
Sesuai permintaan Rasya kepada Lia Mamanya. Rasya di jemput Pak Sukri sopir keluarga Rasya. Sebelumnya Rasya sudah menshareloc terlebih dahulu alamatnya. Setelah bersiap-siap akhirnya Pak Sukri sudah menunggu Rasya di depan Vila.
"Selamat Sore, Den Rasya ...," sapa Pak Sukri setelah melihat Rasya datang menghampirinya.
"Selamat Sore Pak Sukri," jawab sapaan Rasya.
Pak Sukri melongo menatap wanita cantik yang telah di kabarkan hilang dan meninggal dunia, kini tangannya Rasya genggam. Pak Sukri akhirnya tidak mau banyak bertanya. Ia membukakan pintu untuk Rasya masuk. Dan Rasya mempersilahkan dulu wanita yang tangannya sedari tadi ia genggam, masuk terlebih dahulu.
Setelah keduanya masuk. Pak Sukri langsung menarik pedal gas, dan melajukan mobilnya meninggalkan halaman Vila. Rasya yang duduk di belakang jok kemudi. Terus menggenggam tangan Adelia, tanpa mau ia lepas.
"Pak Sukri, nanti saat sudah di pusat kota. Mampir Ke Barbershop dulu ya ...,"
"Baik Den," sahut Pak Sukri.
"Mas, mau pangkas rambut?" tanya Adelia kini ia bersuara.
"Iya Sayang ... lihat rambutku sedikit gondrong, dan bulu-bulu halus ku sudah nampak panjang," sahut Rasya dengan memegang rahangnya yang kokoh.
Adelia tersenyum, "Tapi aku suka loh lihatnya," ucap Adelia.
Rasya tersenyum, "Suka ya, kalau aku pakai cium ... ada geli-geli nya, bukan?" bisik Rasya pada telinga Adelia. Sehingga hanya Adelia yang bisa dengar.
Adelia tersenyum dengan menggelengkan kepala. "Bukan itu Mas, tapi kamu terlihat kaya aktor hollywood gitu," ucapnya.
"Em ... bilang saja iya!?," goda Rasya. Membuat Adelia terus tersenyum.
"Enggak, Mas" kata Adelia tetap.
"Nanti deh, kalau aku udah punya baby. Mau di biarkan, tapi kalau sekarang. Aku gak mau," ujar Rasya.
"Iya Mas. Itu terserah Mas,"
"Sini. Perjalanan masih lama," kata Rasya seraya tangannya menarik Adelia untuk bersandar di dada bidangnya.
Adelia pun menurut. Ia meresapi bau aroma maskulin dari tubuh suaminya. Sehingga Adelia betah bersandar di dada bidang Rasya.
"Sayang ... besok kita chek-up kandungan. Aku ingin melihat baby kita," ucap Rasya kini tangannya sambil mengelus perut Adelia.
"Iya Mas,"
"Berarti, sekarang baby udah berapa umurnya di perut kamu?" tanya Rasya.
"Em ... kalau aku gak salah ya, empat belas minggu Mas," sahut Adelia masih bersandar.
"Nanti. Kalau umurnya empat bulan. Berarti enam belas minggu, kan?. Kita adakan syukuran," kata Rasya.
"Iya Mas,"
__ADS_1
Akhirnya tak ada pembicaraan lagi di dalam mobil. Rasya tetap anteng mendekap Adelia untuk bersandar di dada bidangnya. Dengan tangannya terus mengelus perut Adelia yang sudah terlihat buncit.
Selang beberapa menit. Pak Sukri menepikan mobilnya di depan sebuah Barbershop sesuai yang di minta Rasya. Dan Rasya melihatnya.
"Sayang, aku ke dalam dulu ya," kata Rasya.
"Aku ikut Mas," sahut Adelia yang sudah duduk tegak.
Rasya tersenyum, "Tapi di dalam pria semua, Sayang ... aku gak mau mereka lihatin kamu. Lebih baik kamu di sini. Mainin ponsel aku aja, ya. Kalau kamu bosan," ujar Rasya seraya menyerahkan ponsel miliknya kepada tangan Adelia.
"Iya Mas," Adelia dengan mengambil ponsel Rasya.
"Pak Sukri. Jangan kemana-mana. Temani istri saya!" titah Rasya sebelum membuka pintu mobilnya.
"Baik Den," sahut Pak Sukri patuh.
Rasya pun keluar dari mobil. Dan melangkah masuk ke dalam Barbershop tersebut. Kini Adelia yang merasa jenuh harus menunggu Rasya di dalam mobil. Mulai membuka layar ponsel milik Rasya. Ia tersenyum melihat wallpaper photo dirinya dengan Rasya yang sedang berpose mesra. Adelia jadi penasaran tentang semuanya sebelum ingatannya hilang. Ia dan Rasya terlihat begitu serasi.
Layar ponsel Rasya mulai ia buka. Ia memilih membuka galery video. Dan ternyata banyak video-video dirinya dan Rasya. Adelia tersenyum melihat video tersebut. Yang dimana Adelia sedang membuat kue.
"Mas ... aku yakin memang kaulah suamiku," gumam Adelia di dalam hati. Membuat ia teringat akan sosok Albi yang sudah membohonginya.
"Bagaimana ya, kabarnya Mas Albi?" tanya Adelia di dalam hati.
Ia ingat betapa Albi memperlakukannya dengan baik. Sehingga Adelia merasa benar-benar istrinya. Setiap ucapan, sikap, teringat oleh Adelia.
Hingga suara pintu mobil yang terbuka. Membuyarkan lamunan Adelia.
"Mas, sudah?" kata Adelia bertanya seraya menatap penampilan suaminya kini terlihat sangat tampan dengan rambut baru, dan tanpa bulu-bulu halus di rahang kokohnya.
Rasya tersenyum, "Bagaimana apa aku lebih tampan?" tanya Rasya menggoda.
Adelia mengangguk tanpa berucap. Karena malu pada Pak Sukri yang pasti mendengarkan obrolan mereka.
"Pak Sukri, ayo kita pulang!" pinta Rasya.
"Baik Den,"
Dan Pak Sukri melajukan mobilnya meninggalkan halaman depan Barbershop.
Hingga tak berselang lamanya. Mobil yang di kemudi Pak Sukri membelok masuk ke halaman rumah yang luas. Yaitu halaman rumah keluarga Rasya.
"Ayo sayang, kita sampai!" ajak Rasya untuk Adelia turun.
Adelia mengangguk. Kemudian turun dari mobil itu. Dan saat sudah di luar. Kedatangan Adelia dan Rasya di sambut oleh Lia, Serly, dan Rara. Mereka tersenyum senang dengan apa yang mereka lihat. Adelia pulang. Adelia masih hidup.
"Sayang ...," sapa Lia saat Adelia dan Rasya berjalan mendekat.
__ADS_1
Lia langsung berhambur memeluk Adelia dengan tangisan haru bahagia. Lia tidak menyangka bahwa menantunya masih hidup.
"Ma, jangan kencang-kencang! kasihan Cucu Mama, nanti tertekan di dalam perut Istriku," pekik Rasya memberi peringatan. Membuat Lia repleks melepaskan pelukan nya, kemudian menatap perut Adelia yang sudah sedikit buncit.
"Sayang, apa masih ada cucu Mama di sini?" tanya Lia kini meyakinkan.
Adelia tersenyum dan mengangguk. Membuat Lia mengucapkan banyak syukur.
"Kakak ...," pekik Serly berhambur memeluk Adelia. Adelia dengan diam menerima pelukan Serly. Tapi, Rasya langsung melepaskan pelukan adiknya itu.
"Jangan lama-lama, kasihan istriku dan baby ku," seloroh Rasya.
"Loh Kakak ini aneh. Aku kangen tahu sama kak Adel," celetuk Serly.
Kini Rara yang sudah menangis haru sejak tadi mendekat dan memeluk Adelia.
"Del, sumpah aku senang banget bisa melihat kamu kembali. Sungguh aku sangat sedih tanpa kamu Del, aku seakan ingin ikut saja menghilang bersama mu," ucap Rara dengan terisak memeluk Adelia.
Adelia hanya terdiam. Ia hanya bisa mendengarkan apa yang Rara katakan.
"Ra, nanti ya kita bicarakan semuanya di dalam," ucap Rasya saat melihat Rara kebingungan tidak mendapat respon dari Adelia. Rara mengangguk dan mengurai pelukannya.
Kini Adelia dan Rasya masuk ke dalam rumah. Rasya langsung mengajak istrinya itu naik ke lantai atas menuju kamarnya.
Sedangkan kini Lia, Serly, dan Rara merasa kebingungan akan sikap Adelia yang tidak seperti dirinya. Biasanya Adelia menyapa kembali, atau menanyakan bagaimana kabar mereka. Kini Adelia hanya tersenyum saja.
"Ma ... aku rasa ada yang aneh ya?" tanya Serly.
"Iya Mama juga," sahut Lia.
"Tenang Tante. Tadi Rasya bilang akan membicarakan nya, dan menurut aku itu semua tentang Adel," timpal Rara.
"Iya kita tunggu saja apa yang akan Rasya bicarakan. Yang terpenting. Adelia kembali, dan masih hidup beserta bayi dalam kandungannya," ucap Lia dengan tersenyum.
"Lebih baik kalian bantu di dapur. Untuk mempersiapkan makan malam bahagia kita. Menyambut Adelia datang," ajak Lia kepada Serly dan Rara. Sehingga mendapat anggukan dari Serly dan Rara secara bersamaan.
...***...
...Bersambung....
Kakak Readers, jangan lupa like, comment, dan Hadiah poinnya ya!. Nanti siapa yang sering dukung author receh ini. Author akan memberikan sedikit hadiah 😁
Namun follow terlebih dahulu akun Author nya, ya 😉
Terima kasih.
Salam dari Adelia ❤ Rasya
__ADS_1