You Are My Mine

You Are My Mine
Extra Part 9.


__ADS_3

"Kikan, aku sudah berada di depan gerbang rumahmu," Serly berucap di dalam panggilan teleponnya kepada Kikan yang baru saja sampai di depan rumah Kikan.


"Iya, aku akan ke sana," sahut Kikan di balik telepon.


Kikan terlihat keluar dari rumah lewat pintu utama. Ia terperangah saat melihat Serly berdiri bersama Dido di depan gerbang pagar rumahnya.


Kikan membuka gerbang pagar tersebut seraya tersenyum kepada Serly dan Dido.


"Ayo, masuk!" ajak Kikan kemudian.


"Iya," sahut Serly. Serly menatap Dido yang masih saja berdiri bersamanya.


Dido sengaja mengantar Serly untuk ke rumah Kikan, dengan dalih khawatir jika Serly pergi sendiri tanpa dirinya. Padahal yang ada ia ketakutan Serly berbohong. Dido takut Serly pergi ke tempat lain, tidak sesuai dengan apa yang Serly katakan.


"Kak, aku mau belajar bersama. Kakak, mau pulang, atau mau ikut kita?" Serly sebenarnya ingin sekali menyuruh Dido untuk segera pergi, namun ia berpikir kembali takutnya Dido merasa kecewa dan marah.


"Beneran hanya belajar?" Dido sudah terlihat posesif.


Serly mengangguk. "Iya, aku mau menulis materi yang kemarin,"


"Ya sudah. Kakak pulang saja. Takutnya malah ganggu kalian jika ada di sini. Ya walaupun kakak ingin banget di dekat kamu terus. Nanti, hubungi kakak ya, jika kamu sudah selesai dan mau pulang," ucap Dido dengan sudah mengganti panggilan untuk dirinya sendiri.


"Kenapa aku harus hubungi kakak?" Serly yang tidak peka tidak mengerti maksud dari ucapan Dido.


"Kakak mau jemput kamu, dan antarin kamu pulang," Dido seraya mengusap kepala Serly dengan gemas.


Kikan yang melihatnya senyum-senyum serta merasa baper.


"Gak perlu jemput kak, aku nanti di jemput kak Aldi." Serly menolak Dido untuk sengaja menjemputnya dan mengantarkannya pulang.


Dido menatap Serly dengan dalam. Kemudian ia mengingat bahwa Serly mempunyai seorang kakak pria. Dan menurut Dido nama yang baru saja Serly katakan adalah nama kakaknya.


"Oh ya sudah. Kakak pulang ya," Dido tersenyum dan tangannya kembali terulur untuk mengusap-usap kepala Serly.


"Assalamualaikum," ucap Dido lalu naik ke atas motor sport miliknya.


"Wa'alaikum salam," jawab Serly dan Kikan.


Dido setelah mendapatkan jawaban salamnya, langsung menancapkan gas. Dido melajukan motornya meninggalkan tempat tersebut.


"Ah, Serly" pekik Kikan berteriak histeris. Membuat Serly terjingkat kaget.


"Kikan ada apa?" Serly menatap Kikan yang senyum-senyum sendiri.


"Ser, ayo katakan apa kalian sudah jadian?" Kikan menggoyang-goyangkan bahu Serly untuk bercerita.

__ADS_1


Serly menggeleng.


"Ah, aku gak percaya. OMG. Aku baper tahu lihatnya tadi, uwu banget cara kak Dido memperlakukan kamu," Kikan merasa tidak percaya dengan jawaban Serly yang menggelengkan kepala.


"Kikan, kita masuk yuk! aku haus ni. Terus kita langsung belajar," Serly sengaja mengalihkan topik pembahasan agar Kikan tidak terus membahas Dido.


"Ayo! tapi, nanti kamu harus cerita sama aku. Kalau kamu gak cerita berarti kamu sudah tidak menganggap aku sahabat," Kikan memeberengutkan wajahnya tanda mengancam jika Serly tidak sampai bercerita.


Serly terkekeh menatap wajah Kikan yang memberengut. "Ya ampun Kikan cantikku, gemas banget sih wajahnya," Serly dengan mencubit kedua pipi Kikan.


"Tahu ah, aku akan memasang wajah seperti ini kalau kamu sampai gak cerita," Kikan kembali mengancam.


"Iya, iya" sahut Serly dengan merangkul Kikan untuk menuju rumah.


Serly sudah terbiasa main di rumah Kikan. Sebelum adanya Aldi. Serly sengaja tidak bermain lagi mengingat adanya Aldi di rumah Kikan, sebelum Aldi memiliki apartemen sendiri. Serly baru kali ini kembali bermain di rumah Kikan.


Kikan langsung mengajak Serly masuk ke dalam kamarnya. Kemudian mengambil cemilan dan minuman untuk menemani saat mereka berdiskusi.


Sampai tiga puluh menit lamanya. Mereka berdua baru saja menyelesaikan tugas makulnya. Serly merentangkan kedua tangannya, lalu menatap jam di dinding kamar Kikan yang sudah menunjukkan jam empat sore.


"Udah jam empat aja," celetuknya.


"Iya, tadi kamu ke sini jam setengah empat," timpal Kikan.


"Ser, ayo cerita!" Kikan kembali mendesak.


Serly geleng-geleng kepala. Pikir Serly, Kikan akan lupa untuk membahas masalah tersebut. Namun, ternyata Kikan kembali mendesaknya untuk bercerita.


"Ok aku akan cerita. Tapi, bentar aku mau chat dulu kak Aldi," Serly dengan mulai mengetik pesan kepada Aldi. Serly sengaja ngechat Aldi, takutnya Aldi datang ke Kampus.


Serly.


"Assalamualaikum ... Kak Al, jemput saja aku di rumah Kikan. Setelah pekerjaan Kak Aldi selesai."


Serly setelah mengetik pesan kepada Aldi. Ia kembali menatap Kikan yang sedari tadi memperhatikan dirinya.


"Ngapain sih kamu natap aku seperti itu?" protes Serly yang merasa risih dengan tatapan Kikan yang seperti mengawasi gerak-geriknya.


"Kamu itu pantesan cantik banget. Pantas saja Kak Dido seorang Cowok populer Di Kampus. Ngintilin kamu terus. Oh ... ya bahkan si Kevin teman sekelas kita kayanya belum move-on deh setelah kamu tolak," Kikan menatap kagum pada Serly.


Serly hanya menggeleng-gelengkan kepala, merasa lucu terhadap Kikan yang menilai dirinya.


"Oh ya, dan satu lagi. Kak, Satria kakak senior yang pernah nembak kamu. Terus kamu malah tolak. Padahal dia ganteng tahu," Kikan kembali berceloteh.


Serly terdiam, "Eh, iya kak Satria perasaan gak kelihat lagi di kampus ya?" cicit Serly mengingat-ingat.

__ADS_1


"Ciyee ... sekarang ingat ya?" ledek Kikan.


"Bukan gitu, ya ke ingat saja pas kamu bilang barusan," elak Serly.


"Iya juga sih?" timpal Kikan dengan mengingat-ingat. "Padahal nanti kamu tanyain sama Kak Dido. Bukannya mereka sekelas dan seangkatan?" saran Kikan selanjutnya.


"Iya" sahut Serly singkat. Kemudian menatap layar ponsel miliknya yang menyala.


Kak Aldi.


"Wa'alaikum salam. Iya"


Kikan ikut membaca dan tertawa ngakak saat membaca pesan balasan dari Aldi. Begitupun Serly yang ikut tertawa. Yang membuat Kikan dan Serly ketawa yaitu balasan pesan singkat yang di berikan Aldi.


"Sumpah, aku ingin ketawa terus Ser. Gila ya abang aku, datar dan dingin banget." Kikan dengan sisa tawanya.


Serly kini terdiam.


"Tapi anehnya aku suka sama abang kamu Kikan. Hatiku sudah di tempati oleh namanya," sahut Serly tentunya di dalam hati.


"Ya mungkin memang kak Aldi seperti itu." Serly tidak mau pusing.


Kikan mengangguk-angguk.


"Sekarang ceritakan tentang kamu dan Kak Dido. Ayo!" Kikan kembali mendesak.


Serly tidak bisa mengelak dan beralasan lagi kepada Kikan. Dengan menghela nafas panjang Serly mulai menceritakannya. Dari Dido yang mengutarakan perasaannya dan memberikan waktu agar Serly berpikir untuk memberikan jawabannya. Semua Serly ceritakan kepada Kikan tidak ada yang terlewat atau di tambahi.


"OMG. Ser, kamu beruntung banget. Cowok-cowok keren dan tampan pada nembak kamu. Aku saranin ya, kali ini aja kamu terima cowok keren seperti kak Dido. Lagian ya, selama kita masuk kampus. Kita gak pernah dengar Kak Dido berpacaran, dan hanya mendengar banyak cewek yang suka dan nembak dia," seloroh Kikan berdecak kagum kepada Serly.


"Tapi, Kikan. Aku--"


"Aku cintanya sama kak Aldi," lanjut Serly berbicara di dalam hatinya.


Dan tanpa mereka berdua sadari. Aldi sudah berada di depan pintu kamar Kikan yang terbuka. Aldi setelah mendapat chat dari Serly langsung pulang karena pekerjaannya memang sudah selesai.


Lalu setelah sampai di rumah Kikan. Aldi langsung masuk saja. Karena bagi Aldi rumah keluarga Anton sudah seperti rumahnya sendiri.


Aldi mematung saat mendengar Kikan dan Serly yang membahas tentang Dido yang menembak Serly. Aldi seakan dadanya sesak. Namun, sedikit lega karena Serly belum menjawab pertanyaan Dido tersebut.


Aldi seraya melangkah ke arah dapur berbicara di dalam hati.


"Baik, mulai saat ini saya akan memperjuangkan perasaan ini."


...***...

__ADS_1


__ADS_2