
Sudah Dua jam lama nya Adelia tak sadarkan diri, membuat Martin dan Rara cemas menunggunya, karena tak ada tanda-tanda Adelia sadar.
Martin kini mendudukan tubuh nya, ia kini menoleh ke arah Rara.
"Ra..." Martin mulai memanggil Rara.
"Apa?" Rara yang di panggil, langsung mendekat duduk.
"Benar Adelia, tadi pergi hanya untuk membuat kue?." Tanya Martin ingin memastikan kembali.
"Iya. Tadi Si Serly yang datang menjemput nya, dan ngomong langsung di hadapan gue juga." Rara mengulang kembali pembicaraan nya yang sempat tadi ia sampaikan ke Martin.
Martin yang sudah mendengarnya, kini terdiam entah apa yang ada di pikiran nya.
"Martin, menurut gue ya. Bisa aja si Adel kelelahan secara ia membuat kue seharian di rumah Tante Lia, Lu tahu sendiri kan tadi jam Lima baru pulang." Rara menyampaikan sesuai dugaan nya yang membuat Adelia kelelahan terus pingsan.
Martin pun manggut-manggut.
"Sudah Lu jangan terlalu cemas, palingan si Adel sekarang itu lagi tidur. Dokter kan udah ngasih infus." Rara berbicara kembali meyakinkan Martin agar tidak terlalu khawatir.
Martin pun mengangguk.
Setelah itu berdiri dan ingin beranjak ke parkiran, menuju mobil nya.
"Aku tinggal dulu Ra." Martin pun melangkah dengan cepat.
Martin sudah berada di dekat mobil nya, namun matanya menoleh sebuah Mobil yang mirip dengan tadi sempat Rasya pakai.
Martin pun tidak mau tahu, ia langsung menuju mobil nya, ia ternyata mengambil ponsel yang tertinggal dalam mobil.
Martin pun mengunci kembali mobil nya dan bergegas melangkah kembali ke dalam Rumah Sakit.
Namun langkah nya terhenti kala melihat Rasya yang sedang berdiri di meja Bagian Administrasi.
Rasya ternyata sudah membayarkan semua biaya Adelia, bahkan biaya Untuk di pindahkan ke Ruang VIP jika Adelia sudah sadarkan diri.
"Ngapain anda ada sini?." Tanya Martin dengan sinis.
"Terserah saya mau ada di sini atau tidak, ini tempat umum." Ucap Rasya dengan menerima kartu Atm dari pelayan Administrasi.
"Apa anda tahu Adelia sekarang belum sadarkan diri, itu karena dia kelelahan. Dan yang membuat Adelia kelelahan adalah Diri Anda dan Ibu Anda yang mempekerja kan Adelia." Martin berbicara dengan menunjuk.
Rasya terdiam mencerna ucapan Martin, ia pikir tadi tentang Adelia dan Rasya sudah di ketahui Martin. Namun setelah mendengar Ada nama Ibu nya di sebut Rasya merasa lega.
" Mohon maafkan saya,dan ibu saya. Yang telah menyuruh Adelia untuk kerja di rumah.
Saya tidak tahu jika akan terjadi sesuatu kepada Adelia." Rasya meminta maaf seraya menatap Martin.
Martin yang di tatap Rasya masih memberikan tatapan sinis nya.
"Anda salah. Anda meminta maaf harus langsung ke Adelia di hadapan Saya nanti." Martin mambalikkan tubuhnya, dan pergi melangkah menuju ruangan di mana Adelia berada.
Rasya pun ikut melangkah ke arah yang sama Martin tuju.
Rara sedikit melotot melihat Martin datang dengan Rasya yang tepat berada di belakang Martin, Rara pikir sudah terjadi sesuatu antara Martin dan Rasya tanpa sepengetahuan nya.
"Ra, apa Adel sudah sadar?." Tanya Martin.
"Belum." Jawab Rara.
Rasya melangkah ke arah kaca yang terlihat dari luar Adelia sedang berbaring, Rasya menatap iba Adelia.
Del, apa ini karena aku. kau jadi begini?
Apa kamu kelelahan karena melayani hasrat ku?
Rasya berbicara dalam hatinya dengan matanya yang terus menatap ke arah Adelia.
"Rasya, kenapa kamu yang anterin Adel?." Rara menghampiri dan berdiri di dekat Rasya.
Rasya terdiam sejenak untuk menjawab pertanyaan Rara, sedangkan Martin terduduk dengan memperhatikan Rasya dan Rara di depan nya.
"Tadi, ehmmm... Serly gak bisa anter, karena lagi ada acara bareng teman nya, jadi aku yang di suruh mama untuk mengantar Adel."
Ucap Rasya berbohong.
Rara pun manggut-manggut mengerti.
__ADS_1
Terlihat dari dalam Adelia mengerjapkan matanya, Rasya yang melihatnya dari balik kaca langsung membuka handle pintu dan masuk ke dalam menghampiri Adelia.
Rara pun ikut megekori Rasya dari belakang, Martin yang terduduk pun ikut melangkah masuk.
Adelia mulai membuka matanya, dan yang pertama ia lihat adalah langit-langit ruangan tersebut, kemudian Adelia melirik ke arah samping kiri, mata Adelia bertemu dengan mata Rasya yang penuh ke khawatiran, sejenak Adelia beradu pandang.
Kini Adelia melirik ke arah samping kanan, terlihat Rara tersenyum, dan Martin yang berwajah cemas.
Adelia ingin menegakkan tubuhnya untuk duduk, namun seketika perut Adelia seperti kram dan rasanya sakit.
"Auw..." Adelia dengan wajah meringis.
Rasya dengan Repleks membantu Adelia membenahi duduk nya. Dan Adelia pun tidak menolaknya.
Martin yang melihat itu semua merasa panas dengan dada nya, melihat wanita yang di cintainya di sentuh oleh pria lain bahkan pria itu adalah mantan pacar Adelia.
Rara seakan tahu Martin yang di samping nya merasakan cemburu yang hebat.
"Del, gimana sekarang Lu masih pusing?." Tanya Rara memecah keheningan di ruangan itu.
Adelia menjawab dengan menggeleng.
Entah saat ini Adelia bingung, harus menatap ke arah siapa. Keberadaan Rasya membuat Hati Adelia cemas terhadap Martin, yang mempunyai Rasa Cemburu yang begitu besar.
Adelia menegak kan kepala nya, kini ia menatap ke arah Martin. Martin yang di tatap masih dengan rasa khawatirnya.
"Martin..." Sapa Adelia dengan suara yang masih lemah.
Martin melangkah mendekati Adelia.
Namun tidak bersuara.
Terlihat Rasya yang begitu canggung di antara Mereka.
"Saya pamit" Ucap Rasya ingin berpamitan.
Martin dengan cepat menoleh ke arah Rasya yang akan melangkah bergegas pergi.
"Apa anda lupa? dengan pembicaraan tadi?." Tanya Martin mengingatkan kembali pembicaraan nya ketika di depan Meja Administrasi.
"Saya masih mengingat nya." Jawab Rasya.
"Tunggu apalagi? lakukan sekarang!." Perintah Martin.
Rasya pun mengangguk.
Dan mulai mendekati kembali ke arah Adelia dari samping kiri nya.
Adelia yang di dekati, kepala nya tiba-tiba menggeleng. memberikan kode ke Rasya untuk tidak mengatakan apapun.
"Del, aku mohon maaf karena kamu seharian ini telah bekerja dengan mama ku, kamu jadi kelelahan dan pingsan!." Rasya mengucapkan permintaan maaf nya di hadapan Martin.
Adelia yang mendengarnya begitu lega, karena Rasya hanya mengucapkan kata maafnya yang seakan benar atas kejadian nya.
Adelia mengangguk lemah, karena ia pikir ini adalah suatu kebohongan.
Rasya pun tersenyum, karena mungkin Adelia mengerti.
"Sekarang anda boleh pergi!." Tukas Martin mengusir dengan halus.
Rasya pun menurut, dan pergi keluar. Adelia terus menatap ke arah Rasya sampai Rasya hilang di balik pintu.
"Apa masih ada yang sakit?." Tanya Martin, dan Adelia pun langsung beralih pandang menatap Martin.
"Hanya aku sakit perut sekarang." Jawab Adelia.
"Di bagian mana?." Tanya Martin kembali dengan cemas.
"Palingan Lu belum makan ya tadi siang?." Kini Rara bersuara.
Dan Adelia pun mengangguk, mengingat kembali tadi ia hanya makan steak yang Rasya buat.
"Ya udah Gue beli dulu makanan buat Lu." Rara yang sudah melangkah pergi.
"Ra, jangan dulu makanan yang lain. bubur aja." Perintah Martin agar Rara membelikan Bubur untuk Adelia makan nanti.
Rara pun mengangguk. Dan pergi.
__ADS_1
Kini tinggal Martin dan Adelia di ruangan itu,
Martin duduk di kursi dekat Adelia, dan melihat sekilas ke arah leher Adelia ada tanda merah di sana.
Martin pun berdiri dan menyingkap kan rambut Adelia yang menghalangi lehernya.
Martin melotot, melihat tanda merah itu. Mengingat percis, tanda yang selalu ia berikan kepada Adelia.
"Del ada apa dengan leher mu?." Tanya Martin dengan masih menatap tanda merah yang ada di leher Adelia.
Adelia menjadi gelagapan di buatnya, mengingat Rasya memberikan tanda merah itu bukan hanya di lehernya saja, namun di dada nya juga.
Adelia belum bisa menjawab hanya gelengan kepala yang ia berikan berupa jawaban.
"Mana mungkin kamu tidak tahu?." Kini Martin sedikit meninggi bicara nya, rasa cemburu membuat pikiran nya tidak jernih lagi.
Adelia tercengang, dengan menemukan tanda sedikit di lehernya Martin sampai begitu marahnya, apalagi jika melihat banyak tanda yang ada di dada nya, Akan seperti Apa Martin marah nya.
"Aku tidak tahu Martin." Ucap Adelia.
Seketika itu datang Dokter ke ruangan Adelia.
"Maaf saya tadi melihat dari kaca, ternyata pasien sudah sadar." Ucap Sang Dokter mendekat.
"Ah iya, Dokter. Saya sampai lupa tidak memberi tahu dokter." Ucap Martin yang dengan cepat meredam emosinya.
"Kalau begitu saya periksa dulu ya. permisi!." Dokter itu dengan mulai mengeluarkan alat stetoskop nya, memeriksa keadaan perut Adelia.
Dan Dokter itu pun kini mengeluarkan alat tensi darah, ia mengukur tensi darah Adelia.
"Apa perutnya sakit?." Tanya Dokter itu kepada Adelia.
"Iya Dokter. Di sini." Adelia menunjukan bagian perutnya yang sakit.
"Asam lambung anda naik sepertinya." Ucap Dokter itu.
"Apa kepala nya masih pusing?." Tanya nya Lagi.
"Sudah tidak Dokter." Adelia dengan tersenyum.
"Saya akan menuliskan Resep obat, agar darah anda tidak terlalu rendah. Dan obat untuk asam lambung anda yang sedang naik." Dokter itu pun dengan menuliskan resep kedalam kertas kecil.
"Saya saran kan anda harus banyak minum, jangan terlalu lelah, dan makan yang teratur." Kata Dokter itu lagi, dengan menyerahkan catatan resep itu ke Adelia
Adelia pun mengangguk mengerti.
"Jangan lupa makan terlebih dahulu ya, sebelum minum obat yang saya resepkan. kalau begitu saya permisi. dan semoga anda cepat sembuh."
Dokter itu pun berlalu pergi dari ruangan.
Adelia kini merasa canggung lagi di hadapan Martin setelah kepergian Dokter itu.
Martin duduk di sofa yang agak jauh dari ranjang pasien, Martin sedang menetralkan rasa emosi nya.
Rara datang dengan menenteng kantong kresek besar, dan kantong itu ia letakan di nakas dekat ranjang yang Adelia tiduri.
Rara mulai membuka isi kantong kresek itu, dan meletakan nya di atas meja nakas.
Terlihat satu bungkusan Bubur, dan dua bungkusan Nasi yang sama.
"Martin, ini buat Lu. ayo makan." Rara menyerahkan satu bungkusan dan di letakan di atas meja yang berada di depan Martin.
"Dan ini buat Lu Del, makan bubur nya ya. mau gue suapin?." Rara menyerahkan Satu bungkus bubur yang berwadah Steropoam .
"Gak usah Ra. aku bisa makan sendiri. kamu juga ayo makan." Adelia dengan mulai mengaduk bubur tersebut.
"Tentu, gue makan." Ucap Rara dan mulai membuka bungkus makanan nya.
Namun tidak dengan Martin, ia kini sedang memainkan ponselnya, mengetik pesan kepada para karyawan bawahan nya. Memberitahukan bahwa
Ia tidak bisa bekerja selama dua hari.
Martin bermaksud ingin merawat Adelia.
Setelah selesai dengan Ponsel nya, Martin pun mulai membuka bungkusan makanan yang Rara tadi beli untuknya, dan Martin pun mulai melahapnya tanpa menoleh ke arah Adelia dan Rara.
...Bersambung...
__ADS_1