You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 117.


__ADS_3

**Happy Reading.


❤❤❤**


"Permisi...." Sapa Serly kepada arah Ivan, Beni, dan Damar. Namun ketiga pemuda itu hanya melongo menatap kagum ke arah wanita yang menyapanya.


"Ivan, kamu tahu Mas Rasya ada dimana?," tanya Adelia membuyarkan keterpakuan Ivan yang di panggilnya.


"Eh Bu, em ... Pak Bos ada di ruangan Aldi," tutur Ivan.


"Ya, sudah saya akan menemuinya. Ra, Ser ... kalian di sini saja ya,"


Adelia pun melangkah menuju ruangan yang suka di huni Aldi selama kerja disana. Terlihat Rasya sedang asyik melahap seblak yang tadi di belikan Beni.


"Mas, makan apa?," tanya Adelia setelah berada di dekat suami, seraya duduk di kursi kosong.


"Hei, Sayang ... kamu mau? Mas makan seblak!" jawab Rasya seraya menawari sang istri dan menggeser kotak seblak itu kehadapannya.


"Mas sejak kapan suka seblak? aku saja sudah lama tidak memakan nya, terakhir waktu pas masih kuliah," Adelia seraya menyuapi seblak ke mulutnya.


Rasya tersenyum dirinya juga bingung entah dari kapan suka seblak, padahal baru tadi ia melihat gambarnya langsung saja menginginkan makanan tersebut.


"Baru sekarang," sahut Rasya dengan terkekeh.


"Baru sekarang ya?" Adelia mengulangi sahutan Rasya tadi dengan bertanya.


"Iya, tadi Mas lihat gambar nya eh, tiba-tiba jadi pengen," ucap Rasya tanpa bohong.


"Oh Tuhan, yang hamil siapa, yang ngidam siapa?," gumam Adelia seraya mengelus-elus perutnya yang masih rata.


Rasya memperhatikan tangan istrinya yang mengelus-elus perutnya sendiri, kemudian Rasya berdiri dan jongkok di depan Adelia yang masih terduduk.


"Mas masih belum percaya, kalau kita akan menjadi orang tua?" seraya tangan nya ikut mengelus perut istrinya.


"Mas senang, kan?"


"Ya jelas senang dong, ternyata tokcer juga senjata Mas," tukas Rasya dengan tergelak.


Adelia yang langsung mengerti akan kata senjata yang Rasya katakan langsung mencubit bahu suaminya yang masih berjongkok.


"Kenapa, Sayang? emang benarkan?," ucapnya.


"Iya benar. Senjata Mas Rasya memang tokcer," dan Rasya langsung tergelak lagi mendengar istrinya mengulangi kata-kata yang tadi ia ucapkan.


"Em iya, aku sampai lupa Mas, aku kesini mau ijin ingin melihat perkebunan teh bareng Serly dan Rara," ucap Adelia menyampaikan niat kedatangan menemui suaminya itu.


"Tapi sebentar ya!" kata Rasya.


"Jadi di ijinin?" dan dapat anggukan dari Rasya.

__ADS_1


"Tapi di antar oleh salah satu anak bengkel!" kata Rasya.


"Gak usah lah Mas, lagian aku tahu tempatnya dimana. Serly yang akan bawa mobilnya. Lagian juga mereka pasti sibuk aku lihat banyak motor yang mau mereka servis,"


"Terus Mama sama Papa gak ikut?" tanya Rasya.


"Enggak, kata Mama. Mama mau jaga toko kue aja, dan membiarkan aku untuk melihat pemandangan sejuk,"


"Ya udah, hati-hati tapi ya ...."


Adelia pun memeluk tubuh suaminya terlebih dahulu, dan keluar dari ruangan itu menuju dimana Rara dan Serly.


"Ayo, udah di kasih ijin kok," ucap Adelia sesaat sudah berhadapan dengan Serly dan Rara.


Tak lama mereka pun pergi ke Perkebunan Teh yang kemarin Serly dan Rara datangi bersama Aldi, dengan Serly yang menyetir membawa mobil milik Rasya.


Setibanya Di tempat yang kemarin Aldi memarkirkan mobilnya, Serly pun memarkirkan persis di tempat itu.


Mereka bertiga turun dari mobil dan mulai berjalan menyusuri Perkebunan, hingga sampai pertengahan. Serly seperti biasa akan berselfi ria mengabadikan momen indahnya. Begitupun dengan Rara.


Adelia hanya berjalan-jalan saja menikmati angin yang berhembus karena dirinya tidak terlalu menyukai berphoto. Sesaat pandangan nya tertarik pada sekumpulan kupu-kupu yang berwarna-warni berterbangan, Adelia terus mengikuti kupu-kupu tersebut yang terbang dengan pelan seakan mengarahkan Adelia untuk mengikutinya. Hingga langkah Adelia membawanya jauh dari tempat Serly dan Rara.


Seketika Adelia terhenyak kaget saat mendapati dirinya sudah berada di dekat sungai karena kupu-kupu itu tepat berhenti di sana. Adelia kebingungan saat ingin kembali mengingat akan jalan yang tadi ia susuri. Adelia meraba saku celananya tidak terdapat ponsel di dalam sakunya, ia lupa tidak membawa benda pipih itu. Adelia merasa ketakutan saat pandangan nya ia edarkan, hutan yang lebat, dan sungai yang airnya bergemuruh.


Sementara itu Serly baru tersadar akan tiada keberadaan kakak iparnya saking antengnya berselfie sedari tadi.


"Kak Rara, Kak Adel kemana?," tanya Serly.


"Loh Adel kemana Ser?," Rara kembali bertanya saat matanya tidak menemukan keberadaan Adelia.


"Serly juga gak tahu kak, Serly kira Kak Rara tahu," dan Rara langsung menggelengkan kepalanya tanda ia tidak mengetahui Adelia kemana.


"Coba yuk kita cari ke sebelah sana," ajak Rara. Serly pun mengangguk.


Kini dua gadis tersebut menyusuri jalan yang di tengah-tengah perkebunan untuk mencari keberadaan Adelia. Sesaat ada seseorang yang berpapasan Serly berinisiatif untuk bertanya.


"Mohon maaf Bu, apa ibu melihat Wanita yang lewat ke jalan sini?" tanya Serly.


Ibu yang membawa seikat kayu bakar itu mengingat-ingat. "Maaf Neng, tadi emang banyak yang lewat. Jadi saya tidak tahu wanita yang Neng maksud," katanya.


"Berbaju Putih, Celana jeans hitam, berambut panjang, dan wajahnya cantik, bu" ucap Rara kini menyebutkan ciri-ciri wanita yang di tanyakan Serly kepada Ibu itu, yang tak lain ciri-ciri Adelia.


"Aduuuh ... mohon maaf Neng, saya tidak tahu jelas setiap orang yang lewat" sahut Ibu itu.


"Ya sudah, terima kasih ya Bu. Maaf saya mengganggu perjalanan pulang ibu," ucap Rara dengan berwajah kecewa tidak mendapati jawaban keberadaan Adelia.


Ibu itu pun pergi melanjutkan langkahnya. Serly dan Rara langsung berwajah cemas kalau sampai Adelia hilang entah harus bagaimana cara menyampaikan kepada suaminya yaitu Rasya.


Serly dan Rara pun tidak menyerah terus mencari dengan bertanya kepada setiap orang yang kebetulan bertemu dengan mereka. Namun setiap jawaban dari orang yang di tanya mereka tidak melihatnya.

__ADS_1


"Aduuh bagaimana ini kak? keadaan Kak Adel sedang hamil, dan bagaimana nanti respon kak Rasya saat tahu bahwa Kak Adel hilang," ucap Serly dengan bertanya kepada Rara dengan membayangkan respon Rasya saat tahu bahwa Adelia hilang.


"Sudah Ser, Kak Rara juga gak tahu harus bagaimana. Semoga saja Adel saat ini baik-baik saja." kata Rara menenangkan Serly.


"Ini salah Serly Kak, tadi membujuk Kak Adel untuk ikut dan meminta ijin kepada Kak Rasya" Serly menyalahkan dirinya.


"Sudah Ser, lebih baik kita ke sebelah sana!" ajak Rara dan menunjuk sebuah Pabrik Pengolah Teh.


Serly dan Rara pun melangkah untuk mendekati Pabrik Teh tersebut, siapa tahu Adelia berada di sana. Namun tetap hasilnya nihil tidak ada yang tahu tentang ciri-ciri yang Serly tanyakan bahkan Serly memperlihatkan photo Adelia dari ponselnya.


Ohh Tuhan Bagaimana ini? batin Serly begitu frustasi tidak dapat menemukan Adelia.


Tiba-tiba suara dering ponsel Serly berdering, tertera Brother Calling nampak di layar ponselnya. Serly menatap Rara terlebih dahulu.


"Kak Ra, bagaimana ini? Kak Rasya nelpon, terus kita harus bilang apa?"


"Angkat saja Ser!"


"Tapi Kak, Serly takut Kak Rasya marah,"


Hingga deringan ponsel Serly terhenti.


"Sudah pukul tiga, pasti Rasya mengkhawatirkan kita. Kita tadi berangkat jam satu," ujar Rara.


Serly terdiam, rasa cemas, khawatir, dan takut kini Ia rasakan. Serly menyadari kesalahan nya yang anteng berselfie tadi tanpa tahu Adelia kemana.


"Kak apa mungkin Kak Adel di culik?," tanya Serly kini.


"Aku tidak tahu Ser" kata Rara seraya menggelengkan kepalanya.


Dan dering ponsel Serly berdering kembali tertera Brother Calling lagi yang memanggil.


Serly menghirup nafas terlebih dahulu untuk mengangkat panggilan dari Kakaknya itu.


"Hallo Kak" jawab Serly saat sudah tersambung.


"Kalian sudah dua jam. Cepat pulang!" titah Rasya dari sebrang telepon.


"I-iya kak, tapi--"


"Tapi apa? Istriku sedang hamil Ser, jangan sampai dia kelelahan atau terjatuh di sana." potong Rasya mengkhawatirkan istrinya.


"Tapi ... Kak Adel Hi-hilang Kak" kata Serly gugup.


"Apa katamu, Istriku hilang? mana bisa?" bentak Rasya.


"Maaf Kak, Serly juga--"


"Sharelok lokasimu sekarang!" pinta Rasya dan langsung mematikan sambungan teleponnya.

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2