
Pengunjung Pantai saat ini sedang ramai, hingga kedua gadis cantik itu sibuk melayani pembeli. Kedai minuman nya dengan di lengkapi kue buatan Gadis tersebut. Kebanyakan pembeli adalah seorang pria yang sengaja curi-curi pandang ke salah satu gadis yang selalu tersenyum ramah, ia tersenyum ramah bukan saja ke pembeli memang seperti itu wataknya, ya gadis itu tepat nya adalah Adelia. Gadis berkulit putih, berlesung pipi, berambut panjang, dan badan yang bagaikan seorang model itu selalu mencuri perhatian kaum pria.
Ada yang sengaja membeli minum, dan ada yang sengaja membeli minum dengan duduk memperhatikan nya. Adelia yang kini sibuk melayani pembeli, kedatangan Pria Tinggi dengan penuh Tato di lengan nya. Mata Pria itu ketika Melihat wajah Adelia, seperti sedang mengingat-ingat sesuatu. Ternyata dari kejauhan tadi Pria itu sudah mengamati wajah Adelia. Sehingga Pria itu memutuskan untuk duduk di sebuah bangku depan kedai Minuman yang sudah di sediakan. Dengan ingatan nya yang masih berputar, Pria itu mencoba memesan Segelas Kopi.
"Mbak Kopi Hitam nya satu."
Adelia dengan tersenyum mengangguk.
Sementara itu Rara di sibukkan membelah kelapa muda. Karena ada sebagian pembeli yang menginginkan Minuman air kelapa muda.
"Permisi Pak ini kopinya." Adelia tersenyum ramah dengan menyerahkan Segelas kopi dengan nampan nya.
Pria itu menjawab dengan mengangguk, dengan mata nya yang masih mengamati Wajah Adelia. Adelia tidak menyadari itu, di karenakan Adelia tidak pernah merasa bertemu. Padahal waktu kejadian malam terbakar nya Ruko Adelia, Pria itu berada di sana mengarahkan Anak buahnya untuk menyiramkan Bensin, mungkin karena waktu itu semuanya memakai topeng jadi Adelia tidak melihat wajah yang kini menatap menyelidiki nya.
Pria itu mulai menyeruput kopi nya. Ekor mata nya menangkap sosok pemuda yang sedang menghampiri kedai kopi itu. Pria itu melotot, ketika dari kedekatan Pria itu bisa melihat jelas wajah Pemuda yang menghampiri kedai tersebut.
Ini Lelaki yang Gua kemarin buntuti.
Apa gadis tersebut, yang semalam ia peluk?.
Pria yang sedang menyeruput kopinya, berpura-pura bermain ponsel, Padahal ia memastikan ingin mendengar percakapan antara Gadis penjual minuman, dengan pemuda yang baru saja datang.
"Ekhemmm...." Yuda dengan duduk di bangku kosong berdehem ke arah Adelia yang sedang membuat Jus Buah.
Namun Adelia tidak bergeming, ia kira deheman itu bukan untuk dirinya.
Yuda yang merasa di abaikan merasa gemas. Kini ia mencoba berdiri.
"Mbak... Saya ingin Jus Alpukat, Coklat nya banyakin yaaa...." Yuda berbicara dengan menirukan seorang pembeli.
Adelia yang masih fokus pada jus nya memberi jawaban tanpa menoleh. "Iya Mas. Di tunggu Ya." Jawabnya.
Yuda pun tersenyum geli melihat tingkah Adelia yang seakan sedang mengabaikan nya. Hingga beberapa menit kemudian Adelia membawa Segelas Jus Alpukat dengan Coklatnya yang banyak mencari-cari pembelinya.
"Eh, Yuda sejak kapan kamu ada di sini?." Tanya Adelia yang kepala nya clingak-clinguk mencari keberadaan pembeli yang memesan Jus Alpukat yang di pegang nya tersebut.
Yuda tersenyum melihat Adelia yang clingak-clinguk. "Dari tadi. Sejak aku memesan Jus Alpukat." Jawab Yuda datar.
Adelia pun menghentikan gerakan clingak-clinguk nya, lalu menoleh ke arah Yuda. "Jadi yang pesan Jus Alpukat ini kamu?." Adelia yang merasa sedikit kesal karena dari tadi ia berusaha mencari pembeli nya.
"Iya. Sini Pesanan ku."
Adelia pun menaruh jus Alpukat tersebut di meja hadapan Yuda. Kemudian Adelia pun duduk di sampingnya dengan rasa kesalnya.
Tanpa Yuda dan Adelia sadari Pria Tinggi penuh Tato di lengan nya, yang duduk agak jauh di hadapan Yuda sedari tadi Merekam pembicaraan nya. Untuk ia laporkan ke seseorang yang telah menyuruh mengintai Yuda.
"Hei kenapa wajah mu di tekuk gitu?." Tanya Yuda ke Adelia dengan menyedot Jus Alpukat nya.
Adelia tambah mengerucutkan bibirnya. "Aku lagi kesal."
__ADS_1
"Kesal?." Yuda dengan menatap Adelia.
"Iya. Aku kebingungan mencari Pembeli tahu nya kamu. Terus kamu nya diem lagi." Adelia mencebik kesal.
"Haha... Suruh siapa tadi kamu mengabaikan aku." Yuda dengan menyomot bibir Adelia yang sedang manyun gemas.
"His.. Siapa yang mengabaikan kamu?." Adelia tidak merasa mengabaikan Yuda. Yang jelas Adelia terkejut melihat Yuda yang sudah duduk di kedai-nya.
"Tadi. Kamu Mata nya terus Fokus ke minuman yang kamu buat. Tanpa menoleh aku. Hingga aku berpura-pura menjadi pembeli pun kamu mata nya masih saja fokus." Yuda kini berbalik wajahnya yang menjadi kesal.
Adelia pun tersenyum. "Maaf." Hanya satu kata yang Adelia ucapkan.
Yuda yang melihat Adelia tersenyum langsung luluh, karena bagaimana tidak senyuman Adelia seperti sihir baginya.
Yuda pun mengangguk.
"Ehm... Mbak. Semua nya jadi berapa?." Tanya Pria Tinggi penuh Tato di lengan nya dengan tiba-tiba.
"Apa saja mas tadi?. Maaf saya lupa lagi." Adelia menanyakan apa saja yang sudah di pesan tersebut.
"Saya tadi pesan kopi hitam, sama Kue yang seperti ini." Pria tersebut menyebutkan pesanan nya, dengan menunjuk kue yang telah ia makan.
Adelia pun menghitungnya. "Semuanya Dua puluh lima ribu mas." Ucap Adelia sopan.
Pria itu pun menyerahkan uang pecahan Lima puluh ribu satu lembar. "Kembalian nya buat mbak saja." Ucap nya.
"Tidak perlu." Kata Pria itu dengan cepat melangkah pergi.
"Terima kasih." Ucap Adelia lirih.
Yuda yang melihat Adelia merasa tidak ingin di beri orang tersebut berdiri. "Sudah terima saja. Mungkin Pria tersebut ingin memberi nya kepada mu. Atau mungkin saja Dia baginya tak seberapa." Yuda dengan menatap Adelia.
"Ya Tapi aku tak berhak di beri. Aku masih mampu bekerja." Adelia yang merasa tidak berhak menerima nya.
"Iya iya. Nanti kamu simpan saja. Lalu kamu berikan kepada orang yang layak menerima nya." Yuda tidak mau lagi mendengar Adelia yang terus menolak pemberian kembalian Pria Tinggi Penuh Tato di Tangan nya itu.
Adelia pun menurut dengan menganggukkan kepalanya.
Pria Tinggi itu kini sudah berada jauh dari kedai Minuman milik Adelia. Ia kini merogoh ponsel di balik saku celana nya, dengan cepat ia melakukan panggilan.
"Hallo...."
"Iya ada apa?." Tanya seseorang yang di telepon nya.
"Gua udah lihat jelas wajah wanita yang kemarin di peluk lelaki itu. Wanita itu penjual minuman di tepi pantai. Tapi Sepertinya dia sangat dekat sekali." Pria itu melaporkan apa saja yang ia lihat dan ia dengar. Tanpa memberitahukan bahwa ia pernah melihatnya.
"Ok. Aku minta Foto nya." Pinta seseorang di seberang telepon sana.
"Gua tak sempat memphoto nya. Hanya saja Gua merekam obrolan nya. Siapa tahu Lu kenal dengan suara nya." Tegas Pria itu.
__ADS_1
"Ya sudah kirimkan." Perintah seseorang di seberang telepon tersebut.
Pria itu pun dengan cepat mengakhiri sambungan telepon nya. Kini ia mengirimkan hasil rekaman berupa audio yang telah ia rekam tadi.
......................
Rima yang berada di dalam kamarnya mondar mandir, sedang menunggu hasil rekaman yang akan di kirim orang suruhan nya. Rima sungguh penasaran akan wanita yang tengah bersama Yuda. Ia dengan cepat membuka Chat nya, ketika suara notifikasi pesan masuk.
Rima meraih headset agar suara dalam rekaman tersebut jelas ia dengar. Rima mengambil posisi duduk di tepi ranjang, ia sudah mulai memencet play pada rekaman audio tersebut. Pertama ia dengar suara deburan ombak, Rima sungguh penasaran akan suara yang akan ia dengar selanjutnya.
Rima melotot ketika ia mulai mendengar suara wanita yang serasa ia kenal.
Lalu Rima melanjutkan mendengarkan kelanjutan percakapan dalam rekaman tersebut. Terdengar Yuda yang berbicara dengan wanita itu. Rima semakin melotot mata nya seperti ingin keluar dari kelopak nya.
Rima memegang dada nya yang serasa sesak, bagaimana tidak ia mendengar suara wanita yang sudah ia coba hancurkan. Yang menurutnya sudah meninggal, kini suara nya ia dengar. Di tambah wanita itu bersama teman dekat nya Yuda. Rima geram, ia merasa di khianati oleh teman nya sendiri. Yuda menyembunyikan keberadaan Adelia yang masih hidup.
Rima berwajah merah, ia emosi. Membayangkan rencana usaha mendapatkan Martin yang sudah berhasil, ia kini ketakutan akan Adelia yang akan muncul di hadapan Martin. Rima menggelengkan kepalanya, ia tidak mau itu terjadi.
Rima menelepon Orang suruhan nya tadi.
Dan dengan cepat Pria tadi menjawab panggilan nya.
"Kerja Lu gak becus." Rima langsung memarahi orang suruhan nya.
"Maksud Lu apa?." Tanya Pria di seberang telepon yang tidak mengerti.
"Wanita yang kini bersama Yuda itu adalah Adelia. Wanita yang gue kasih ke Lu photo nya, untuk Lu membakar Rumah nya." Rima dengan menekan kan setiap kata nya.
"Loh jadi masih hidup?." Pria itu bermonolog sendiri, namun tetap terdengar oleh Rima di telepon nya.
"Jelas masih hidup. Sekarang Lu tahu kan apa yang Gue mau?. Sekalian singkirkan Lelaki itu juga. Gue membenci nya, Dia sudah berani berkhianat." Ucap Rima berapi-api.
"Siap." Kata pria itu.
"Lihat saja kalau kau gagal. Gue gak akan membayar sepeserpun." Ancam Rima dengan menutup sambungan telepon nya sepihak.
Rima kini tidak tenang hatinya, ketakutan Adelia muncul di hadapan Martin terus terngiang di pikiran nya. Baru saja Ia merasakan apa yang ia mau selama ini, kini perasaan itu berubah menjadi rasa takut.
Rima mulai melempar apa saja yang berada di atas meja rias nya. Seperti biasa bila Rima emosi, ia akan membanting barang yang berada di hadapan nya.
Tante Meli yang sedang duduk menonton tv siang itu mendengar suara benda-benda terjatuh, ia tersentak kaget. Tante Meli pun dengan cepat menaiki anak tangga untuk memastikan dari mana asal suara benda jatuh tersebut, setelah berada di lantai atas Tante Meli terbelalak kaget ketika pendengaran nya berarah dari dalam kamar Rima. Dengan cepat Tante Meli menerobos masuk ke dalam kamar Rima, yang kebetulan Rima tidak mengunci nya.
Tante Meli lagi-lagi harus tersentak kaget, melihat benda-benda yang sudah berserakan di lantai. Sedangkan dengan Rima yang sedang berwajah emosi.
"Ada apa Rima?. Kenapa kamu harus seperti ini?." Tante Meli mulai melontarkan pertanyaan nya.
Rima seketika terdiam. Rima sadar telah membuat isi kamar nya kacau. Dan Rima tidak mungkin mengatakan penyebab ia seperti ini karena Adelia. Lebih tepat nya Rima tidak terima jika Adelia masih hidup.
...Bersambung....
__ADS_1