sudah marah-marah gak jelas sama kamu," Adelia meminta maaf setelah mencium bibir suaminya itu.
Rasya membuka mata perlahan. Lalu di suguhi wajah cantik sang istri yang masih dekat pada wajahnya.
"Aku akan memaafkanmu, asal--"
"Iya aku mau Mas." Adelia dengan cepat menyela ucapan Rasya. Karena Adelia tahu apa yang akan Rasya ucapkan. Pasti masalah desah-mendesah, atau jenguk-menjenguk baby.
Rasya terkekeh, "Emang apa yang kamu mau?" tanyanya dengan tersenyum pura-pura belum tahu.
Adelia tidak mau berlama-lama. Atau beradu kata dengan Rasya. Adelia berdiri di hadapan Rasya lalu membuka kancing dress depan. Sehingga terpampang gunung kembar yang terbungkus itu. Membuat Rasya menelan susah salivanya.
"Ayo, Mas! mainkan!" ajak Adelia dengan menarik tangan Rasya untuk menyentuh dua gunung kembar miliknya. Seketika Rasya berdiri dengan tangan yang sudah Adelia arahkan pada dua gunung kembar tersebut.
"Sayang, jangan begini. Apa kamu terpaksa?" tanya Rasya ingin memastikan.
Adelia menggeleng, "Tidak Mas. Aku mau. Aku milikmu. Dan kamu milikku," dengan tangan Adelia mulai membuka kancing kemeja yang Rasya kenakan.
...***...
...Bersambung....
__ADS_1