You Are My Mine

You Are My Mine
Extra Part 61.


__ADS_3

Rasya baru saja keluar dari toilet. Namun ia tidak menemukan keberadaan istrinya di dalam kamar. Rasya langsung bergegas mengambil pakaian di dalam lemari, karena tidak menemukan tumpukan baju yang seperti biasanya Adelia siapkan di atas kasur.


Setelah dengan gerakan cepat. Rasya berhasil memakai baju santai untuk di dalam rumah. Lalu keluar kamar. Pertama yang Rasya lakukan adalah mengecek kamar bayi kembarnya. Dengan membuka handle pintu, lalu melongokkan kepala berniat untuk melihat. Namun, yang Rasya dapatkan adalah kesunyian. Tidak ada seorang pun di dalam kamar baby kembarnya.


"Loh, kok sepi?!" Rasya bermonolog. Kemudian melangkah meninggalkan area depan kamar anaknya.


Terdengar samar-samar suara tertawa dari arah depan saat Rasya sedang memasuki ruang tengah. Rasya yakin bahwa anak kembar dan juga istrinya ada di depan. Dengan langkah cepat di tambah senyuman lebar mengiringi langkah kakinya. Rasya sampai di ambang pintu utama.


"Wah ... ternyata anak-anak dan istriku ada di sini?" kata Rasya dengan tersenyum lebar ke arah Adelia dan dua bayinya.


"Eh, Mas. Maaf aku lupa gak siapin baju!" kata Adelia cepat saat melihat Rasya sudah rapih. Adelia ingat bahwa dirinya lupa tidak menyiapkan baju ganti untuk suaminya.


"Gak apa-apa sayang ...," balas Rasya dengan tersenyum.


Hadi tersenyum melihat anak dan menantunya, "Hari minggu biar Kakek sama Neneknya yang jaga. Kalian boleh ngadate atau jalan-jalan berdua," saran nya.


Lia menimpali, "Benar. Hari minggu, mama sama papa ingin mengkhususkan waktu untuk bermain bersama Daffa dan Saffa. Jadi, kalian boleh menghabiskan waktu berdua,"


Rasya tersenyum lebar, dengan mata penuh binar. Kemudian menaik turunkan alisnya kepada Adelia bermaksud menggoda.


Adelia tersenyum seraya menggeleng pelan.


"Tapi ma ... pa ... Adel gak mau ngerepotin Mama dan Papa," tolak Adelia yang merasa tidak nyaman.


"No sayang ... biarkan kakek neneknya menghabiskan waktu bersama cucu-cucunya. Dan kita habiskan waktu berdua!" sela Rasya cepat sebelum kedua orang tuanya menjawab.


Lia dan Hadi mengangguk merasa setuju akan ucapan Rasya.


"Tapi, Mas--"


"Udah. Mending kalian sarapan setelah itu pergi keluar. Atau sekalian juga sarapan di luar. Mau pulang sore ataupun malam juga gak apa-apa," Hadi cepat menimpali.


"Ya nak ... jangan suka gak enakan seperti itu. Kamu anak mama dan papa ... begitupun Daffa dan Saffa adalah cucu kesayangan mama dan Papa. Jadi jangan menolak. Mama tahu ... kamu jarang berduaan setelah memiliki anak. Dan meluangkan waktu untuk berdua itu penting. Agar rumah tangga terus terjaga keharmonisan dan kebersamaan nya!" Lia menatap Adelia dengan lembut. Mengisyaratkan kasih sayangnya begitu tulus tanpa membeda-bedakan antara anak dan menantu.


Rasya kini merangkul bahu Adelia, "Tuh sayang ... yuk! kita siap-siap, mending kita sarapan diluar sekalian," katanya dengan mengedipkan mata.


Adelia mengangguk, "Ya kalau begitu ... Adel mau siap-siap, Adel titip mereka ya ma ...,"


"Hus ... titip-titip! kaya ke siapa aja!" balas Lia.

__ADS_1


Adelia menyengir, dan kemudian melangkah masuk ke dalam rumah.


Kini Rasya tersenyum dan merangkul bahu Mama dan Papa nya.


"Terima kasih ya Ma ... Pa ... udah memberikan waktu untuk aku sama Adel," ucap Rasya senang.


"Hmmm," sahut Hadi.


"Iya. Sana! siap-siap. Ajak istrimu ke tempat yang nyaman dan tenang. Agar pikiran nya rileks terus buat dia bahagia," saran Lia kepada anak sulungnya.


"Tentu dong ma ... akan aku ajak ke tempat yang nyaman dan tenang. Bahkan saking tenangnya, tempatnya itu akan hanya ada kita berdua," ujar Rasya dengan penuh senyum menghiasi bibirnya.


Lia menatap Rasya dengan tatapan bingung, "Tempat apa yang akan kamu datangi?"


Rasya menunduk dan berbisik pada telinga sang Mama, "Hotel ma ...," bisiknya.


"Astagfirullah .. dasar anak mesum!" Lia mengucap istigfar seraya tangannya menjewer telinga Rasya.


"Aduuh ma ... sakit tahu!" komplen Rasya.


"Kamu sendiri yang salah, ngapain kamu mau ajak istrimu ke hotel?" maki Lia dengan nada sewot.


Lia menggeleng-gelengkan kepala, "Anakmu Pa ... kenapa hanya itu saja yang ada di otaknya!" adu Lia kepada suaminya.


"Gak apa-apa ma ... cirinya anak kita normal, dan sangat mencintai istrinya. Lagian papa juga waktu dulu gitu saat anak-anak masih kecil," balas Hadi.


"Ish ... Papa sama anak, sama saja!" kesal Lia.


Hadi dan Rasya tertawa bersamaan. Kemudian di ikuti Daffa dan Saffa yang ikut tertawa. Bayi kembar itu berpikir bahwa ayah dan kakeknya mengajak tertawa kepadanya.


"Eh anak ayah ikut ngetawain Oma ya?" Rasya dengan mengelus pipi gembul Daffa, kemudian bergantian mengelus pipi mungil Saffa.


Bertepatan dengan itu Adelia datang dengan sudah berpakaian rapih. Dengan tangan menenteng tas branded yang selalu Rasya belikan.


"Ah ... kamu dandan terlalu cantik sayang! jadi gak mau deh ... ngajak kamu keluar!" Rasya menatap Adelia dengan dalam.


Adelia mengerutkan keningnya merasa tidak mengerti.


"Sudah berangkat sana! keburu terlalu siang untuk sarapan! jangan lebay deh ...," Lia yang tahu arah ucapan Rasya langsung menyela dengan menyuruh agar cepat-cepat berangkat.

__ADS_1


"Siap Mama cantik! pengen nambah cucu lagi bukan?" Rasya sengaja menggoda sang mama.


"Ya Ampun ... Pa lihat anak mu ini, benar-benar!" adu Lia kepada suaminya.


Hadi tersenyum, "Adel ... cepat ajak suamimu. Agar tak berdebat dan membuat jengkel mama lagi,"


Adelia mengangguk dengan perasaan bingung. Walaupun ia tidak tahu apa maksud ucapan Rasya dan Lia.


"Ayo Mas!" ajaknya kepada Rasya.


"Siap sayang ... ayo!" kata Rasya dengan merangkul pinggang Adelia.


"Dah Mama!" Rasya dengan mengedipkan sebelah matanya.


Lia menggeleng-gelengkan kepala.


"Anak itu senang sekali menggoda kamu ma ...," kata Hadi setelah Rasya dan Adelia mulai masuk ke dalam mobil.


"Iya pa... tapi, mama bukan marah atau benci. Malah yang ada mama itu terhibur," kata Lia seraya menatap kepergian mobil Rasya yang mulai meninggalkan halaman pekarangan rumahnya.


"Benar ma ... Rasya itu tipe orangnya humoris sama keluarga."


Lia mengerutkan dahi, "Maksudnya?"


"Rasya bersikap itu hanya pada keluarga dan Teman dekat. Namun, saat bekerja. Dia benar-benar berwibawa. Banyak yang bilang kalau anak kita itu dingin. Apalagi sama perempuan," Hadi menceritakan sikap Rasya saat di area kantor.


"Lah kalau itu mama tahu. Orang Rasya benar-benar bisa tersenyum itu hanya sama Adelia. Sumpah itu anak, kayanya udah cinta mati banget sama Adelia," kata Lia menimpali.


Hadi mengangguk, "Benar ma ... ingat gak pas Adelia hilang? gimana hancurnya kita melihat Rasya yang seperti mayat hidup?,"


"Iya pa ... mama sumpah sedih banget, dan mama gak tega melihatnya sangat menderita,"


"Jadi sekarang. Kita biarkan anak-anak kita bahagia dengan pilihan nya. Papa gak mau kesalahan yang sudah papa perbuat saat itu, terulang dan membuat anak kita menderita," ujar Hadi dengan membayangkan saat-saat dirinya yang memaksa Rasya bersedia di jodohkan dengan Ariyanti anak temannya. Yang malah ternyata, pilihannya itu adalah pilihan yang salah.


"Iya Pa ...," jawab Lia dengan lirih. Kemudian mengingat saat dirinya menemukan pil kontrasepsi di kamar Serly. Lalu, Lia bertanya-tanya apakah Serly akan bahagia bersama Dido? pertunangannya itu di karenakan hal sebab sesuatu telah terjadi.


"Semoga saja kedua anak-anak ku bahagia dengan pilihan nya!" batin Lia penuh harap.


...***...

__ADS_1


__ADS_2