You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 142.


__ADS_3

Adelia terbangun dan menatap ke arah jendela kaca yang terlihat begitu terang. Lalu menatap jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 11 siang. Dan Adelia menjengit menatap Albi yang masih tertidur di sampingnya, dengan tangannya masih memeluk pinggang Adelia.


"Mas ... bangun! kita kesiangan" ucap Adelia dengan tangannya memegang bahu Albi untuk membangunkan.


Albi mengerjapkan matanya, lalu menatap Adelia yang sedang membangunkannya.


"Jam berapa sekarang?" tanya nya dengan posisi masih terbaring.


"Jam 11 Mas," jawab Adelia.


"Oh ... Apa? jam 11" pekik Albi langsung bangkit dari tidurnya. Kemudian langsung berlari ke arah kamar mandi yang terhubung dengan ruang ganti.


Adelia pun menyusul masuk ke ruang ganti. Adelia menuju lemari untuk mempersiapkan baju Albi. Tapi Adelia akan bertanya terlebih dahulu kepada Albi.


"Mas ... mau kerja?" teriak Adelia di balik pintu kamar mandi yang tertutup.


"Enggak Arumi. Aku di rumah saja. Kita ke Rumah sakit untuk chek kandungan kamu," jawab Albi dengan sedikit berteriak dari balik kamar mandi.


Adelia pun mendengar, dan memilih untuk tidak bertanya lagi. Adelia kembali menuju lemari, memilih pakaian casual untuk Albi kenakan nanti.


Setelah itu Adelia kembali ke arah ranjang untuk membersihkan dan merapihkannya.


Tiba-tiba Adelia merasakan ingin buang air kecil. Terpaksa Adelia menahannya. Karena saat ini Albi masih berada di dalam kamar mandi.


Namun lama kalamaan rasa kebelet itu tidak bisa di tahan lagi. Adelia berlari kecil menuju ruang ganti untuk bergegas ke kamar mandi. Tapi tatapan Adelia terhenti kala melihat Albi yang baru saja keluar dari kamar mandi. Albi keluar dengan bertelanjang dada dan hanya handuk yang menutup area pribadinya.


"Maaf Mas, aku kebelet," ucap Adelia menerobos Albi yang masih berdiri di ambang pintu yang sedang menatapnya.


Albi tersenyum kala melihat Adelia yang menerobos untuk masuk kamar mandi. Bagi Albi, Adelia merasa sangat lucu. Albi melangkah ke arah meja yang sudah tersedia baju ganti yang sudah Adelia sediakan. Albi tersenyum kembali dengan tangannya mulai meraih baju tersebut.


Dengan gerakan sekilas Albi berhasil memakai pakaian nya itu. Albi masih mengeringkan rambutnya memakai handuk kecil, dengan menatap pantulan wajahnya di cermin yang ada di ruang ganti. Tak lama suara pintu kamar mandi terbuka. Keluarlah Adelia dengan menggunakan handuk yang menutupi tubuhnya dari batas dada hingga paha. Albi menoleh, dan betapa kagetnya ia melihat penampilan Adelia yang memakai handuk. Begitupun Adelia merasa gugup dan malu saat keluar kamar mandi, dan ada Albi di ruang ganti.


Kenapa aku gugup dan malu kepada suamiku sendiri? bukankah aku dan dia sudah melakukan yang semestinya?.


Batin Adelia berbicara.


Sungguh Adelia merasa aneh pada dirinya yang merasa malu dan gugup. Padahal menurut Adelia bukankah dirinya dan Albi sudah melakukan yang semestinya sebagai suami istri, yang tak perlu takut, malu, dan gugup.


Adelia memberanikan diri melangkah menuju lemari. Sedangkan Albi yang sudah bercampur perasaannya memilih keluar dari ruang ganti. Albi tidak sanggup untuk melihat Adelia dengan penampilan hanya memakai handuk tersebut. Tapi Albi merutuki dirinya sendiri yang bersalah. Karena Albi berada di ruang ganti tersebut.


Albi memilih ke arah dapur untuk membuatkan susu hamil. Dan saat melewati ruang tengah Albi di sapa oleh Hera yang dengan terus tersenyum pada dirinya.


"Jam berapa ini Albi, kenapa baru keluar dari kamar?" tanya Hera berpura-pura tidak tahu.


"Albi kesiangan Ma," sahut Albi datar.


"Nyenyak sekali sepertinya," timpal Alina sengaja ingin menggoda adiknya itu.


"Tentu nyenyak. Tadi pagi hujan besar telah mengguyur," sahut Luky tidak mau kalah ingin menggoda adik iparnya.


Albi hanya bersikap cuek. Dengan meneruskan langkahnya menuju dapur. Dan Albi berhasil membuat segelas susu ibu hamil dengan rasa coklat. Dan Albi memilih membawa segelas susu itu ke dalam kamar.


"Ma ... gak salah lihat kan, Alina? Albi tadi bawa segelas susu?" pekik Alina setelah melihat Albi melewatinya dengan tangannya memegang segelas susu.


"Iya gak salah. Mama juga lihat!" sahut Hera.


"Gak sangka ya, si Albi ternyata memperlakukan istrinya dengan baik bahkan romantis?!" ucap Alina.

__ADS_1


"Iya. Mama juga sama. Em ... lebih baik nanti sore kita pulang saja. Mama tenang sekarang, kalau Albi benar-benar sudah menikah. Dan Albi baik-baik saja dengan istrinya,"


"Iya Ma. Dan kasihan juga Papa kita tinggalkan." Alina dengan menyetujui ajakan Hera untuk pulang.


"Salah Papa mu itu, karena terlalu sibuk dengan pekerjaan, jadi tidak bisa ikut ke sini," timpal Hera.


Sementara itu Albi yang sudah masuk ke dalam kamar. Menaruh susu buatan nya itu di atas meja yang berhadapan dengan sofa. Lalu Adelia keluar dari ruang ganti dengan sudah memakai dress selutut berlengan panjang. Adelia tersenyum saat ia melihat ada segelas susu di hadapan Albi.


"Mas, itu susu buat aku?" tanya nya dengan menghampiri Albi.


"Iya. Ayo minum!" sahut Albi dengan tersenyum.


Adelia pun memilih duduk dan meneguk susu yang sudah Albi buatkan. Dan setelah itu Adelia beranjak bangkit menuju meja rias.


"Sebentar," kata Albi menghentikan Adelia yang akan duduk di kursi meja rias.


"Ada apa Mas?" tanya Adelia dengan sedikit menautkan alisnya.


Albi menghampiri dengan memegang selembar tisu yang Albi ambil dari atas meja yang sudah tersedia. Kemudian Albi mengelapkan tisu itu di sudut bibir Adelia, yang terlihat ada sisa susu di sudut bibirnya itu.


"Mas ...."


Adelia merasa dengan perlakuan Albi seperti itu. Sebagai bukti bahwa Albi telah menyayangi nya.


"Apa?" sahut Albi dengan menatap Adelia penuh cinta.


"Maafkan Aku, karena Aku ... Mas jadi ke siangan," ucap Adelia mengingatkan hal yang membuat Albi bangun kesiangan.


Albi tersenyum dengan menggeleng pelan.


"Benarkah?"


"Iya. Ayo bersiap-siap!. Kita keluar untuk sarapan dan sekalian makan siang," ucap Albi dengan terkekeh karena waktu sudah siang.


"Iya Mas. Tunggu sebentar ya, aku siap-siap dulu," kata Adelia dengan antusias karena merasa senang Albi mengajaknya keluar rumah.


Selang beberapa menit Adelia nampak sudah sangat terlihat cantik dengan hasil riasannya.


"Ayo Mas!" seru Adelia dengan sudah membawa tas dan memakai sandal high heels nya.


Albi tersenyum, melihat penampilan Adelia dengan rambut yang tergerai, bibir yang begitu merah merona, dan riasan tipis yang membuat Albi semakin tergoda.


"Sebentar," ucap Albi membuat Adelia menghentikan langkahnya yang hendak ingin membuka pintu.


"Ada apa Mas?" tanya Adelia.


Albi melangkah mendekati Adelia. Kemudian Albi menyibakkan rambut yang menghalangi tengkuk Adelia, dan Albi mengecupnya dengan lama, dan memberikan sedikit gigitan sehingga meninggalkan bekas merah di tengkuk leher Adelia yang putih.


"Mas ...."


Adelia terbelalak kaget akan kecupan Albi yang mendadak. Adelia merasa ada desiran hangat mengalir ke seluruh tubuhnya. Membuat Adelia menegang dan nafasnya berubah menjadi memburu.


"Kenapa?" tanya Albi dengan tersenyum menyeringai.


Adelia menggeleng pelan. "Ayo, aku sudah lapar Mas!" kata Adelia mengalihkan.


"Ayo!" sahut Albi dengan meraih tangan Adelia untuk ia genggam.

__ADS_1


Dan mereka keluar dari kamar menuju pintu utama.


"Ma, Kak Alina ...."


Sapa Adelia saat melihat Hera dan Alina duduk di kursi teras.


"Hei, sepertinya kalian mau pergi?" tanya Hera dengan tersenyum menatap menantunya yang terlihat begitu cantik.


"Iya Ma. Aku mau ngajak Jalan-jalan Arumi. Dan sekalian mau chek-up kandungan," sahut Albi.


"Oh ya? semoga kandungan kamu baik-baik saja ya Sayang," kata Hera dengan mendekat kepada Adelia dan mengelus perut Adelia yang masih terlihat rata.


"Iya Ma, semoga saja" ucap Adelia yang merasa senang dengan perlakuan Hera.


Seandainya anak yang Arumi kandung adalah benar-benar anak ku sendiri. Aku akan lebih bahagia, melihat mama yang begitu senang seperti itu.


"Ya sudah Ma, Kak Alina, kita pamit," ucap Albi.


"Ya Hati-hati. Eh iya, Albi ... nanti sore Kita akan pulang," ujar Hera dan di angguki Alina.


"Cepat banget Ma?" tanya Adelia kini.


Hera tersenyum kepada Adelia, "Kasihan Papa, kalau di tinggal terlalu lama. Lagian nanti, kalian bisa datang ke Kota M. Ya Albi, jangan lupa bawa istrimu, untuk tahu kediaman keluarga suaminya!," titah Hera selanjutnya kepada Albi.


"Iya Nanti Albi akan usahakan" jawab Albi.


"Harus itu. Sempatkanlah waktu mu!." titah Hera kembali.


Albi akhirnya hanya menjawab dengan mengangguk. Dan melangkah ke arah mobil dengan menggenggam tangan Adelia. Lalu Albi membukakan pintu untuk Adelia masuk. Setelah itu Albi menuju pintu sebelah. Sontak penjaga gerbang pagar membukakan pintunya, untuk mobil Albi lewat keluar.


"Kamu mau makan apa?" tanya Albi saat sudah melajukan mobilnya.


"Apa saja Mas," sahut Adelia dengan menatap ke arah jalan.


"Emang gak ada makanan yang kamu inginkan saat ini?" tanya Albi kembali.


Adelia menggeleng. "Tidak ada, Mas" katanya.


Jelas Adelia tidak menginginkan makanan apapun, karena yang merasakan itu semua adalah suaminya yaitu Rasya. Rasya yang merasakan mengidam saat ini setelah ada janin di rahim istrinya itu. Bahkan Morning sikness Rasya-lah yang mengalaminya.


Beberapa menit kemudian mobil Albi terhenti di sebuah cafe. Cafe yang tengah viral saat ini. Adelia pun membaca nama cafe-nya yang tertera.


"Cafe Bondan?" kata Adelia dengan menatap Albi.


"Iya. Bukannya kamu semalam ingin datang ke Cafe ini?" tanya Albi dengan tangannya membukakan seatbelt Adelia.


"Ya Mas, tapi apa penyanyi pria itu ada saat siang ini?"


"Kok kamu tanya pria lain?" ucap Albi dengan wajahnya menekuk.


"Penyanyi Mas. Bukan pria lain," sahut Adelia.


"Hmm" Albi menyahuti dengan gumaman.


Kemudian Adelia dan Albi pun turun. Dan melangkah masuk ke dalam Cafe tersebut. Terlihat begitu banyak pengunjung, mungkin karena waktunya makan siang banyak orang yang sengaja menikmati makan Siangnya. Bahkan ada yang sengaja hanya duduk menikmati minuman di Cafe itu dengan pasangannya dan teman-temannya.


...Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2