You Are My Mine

You Are My Mine
Terungkap


__ADS_3

"Wah elu. Ngatain gue jomblo terus." Reyhan tak terima di katain jomblo oleh Martin.


"Hahaa emang benar kan. Tante sendiri yang bilang." Martin tak mau kalah.


"Elu juga baru laku sekarang. Dulu aja jomblo kaya gue." Reyhan mengatakan yang sebenarnya.


"Iya dulu gue jomblo, karena gak ada yang srek sama hati gue." Martin terus menimpali Reyhan.


"Ah elu aja kaya gak ada cewek, orang cewek gak mau terus di uber. Hahaa." Kini Reyhan tertawa.


"Ya kalau gue dah cinta, gue pasti terus uber. Lu di ajak bersaing aja, malah mutusin gue sebagai sahabat Lu." Martin dengan menatap Adelia.


"Sudah ah gue gak mau ngomong lagi." Reyhan langsung bungkam.


Bu Rosy tersenyum melihat tingkah Martin dan Reyhan anaknya, yang memang kalau udah berdebat kaya kucing dan anjing menurutnya.


"Martin, tadi kamu bilang udah punya calon istri, Nanti kenalin ya sama tante." Bu Rosy meminta Martin untuk mengenalkan calon istrinya.


"Ah iya tante, nanti Martin kenalkan." Ucap Martin sedikit melirik ke Adelia.


Adelia diam saja, hanya mendengarkan.


Begitu pun dengan Reyhan, yang heran.


"Mau kapan? sekarang aja, orang calon bini nya udah di sini." Celetuk Rara.


Membuat Bu Rosy menatap Rara.


"Siapa Martin? Rara? Adel?." Tanya Bu Rosy.


"Yang duduk di samping saya, tante." Ucap Martin kini dengan menatap Adelia.


"Adel?. Syukur deh kalau calon istri kamu adalah Adel, tadi nya tante mau menjodohkan Reyhan dengan Adel. Ya gak jadi deh." Bu Rosy tersenyum dan mengatakan bahwa Reyhan akan di jodohkan dengan Adelia.


"Haha iya tante. Jangan jadi, karena Adel adalah calon istri Martin." Martin melirik Reyhan, seakan menjadi pemenang nya.


...----------------...


Lia yang sudah sampai sedari tadi, kini melamun di kamarnya.


Sedangkan Ariyanti langsung pulang ke kediaman nya.


Yang ada di pikiran Lia kini tentang Adelia, ia masih bingung karena tadi Lia melihat Adelia matanya berkaca-kaca setelah menerima undangan. Bahkan Lia sempat melihat air mata, yang langsung di usap oleh Adelia.


Lia pun memutuskan untuk keluar dari kamar, dan ketika melangkah kakinya menuruni tangga, Lia berpapasan dengan Rasya.


Rasya ternyata baru saja pulang dari kantor nya.


Lia pun berdiri sejenak, pikirnya lebih baik membicarakan nya kepada Rasya.


Tentang Adelia yang tadi.


Rasya kini sudah mendekat langkahnya.


"Ma..." Rasya menyapa Mama nya.


Dan menyalami tangan mama nya.


"Iya Rasya." Lia menjawab sapaan anaknya.


"Maaf tadi, Rasya mungkin sedang meeting pas mama Nelpon." Ucap Rasya.


Dan ternyata Rasya juga belum membaca Pesan yang di kirimkan Serly tadi.


"Iya gak apa-apa." Ucap Lia mengerti.

__ADS_1


"Kalau gitu Rasya ke kamar dulu ya ma." Pamit Rasya.


Lia pun mengangguk, namun sebelum langkah Rasya jauh, Lia memanggilnya kembali.


"Rasya..." Teriak Lia.


Rasya pun menoleh.


"Iya ma ada apa?." Rasya pun menghampiri kembali.


"Nanti ada yang mau mama bicarakan sama kamu. Kamu mandi dulu aja, kalau sudah selesai temui mama di taman belakang rumah ya." Ucap Lia.


"Ya udah nanti setelah mandi Rasya temui mama." Rasya pun melangkah kembali menuju kamarnya.


Rasya sesampainya di kamar berpikir, pasti yang akan di bicarakan mama nya tidak jauh dari pernikahan, atau tentang Ariyanti.


Malas rasanya jika itu yang di bicarakan, namun bagaimana lagi, Rasya tak mungkin menolak kemauan mama nya.


Rasya pun langsung masuk kamar mandi, mulai menyalakan kran air dingin untuk mengisi Bathup.


Ia sepertinya ingin berendam untuk mendinginkan pikiran nya, yang seharian bekerja.


Setelah itu ia masuk ke dalam Bathup tersebut, dengan memejamkan matanya dia berendam.


Dan serasa telah lama, Rasya mulai memakai kan sabun nya, dan membersihkan badan nya.


Setelah Aktivitas mandi nya selesai, Rasya pun memakai Baju santai untuk di Rumah, menyisir rambutnya, dan memakai kan parfum ke baju nya.


Rasya mematut dirinya di cermin, serasa sudah terlihat Rapi, Rasya pun keluar kamar.


Ia melangkah Bergegas ingin menemui mama nya yang tadi meminta untuk berbicara, Langkah Rasya pun terhenti di taman, ia melihat mama nya sedang duduk berdua dengan Serly.


Rasya pun mulai mendekat dan duduk di kursi yang kosong.


Lia dan Serly pun menoleh.


"Pergi ke rumah Adel?. Apa Adel sudah sehat ma?." Tanya Rasya dengan Tercengang. Dan melirik ke arah Serly.


"Iya. Adel sehat, namun kaya baru sakit ya Ser?. Mama sengaja datang untuk memberikan undangan, Undangan itu orang yang pertama menerima Adalah Adel. Mama sengaja menemui nya untuk meminta datang pas kamu nanti nikah, karena mama tahu Adel teman dekat kamu, dan mama juga sudah anggap seperti anak sendiri. Lagian sudah lama gak ketemu." Ujar Lia, dengan menelisik wajah Rasya.


"Kak Adel muka nya pucat ma.." Ucap Serly.


"Apa kamu tahu Adel lagi sakit?." Tanya Lia kepada Rasya.


"Eng Enggak, Rasya gak tahu." Rasya gelagapan bicaranya, dan melirik kembali ke arah Serly.


"Ser apa kamu ngelihat Adel pas nerima undangan dari mama, matanya kaya nangis gitu? Terus mama sendiri ngelihat Adel mengusap air mata nya dengan cepat."


Lia membicarakan hal tadi yang membuatnya bingung.


"Ah, I iya. Serly lihat ma." Serly tak bisa berbohong, memang dia tadi melihatnya.


Sedangkan Rasya menunduk, ia merasakan Adel menerima undangan itu pasti karena bersedih.


"Rasya, apa kamu tahu kenapa Adel sampai begitu?". Tanya Lia.


Rasya menggeleng menjawabnya, dengan masih menunduk.


"Tapi mama bingung, apa jangan... jangan... Rasya apa mungkin Adelia mencintai kamu?." Pertanyaan Lia kali ini membuat Rasya menegak kan kepalanya, dan menatap mama nya.


" Menurut mama, kenapa Adelia bisa seperti itu?." Kini Rasya berbicara dengan bertanya.


"Ya kalau menurut mama, bisa aja Adelia seperti itu karena mencintai kamu." Lia mengucapkan apa pendapat nya.


"Terus apa mama akan menanyakan kalau Rasya juga mencintai Adel?." Tanya Rasya dengan berani menatap mama nya dengan lembut.

__ADS_1


"Mama gak ada pikiran ke situ Rasya. Orang sekarang kamu pasti mencintai Ariyanti. Lagian kamu dari dulu juga gak pernah punya pacar." Lia santai dengan menyeruput teh yang tadi sempat di buatnya sebelum ke taman.


"Oh, terus mama beranggapan Rasya mencintai Ariyanti, karena sudah di jodohkan begitu?." Rasya sekarang lebih memberanikan diri lagi.


Serly mendengarnya menjadi tegang, sepertinya Rasya akan menantang saat ini begitu pikirnya.


"Iya kan kamu pasti mencintai Ariyanti?." Tanya Lia percaya diri, bahwa Rasya mencintai wanita yang di jodohkan nya.


"Itu salah besar Ma. Rasya sampai sekarang pun, atau mungkin selamanya tidak MENCINTAI Ariyanti. TIDAK AKAN." Rasya mengatakan yang sebenar nya, dan menekan kata terakhir nya.


Lia melotot kaget mendengar Rasya dengan berani bicara seperti itu, dugaan nya ternyata salah. Lia diam saja.


"Terus mama, tidak pernah kan bertanya sebelum menjodohkan Rasya, kalau Rasya sudah punya kekasih?. Tidak kan ma?."


Rasya kini mata nya memerah.


Lia hanya menggelengkan kepalanya.


Karena memang ia tidak pernah bertanya sebelumnya tentang Rasya mempunyai kekasih atau tidak.


"Ma, sebenarnya Rasya tersiksa atas perjodohan ini. Rasya terluka, Rasya membatin ma..."


Rasya sekarang terisak.


"Rasya seakan jadi korban. karena hutang kenapa harus ada perjodohan?. Bisa kan di bayar, di cicil, kenapa harus dengan pernikahan?." Sambung Lagi.


Lia Tak Percaya dengan perjodohan nya, Rasya menjadi terluka.


Lia pun mulai menangis.


Sedangkan Serly juga sedih mendengar Kakak nya Rasya, mengungkap kan yang sebenarnya.


"Rasya tidak pernah membantah, karena Rasya sangat menghormati Mama dan Papa. Tapi dengan keputusan yang Mama dan Papa ambil, Rasya Menderita Ma. Hubungan Rasya harus kandas dengan orang yang begitu Rasya Cintai, bahkan bertahun-tahun Rasya memendamnya, dan ketika baru terikat hubungan dua bulan lamanya. Semuanya kandas karena pertunangan yang tiba-tiba."


Rasya benar-benar mengungkapkan semuanya.


Lia mencoba bersuara dengan suara lirih nya.


"Sayang Maafkan mama dan Papa. Tapi ini tidak bisa di batalkan nak." Ucap nya.


"Tentu tidak bisa dibatalkan. Karena Beberapa hari pernikahan itu akan di selenggarakan." Rasya menyunggingkan bibirnya.


"Lalu, siapa Wanita yang kamu Cintai?." Tanya Lia sekarang menanyakan wanita yang Rasya Cintai.


"Itu tak perlu mama tahu. Karena walaupun mama tahu, mama tidak akan merubah keputusan." Rasya tersenyum sinis.


"Apa Adel. Rasya benarkan?."


Lia mencoba menebaknya.


"Sudah lah, tak perlu di bahas. Rasya Capek, Capek Lahir, Capek Batin. Mohon Maaf Rasya telah berani berbicara seperti ini. Rasya lelah Ma, lelah dengan pikiran Rasya. Mohon Maafkan Rasya Ma..." Rasya kini menunduk bersimpuh di kaki Lia.


Lia pun kini menangis tersedu, melihat putra nya yang menyadari kesalahan nya karena berbicara dengan suara tinggi.


Rasya memang yang baik, selalu menghormati Orang tuanya.


Lia pun mengusap kepala Rasya.


"Maafkan Mama juga. Mama tidak tahu kalau kamu semenderita ini, Maafkan mama Sayang." Lia kini merangkul memeluk Rasya.


Rasya pun terisak dalam pelukan mama nya.


Rasanya Rasya lega telah mengungkapkan Apa yang selama ini membuatnya menderita.


Serly pun menangis, dan memeluk Mama dan Kakaknya dari samping.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2