
Cahaya mentari pagi menyinari celah gordeng yang masuk ke dalam ruangan kamar. Gadis yang tertidur lelap itu pun terbangun karena merasakan silau nya cahaya mentari pagi ke arah wajah nya. Adelia mulai mengerjapkan matanya, Lalu ia membuka matanya dengan perasaan kaget karena dirinya tengah berada di atas ranjang bahkan tubuhnya sedang berselimut. Adelia dengan cepat menegakkan tubuhnya untuk duduk di sandaran ranjang. Lalu mengintip kedalam selimut terlihat pakaian nya masih utuh. Adelia pun bernafas lega, kemudian ia mengedarkan pandangan nya ke setiap sudut kamar itu.
"Ini kan di Vila punya Rasya?." Adelia bergumam setelah merasa tidak asing dengan tempat yang sekarang ia tiduri.
Lalu netra matanya menemukan sosok Pria tampan yang sedang tertidur pulas di atas Sofa dengan memakai Baju kaos, dan tertidur dengan tangan nya bersedekap di dada.
Adelia tersenyum melihat wajah tampan itu. Namun ia berubah sedih kala teringat akan hal semalam yang membuat dirinya dan Pria tampan itu berada di Vila ini sebelumnya.
Adelia bergegas bangun, dan merapihkan bekas tempat tidurnya. Lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Rasya mengerjapkan matanya kala mendengar gemercik air di dalam kamar mandi. Namun ia enggan untuk bangun. Jadi Rasya berniat tidur kembali karena merasa masih mengantuk.
Ceklek.... terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Rasya sudah yakin itu pasti Adelia yang baru keluar dari kamar mandi. Dan benar Adelia baru keluar dari kamar mandi. Lalu melangkah menuju Jendela kaca. Adelia tangan nya mulai membukakan gordeng. Lalu menatap ke arah depan jendela tersebut sebuah pantai yang indah. Adelia tersenyum.
Lalu ia membalikkan badan bergegas melangkah menuju pintu kamar, namun saat melewati sofa yang di atasnya Rasya tertidur. Adelia terhuyung jatuh karena tangan Rasya menarik pinggangnya dengan tiba-tiba membuat Adelia terjatuh menimpa tubuh Rasya.
"Morning kiss sayang." Rasya dengan tersenyum menggoda menatap Adelia yang menindih tubuhnya.
Adelia meronta ingin terbangun, namun Rasya mengunci pergerakan nya dengan melingkarkan tangannya kuat ke tubuh Adelia.
"Kamu gak akan aku lepaskan sebelum kamu mencium ku." Rasya dengan menaik turunkan alisnya.
"Rasya kamu ini baru bangun tidur. Aku gak mau." Adelia dengan bergerak ingin terlepas dari lingkaran tangan Rasya.
Namun Pergerakan Adelia membuat Rasya kecil terbangun. Rasya yang merasakan sesak di bawah sana langsung melepaskan Adelia. Adelia pun langsung cepat berdiri karena merasa sudah terlepas.
Rasya dengan cepat bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk menenangkan Rasya kecilnya.
Hingga beberapa menit Rasya keluar dari kamar mandi dengan wajahnya yang basah dan memakai handuk bertelanjang dada. Adelia yang masih duduk di sofa itu buru-buru keluar kamar setelah Rasya keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk tersebut. Rasya tersenyum melihat Adelia yang seperti tidak mau melihatnya.
Rasya dengan gerakan cepat memakai Baju yang berada di dalam lemari. Rasya sengaja menyimpan baju miliknya di Vila itu, untuk dirinya kala menginap seperti sekarang.
Rasya keluar kamar setelah merasa rapih dengan penampilan nya yang santai, dengan celana jeans selutut dan baju kaos berwarna hitam bergaris putih. Menghampiri Adelia yang sedang duduk di sofa ruang tengah. Setelah sampai di depan Adelia. Rasya mengacungkan kedua tangan nya membentuk love ia tujukan kepada Adelia.
Seperti inilah Kedua tangan Rasya memberi bentuk Sarangheyo kepada Adelia dengan bibirnya tersenyum menampilkan gigi putihnya yang berbaris rapih.
Adelia merasa lucu melihat Rasya yang seperti itu. Namun Adelia tidak berniat untuk membalasnya.
"Sayang kenapa kamu tak membalas ku?." Tanya Rasya yang sekarang duduk di sebelah Adelia.
"Itu hanya simbol saja. Tapi hati ku sudah sangat membalasnya koq." Jawab Adelia dengan menatap Rasya lekat.
"Ih So sweet banget ternyata Sayang ku ini." Rasya dengan mengacak-acak rambut Adelia yang sudah rapih itu.
"Rasya... Kamu membuat rambutku berantakan." Adelia tidak terima kepada Rasya yang telah mengacak-acak rambutnya.
"Lagian kamu ternyata gombal juga." Rasya yang kini menyenderkan kepala Adelia ke dada bidangnya.
Adelia yang bersender di dada bidang Rasya pun dengan cepat menyubit lengan Rasya.
"Hei sayang jangan cubit-cubit." Rasya dengan mengusap-usap bekas cubitan tangan Adelia.
"Habisnya aku di bilang gombal sama kamu." Adelia dengan mendongak sedikit ke arah Rasya.
"Emang."
"Aku lapar." Adelia mengatakan dirinya lapar.
"Yuk... kita cari tempat buat sarapan." Ajak Rasya dengan menegakkan tubuh Adelia.
"Sekarang bukan sarapan Sya... Tapi makan siang. Tuh lihat Jam di dinding."
__ADS_1
Rasya pun menurut dan melirik pada jam yang menempel di dinding. Dan terlihat menunjukkan pukul 11.30 waktu setempat.
"Kita tidur berarti lelap juga ya?." Ucapnya setelah melihat jam tadi.
"Iya. Bahkan aku tidak sadar kalau aku sudah ada di dalam kamar." Sahut Adelia.
"Iya kamu tidurnya pules banget sayang, jadi aku gak tega buat bangunin kamu. Ya sudah semalam aku seret kamu saja."
"Hus apa aku di seret?." Adelia agak melotot mendengar Rasya telah menyeretnya.
Rasya tersenyum. "Iya padahal aku sudah menyeret mu. Tapi kamu gak bangun-bangun kaya kebo tidurnya." Rasya tergelak.
"Ih jahat masa aku di seret, dan enak saja aku di bilang kebo." Adelia dengan memukul-mukul lengan Rasya.
Rasya hanya tertawa mendapat pukulan dari Adelia seperti itu.
"Mana mungkin lah aku menyeret kamu, menyentil saja aku gak tega, apalagi menyeret kamu seperti itu. Tidak sayang, aku hanya becanda saja." Tutur Rasya membenarkan ucapan nya.
Adelia pun terdiam kini berubah menjadi salah tingkah. Ucapan Rasya yang seperti lelucon tapi membuat hatinya tersentuh. Adelia pun kini tersenyum melihat Rasya yang sedang menatapnya dengan serius.
"Iya aku juga tahu." Jawab Adelia.
"Ya sudah ayo kita sarapan dan sekalian makan siang." Rasya dengan berdiri.
"Tapi aku gak ganti baju."
"Sekalian nanti beli baju." Ucap Rasya dengan melangkah terlebih dahulu ke luar rumah.
"Tapi Sya, mending kita pulang ke rumah kamu. Aku tidak mau jauh dari Rara. Terus lagian pakaian aku berada di rumah kamu." Adelia mulai membujuk Rasya dengan tangannya ia lingkarkan pada lengan Rasya.
"Tidak. Apa kamu mau terus di rendahkan Papa ku?. Masalah Rara biar saja dia tinggal bersama Mama, dan kalau masalah Pakaian aku bisa membeli nya sebanyak mungkin buat kamu hari ini juga. Pokoknya aku tidak akan pulang ke rumah itu lagi." Sahut Rasya dengan tangannya mulai mengunci pintu rumah.
Adelia pun terdiam. Ia tidak bisa berbicara lebih lagi untuk membujuk Rasya. Dengan melihat tatapan Rasya yang serius saja Adelia sudah takut.
Rasya mulai melajukan mobilnya, Ia melajukan mobilnya berarah ke pusat Kota. Di Pusat kota terdapat banyak Gerai makanan dan Pakaian itulah yang Rasya tuju saat ini. Rasya menghentikan mobilnya di depan Sebuah Butiq. Adelia sedikit kesal kepada Rasya padahal perutnya sudah berontak minta di isi, tapi Rasya malah menuju Butiq terlebih dahulu.
"Sayang ayo turun." Ajak Rasya setelah membukakan pintu mobil untuk Adelia, Tapi Adelia terdiam.
Adelia pun menurut turun dari mobil Rasya, dan tangan nya menggandeng tangan Rasya melihat Rasya memberikan isyarat agar Adelia menggandeng tangan nya.
Rasya dan Adelia pun di sambut ramah oleh pelayan butiq tersebut.
"Tolong bantu carikan Pakaian yang mau di pilih oleh istri saya." Perintah Rasya kepada pelayan butiq tersebut.
Adelia mendelik matanya kala mendengar Rasya mengatakan dirinya adalah istri.
"Baik tuan." Ucap Pelayan butiq itu.
"Ayo sayang. Pilih yang banyak ya. Dari mulai sepatu, tas, dan Aksesoris lainnya. Mumpung butiq ini sangat lengkap." Perintah Rasya kepada Adelia dengan tatapan nya melirik ke setiap sudut butiq itu.
Adelia menarik cepat lengan pelayan butiq itu dengan menggerutu di dalam hati. Tanpa menjawab ucapan Rasya tadi.
Ih Rasya menyebalkan. Aku itu sangat lapar saat ini.
"Nona silahkan Pilih yang mana Nona sukai." Suara pelayan Butiq itu menyadarkan Adelia yang sedang menggerutu.
"Yang mana saja Mbak. Aku tak mengerti tentang Fashion." Adelia memasrahkan agar pelayan butiq yang memilihkannya.
"Baik Nona." Ucap Pelayan itu dengan patuh.
Adelia terduduk di sebuah kursi yang tersedia di stand itu. Tak lama Pelayan itu membawa banyak Pakaian yang di tangan nya dan seperti sesuai dengan tubuh Adelia. Rasya pun mendekat.
__ADS_1
"Itu semua pilihan kamu sayang?." Tanya nya.
"Itu sengaja aku menyuruh untuk memilihkannya. Karena aku tak mengerti soal Fashion." Jawab Adelia dengan jujur.
"Ini Nona. Semua yang saya pilihkan style keluaran terbaru di Butiq kami. Silahkan Nona pilih terlebih dahulu untuk memastikan ukuran nya benar atau tidak. Saya membawakan ini semua dengan satu ukuran yang menurut saya sesuai badan Nona." Pelayan itu menyerahkan banyak Pakaian yang dari tangan nya kepada Adelia.
Adelia pun mengambilnya, lalu Ia serahkan kepada tangan Rasya. Rasya di buat bingung dengan Pakaian Adelia yang kini di tangan nya.
"Sayang kenapa kamu menyerahkannya kepada ku?."
"Aku mau ke ruang ganti Sya. Masa aku membawa baju itu semua. Aku pilih satu. Dan kamu pegang ya." Adelia dengan memilih salah satu dress yang menurutnya simple untuk hari ini ia pakai. Lalu Adelia melenggang pergi ke dalam ruang ganti yang tersedia.
"Mbak tolong Ambil ini semua dan Pilihkan beberapa tas dan sepatu. Oh ya nomor sepatunya 38." Perintah Rasya dengan menyerahkan Pakaian tadi yang di serahkan Adelia kepada Pelayan Butiq itu.
"Baik Tuan." Pelayan itu patuh dan dengan cepat menaruh Pakaian yang sudah di pilihkan tadi ke meja Bagian Cashier, Lalu kini Ia bergegas memilih beberapa tas dan Sepatu sesuai perintah Rasya.
Adelia sudah keluar dari kamar ganti. Baju yang bekas ia pakai tadi ia lipat dengan Rapih.
Rasya tersenyum kala melihat Kaki Adelia yang mulus, lalu lengan nya yang sedikit terbuka Rasya memindai penampilan Adelia dari bawah hingga atas. Adelia melihat Rasya yang seperti itu sedikit risih, karena mata Rasya tidak berkedip.
"Sya ayo...." Ajak Adelia.
"Bentar sayang. Tas sama sepatu kamu sedang di pilihkan."
Adelia pun berdecak sebal, Rasya benar-benar lupa akan dirinya yang sudah kelaparan.
"Ini tuan semuanya. Apa ada yang di butuhkan lagi?." Kata pelayan itu.
"Tidak. Sudah selesai cepat bungkus saja Mbak." Adelia dengan cepat menjawab. Karena tidak mau berlama-lama lagi di Butiq itu, Adelia ingin segera mengisi perutnya.
"Iya Mbak sudah." Rasya yang mengerti akan Adelia yang ingin segera pergi.
Adelia dan Rasya pun menuju meja Cashier.
Adelia melotot melihat baju yang Rasya belikan begitu banyak, bahkan Tas dan juga sepatu.
"Semuanya Seratus lima puluh juta Tuan." Ucap Cashier tersebut.
Lalu Rasya merogoh dompetnya.
Tapi Tangan Adelia mencegahnya.
"Ada apa?." Rasya yang bingung akan tangan Adelia yang menarik tangan nya untuk sedikit menjauh dari meja Cashier.
"Rasya, Semuanya seratus lima puluh juta itu sangat berlebihan Rasya. Jangan jadi aku tidak mau menghamburkan uang mu." Bisik Adelia kepada Rasya.
Rasya tersenyum kagum kepada gadisnya yang tidak bersikap matrealistis.
"Itu tidak masalah sayang. Uang ku tidak akan langsung habis karena membayar untuk baju mu itu. Aku mohon kamu tenang ya, dan terima pemberian ku." Rasya dengan menggandeng Adelia untuk menuju meja Cashier kembali.
"Ini Mbak saya bayar pakai Debit." Rasya dengan menyerahkan Kartu gold nya.
Pelayan Cashier itu menerima kartu gold milik Rasya. Dan mulai menggeseknya di mesin milik Cashier tersebut. Setelah selesai Pelayan Cashier itu menyerahkan kembali kartu gold milik Rasya dan dengan Beberapa Paper bag yang berisikan Pakaian dan Tas juga Sepatu Adelia.
Rasya pun menerima nya, dan di bantu Adelia menjingjing Beberapa Paper bag tersebut. Dan berjalan keluar menuju Mobilnya yang terparkir. Lalu Rasya dan Adelia pun memasukkan barang belanjaan nya tersebut ke dalam bagasi.
Saat Adelia ingin cepat Masuk ke dalam mobil, Tangan Adelia di cekal Rasya.
"Kita ke salon dulu." Ucap Rasya.
"Apa??????".
__ADS_1
...Bersambung....